Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 21 Desakan Rika


__ADS_3

Keesokan harinya...


Mereka berdua kembali bekerja, seperti biasa. Mereka akan selalu berangkat bersama-sama. Sean tidak akan membiarkan Ana pergi sendiri walaupun di antar oleh supir.


Setiap orang memandang kedatangan Ana saat ini, mereka menggunjing pelan dan menatap Ana sinis. Bagaimana tidak, karena ia selalu bersama dengan Sean. Saat Sean tidak datang, Ana juga tidak datang ke kantor. Sekarang Sean datang, Ana pun datang ke kantor.


Ana berjalan lurus tidak menghiraukan mereka semua yang ada di sana.


Sesampainya di dalam ruangan yang sama. Ana mendudukkan dirinya di sana.


"Emm... Sean. Apa aku boleh kembali ke ruangan ku sebelumnya?" ucap Ana pelan. Ia takut jika Sean marah.


"Tidak, kau diam di sini" Tolak Sean dengan tegas.


"Tapi... bagaimana ucapan mereka di luar sana. Mereka pasti akan mengataiku yang tidak-tidak. Aku hanya seorang admin di sini, bagaimana bisa aku satu ruangan dengan dirimu. Aku juga pasti akan bosan jika tidak ada temannya." Wajah Ana memelas.


"Kau tidak perlu bekerja, temani saja aku disini." Titah Sean. Ana hanya diam dan memelas. Sean melihat ekspresi wajah pada Ana membuat ia tidak tega.


"Huuh... ya sudah kau boleh kembali keruanganmu. Waktu makan siang nanti, kau harus makan disini bersamaku." Ucap Sean memperbolehkan Ana kembali.


"Sungguh?" Wajah Ana kembali ceria. Sean menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Terima kasih." Ucap Ana dengan semangatnya, la melangkahkan kakinya menuju kearah pintu.


"Makan siang nanti kau harus kembali." Ujar Sean sebelum Ana membuka pintu ruangan tersebut.


"Oke." Jawab Ana. Ia pun keluar dan menutup kembali pintu ruangan Sean.


Ana menuju keruangannya karena sudah tidak


sabar bertemu dengan teman karibnya.


Sesampainya di ruangannya, Ana segera masuk dan menyapa teman-temannya.


"Hai semuanya..."


"Ana..." ucap mereka serempak.


Ana mendudukkan dirinya di atas kursi miliknya.


"Ana... sebenarnya siapa orang-orang datang membawamu pergi waktu itu? Dan kemana kau? Kenapa setelah aku kembali kau tidak ada di ruangan?" Cerca Rika penasaran.


Ana di buat bingung dengan pertanyaan dari Rika, bagaimana dia akan menjawabnya. Ia tidak mungkin menjawab jika orang-orang itu adalah orang suruhan Sean.


"Emm.. ituu... eehh..."


"Emm.. eeh... apa? Yang jelas dong jawabnya." Sungut Rika pada Ana.


Ana hanya menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.


"Dan siapa tuan yang dia maksud? Kenapa kau langsung saja menurutinya?" Desak Rika. Pertanyaan yang sebelumnya saja ia tidak bisa menjawabnya. Sekarang Rika malah bertanya lagi.


"Jawab Ana. Kenapa kau diam saja dari tadi?" Rika kesal karena tidak dapat jawaban dari Ana.

__ADS_1


"Gimana ya... aku tidak bisa mengatakan sekarang." Jawab Ana.


"Lalu.. kenapa kau kemarin tidak masuk? Tuan Sean tidak masuk kau ikut masuk. Apa kalian ada hubungan sesuatu?" Rika kembali mendesak Ana dengan serentetan pertanyaan.


Lagi-lagi, Ana tidak tahu bagaimana ia menjawabnya. Ia kembali menggaruk-garukkan kepalanya.


"Apa itu benar?" Sarkas Rika melihat ekspresi Ana.


Ana hanya menggelengkan cepat kepalanya. Dengan ekspresi yang sedikit mencurigakan.


Rika menyipitkan matanya melihat ekspresi dari Ana. "Kau berbohongkan?" Todong Rika lagi.


"Ahh... sudahlah. Kita bekerja, jangan membuang-buang waktu." Ana mencoba melarikan diri dari pertanyaan Rika yeng cukup mendesaknya.


Belum waktunya ia mengatakan jika dirinya sudah menikah dengan Sean.


Rika sedikit kecewa karena tidak mendapat jawaban dari Ana. Mereka pun meneruskan pekerjaannya masing-masing.


Tidak terasa waktu berjalan cepat, waktunya makan


siang.


"Ana, ayo kita ke kantin." Ajak Rika.


"Emm... tidak dulu deh ya. Maaf, aku sudah ada janji ." Ucap Ana sedikit tidak enak pada Rika.


Ana segera bangkit dari duduknya dan menuju ke ruangan Sean. Rika memandang curiga pada Ana, karena tidak biasanya Ana ada janji waktu makan siang.


"Kenapa dengan anak itu? Tidak seperti biasanya."


Ana bergegas menuju keruangan Sean sebelum Rika bertemu dengannya lagi.


Sesampainya di depan ruangan milik Sean, ia mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk.


Tok...


Tok...


"Masuk" Teriak Sean dari dalam.


Ana masuk setelah mendengar teriakan Sean dari


dalam.


"Duduklah, James akan membawakan pesanannya kemari." Titah Sean pada Ana. Ana mendudukkan dirinya di sofa.


Tidak lama kemudian, James masuk membawakan banyak makanan untuk tuan dan nyonyanya.


"Ikutlah makan sekali tuan James." Perintah Ana pada James.


"Terima kasih, nyonya. Tapi, saya sudah ada untuk saya sendiri." Tolak James secara halus.


James membungkukkan sedikit badannya lalu kembali keluar. Tidak mungkin ia ikut makan bersama tuan dan nyonya-nya.

__ADS_1


Sean segera mendekat kearah Ana dan segera makan bersama.


"Suapi aku." Kata Sean


"Kenapa tidak makan sendiri?" Ana mengerucutkan bibirnya.


"Sekali-kali. Aku suamimu, kau harus terbiasa akan hal ini." Jawab Sean telak.


Mau tidak mau Ana menyuapkan makanan pada Sean meskipun sedikit malu.


Tapi, itu adalah cara Sean agar Ana bisa mencintai dirirnya.


Kini giliran Sean menyuapi Ana.


"Buka mulutmu," perintah Sean dengan makanan yang sudah berada di depan Ana.


"Tidak perlu, aku makan sendiri saja." Tolak Ana.


"Menurut Ana," ujar Sean dengan sedikit garang. Mau tidak mau, Ana menurut dengan apa yang di lakukan dengan Sean padanya.


Akhirnya, makan siang mereka hanya di lakukan berdua Ana saat ini.


"Setiap hari, kau harus suapi aku. Di manapun itu berada." Ujar Sean setelah mereka makan siang.


"Bagaimana jika ada yang melihat?"


"Aku tidak peduli itu. Sudah kewajibanmu melayani suamimu." Ucapan Sean tidak bisa di bantah lagi. Ana menurut saja padanya, karena itu memang kewajibannya.


Seusai makan siang, Ana segera kembali ke ruangannya berada. Ia tidak mau membuat temannya erasa curiga kembali padanya.


"Kau sudah kembali?" Tanya Rika.


"Ada janji dengan siapa memangnya? Tidak seperti biasanya dirimu ada janji dengan seseorang?" Tanya Rika.


Baru saja Ana datang dan duduk di kursinya, Rika sudah kembali bertanya tanpa hentinya sedari tadi.


"Kau itu, kenapa tidak bisa membuat Ana tenang sedikit sih? Sedari tadi kau bertanya muluh. Biarkan saja kenapa kalau Ana ada janji dengan seseorang." Sahut salah satu teman yang berada di ruangan itu.


"Suutt... diamlah. Aku bertanya pada Ana." Sengal Ana pada temannya. temannya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Rika.


"Tidak ada, aku hanya ada janji dengan temanku tadi ." Bohong Ana. Mana mungkin ia menjawab ada janji dengan Sean. Bisa-bisa temannya yang seruangan itu dan saling suap. Sean merasa senang bersama akan heboh.


Rika meyipitkan matanya. "Teman siapa?"


"Kepo sekali kau itu." Ketus Ana.


"Aku tidak kepo. Aku penasaran saja, tidak seperti biasanya saja dirimu itu." Elak Rika.


"Tidak seperti biasanya gimana? Orang aku sama saja." Ujar Ana.


"Tidak-tidak, aku merasakan ada yang berbeda pada dirimu setelah kau selalu pergi dengan tuan Sean." terang Rika.


"Itu hanya perasaanmu saja. Sudahlah, kita bekerja.. Jangan mengobrol terus." Potong Ana sebelum Rika mendesak dirinya dengan serentetan pertanyaannya.

__ADS_1


jangan lupa untuk di like and komen ya


__ADS_2