
"Tuan." Ucapnya.
"Tuan, saya sudah memeriksa jejak orang tersebut di sana. Dia seorang perempuan yang juga bekerja di sana."
"Perempuan?" Sean bertanya.
Anak buahnya pun menunjukkan salinan rekaman cctv itu pada Sean. Rahang Sean terlihat mengeras setelah tahu siapa wanita itu.
Rekaman itu menunjukkan jika Lita keluar dan masuk dari toilet dengan tangannya yang masih menyisahkan bercak darah.
"Litaa... kau bermain-main denganku." Tangannya mengepal kuat hingga otot-ototnya terlihat.
"Aku tidak akan membiarkan dirimu kali ini." Sambungnya.
"Kalian cari dan tangkap wanita ini, bawa dia ke markas. Ajak Riko bersama kalian." Perintahnya tegas pada anak buahnya. Mereka bergegas untuk pergi melaksanakan perintah Sean.
Sedangkan di sisi Lita...
la berjalan terburu-buru, dia menemukan gudang tua yang sudah tidak terpakai. Dirinya mencari tempat persembunyian lagi untuk menghindari anak buah Sean. Dia tidak mau tertangkap begitu saja.
"Bau sekali di sini?" ucapnya menutup kedua lubang hidungnya.
"Setidaknya aku aman di sini." Sambungnya lalu berjalan lebih masuk ke dalam lagi.
Lita saat ini tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membalas Ana.
"Hahaha.... Aku harap kau tidak terselamatkan lagi, Ana. Kau memang pantas mendapatkannya, apa yang kau rasakan sekarang tidak sebanding dengan penderitaannku selama ini." Ucapnya.
Selama ini, Lita merasakan dirinya sangat menderita karena Ana, padahal itu adalah ulahnya sendiri. Ia dan keluarganya selalu jahat pada Ana. Entah kenapa dirinya tidak sadar dengan apa yang ia lakukan selama ini.
Kembali ke sisi Sean...
Mami dan papi Sean bersama Diva juga tentunya tiba di sana. Mereka juga terlihat sangat cemas saat tahu Ana terluka.
"Sean, bagaimana keadaan Ana?" tanya maminya.
"Dokter belum keluar, mi. Ana masih di tangani di dalam." Jawabnya terlihat lesu.
Selang beberapa menit, dokter yang menangani Ana itu pun keluar. Sean segera bangkit dan menanyakan keadaan Ana.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Sean.
__ADS_1
"Nyonya berhasil melewati keadaan kritisnya, tuan. Untung saja beliau cepat di bawa ke sini, nyonya kekurangan banyak darah. Kami akan memindahkan nyonya ke ruang rawat inap jika kondisinya sudah stabil, saat ini keadaannya masih sangat lemah. Karena luka tusukannya lumayan dalam." Terang dokter itu. Sean memejamkan matanya untuk mengurangi rasa kekesalannya saat ini.
Dokter itu pun berpamitan untuk pergi dari sana.
"Sean, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya papi Sean.
"Ana mendapat serangan dari sepupunya saat di toilet di salah satu rumah makan, pi. Sepupu Ana menyamar menjadi pelayan di sana." Jawab Sean.
"Sepupu? Bukankah kau sudah mengasingkan dirinya dan keluarganya jauh dari sini?"
"Dia kembali ke sini untuk membalas Ana." Jawab Sean.
"Berani-beraninya dia menyakiti menantuku, akan aku hajar dia habis-habisan." Geram mami Sean.
"Papi... apa mami tidak kenapa-kenapa?" tanya twin di sana. Sedari tadi mereka tidak mau pulang, ia ingin menunggu sang mami.
"Mami tidak akan kenapa-kenapa sayang. Tenang saja, oke." Sean berbicara lembut pada kedua anaknya. Sean mengusap pucuk kepala kedua anaknya.
Tidak lama kemudian, mereka keluar membawa brankar Ana. Sean memerintahkan mereka untuk meletakkan Ana di ruang WIP untuk mendapatkan fasilitas yang terbaik.
Kriing...
Kriing...
Kriing...
"Halo." Ujar Sean singkat.
"Lapor, tuan. Kami sudah menemukan wanita itu, sekarang dia sedang bersamaku." Ucapnya di seberang sana. Ia mencekal kuat pundak orang tersebut karena terus saja memberontak.
"Good. Bawa dia ke markas, aku akan segera ke sana ." Ujar Sean lalu mematikan sambungan telfonnya.
Anak buah Sean pun segera membawa orang tersebut dengan paksaan karena dia selalu memberontak untuk di lepaskan. Mereka terpaksa membeguk orang tersebut hingga jatuh pingsan, jika tidak, orang tersebut terus saja memberontak dan memukul anak buah Sean.
"Mi, pi, Sean titip Ana dan twin. Sean ingin ke markas sebentar." Pamit Sean pada kedua orang tuanya.
"Papi... apa Jen boleh ikut?" sahut Jennifer melihat sang papi ingin pergi dari sana. Sean mensejajarkan dirinya lalu tersenyum.
"Jenni di sini saja sama kakak, grandma dan grandpa, ya. Jaga mami di sini." Ujarnya lembut.
"Tidak, papi. Jenni mau ikut." Rengeknya yang ikut sang papi.
__ADS_1
"Jeen... sama kakak Diva, sini." Panggilnya. Namun,
Jennifer menggelengkan kepalanya tidak mau. Beda lagi dengan Julian, dia cuek bebek dan asik memakan buah-buahan yang berada di ruang yang Ana tempati.
"Papi, ada urusan sebentar. Jenni di sini dulu, oke. Gimana nanti kalo mami bangun mencari Jenni?" Bujuk Sean agar putrinya tidak ikut dengannya.
"Jenni mau ikut papi." Kuekehnya untuk mengikuti sang papi. Sean menghela nafasnya karena Jenni susah untuk di bujuk.
"Ajak saja, son. Dari pada nanti dia ngambek dan menangis." Sahut papi Sean.
"Jenni nanti nurut sama papi, oke." Ujarnya membolehkan putrinya untuk ikut bersamanya. Jennifer mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh sang papi.
la mengulurkan kedua tangannya meminta untuk di gendong. Sean mengangkat tubuh kecil itu.
"Dada grandma, grandpa, kakak, Juuull." la melambaikan tangannya pada semua orang yang ada di sana. Julian membalas lambaian tangan sang kakak, dia sepertinya sangat anteng di sana menunggui sang mami untuk sadar.
Markas...
Setibanya di sana, Riko menyuruh anak buahnya untuk membawa orang itu ke ruang bawah tanah.
Siapa lagi orang itu kalau bukan Lita, anak-anak buah Sean berhasil membeguknya di gudang tua tempatnya bersembunyi.
Melihat di saat Riko dan anak buah Sean saat menangkap Lita.
"Apa kau yakin dia ada di sini?" tanya Riko memandang gudang tua yang sudah lama kosong itu.
"Benar, tuan. Menurut informasi yang kami dapat, dia datang ke sini untuk bersembunyi." Jawab anak buahnya.
"Kita periksa ke dalam." Ajak Riko. Mereka semua berjalan masuk ke dalam dengan langkah hati-hati agar Lita tidak kabur lagi.
Mereka berjalan mengendap-endap di sana, Riko memerintahkan anak buahnya untuk menyebar. Mereka semua pun mengangguk faham dan menyebar ke arah yang berbeda.
"Hueekk... aku sangat tidak suka bau di sini." Ujar Lita yang mencium bau busuk dan lembab di sana. la mengibas-kibaskan tangannya di depan hidunganya untuk mengurangi bau di hidungnya.
Riko yang mendengar suara wanita itu pun mendekatkan diri. "Ahhaa... kau di sini rupanya. Aku menemukanmu." Gumamnya saat melihat Lita di sana.
la berjalan dengan santai mendekat ke arah Lita." Hai, nona." Ucapnya dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam sakunya.
Lita yang merasa namanya dipanggil itu pun menoleh kaget ke arah Riko. Ia sudah berharap-harap cemas siapa yang datang ke sana.
"S-siapa kau?" tanyanya gugup.
__ADS_1