Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 50 Fakta Mengejutkan


__ADS_3

Ana duduk berdekatan dengan Sean dan sebelahnya ada Diva. James berdiri di samping Sean kali ini.


"Apa kalian mengenalnya?" Sean memancing mereka untuk berbicara.


"Sean... kenapa kau tidak mengatakan jika mereka yang berkunjung." Bisik Ana.


"Kau tenanglah. Aku ingin sedikit memberi pelajaran pada mereka."


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ana merasakan takut dengan apa yang akan dilakukan pada keluarganya.


Sean hanya memberikan kode pada Ana untuk bersikap tenang. Ana hanya bisa menurut dengan Sean kali ini.


"Maaf, tuan. Bagaimana bisa anak tidak tahu diri ini ada di rumahmu?" Bibi Ana membuka suara kali ini.


"Jaga bicaramu, nyonya. Orang yang kau sebut pencuri dan anak tidak tahu diri ini adalah istriku." Jelas Sean.


Cetaarr....


Bagai di sambar petir di siang bolong. Keluarga bibi dan paman Ana sangat terkejut mengetahui fakta yang mereka dengar malam ini.


Bibi Ana tidak bisa berkata-kata. Lidahnya keluh, tidak bisa mengatakan apa-apa.


"A-apa... istri?" Ucap paman Ana lagi.


"Apa anda tidak salah tuan?" Sambung paman Ana


"Tidak, tidak mungkin dia istrimu, tuan. Dia hanya wanita pencuri dan tidak tahu diri di keluargaku." Lita kembali berdiri dengan berbicara nada tinggi. Sepertinya, ia tidak terima kenyataan jika kali ini Ana bisa mendapatkan Sean yang notabennya seorang yang terkenal dan mempunyai harta yang berlimpah ruah.


"Jaga ucapan dan sopan santunmu, nona." Bukan Sean, melainkan James kali ini yang berbicara.


"Apa aku kelihatan berbohong, nona." Sean menunjukkan senyum mengejek pada Litaa.


"Bagaimana bisa dia menjadi istrimu, tuan? Dia tidak pantas untukmu." Kali ini bibi Ana yang bersuara. Keluarga paman dan bibi Ana tidak terima jika Ana menjadi istri dari seorang Sean. seorang CEO muda di perusahaan terbesar se Eropa.


"Hahahahaa... pantas tidaknya dia menjadi istriku, itu adalah keputusanku nyonya. Kalian tidak ada hak untuk melarang ku." Jawab Sean dengan santainya.


"Dia hanya seorang pencuri, dia tidak pantas untukmu." Lita berteriak tidak terima. Para maid di mension Sean yang mendengar keributan itupun bersembunyi melihatnya. "Benarkah itu, nona?" Tatapan Sean sangat mengintimidasi saat ini.


"Tuan, kami harap. Apa yang anda katakan barusan, itu bukanlah kenyataan." Paman Ana berbicara ini.


"Hahaha..." tawa Sean terdengar sangat keras kali


Baru kali ini Sean tertawa dengan kerasnya saat banyak orang. Tapi, tawa Sean bukanlah tawa bahagia pada umumnya. Sean tertawa karena menertawakan kebodohan keluarga paman dan bibi Ana.


"Apa yang kalian dengar bukanlah kebohongan tuan dan nyonya. Tetapi kenyataan." Sarkas Sean.

__ADS_1


Diva yang tahu siapa sang uncle itu pun hanya diam. tidak bersuara.


"Bagaimana anda bilang jika kami tidak ada hak, dia


adalah keponakan kami." Sentak bibi.


"Hahaha.... Keponakanmu? Jadi kau mengakuinya? Kenapa anda lucu sekali nyonya? Anda sendiri yang mengatakan jika dia hanya seorang pencuri dan anak tidak tahu diri." Skak Sean yang membuat bibi Ana langsung terdiam.


"Maaf tuan, sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Selah paman Ana. Dia tidak mau jika kesempatan bekerja sama dengan Sean akan hilang begitu saja. Dia takut harta karun besar-besaran miliknya hilang begitu saja.


"Kesalahpahaman? Salah paham yang bagaimana, tuan?" Tanya Sean dengan tersenyum smirk.


"Sebenarnya, inilah tujuanku mendatangkan kalian kemari. Aku hanya ingin memberikan kejutan kecil untuk kalian semua." Sambung Sean dengan senyuman yang mereka melihat semuanya terbungkam diam. Tidak ada yang biasa berkutik dengan ucapan Sean.


"Apa kau tidak ingat denganku, nyonya? Aku adalah orang yang kau temui waktu di mall kemarin. Kau sendiri yang mengatakan pada kami jika kau akan membuat kami menyesal bukan?" Terang Sean.


"Dan kau, nona. Apa kau tidak mengingatku? Kita bertemu kembali di sini. Aku yakin, jika kau pasti mengingatku." Sambung Sean. Kali ini semuanya hanya terdiam dengan ucapan Sean. ucapan Sean seperti anak panah yang mengenai sasarannya.


"Apa kalian juga lupa, jika kalian mengatakan aku adalah simpanan Ana?"


"Aku bukanlah simpanan ataupun om-om yang kalian katakan. Aku adalah suami dari wanita yang pernah kalian tuduh dan kalian usir." Sarkas Sean lagi.


Acara makan malam itu tidak jadi terlaksana karena kejutan yang di berikan oleh Sean, bahkan satu sendok pun, mereka belum mencicipinya.


"Ana, katakan. Apa semuanya ini benar?" Tanya paman Ana yang wajahnya sudah memerah menahan kemarahan. Dia juga tidak terima dengan semua fakta yang ia dengar malam ini. Waktu mendapat tawaran bekerja sama dengan perusahaan Sean, paman Ana mencoba untuk mendekatkan Lita pada Sean. Namun kenyataannya sekarang, membuat harapannya harus pupus.


Lita segera bangkit dan melangkah kearah Ana. Sepertinya, dia tidak ada takut-takutnya berhadapan dengan Sean.


Tangannya terangkat ingin menampar wajah Ana. Sean segera mencekal kuat tangan Lita hingga dirinya meringis kesakitan.


"Jangan sampai tanganmu ini lepas dari tempatnya, nona." Sorot mata Sean sangat menakutkan.


"Aku sudah cukup sabar selama ini dengan hinaan dan ucapan kasar kalian. Jika saja waktu itu tidak ada Ana, kalian sudah hancur luluh lantah." Sean melepaskan kasar tangan Lita hingga dirinya terhuyung jatuh ke lantai.


Sean segera mengelap tangannya dengan kain yang tersedia di meja makan tersebut. Dia enggan sekali untuk menyentuh wanita lain.


Bibi Ana segera bangkit dan menolong Lita untuk segera berdiri.


"Tuan, maafkan kami tuan. Maafkan sikap putri dan istri saya." Paman Ana memohon pada Sean.


"Apakah begini sikapmu pada keluarga istrimu, tuan?" Ucap bibi Ana yang tidak terima jika Lita mendapat perlakuan kasar dari Sean.


Sepertinya, anak dan ibu itu sangat berani berhadapan dengan Sean.


"Keluarga istriku? Bukankah kalian sendiri yang sudah mengusirnya?" Skak sean lagi.

__ADS_1


"Istriku tidak punya keluarga selainku." Ucap Sean tegas pada mereka semua.


"Seaaan..." selah Ana, la sebenarnya tidak tega melihat keluarganya mendapat perlakuan kasar dari suaminya.


"Biarkan saja Ana. Mereka semua tidak pantas kau sebut keluarga. Mereka sudah memperlakukanmu dengan buruk selama ini. Dan sekarang, mereka harus tau siapa sebenarnya dirimu." Tegas Sean. ucapannya memang sedikit lembut pada Ana. Tapi sebenarnya penuh dengan tekanan yang membuat siapa saja tidak bisa membantahnya.


"Tuan... maafkan kami tuan. Kami selesaikan masalah ini dengan kekeluargaan. Bagaimana juga nanti kerja sama kita?" Mohon paman Ana lagi. Entah dirinya takut jika dirinya jatuh miskin atau apa?. Di saat seperti ini, paman Ana masih saja mengingat urusan kerja samanya.


Sean langsung saja menoleh kearah paman Ana." Heh, dengan kekeluargaan?" Senyum miring dari Sean terlihat.


"Tidak perlu, tuan. Aku sudah menyelesaikannya sendiri." Jawab Sean tegas.


"Dan untuk kerja sama... itu hanya tipu muslihatku tuan. Jangan harap aku melakukan yang sebenarnya." Sambung Sean. Semua keluarga bibi Ana melototkan mata tidak percaya kali ini.


"James, tunjukkan yang sebenarnya pada mereka." Perintah Sean. James segera memberikan berkas penting yang berisi kehancuran dari perusahaan milik keluarga bibi Ana.


Paman Ana membolak-balikkan berkas yang di berikan oleh James diikuti oleh bibi Ana.


"Sean... jangan begini. Maafkan mereka, Bagaimanapun mereka keluargaku satu-satunya." Ana mencoba membujuk Sean untuk tidak berlebihan dalam memberikan pelajaran pada keluarga bibinya.


"Ana, apa yang aku lakukan pada mereka tidak sepadan dengan apa yang mereka lakukan padamu." Ujar Sean lembut.


"Aunty...biarkan saja. Jangan cegah uncle, nanti dia akan marah besar." Ucap Diva pelan Pada Ana.


"Tapi, Diva..."


"Sudah aunty, mereka yang sudah ada di genggaman uncle tidak akan bisa lepas." Jelas Diva. Diva sangat faham akan hal itu, karena mereka merupakan keluarga mafia, tidak akan bisa lepas jika sudah ada di genggaman.


"Apa maksudnya ini, tuan?" Wajah paman Ana menunjukkan kemarahan tapi berusaha ia tahan.


la melihat semua laporan saham miliknya turun, bahkan di ambang kebangkrutan. Tapi, bagaimana dengan bodohnya dia tidak mengetahui akan hal itu.


"Bukankah kau sudah membacanya?" Sean menaikkan sebelah alisnya.


"Tuan... bagaimana bisa kau melakukan ini pada perusahaan kami?" Bibi Ana berbicara lantang dengan Sean. seketika ketakutan di wajahnya tidak ada.


"Hahaha.... Apa kau lupa berhadapan dengan siapa, nyonya? Apa yang tidak bisa aku lakukan. Bahkan dengan kedipan mata, aku bisa melakukan apa yang aku inginkan ." Jawab Sean dengan wajah tanpa merasa bersalah.


"Tuan... anda pasti bohong dengan semua ini, kan? Semua ini pasti tidak benar?" Paman Ana masih tidak percaya. Padahal semua bukti sudah ada di depannya kali ini.


Jelas saja ia masih tidak terima dengan kenyataan yang sangat mengejutkan itu.


"Sudah aku katakan pada kalian semua, aku tidak pernah berbohong dengan ucapanku." Jawab Sean tegas.


"Ana. Suruh suamimu ini mengembalikan semua milik kami." Ujar bibi Ana padanya. Wajah bibi Ana sangat terlihat memendam kekesalan.

__ADS_1


"Ana..." bentaknya karena tidak mendapat sahutan dari Ana.


"Jangan pernah membentak istriku di hadapanku, nyonya." Kemarahan Sean semakin terlihat jelas saat mendengar ada yang membentak Ana di hadapannya.


__ADS_2