Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 216


__ADS_3

Buugh... bugh... bugh... braaak...


Mereka terpental jauh hingga menimpah barang-barang yang ada di sana. Satu persatu dari mereka membawa kayu dan sebagainya untuk mereka gunakan sebagai senjata melawan Gerald.


Bugh... bugh... bugh....


Bukannya Gerald, justru anggotanya yang lain yang terkena pukulan darinya.


Bugh... Gerald kembali menendang mereka hingga jatuh tersungkur.


"Heh, apa kau lihat. Ternyata kalian tidak sekuat dari orang-orang katakan, buktinya kalian bisa di kalahkan dengan laki-laki yang aku suka itu. Bahkan kalian juga sangat bod*h," hinanya lagi pada pimpinan orang-orang jahat itu.


la pun menoleh ke arah Sisca dan tersenyum miring. "Heh, apa kau tidak sadar, Nona. Kau sendiri yang sudah jatuh ke dalam perangkapmu, bukankah laki-laki itu yang mengatakan jika dia yang melakukannya? Dia datang ke sini melawan anak buahku bukan karena menolongmu, Nona. Sepertinya, kau yang bod*h di sini."


"Heh, kau mengelak karena kau kalah!" sentak Sisca.


Bugh... bugh... bugh...


Bugh... bugh... bugh...


Kayu yang mereka bawa berhasil Gerlad rebut, Gerald memukul mereka bertubi-tubi tanpa ampun. Dalam sekejap, mereka tumbang di tangan Gerald. Gerald kembali menatap Sisca dan pimpinan dari orang-orang jahat itu dengan tatapan tajamnya.


"Kalian berani bermain denganku?" ujarnya pada keduanya. Tatapannya seolah-olah ingin memangsa mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan pada anak-anak buahku, hah !" teriak pimpinan orang-orang itu.


"Apa kau tadi tidak melihatnya?"


"Kurang ajar, kau!" teriaknya lagi pada Gerald.


"Itulah akibat kalian ingin bermain-main denganku. Dan kau, Nona Sisca, apa kau kira aku tidak tahu apa rencanamu?" Gerald menatap Sisca dengan tajam.


"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud?" Sisca mencoba untuk menenangkan dirinya, padahal dia sangat terkejut mendengar ucapan dari Gerald.

__ADS_1


"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau maksud?" Sisca mencoba untuk menutupi kebohongannya.


"Apa aku harus memberitahumu?" bukannya menjawab Gerald justru bertanya kembali pada Sisca.


"Heh, kau anak muda. Kau harus membayar apa yang sudah terjadi pada anak-anak buahku!" sentaknya pada Gerald. Gerald mengalihkan pandangannya pada pimpinan orang-orang jahat itu.


"Apa yang sudah aku lakukan? Bangunkan saja mereka, mereka akan bangun dengan sendirinya. Tapi aku tidak janji jika mereka bangun akan baik-baik saja," jawab Gerald dengan tersenyum sinis di sana.


Gerald memang sengaja untuk tidak langsung menghilangkan nyawa mereka semua, akan ada balasan yang lebih yang akan Gerald berikan pada mereka yang sudah berani bermain-main. Padahal, dari mereka belum sampai menyentuh Jennifer, tetapi Gerald tidak bisa membiarkan mereka hidup begitu saja.


Geral sedari tadi hanya memberikan pukulan demi pukulan dan tendangan pada mereka, tetapi yang di berikan Gerald pada mereka juga sangat keras. Belum lagi mereka yang mendapat pukulan balok kayu dari Gerald. Sepertinya dari mereka mengalami patah tulang dan luka dalam karena pukulan-pukulan dan tendangan dari Gerald.


"Kurang ajar kau!" pekik pemimpin itu lalu mengeluarkan belati yang ia sembunyikan sedari tadi.


la pun melawan Gerald dengan mengarahkan senjatanya, Gerald bisa menghindari serangan dari pimpinan penjahat kelas kakap itu.


Bugh... bugh... bugh...


Bugh... braak...


Tendangan kuat dari Gerald hingga orang itu terpental mengenai barang-barang yang ada di sana. Di saat Gerlad sedang melawan penjahat itu, Sisca berusaha untuk melepaskan dirinya dari sana, ia tidak mau jika Gerald tahu semuanya. Usahanya sia-sia, Sisca tidak bisa melepaskan ikatan itu meskipun sudah berusaha keras.


Orang itu mencoba bangkit lagi ingin melawan Gerald di sana. Ia melempar belati yang ia bawa itu, dengan gerakan yang dapat di baca oleh Gerald, Gerald pun bisa menghindarinya.


Syuuut... tek...


Belati itu menancap di salah satu benda kayu di sana, Sisca di sana harap-harap cemas saat orang suruhannya itu melempar belati ke arah Gerlad. Ternyata dia masih ada rasa khawatir jika Gerald terluka.


"Apa kau ingin bermain lebih denganku?" Gerald terlihat menantang pria itu.


"Akan aku balas kau!" teriaknya lalu bangkit melawan Gerald kembali.


Mereka kembali melakukan baku hantam, perlawanan mereka juga lumayan memakan waktu. Orang itu sedikit kewalahan melawan Gerald, tenaga Gerald sepertinya tidak ada habis-habisnya, tidak terlihat lelah di wajahnya.

__ADS_1


"Apa kau sudah lelah? Bukankah kau penjahat terkenal di kalanganmu? Kenapa melawanku seorang diri saja kau tidak bisa?" Gerald tersenyum remeh pada pria itu.


"Aku hanya memberimu kesempatan melawanku, setelah ini, kau tidak akan bisa berkata-kata lagi," elaknya. Padahal sudah jelas-jelas jika dirinya terkalahkan oleh Gerald.


"Benarkah? Tersanjung sekali, aku," jawab Gerald.


"Akan aku balas kau!" lagi-lagi mereka terlibat baku hantam. Sisca tidak bisa berbuat apa-apa, bukan seperti ini yang dia inginkan sebenarnya, tetapi kenapa jadi seperti ini.


"Hentikan!" teriak Sisca tetapi kedua laki-laki itu tidak berhenti untuk bergelud.


Buugh...


Bruugh...


Pimpinan orang jahat itu terpelanting jauh hingga dirinya jatuh, tumpukan barang-barang yang ada di sana jatuh menimpahi dirinya. Sisca membelalakkan kedua matanya melihat apa yang terjadi saat ini.


"Hentikan! Lepaskan aku!" teriak Sisca. Gerald yang mendengar teriakan Sisca pun menoleh dan mendekat ke arah Sisca dengan santai.


"Kenapa kau harus berteriak? Bukankah ini yang kau mau?" Gerald tersenyum sinis di sana.


Prokk...


Prook....


Gerald menepuk tangannya dua kali, tidak berselang lama beberapa anak buahnya datang menghampiri setelah mendengar tepuk tangan dari Gerald. Tepuk tangan itu merupakan kode panggilan dari Gerald untuk anak-anak buahnya.


"Bawa pergi semua kumpulan orang-orang itu. bawa mereka ke tempat yang sudah tersedia," perintah Gerald pada anak-anak buahnya. Mereka yang faham dengan apa yang di ucapkan Gerald pun segera membawa kumpulan orang-orang itu, termasuk dengan pimpinan orang-orang itu juga.


Sisca hanya bisa memberontak untuk di lepaskan ikatannya itu, ia takut saat orang-orang suruhannya itu di bawa pergi oleh anak-anak buah Gerald. Dirinya juga tidak mau jika dia sampai di bawa oleh anak-anak buah Gerald. Setelah semua sudah tidak tersisa, hanya tertinggal Gerald dan Sisca yang ada di sana.


Gerald memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan mendekat ke arah Sisca yang masih terikat kencang. "Bagiamana dengan kejutannya, Nona?


Menarik bukan? Kau pasti sangat suka dengan kejutanku ?"

__ADS_1


__ADS_2