
Hari-hari berikutnya, Marcus dan Reiner di latih oleh anak buah Julian. Julian benar-benar memilihkan anak buahnya yang terlatih dalam bidangnya. Mereka berdua selalu mengeluh lelah dan tidak sanggup lagi.
Anak buah Julian melatih mereka habis-habisan, waktu istirahat juga hanya beberapa menit saja. Selama bersama Julian mereka masih bisa merengek atau yang lainnya, dengan anak buah Julian mereka hanya bisa meneguk salivanya dengan kasar. Benar-benar sangat ketat, Julian tertawa puas dengan ini.
Rasanya ke duanya ingin berhenti melanjutkan latihan itu, tetapi tidak ada alasan untuk mereka berhenti. Anak buah Julian menolak keras mereka berhenti begitu saja, mau tidak mau mereka melanjutkan latihan walau dalam hati mereka menjerit.
"Hahaha... kapan lagi melihat mereka seperti ini." Julian hanya memantau dari kejauhan apa yang di lakukan anak buahnya.
"Aaahh... aku sudah tidak kuat lagi. Melelahkan....” Napasnya mulai terengah-engah karena latihan keras yang di lakukannya.
"Kau benar, kenapa keras begini?" sahutnya mendengar ucapan Marcus.
Ke duanya mengeluh lelah karena latihan keras mereka selama beberapa hari ini. Sungguh mereka tidak menyangka jika latihan bela diri akan sekeras itu. Semua rubuhnya terasa remuk, maklum jika mereka masih belum terbiasa.
"Kenapa kalian berhenti!" teriak Julian di ujung sana saat ke dua temannya itu berhenti sejenak.
"Apa yang dia lakukan dulu seperti ini? Aaahh menyesal aku memintanya mengajari bela diri, kalau tahu begini lebih baik aku tidur saja di rumah," keluh Marcus. la selalu mengeluh dengan apa yang dia lakukan. Mereka berdua hanya bisa menatap Julian dari kejauhan.
"Huuuhhh... semangat untuk kalian. Nanti akan dapat hadiah dariku...," sorak Julian dengan senang hati.
"Haaaiih... apa dia meledek kita? Sepertinya dia suka sekali melihat kita berdua menderita," dumelnya lagi.
"Dasar teman tidak berperikemanusiaan." Marcus sedikit kesal, ia menendang kakinya mengudara. Julian yang melihatnya semakin tertawa kencang di sana. Beda lagi dengan ke dua temannya yang sudah cemberut karena dirinya.
"Kalian lanjutkan dulu, okeee... aku pergi dulu. ." Julian berteriak dan melambaikan tangannya Byeee...." pada ke dua temannya.
Julian pergi meninggalkan tempat latihan dengan wajah tengilnya tidak pernah tertinggal. Ia membiarkan anak buahnya mengambil alih lagi latihan ke dua temannya. Dirinya yakin jika apa yang di latih anak-anak buahnya itu tidak akan menghianati hasil.
__ADS_1
Memang sedikit keras, tetapi hasilnya mereka akan tahu sendiri. Saat ini ke dua temannya itu hanya perlu membiasakan diri. Ke dua temannya itu memandang kepergian Julian.
"Mau ke mana anak itu. Apa dia tidak tahu bagaimana penderitaan kita? Aku berdoa jika dia di sini dia membantu kita, ternyata salah," keluh Marcus melihat kepergian Julian.
"Kau benar sekali. Aku berharap kalau dia mengatakan pada anak buahnya untuk meringankan latihan kita. Ternyata dia malah tertawa terbahak-bahak," sambung Reiner.
"Eehheem... mari kita lanjutkan latihannya, Tuan-Tuan." Suara anak buah Julian sudah terdengar.
"Ehehehee... bisakah kita beristirahat dulu. Aku lelah sekali, jangan terlalu keras, oke. Nanti aku akan mentlaktirmu makanan, aku janji." Marcus mencoba membujuk anak buah Julian, bisa saja idenya. Wajahnya cengengesan seperti tidak ada takut-takutnya.
"Benar apa yang temanku katakan ini, kita sangat lelah. Apa kau tidak kasihan? Kita istirahat dulu, ya. Nanti kita akan mentlaktirmu makanan enak-enak," bujuk Reiner. Mereka berdua memang ada-ada saja.
"Saya beri waktu istirahat 10 menit lagi. Setelah itu kita lanjutkan lagi," ujar anak buah Julian. Dia tidak tega melihat teman-teman Julian itu merengek dan memelas. Marcus dan Reiner menggunakan kesempatan itu untuk istirahat terlebih dulu.
"Honeeyyy... yuhuuu...," teriaknya dengan kencang saat berada di ambang pintu.
"Astaga... kenapa anak itu datang-datang berteriak kencang sekali!" sengalnya mendengar teriakan Julian. la pun berjalan ke depan untuk menemui tamu agungnya yang tengah datang.
"Kalu saja bukan anak Sean sudah aku jitak kepalanya dengan keras." Rasanya sangat geram pada Julian karena tingkahnya yang memang di luar nalar.
"Apa tidak terlalu pelan tadi teriakanmu," sindirnya dengan menunjukkan wajah sebalnya.
"Apa aku kurang keras, Mom?" tanya Julian dengan wajah polosnya. Diam-diam Julian sduah memanggil Rika dengan sebutan Mommy. Yang menemuinya memang Rika, bukan Fany.
"Hemm... kalau bisa yang lebih keras lagi."
"Honeeeeyyyy....!" Tanpa di sangkah-sangkah Julian teriak semakin kencang di sana. Rika tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Julian, ia pun menutup ke dua telinganya karena teriakan Julian yang nyaring.
__ADS_1
"Auhh... auh... auh... sakit, Mom." Julian meringis kesakitan karena Rika menjewer kupingnya dengan kuat. Rika berkata seperti itu berniat membuat Julian tersadar dengan sindiran halusnya, bukannya merasa justru Julian menanggapinya lain.
"Apa kau bisa datang tidak teriak-teriak di rumah orang!?" omelnya pada Julian. Bisa-bisanya Julian semakin berteriak keras di rumahnya.
"Kan Mommy sendiri yang bilang kurang keras, bukan salah Julian juga, kan?" seperti biasa jika Julian akan membalas setiap ucapan orang lain.
"Entah bagaimana bisa Ana melahirkan putra sepertimu. Kalau aku pasti sudah aku tukar tambah dirimu waktu di rumah sakit," celetuk Rika dengan entengnya. Kesabaran Rika setipis tissu yang di bagi dua, mudah emosi.
"Memangnya Mommy mau menukar tambahkan aku dengan apa? Orang tua di luar sana tidak seberuntung Mami Ana yang mendapat putra sepertiku. Jadi sangat mahal jika aku di tukar tambahkan." Bukannya merasa sakit hati, tetapi Julian menanggapinya dengan gurauan. Hatinya seperti tidak pernah merasa sakit hati pada orang-orang di sekitarnya, tetapi beda lagi kalau dia menghadapi musuhnya.
"Kau saja yang beruntung memiliki Mami seperti Ana," jawab Rika kesal.
"Tentu saja aku sangat beruntung. Mami dan Papi juga beruntung memiliki putra sepertiku yang sangat pintar dan pendiam ini." Rika menatap sinis pada Julian, tingkah yang seperti itu dia kata pendiam.
Rika menarik napas dalam-dalam sebelum menghadapi Julian lebih lama lagi. Kesabarannya benar-benar di uji jika Julian datang, semoga saja dirinya nanti tidak sampai darah tinggi saat memiliki menantu seperti Julian.
"Kau memang sangat pendiam, sampai-sampai dunia terlihat kacau karenamu." Rika menjawab ucapan Julian sekenanya saja, habis sudah kata-kata darinya saat menghadapi Julian seorang.
"Karena dunia juga berada di pihakku. Mommy harus tahu itu." Julian mengedipkan sebelah matanya. Setiap ucapan Julian menguji kewarasan orang-orang. Rika bergidik ngeri dengan apa yang di lakukan Julian.
"Kenapa aku harus di pertemukan orang sepertimu?" Rika nampak putus asa menghadapi Julian.
"Mau apa kau ke sini?" sengalnya. Rika menghentikan perdebatan tidak pentingnya dengan Julian dari pada nanti dirinya stress.
"Tentu saja aku ingin menemui putrimu, Mom. Tidak ada hal lain lagi," jawabnya dengan santai.
"Huuhh... tunggulah di dalam. Mungkin dia lagi bersiap di kamarnya, biar aku panggilkan untukmu." Rika mempersilahkan Julian masuk dan segera memanggil Fany agar dirinya terbebas dari Julian.
__ADS_1
Menghadapi Julian memang hanya menguras emosinya saja. Hingga pada akhirnya Fany turun dengan pakaian casualnya, walau begitu tetap terlihat cantik. Tanpa berlama-lama ke dua sejoli itu pun pergi berkencan meninggalkan Rika di rumah yang kebetulan dirinya hanya sendiri di rumah.