
"Kau cukup berani, nak. Tapi aku tidak yakin setelah ini kau masih bisa berani setelah ini." Ucap papa Cindy meremehkan Jennifer.
"Katakan saja, aku tidak suka berbasa-basi." Ucap Jennifer dengan penuh keberanian.
"Apa kau bisa bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan pada putriku? Kau pasti tau akibatnya bukan, jika kau melukai putriku?" Cindy tersenyum di sana. Ia berfikir jika Jennifer akan memohon untuk tidak di keluarkan.
"Kenapa anda tidak bertanya dengan putrimu terlebih dahulu sebelum datang ke sini, tuan." Jennifer membalikkan ucapan papa Cindy.
"Jika anda sebagai orang tua, harusnya anda mencari tahu sebab dan akibat apa yang sudah putrimu itu lakukan." Jennifer kembali membuka suara.
"Jeenn..." selah guru yang menangani masalah ini.
"Jika tidak ingin putrimu seperti ini, harusnya ajari putrimu itu untuk tidak seenaknya sendiri dan mengganggu orang lain tuan." Sambung Jennifer.
"Jennifer, tolong jaga sifatmu."
"Bukankah anda juga seorang guru? Harusnya anda juga bisa bersikap adil dan tau mana yang benar dan mana yang salah. Jangan hanya karena uang anda ikut menghakimi orang yang tidak bersalah." Sarkas Jennifer pada guru itu. Jennifer benar-benar menunjukkan sifatnya yang seperti Sean.
"Coba kau jelaskan permasalahan yang sebenarnya, nona Cindy." Jennifer menantang Cindy untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Kenapa harus aku jelaskan? Sudah jelas-jelas kau yang salah sudah mematahkan tanganku hanya karena lelaki." Ucap Cindy yang membalikkan fakta.
"Kau memang pintar membalikkan fakta."
"Apa kau tau tuan, aku tidak akan mematahkan tangan anakmu jika tanpa ada sebab. Siapa saja yang mengusikku, harus menerima akibatnya." Jawab Jennifer.
"Tidak pa, yang dia ucapkan bohong. Dia bahkan mengancam ku jika nyawa papa berada di tangannya." Selah Cindy di sana.
"Sir, saya meminta keluarkan anak ini dari sekolah ini." Ucap papa Cindy. Cindy tersenyum puas karena dia pasti bisa dekat dengan Julian.
"Tuan, tolong pertimbangkan lagi." Bujuk guru itu.
"Saya meminta anda untuk mengeluarkan dia dari sini, dia sudah mengancam putri saya. Dan anda sudah melihat sendiri bukan, apa yang sudah dia lakukan pada putri saya. Dia harus di keluarkan." Ucapnya dengan menggebu. Cindy tersenyum kemenangan.
"Siapa yang berani mengeluarkannya dari sini?" suara berat itu tiba-tiba hadir di tengah-tengah berbincangan mereka.
__ADS_1
Jennifer yang mengenal suara familiar itu pun menoleh seketika, "papi." Gumamnya pelan melihat kehadiran sang papi.
Semua orang yang berada di sana terkejut melihat kehadiran Sean secara tiba-tiba.
"Tuan Sean, ada perlu apa anda kemari, tuan?" sapa guru itu dengan ramah pada Sean. Sebisa mungkin dia bersikap baik di depan Sean.
"Siapa yang berani mengeluarkannya dari sini?" Sean mengulangi perkataannya.
"Tentu saja anak ini, tuan. Lihat apa yang sudah dia lakukan, dia sudah mematahkan tangan putriku dan mengancamnya." Sahut papa Cindy pada Sean.
"Apa kau tidak bertanya pada putrimu apa yang sudah dia lakukan?" wajah Sean terlihat marah di sana.
"Kau Cindy, bukan?" Sean menatap Cindy dengan tatapan tajamnya.
"I-iya, tuan." Jawab Cindy sedikit gugup.
"Di sini kau yang bersalah. Kau sudah mengganggu ketenangan dan menyiram putriku tanpa alasan yang jelas. Kenapa justru putriku yang kau keluarkan, harusnya dirimulah yang keluar dari sini." Sean memojokkan Cindy di sana.
"Apa maksud anda, tuan? Siapa yang kau sebut putrimu?" sahut papa Cindy di sana.
"Orang yang ingin kalian keluarkan dari sini dengan alasan yang tidak jelas." Jawab Sean dengan tegas. Kali ini Sean membuka siapa Jennifer sebenarnya.
"Tapi, Pi..."
"Papi bilang kembali, Jen. Biar papi yang mengurus masalah ini," Sean berkata tegas kali ini. Mau tidak mau Jennifer melangkahkan kakinya keluar dari ruang guru.
Jennifer yang melihat Julian berada di luar ruang itu pun menatap dengan tatapan horornya.
Bughh...
"Kau pasti mengadu pada papi, kan?" Jennifer memukul lengan Julian dengan kuat.
"Auuhh... kenapa kau memukulku?" ucapnya tidak terima mendapat pukulan dari sang kakak.
"Aku bilang jangan katakana pada papi, kau kenapa bandel sekali." Omelnya pada Julian.
__ADS_1
"Mana mungkin aku membiarkanmu di keluarkan begitu saja." Ucap Julian.
"Kau ini," Jennifer ingin memberikan bogeman pada sang adik tapi dia urungkan. Dia memilih kembali ke kelas dari pada berbicara dengan Julian.
Kembali ke ruang guru...
"Bagaimana bisa kau mengeluarkan putriku yang tidak bersalah? Apa kau mengeluarkannya hanya bisa dekat dengan putraku, nona. Perlu kau tau, orang yang selalu kau ganggu dan usik adalah putriku. Kakak dari Julian."
"Sebelum kau berbuat, sebaiknya kau mencari tahu siapa lawanmu. Sekarang kau menerima dari akibatmu sendiri dan ingin mengeluarkan putriku, begitu?" ucap Sean panjang lebar.
Semua yang di sana terkejut jika ternyata Jennifer adalah anak dari Sean, kakak dari Julian. Bahkan Cindy pun memucat mendengar fakta itu.
"Anda jangan berbohong, tuan Sean. Anda hanya berbohong agar anak itu tidak di keluarkan dan di tolak di manapun, bukan?" Papa Cindy masih tidak percaya.
"Jika aku berbohong, untuk apa aku jauh-jauh ke mari?"
"Tuan, tenangkan diri anda, ini pasti ada kesalah pahaman." Lerah guru itu yang sebenarnya juga merasa takut.
"Jika itu memang putrimu, harusnya kau mengajarkan sopan santun tuan. Jangan biarkan juga dia seperti berandal. Kau lihat apa yang sudah dia lakukan putrimu itu pada putriku?" Ucap papa Cindy.
"Aku sudah cukup mengajarkan sopan santun pada putriku, tuan. Dia tau orang seperti apa yang harus dia berikan sopan santun, putriku juga tidak akan melakukannya jika putrimu tidak mengganggunya." jawab Sean.
"Ajari juga putrimu itu untuk tidak selalu bersifat meninggi tuan." Sambung Sean.
"Harusnya putrimu itu tidak perlu berbuat seperti ini, tuan William. Dia sampai mematahkan tangan putriku." Kuekeh papa Cindy.
"Itu adalah akibat dari putrimu sendiri, dan aku tidak perlu untuk bertanggung jawab atas apa yang di lakukan oleh putrimu sendiri." Jawab Sean.
"Aku rasa sudah cukup pemasalahan ini, aku akan kembali. Dan ingat, jangan pernah mengganggu putriku." Ujar Sean dengan tegas lalu melangkahkan kakinya keluar.
Cindy dan teman-temannya tidak bisa berate-kata kali ini. Mereka mati kutu mendengar fakta itu.
"Ayo kita pulang, Cindy. Kau membuat papa malu saja, bagaimana bisa kau mencoreng wajah papamu." Ajaknya lalu menyeret Cindy keluar dari sana. Teman-teman Cindy mengikutinya dari belakang.
"Apa kita tidak jadi mengeluarkannya, pi?"
__ADS_1
"Sudah diam. Jangan di bahas, bagaimana bisa kau berurusan dengan keluarga William. Kau membuat papa malu," bentaknya pada Cindy.
Cindy a pun hanya menurut dengan ajakan sang papi untuk pulang. Jika orang-orang tahu, mungkin dirinya juga akan malu dengan masalah ini.