
Sisi Amerika...
Kriing...
Kriing...
Di tengah-tengah waktu bersantainya, deringan ponsel membuatnya sedikit terganggu. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, ia pun mengambil ponsel miliknya dan menggeser tombol hijau.
"Ada apa?" tanyanya tanpa berbasa basi.
"Maaf, Tuan. Saya melaporkan, ternyata saham kita selama ini turun secara perlahan selama satu bulan ini. Dan hari ini saham mengalami penurunan secara drastis. Semua orang di perusahaan bingung, semua menjadi kocar-kacir, "lapornya di seberang sana.
"Apa yang kau katakan, hah!?" pekiknya dengan keras hingga anak dan istrinya terkejut di buatnya.
"Maafkan saya, Tuan. Kita semua telah kecolongan, kita terancam kebangkrutan, Tuan," ujarnya di seberang sana. Nada bicaranya terdengar sangat cemas dan panik akan hal ini. Pasti tuannya itu akan marah besar padanya.
"Haahh... sial." Braak... ponselnya ia banting begitu saja sampai tidak berbentuk. Anak dan istrinya semakin terkejut dengan apa yang dia lakukan.
"Ada apa, Dad?" tanya sang istri.
"Perusahaan terancam bangkrut karena penurunan saham selama satu bulan terakhir. Mereka bod*h sekali! Haaahh...!" la kembali berteriak tidak terima mendengar
jika dirinya terancam kebangkrutan.
"Apa, Dad? Kita bangkrut? Mommy tidak mau itu terjadi, Dad? Bagaimana nasib kita nanti?" sang istri tidak bisa menerima kenyataan jika perusahaan mereka terancam angkrut.
"Wendy juga tidak mau, Mom, Dad! Wendy tidak mau jika kita bangkrut," sahut Wendy.
Keluarga Brown saat ini terancam bangkrut karena saham yang selalu menrurun perlahan setiap ahrinya, sayangnya pihak mereka tidak ada yang tahu. Entah bagaimana cara kerja anak buah Gerald yang bisa membuat mereka tidak menyadarinya. Keluarga Brown juga tidak akan tahu jika dalang di balik bangkrutnya mereka adalah Gerald sendiri.
"Bagaimana itu bisa terjadi, Dad?" sang istri tidak bisa diam dalam hal ini. la benar-benar takut jika mereka benar-benar bangkrut dan tidak memiliki apa-apa lagi.
__ADS_1
"Daddy juga tidak tahu, Mom! Daddy juga pusing memikirkan ini, apa kalian kira Dadddy tidak bingung!?" tuan Brown kesabarannya hanya seujung kuku. Dirinya sudah pusing tetapi anak dan istrinya malah merengek dengan masalah ini, semakin emosi saja dia di buatnya.
Tanpa kata-kata lagi, tuan Brown melangkahkan kakinya cepat keluar dari rumah megahnya. Ia ingin ke perusahaan melihat apa yang sedang terjadi. Sementara anak dan istrinya hanya berpikir jika mereka benar-benar bangkrut.
"Moom... bagaimana ini, Wendy tidak mau kalau kita mengalami kebangkrutan. Memalukan sekali kalau semua orang tau kita bangkrut begitu saja," ucapnya panjang lebar pada sang mommy.
"Mommy juga tidak mau jika kita bangkrut begitu saja. bagaiman dengan teman-teman arisan Mommy yang tahu akan hal ini, mereka pasti tidak akan bisa diam." Keluarga mereka bukannya saling menguatkan, tetapi hanya kesenangan diri mereka saja yang mereka miliki.
Mereka berdua ribut dengan keadaan mereka, sedangkan tuan Brown di buat pusing dengan semua masalah yang terjadi secara tiba-tiba menimpanya.
Sementara di sisi Berlin ...
"Siang, Tuan Muda," sapanya pada tuannya.
"Ada apa?" tanyanta singkat.
"Saya memberikan laporan pada Tuan. Keluarga Brown saat ini sedang berada di ujung tanduk, mereka terancam bangkrut dalam sekejab," lapornya dengan singkat padat dan jelas.
"Lalu, bagaimana dengan kekayaan mereka, Tuan Muda?" tanya anak buahnya ragu-ragu.
"Kalau kau mau, kau ambil saja. Aku tidak butuh harta mereka, terserah kalian gunakan untuk apa pun itu." Siapa lagi kalau bukan Gerald, ia meminta anak-anak buahnya untuk menarik setiap hasil dari keluarga Brown ke dalam akun miliknya.
Namun dia sendiri tidak mau menerima kekayaan dari keluaga Brown, dia sendiri juga sudah memiliki kekayaan tersendiri. Gerald benar-benar tidak peduli apa yang terjadi dengan mereka saat ini.
"Kau boleh kembali, lakukan tugas terakhir kalian untuk keluarga itu," pinta Gerald pada anak buahnya. Anak buahnya mengangguk dan keluar dari ruangan.
Julian dan Fany sampai di tempat tujuan mereka, Julian mengajak Fany untuk datang ke festival labu. Di sana banyak sekali orang yang menjajakan makanan, ia paling tahu pasti Fany sangat suka ia mengajaknya ke sana. Karena wanita paling suka jika sudah di hadapkan dengan banyak makanan.
Walau namanya festival labu, tetapi di dalam banyak juga makanan jenis lain yang tidak bertemakan labu. Julian dan Fany mulai mencicipi satu persatu makanan yang ada di sana. Karena banyak antrian, jadi mereka juga harus bersabar.
Julian dan Fany kali ini akan mencoba sup labu yang memiliki rasa gurih, ke duanya menikmati tanpa gangguan orang lain. "Kau menyukainya?" tanya Julian.
__ADS_1
"Hmm... rasanya tidak buruk. Aku rasa Mommy harus membuat makanan ini di rumah nanti," jawabnya dengan menikmati sup miliknya.
"Habiskan, habiskan. Kalau kau mau nambah aku akan membelikan yang banyak untukmu. Bila perlu nanti orang yang memasaknya akan aku bawakan juga ke rumahmu," ucap Julian nyeleneh. Anak sultan memang bebas, apa yang dia inginkan pasti bisa dengan mudah dia dapatkan.
"Jangan aneh-aneh. Untuk apa juga kau membawakannya ke rumahku?" jawab Fany yang tidak menyetujui ucapan Julian.
"Agar kau nanti bisa menikmati banyak makanan yang kau suka. Jadi kau tidak perlu repot-repot memasak sendiri atau keluar mencari makanan,"
Fany memutar ke dua matanya malas, entah apa yang di pikirkan oleh Julian itu. "Buat apa juga? Bisa-bisa aku muntah setiap hari setiap saat memakan sup labu terus-terusan. Habiskan saja punyamu, jangan banyak bicara saat makan!"
Ke duanya kembali menikmati sup labu masing-masing. Ketika sup mereka habis, mereka kembali untuk berkeliling mengitari festival untuk mencari makanan yang lainnya. Tepat di sela-sela keramaian, mereka menemukan salah satu permainan anak, ke duanya mendekat untuk sekedar bermain.
Walau itu permainan anak kecil, Julian memaksa untuk bermain. Tingkahnya memang ada-ada saja, mau tidak mau si penjaga itu membiarkan Julian bermain.
Permainan yang di mainkan kali ini tembak sasaran yang di ujung peluru itu menggunakan karet.
Fany pun awalnya melarang Julian, tetapi tahu sendiri bagaiman seorang Julian. Maka dari itu Fany membiarkan saja apa yang di lakukan Julian walau banyak sekali yang melihatnya. Julian bersiap-siap untuk membidik sasarannya.
Tembakan pertama Julian tidak mengenai sasaran di depan sana. "Hah, bagaimana bisa tembakanku meleset. Apa tembak ini bengkok!?" Julian tidak bisa menerima jika tembakannya tidak mengenai sasaran. Dia yang biasanya menggunakan pistol sungguhan saja selalu mengenai sasaran, kenapa juga dengan menggunakan tembakan ini tidak mengenai sasaran.
"Lagian, kau juga aneh-aneh saja. Ingat postur tubuh dan umur," celetuk Fany.
"Tidak ada yang salah dengan postur tubuh dan umur, Honey. Aku sangat ahli dalam menembak, kenapa tembakan ini bisa meleset. Padahal aku sudah membidiknya di tengah-tengah," jawab Julian tidak mau menerima.
"Apa tidak ada tembak sungguhan?" celetuk Julian pada penjaga stand tersebut. Fany hanya bisa menepok jidatnya pelan dengan tingkah Julian saat ini.
"Tidak ada, Tuan," jawabnya dengan menggelengkan kepala. Tentu saja tidak ada, untuk apa juga tembakan sungguhan ia bawa ke sana.
"Ck, payah sekali. Harusnya aku membawa saja tadi," selorohnya Julian.
"Kau saja yang aneh, sudah tahu itu mainan anak kecil. Tapi kau memaksa untuk bermain," ketus Fany. Rasanya ia ingin memasukkan Julian ke dalam tas kecilnya saja jika seperti ini.
__ADS_1
"Sama saja. Ini juga untuk orang dewasa," kata Julian menolak keras. Dia kembali membidikkan peluru-peluru karet itu di sana, Fany hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Julian.