Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 155 Season 2


__ADS_3

Malam hari....


Setelah makan malam, mereka semua berkumpul di kamar hotel masing-masing.


"Aku lelah sekali," gerutu Fany.


"Aku mau tidur saja," sambungnya lalu merebahkan dirinya di tempat tidur. Tidak lama kemudian, dia pun sudah terlelap tanpa menunggu waktu lama.


Jennifer dan Thea hanya menggelengkan kepala dengan Fany.


Sedangkan di kamar Julian dan kawan-kawannya, sepertinya mereka semua sudah terlelap tidur semua. Karena suasana di sana cukup tenang, dan benar saja mereka sudah tidur. Dengan posisi yang tidak beraturan, kaki mereka tumpang tindih.


Bahkan arah mereka tidur juga tidak beraturan, satu kepala berada di samping, satu lagi ada yang di ujung tempat tidur. Ada lagi yang di tengah-tengah dengan tertutup selimut, entahlah sesuka hati mereka.


Tiga hari kemudian....


Diva berjalan-jalan di kampus dengan gaya centilnya bersama teman-temannya, bukan karena dia menarik perhatian lelaki, tapi memang begitulah dia yang terkadang suka random. Bahkan teman-temannya pun terkadang hanya di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah Diva.


"La, bisa tidak biasa saja?" Ucap salah satu teman Diva di sana.


"Nggaaaakk...." Jawab Diva melanjutkan gaya berjalannya.


"Astaga... Kenapa aku bisa mempunyai teman seperti ini, ya? Kalau bisa aku sudah tukarkan dirimu dengan kincir angin belanda saja." Celetuk salah satu temannya. Entah kenapa dia juga sepertinya tertular ke randoman Diva, bagaimana caranya dia menukarkan Diva dengan kincir angin belanda.


"Kau akan rugi tidak mempunyai teman yang unik sepertiku, hanya ada satu di sini." Diva berucap dengan menyombongkan dirinya.


"Unikmu melewati batas, La. Aku sampai tidak habis fikir denganmu," sahut yang lainnya.


"Oohhh.... Haaaiii...." Diva melambaikan tangannya pada setiap orang yang tidak dia kenal. Orang-orang tersebut pun terbingung-bingung di sana. Tidak biasanya keponakan dari Sean menyapanya, memang banyak yang tau siapa Diva. Tapi Diva juga tidak bisa mengenal semua orang di sana.


Semua teman Diva saling lirik satu sama lain, karena memang tingkah Diva tidak pernah ada habisnya. Mereka semua memutuskan untuk pergi meninggalkan Diva tanpa sepengetahuan dari Diva.


Diva masih bersikap dengan ke randomannya, ia berbicara tidak ada hentinya dengan teman-temannya. Karena tidak ada sahutan dari teman-temannya, Diva pun menoleh kebelakang.

__ADS_1


Di lihatnya tidak ada satupun temannya, ternyata sedari tadi dia berjalan dan berbicara sendiri.


"Pantas saja tidak ada yang menyahuti ucapanku, mereka semua meninggalkanku. Awas saja kalian," geram Diva lalu melanjutkan perjalanannya. Sepertinya dia akan membuat perhitungan pada teman-temannya yang sudah pergi meninggalkannya di sana seorang diri.


Tiga hari sudah Julian dan kawan-kawannya berada di Turki, bahkan sekarang mereka saat ini berada di Cappadocia.


Mereka berada di Goreme National Park, wisata tersebut tidak boleh di lewatkan jika berada di Cappadocia. Salah satu hal yang wajib di lakukan saat berkunjung ke Goreme National Park adalah mengendarai balon udara atau Hot Air Balloon.


Julian dan teman-temannya memutuskan untuk naik ballon udara di sana, mereka menikmati pemandangan Cappadocia dari ketinggian. Mereka menyaksikan keindahan dataran dengan pilar-pilar berbentuk jamur dan ragam bangunan khas peninggalan Romawi dari atas.


"Waahhh.... Kalo ini kita naiknya waktu malam hari kayanya lebih seru deh ya, lihat pemandangan malam hari dari atas sini." Ucap Fany yang terdengar sedikit nyeleneh.


Julian menjitak kepala Fany, "jangan suka mengada-ada kalau berbicara."


"Aauuwh.... Sakit tau." Sengal Fany yang ingin membalas Julian.


"Heehh... Sudah, kenapa kalian ribut? Aku lempar kalian satu persatu dari sini, mau kalian?" Sengal Marcus melihat keduanya yang sedang bertengkar.


"Tidak," jawabnya menggelengkan kepalanya takut. Mereka semua yang sudah biasa melihat Fany dan Julian bertengkar tidak heran lagi. Memang begitulah mereka jika sudah jadi satu.


Mereka kembali menikmati pemandangan Cappadocia dari atas, tidak ada keributan lagi. Gerald yang memang sedari tadi memandang Jennifer yang sangat tenang, memang hanya dirinya yang tenang di antara perkumpulan mereka.


Gerald mencoba merogoh ponselnya dan mengambil gambar Jennifer secara diam-diam, beberapa jebretan ia dapatkan. Foto Jennifer terlihat sangat cantik, apa lagi dengan pemandangan yang mendukung. Setelah mengambil beberapa jebretan, Gerald kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya sebelum yang lain melihat apa yang dia lakukan.


Sekitar satu jam setengah mereka di atas, akhirnya mereka turun. Mereka ingin ke tempat oleh-oleh untuk keluarga mereka masing-masing.


"Aduuh... Duuh.... Rasanya pusing." Ucap Fany yang merasakan pusing. Mungkin dia sedang mabok udara.


Uueekk...


Fany ingin memuntahkan sesuatu, Julian dan teman-temannya menertawakan Fany di sana.


"Hahahaha.... Jagoan naik balon udara udah muntah," ledek Marcus di sana. Tumben sekali jika Julian tidak mengatainya, biasanya Julian paling utama jika meledek Fany.

__ADS_1


"Diam kau, aku penggal kepalamu baru tahu!" Sengal Fany yang tidak terima jika dirinya di ledek.


"Sudah biarkan, kasihan." Julian mencoba membela Fany.


"Ciieee.... Di bela." Sahut Reiner di sana.


"Tidak, aku tidak membelanya. Kita lihat saja, kan tidak biasanya kita melihat dia muntah begitu hanya karena naik balon udara." Awalnya Fany mengira jika dirinya di bela oleh Julian, tapi ternyata tidak, Julian sama saja.


"Dasar, orang gila." Ucap Fany kesal. Mereka pun akhirnya melanjutkan ke tempat oleh-oleh yang ada di sana.


Melihat sisi Berlin....


Jet mendarat dengan selamat di bandara, tidak lama kemudian mereka turun dari dalam jet. Kedatangannya di sambut oleh beberapa bawahannya yang sudah stand by di sana.


"Selamat datang, tuan." Ucapnya pada tuan mereka.


"Mari, tuan." Sambungnya lalu mengarahkan orang tersebut ke mobil yang sudah telparkir di sana.


Mobil pun segera melaju membelah jalanan kota.


Selang hingga satu jam lamanya, mobil tiba di pekarangan rumah besar. Mereka pun masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


"Di mana Gerald?" Tanyanya mencari keberadaan Gerald yang tidak ada di sana.


"Tuan muda sedang berlibur dengan teman-temannya ke Turki, Tuan. Mereka sudah tiga hari di sana, kemungkinan besok mereka akan tiba." Terangnya.


"Kenapa anak itu tidak memberitahu jika pergi," ucapnya.


"Sudahlah, Mom. Biarkan saja, dia sudah besar. Biarkan dia bermain dengan teman-temannya, kita ke sini kan juga tidak memberitahukan dia. Biar nanti menjadi kejutan untuknya," jelasnya pada sang istri.


Mereka adalah orang tua Gerald, Mommy dan Daddy-nya datang ke sana karena ingin bertemu dengan sang putra yang tidak kunjung pulang ke negaranya sendiri.


"Mommy ngikut saja," ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2