
"Silahkan di nikmati, nyonya." Ujar pelayan itu lalu meninggalkan meja Ana. Lita juga ikut melenggang pergi dari sana, ia akan menunggu waktu yang pas.
Lita mencoba bersembunyi dan melihat Ana di sela-sela dinding yang ada di rumah makan tersebut.
'Aku akan membalas semuanya kali ini' batinnya lagi saat melihat Ana tertawa senang dengan semua teman-temannya. Ia mengepalkan tangannya kuat, sorot matanya menunjukkan kebencian dan penuh dendam pada Ana.
"Aku ke toilet dulu ya, kalian tunggu di sini. Titipin dulu ya." Pamit Ana pada teman-temannya. "Jen, Jul, mami ke toilet dulu, ya. Kalian tunggu di sini, mami tidak akan lama." Pamit Ana pada kedua anaknya.
"Siap, mami." Ucap mereka bersamaan. Untung kali ini mereka terlihat sangat anteng, tidak berulah.
Ana melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di rumah makan tersebut. Lita yang melihat peluang tersebut tersenyum senang.
la melangkah ke dapur dan mengambil pisau dapur secara diam-diam. Dia menyelipkan pisau itu di balik bajunya. Dirinya keluar lalu menuju kearah toilet dimana Ana berada di sana.
Lita masuk ke dalam toilet dan menunggu waktu tepat, karena masih ada beberapa orang di sana. la menunggu mereka semua keluar.
Ana keluar dari kamar mandi dan mencuci tangannya di westafel. Lita datang mendekat karena suasana mulai aman.
"Hai, Ana. Lama tidak berjumpa." Ucapnya dengan tersenyum sinis.
Ana yang mendengar suara sangat familiar itu pun menoleh dan melihat siapa itu. "Kau siapa?" tanyanya yang tidak bisa mengenali penampilan Lita.
"Aaahh iyaa, aku lupa." Ucap Lita lalu mengambil
kaca mata yang ia pakai, ia juga menghapus tompel yang ia pasang.
Ana sedikit terkejut dengan kehadiran Lita yang sudah lama ia tidak melihatnya.
"Kak Lita? Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Ana pada Lita.
"Hahahaa... tentu saja aku bisa di sini. Apa kau takut karena aku kembali? Hahaha..." ujar Lita.
"Bagaimana kabar paman dan bibi? Apa mereka baik?" tanya Ana lagi. Tentu saja masih terbesit rindu di hati Ana pada kelarga paman dan bibinya, walaupun mereka pernah jahat padanya.
__ADS_1
"Jangan bertanya-tanya Ana, tentu saja kami menderita karena ulahmu." Sengal Lita.
"Kau bisa hidup bahagia dengan bergelimang harta, sedangkan aku dan ayah ibuku menderita di sana. kami serba kekurangan. Apa kau sudah puas?" sambung Lita yang mengutarakan penderitaannya.
"Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud seperti itu." Jawab Ana merasa bersalah.
Tanpa berlama-lama, Lita mengeluarkan pisau yang sempat ia ambil di dapur tadi. Ana yang melihat pisau di bawa oleh Lita itupun sedikit merasa cemas dan ketakutan.
Perlahan-lahan, Lita mendekat ke arah Ana. Ana memundurkan dirinya selangkah demi selangkah.
"Kenapa, Ana? Apa kau takut?" Lita mengeluarkan senyum jahatnya melihat Ana merasa ketakutan. "Apa yang akan kau lakukan?" ucap Ana sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Hahaha... tentu saja aku akan menghabisimu, Ana. Aku tidak akan membiarkan dirimu hidup bahagia." Lita merasa sangat senang kali ini, karena ia akan menyingkirkan Ana tanpa ada orang yang tahu.
"Mati kau, Ana." Ujarnya mengarahkan pisau itu pada Ana.
Ana mencoba mencekal tangan Lita dan mencoba menyingkirkan pisau yang hampir saja menembus tubuhnya.
Ana berhasil mendorong tubuh Lita menjauh darinya. Ana mencoba berlari dari sana, karena Ana tidak mungkin melawan Lita yang membawa senjata tajam. Bagaimanapun dirinya pasti akan kalah, latihan bersama Sean belum cukup sempurna. Lita menjegal kaki Ana, alhasil, Ana terjatuh.
Lita menggunakan kesempatan itu lagi di saat Ana terjatuh. Tapi, kali ini Ana menendang tubuh Lita. Dirinya kembali terdorong akibat tendangan dari Ana.
"Brengsek kau Ana." Lita mencoba menyerang Ana. Pisau yang ada di tangannya masih di genggam kuat. Ana mencoba menghindar dari setiap serangan yang di lakukan oleh Lita.
"Siallann kau Ana." Teriaknya lagi. Dia merasa marah karena Ana selalu bisa berhasil lolos dari serangannya.
Lita kembali menyerang Ana, tapi lagi-lagi Ana berhasil menghindarinya.
Ana mencoba untuk berlari dari Lita tapi terlihat sedikit sulit, karena Lita selalu saja bergerak cepat.
Kali ini Lita mencoba menendang kaki Ana dengan sekuat tenaga, Ana terjatuh dan kepalanya membentur tembok yang ada di sana dengan keras.
Lita yang mendapat kesempatan itu pun melakukan aksinya.
__ADS_1
Jleb...
Pisau itu berhasil menancap di perut Ana. Lita kembali menarik pisau itu lalu membuang pisau itu ke sembarang arah.
Ana mencoba menahan sakit karena luka di perutnya itu. Lita mencengkram kuat kedua pipi Ana.
"Kau pantas mendapatkannya." Lita melepaskan cengkraman nya dengan kasar lalu meninggalkan Ana yang di sana dengan luka dan darah berceceran.
"Aa-Sean, tolong aku." Lirihnya sedikit merangkak keluar. Tapi, tenaganya sudah terlihat lemah. Ana tidak sadarkan diri karena lukanya.
Lita segera pergi meninggalkan toilet sebelum ada orang yang melihatnya, dia juga meninggalkan tempat makan itu sebelum anak-anak buah Sean menemukan dirinya. la menutup wajahnya agar tidak ada yang tahu.
Sedangkan di meja yang mereka tempati tadi, Rika dan Clare tak henti-hentinya mencemaskan Ana yang tidak kunjung kembali.
"Ana kemana, ya? Apa dirinya tertidur? Kenapa tidak kembali juga, sampai-sampai makanan kita habis." Ujar Clare karena Ana tak kunjung kembali.
"Kau benar sekali, Clare. Kenapa dia tidak kembali juga. Mana dia tidak membawa ponsel miliknya." Gerutunya melihat tas Ana yang dia tinggal di sana.
Rika segera memerintahkan anak buah Sean yang ada di sana untuk menyusul Ana yang ada di toilet.
Anak buah Sean melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di sana.
"Aaarkkhh...." Teriak seorang wanita dari toilet. Anak buah Sean yang berada di sana datang melihat apa yang sudah terjadi.
"Ada apa, nyonya?" tanyanya pada wanita itu.
"I-itu... ada wanita yang pingsan dengan banyak darah." Ucapnya terbata pada anak buah Sean. Anak buah Sean mencoba melihat apa yang sudah di ucapkan wanita tadi.
Dia mendekat dan alangkah terkejutnya siapa wanita yang tergeletak di sana dengan bersimbah darah.
"Nyonya... bangun, nyonya." Ujar anak buah Sean menepuk-nepuk pipi Ana. Ia sudah berharap-harap cemas dengan apa yang terjadi kali ini. Pasti Sean tidak menghukum semau anak buahnya.
la segera menghubungi rekannya untuk datang ke sana. Tidak lama kemudian, temannya itu pun datang.
__ADS_1