
"Tidak... aku hanya lelah sedikit." Jawab Ana.
"Apa yang sudah mereka lakukan hari ini?" tanya Sean lagi.
"Apa kau tau, mereka bertiga bermain di kubangan lumpur yang ada di halaman. Semua bajunya berwarna coklat, bahkan wajah mereka sampai tidak bisa di kenali." Ana mencoba menceritakan aktifitas anak-anaknya dan keponakannya.
Sean beralih memandang ke arah Diva , Diva yang merasa di tatap oleh Sean itu pun hanya menyengir kuda dan menunjukkan tanda peace pada Sean.
Sean mendengus kesal begitu saja.
"Lalu?"
"Aku terpaksa memandikan mereka di luar. Jika di bawa masuk pasti mension sangat kotor karena lumpur. Tapi beda lagi dengan Diva , dia masuk ke dalam dan meninggalkan jejak misteriusnya di lantai." Ana meneruskan ceritanya.
Diva kembali menunjukkan tanda peace nya, kali ini dua sekaligus.
"Diva a..." ucap Sean. Memang terdengar sangat lembut, tapi siapa sangka jika itu hanya manipulasi dari Sean. Agar Diva tidak takut dengannya nanti.
"Hehehee.... Tadi kan aunty sendiri yang menyuruh Diva mandi. Ya Diva masuk ke dalam doong, kan kamar mandi ada di dalam." Jawab Diva . Entah kenapa dirinya bisa saja menjawab setiap ucapan dari Sean atau pun Ana. Tapi, apa yang dia ucapkan memang tidak sepenuhnya salah.
"Nah kaaann... anak tuyul paling bisa menjawab." Ucap Ana pada Diva .
"Kan aunty sendiri yang menyuruh Diva , kenapa Diva yang di salahkan?" Diva menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya akan ada perdebatan lagi di antara mereka.
"Kenapa Diva tidak cuci kaki dulu sebelum masuk?" selah Sean sebelum nanti semakin sengit perdebatan mereka.
"Tidak sempat uncle. Terlalu jauh." Jawabnya. Ana hanya menepuk jidatnya.
Entah kenapa alasannya bisa saja, padahal masuk ke dalam menuju kamar mandi pun lebih jauh.
"Terserah Diva saja. Besok lagi cuci kaki sebelum masuk." Jawab Sean lembut.
"Iya deh iyaa..." Diva kembali bermain bersama twin.
__ADS_1
"Emm... sayang, aku ingin memberitahumu sesuatu ." Ucap Sean.
"Ada apa? Sepertinya sangat serius sekali?" tanya Ana melihat raut wajah Sean.
"Aku hanya ingin memberitahumu. Jangan pernah keluar sendirian jika tanpa aku, oke. Jika ada perlu suruh saja maid yang keluar. Di luar sangat bahaya, ada salah satu musuhku yang berkeliaran di sini." Jelas Sean.
"Jangan pernah keluar apapun itu alasannya. Jika kau mendengar kabar yang mengganggumu langsung saja hubungi aku, atau bisa hubungi James." Sambung Sean.Ana mendengarkan sangat serius.
"Apa mereka berbahaya?" tanya Ana yang merasa sedikit ketakutan.
"Selama ada aku pasti semua akan aman. Tapi, kamu juga harus berhati-hati oke. Ingat apa yang aku katakana tadi. Aku tidak ingin nanti kau dan anak-anak kita terlibat dalam bahaya." Imbuh Sean memegang kedua pundak Ana.
Ana mengangguk faham dengan apa yang di ucapkan Sean. Ini demi keselamatan dirinya dan anak-anaknya.
"Tapi, berjanjilah padaku jika dirimu akan baik-baik saja." Ucap Ana lirih.
"Aku berjanji padamu." Jawab Sean mencium kening Ana.
Ana yang memang tidak tahu bagaimana dunia bawah itu pun mengangguk saja dengan perintah Sean. ia tidak mau mengambil resiko terbesar nanti. Karena memang mereka sangat bahaya, Ana memang belum tahu bagaimana kekejaman Sean terhadap musuh di hadapannya. Tapi, Ana juga pasti sudah bisa menebak bagaimana sikap Sean pada semua musuh-musuhnya.
Selama itu Ana tidak pernah keluar dari rumah sama sekali sesuai yang di katakan oleh Sean padanya. Ana takut jika musuh Sean menangkapnya atupun menjadikan twin J sebagai sasaran mereka. Meskipun berdiam diri di rumah, Ana juga selalu was-was meskipun penjagaan di sana sudah sangat ketat.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya orang itu pada anak buahnya.
"Maaf boss, kami tidak menemukan apa-apa sama sekali. Sepertinya, dia sudah tahu jika kita ada di sini." Jawab anak buahnya.
"Kalian saja yang tidak becus, hanya mencari keberadaan wanita itu saja kau tidak bisa. Apa saja yang kalian selama satu minggu di sini, hah?" Bentaknya pada anak buahnya. Anak buahnya hanya bisa menunduk takut karena bentakan dari sang boss.
Sang boss yang sering emosi itu membuat mereka selaku anak-anak buahnya sangat berhati-hati dalam menjalankan tugasnya. Mereka selalu di tuntut berhasil dan sempurna jika melakukan tugasnya. Padahal, itu hanya bisa membuat mereka tertekan jika melakukan sesuatu.
"Maaf boss..." ucapnya menundukkan kepalanya.
"Biar aku sendiri yang melakukannya." ucapnya lalu melenggang pregi keluar.
__ADS_1
Orang itu adalah Leon, musuh bebuyutan dari
Sean. Dia datang ke Berlin tanpa mempunyai rencana apapun, dia terlalu terburu-buru dalam bertindak. Tidak tahu saja dia jika Sean sudah tahu bagaimana rencananya.
Bukan Sean dan semua keluarganya yang dalam bahaya, melainkan dirinya sendiri. Dia datang hanya di dampingi beberapa anak buahnya. Sedangkan tangan kanannya, ia tugaskan untuk menjaga markas di sana. Jadi, dia tidak ada keamanan apapun.
Leon menyalakan mobilnya dan segera melakukannya dengan cepat. Entah kemana arah yang akan dia tuju.
Yang dia tahu hanya alamat perusahaan dari Sean, tidak untuk mension Sean. Jelas saja mereka tidak akan menemukan apa-apa dari apa yang di cari.
Memang tidak semua orang tahu di mana mension pribadi Sean, karena Sean juga tidak pernah membiarkan sembarang orang datang ke sana.
Sesampainya di sana, Leon memantau dari kejauhan, karena berhubung saat ini sedang jam istirahat. Leon memandang setiap orang yang berlalu lalang dari dalam mobilnya.
Hingga berjam-jam lamanya, dirinya jenuh dan emosi.
Bugh...
la memukul keras setir mobilnya karena tidak mendapatkan apa yang ia cari. Itulah dirinya jika bepergian tanpa membuat rencana apapun dengan ank buahnya.
"Aaakkh.... Sial." Marahnya.
Jelas saja dia tidak menemukan apa-apa, orang yang di cari saja tidak ada di sana.
Leon mencoba menunggu lagi hingga waktu sore hari. Entah kenapa dia bisa betah duduk berdiam diri di dalam mobilnya.
la melihat Sean keluar dari kantor dan masuk ke dalam mobil miliknya. Leon yang melihatnya memutuskan untuk mengikuti kemana laju mobil yang di kendarai oleh Sean pergi.
Leon menyalakan mobilnya dan berjalan sedikit jauh dari mobil Sean. Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sean yang berada di dalam mobil miliknya melirik ke arah spion mobilnya, ia tersenyum sinis melihat jika ada orang yang mencoba bermain-main dengannya.
"Heh, ada yang ingin bermain-main rupanya." Ucap Sean.
__ADS_1
Leon tersenyum menang di dalam mobilnya, dia tidak tahu saja, padahal dirinya yang akan habis di tangan Sean.
Entah kenapa orang itu sangat ceroboh sekali, sudah tahu jika yang di hadapi adalah mafia yang terkuat dan tidak bisa di kalahkan begitu saja. Tapi, dia tidak ada rencana sama sekali. Justru malah bertindak bodoh seperti itu.