Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 282


__ADS_3

Karena bosan, ia datang ke kantin. Siapa tahu nanti dirinya menemukan makanan yang ia sukai.


Fany berjalan loyo saat berada di kantin, ia hanya melihat jenis-jenis makanan tapi tidak berminat untuk memesan. Ia lebih memilih untuk duduk di kursi yang kebetulan kosong. Ia menyenderkan dirinya di kursi dengan kepala yang mendongak ke atas menatap langit-langit.


Cukup panjang ia menghela napasnya. Apa yang harus dia lakukan saat ini, rasanya sepi, hambar dan tidak semangat.


"Rasanya ada yang aneh," gumam Thea menyadari ada kesepian di hari-harinya saat tidak ada Julian. la kembali menghembuskan napas panjangnya. la benar-benar kehilangan semangat, dirinya biasanya suka membuat gaduh sekarang menjadi diam.


Berselang beberapa menit kemudian, teman-teman satu gengnya tiba di sana. Namun, yang ada hanya Reiner dan Marcus. Robert masih berada di Amerika bersama Jennifer, Thea, dia masih takut untuk keluar.


la tidak mau jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan kembali. Keluarganya yang tahu kondisinya tidak memaksanya, mereka sangat tahu bagaimana kondisi saat ini. Fany menatap ke dua orang biang rusuh setelah Julian.


"Bagaimana dengan Julian? Apa sudah ada kabar?" tanya Marcus di sana. Fany menggeleng lemah.


"Kenapa dia bisa tertembak seperti itu? Siapa yang sudah melakukannya?" Marcus terlihat sangat menggebu. Mereka berdua masih belum tahu siapa teman-temannya sebenarnya.


"Apa itu musuh Julian? Tapi, Julian punya musuh dari mana? Di sini juga tidak ada yang berani dengan Julian."


Reiner mendaratkan pukulannya pada kepala Marcus. "Kau lupa atau bagaimana? Kau lupa siapa Tuan Aiden? Bisa jadi itu salah satu musuh bisnisnya Tuan Aiden."


"Tapi... kenapa harus mengincar Julian?"


Bugh... Reiner kembali memukul Marcus yang terlihat sangat polos seperti tidak tahu apa-apa. Fany hanya diam menyaksikan perdebatan ke dua orang di hadapannya.


"Julian putra dari Tuan Aiden. Dia yang pasti akan meneruskan Tuan Aiden. Mereka pasti akan mengambil celah dari mana pun untuk menjatuhkan Tuan Aiden." Reiner terlihat menggebu-nggebu menjelaskannya pada Marcus.


Kesal sekali harus menjelaskan pada Marcus. Fany beranjak berdiri dari pada memerhatikan mereka yang berdebat tidak penting.


"Ehh... eh... kau mau ke mana?" sahut Marcus.


"Pulang! Lanjutkan saja perdebatan kalian. Aku pusing mendengarnya." Fany terlihat semakin badmood, tidak peduli jika mereka berdua memanggilnya untuk kembali. Fany tetap melanjutkan langkahnya.


Malam hari...

__ADS_1


Fany nampak melamun di dalam kamarnya, tidak biasanya dia melamun sepanjang hari.


Tok...


Tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Di lihatnya sang papa tengah berdiri di depan pintu.


"Papa...." Memang hanya Fanylah memanggil sebutan mommy dan papa. Orang lain mungkin menyebut mommy dan daddy.


James mendekat pada putrinya yang sudah bertumbuh dewasa itu. Ia faham sekali dengan apa yang di rasakan oleh putrinya saat ini.


"Apa yang kau lamunkan, Fa?" Fany hanya menggelengkan kepalanya.


"Makanlah, isi perutmu itu. Apa kau tidak kasihan dengan cacing-cacing di dalam perutmu itu?" James mencoba menggoda Fany, walau ia tahu kemungkinan usahanya gagal membujuk putrinya. Usahanya gagal, Fany hanya diam tidak menyahutinya sama sekali.


"Apa yang membuatmu seperti ini? Apa karena Julian?"


"Aku tidak tahu, Papa." Fany rasanya sangat malas untuk berbicara dengan siapa pun.


"Emm... tentu saja aku nyaman saat bersamanya. Aku juga merasa dia sangat menjagaku, meski pun dia selalu bersikap menyebalkan tapi aku tidak pernah bosan saat bersamanya. Perasaanku juga terasa berbeda." Fany mengingat bagaimana saat-saat mereka berdua.


James faham dengan apa yang di rasa oleh putrinya, Fany ternyata memang belum sadar dengan perasaannya selama ini. Ia terlalu bar-bar dan gengsi, maka dari itu juga dia tidak memahami perasaannya sendiri.


"Harusnya itu kau katakan padanya. Jangan sampai kau menyesal karena tidak mengatakannya padanya lebih dulu." Fany menoleh pada James.


"Hmm... itu... apa yang baru saja kau katakan pada Papa harusnya kau katakan pada Julian. Jangan sampai kau menyesal dulu baru kau mengatakannya," tutur James.


"Apa aku sudah terlambat mengatakannya, Papa?" Fany paham dengan apa yang di katakan James padanya. Fany mengingat bagaimana keadaan Julian saat ini, dia benar-benar takut jika dia terlambat untuk mengatakan semuanya.


James menarik napasnya di sana, ia juga tidak tahu bagaimana kedepannya. Semoga saja ada harapan baik setelah ini.


"Tidak ada yang terlambat untuk mengatakannya.

__ADS_1


โ€‚Sekarang makanlah, kita akan ke Amerika besok. Bagaimana nanti jika Julian melihatmu semakin kurus?" Mata Fany membulat sempurna mendengar ucapan James. "Papa tidak bohong kan?"


James menggeleng cepat di sana. "Tidak. Buat apa Papamu ini berbohong. Papa sudah menyiapkan tiket untukmu, sekarang makanlah," bujuk James. Apa pun akan ia lakukan untuk putrinya.


"Cepatlah makan. Isi perutmu, besok kita akan melakukan perjalanan jauh. Jangan sampai perutmu hanya berisi angin." Fany berhambur memeluk sang papa.


"Thank you, Papa." James membalas pelukan putrinya dengan penuh kasih sayang. Akhirnya ia bisa melihat kembali Fany yang bersemangat.


"Papa keluar dulu. Cepatlah makan dan beristirahat." Fany mengangguk mengiyakan apa yang di katakan sang papa.


10 menit kemudian, Fany keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengisi perutnya yang kosong selama satu minggu. Sedikit semangat dirinya kali ini setelah mendengar yang di katakan James. Rika melihat Fany dari kejauhan, ia membiarkan saja apa yang akan di lakukan oleh Fany.


"Apa yang kau lakukan padanya?" ujar Rika dengan pelan pada James. Segala macam ia membujuk Fany selama satu minggu tidak kunjung berhasil, dan kali ini ia bisa melihat Fany di meja makan, walau seorang diri.


"Aku membelikan tiket untuknya pergi ke Amerika besok," jawab James.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku dulu." Rika memukul sedikit keras lengan James.


"Aku lupa. Sudah biarkan saja, kau tidak lihat kalau dia bersemangat sekali sekarang. Aku tidak tega melihat keadaannya selama satu minggu hanya diam dan tidak mengisi perutnya sama sekali."


Amerika...


Matahari masih bersinar terang di bagian Amerika, karena memang perbedaan waktu antara Berlin dan Amerika. Tepat di salah satu rumah sakit terbesar di Amerika, di mana di sana tempat Julian berada.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Seanmenggunakan bahasa Inggris. Seandan Ana segera menyusul ke Amerika, mereka tidak akan membiarkan putranya berjuang sendiri bertahan antara hidup dan mati.


"Keadaannya sudah cukup baik dari sebelumnya. Kekebalan tubuhnya yang kuat membantunya cepat membaik. Kemungkinan dalam dua hari pasien akan pulih," terang dokter yang menangani Julian.


Ana terlihat sangat senang mendengar kabar putranya yang mulai berangsur membaik. Ana merangkul pundak Jennifer yang berada di sampingnya.


"Permisi." Dokter berpamitan pergi meninggalkan mereka yang ikut berjaga menunggu Julian. Kabar baik mereka dapatkan hari ini.


"Beritahu orang-orang rumah, Jen. Mereka pasti akan senang mendengar kabar ini," pintanya. Jennifer mengangguk dan merogoh ponselnya.

__ADS_1


Mereka semua yang berada di Berlin harus mendengar kabar baik ini. Berbagi kabar baik tidak ada salahnya bukan.


__ADS_2