Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 167 Season 2


__ADS_3

"Bawa mereka semua, dan siksa mereka semua sampai mereka enggan untuk hidup." Perintah Tuan Carles.


Anak buah Tuan Carles menunduk hormat lalu menjalankan apa yang di perintah olehnya. Masing-masing anak buah Tuan Carles membawa satu di antar mereka. Berbagai siksaan mereka berikan pada pengusik-pengusik itu.


Ada dari mereka di gantung dengan posisi kepala di bawah, ada juga yang di ikat dengan rantai besi kaki dan tangan mereka dan masih banyak lagi. Tuan Carles melihat semua kerja dari para anak buahnya memberi hukuman pada semua pengusik itu. Teriakan demi teriakan keluar dari mulut mereka, teriakan mereka saling bersahutan.


Ctaass..


Ctaass...


Bugh...


Bugh..


Dugh...


Suara senjata dan pukulan itu terdengar dari mereka semua. Masing-masing dari mereka menghukum orang-orang itu dengan cara yang berbeda. Sedangkan Tuan Carles, dia memikirkan bagaimana menangkap pimpinan dari mereka.


Jika di biarkan mungkin dia akan membentuk kelompok baru dan kembali mengusik di sana, atau bisa jadi jika mereka berpindah dari negara satu ke negara lain.


AAARRKHH....


Teriakan mereka terdengar menggema, bagaikan paduan suara teriakan-teriakan mereka yang mendapat hukuman dari Tuan Carles. Mereka seolah-olah beradu suara siapa yang paling bagus di antara semuanya.


"Kumpulkan bahan bakar," perintah Tuan Carles pada salah satu anak buahnya.


"Baik, Tuan." Orang itu pun segera melaksanakan perintah dari Tuan Carles.


"Apa semua peliharaan di sini sudah di beri makan?" Tanya Tuan Carles lagi pada yang lainnya.


"Mereka tinggal memberikan makan malam," jawabnya.


"Baguslah, jika kalian selesai, bawa sebagian untuk menjadi santapan semua peliharaan ku. Dan sisanya, bawa mereka ke luar. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, bukan?" Ucap Tuan Carles.


"Kami mengerti, Tuan." Ucapnya sedikit menundukkan kepalanya.


Tuan Carles berjalan ke luar melihat semua persiapan yang di lakukan oleh anak-anak buahnya. Kali ini mereka tidak main-main, markas seperti akan mengadakan pesta besar hari ini.

__ADS_1


Sebagian menyiapkan bahan bakar dan sisanya lagi mengurus binatang-binatang peliharaan milik tuan Carles. Jika Sean memiliki leopard dan Cheetah, maka tuan Carles juga memiliki lynx, jaguar dan harimau. Mereka semua adalah peliharaan tuan Carles di markas besarnya.


Lynx merupakan kucing besar, berekor pendek, mirip dengan kucing hutan, tetapi dibedakan oleh kakinya yang panjang, berbulu, jumbai panjang di ujung setiap telinga, dan ekornya berujung hitam. Lynx adalah kucing soliter yang mendiami hutan utara terpencil di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.


"Lapor, tuan. Semua tawanan sudah dalam keadaan lemah." Lapor salah satu anak buahnya.


"Bawa sebagian mereka di sini dan ikat mereka di tengah-tengah bahan bakar yang mereka siapkan, dan sebagian lagi, bawa mereka ke kandang peliharaan ku." Perintahnya dengan tegas.


Malam ini pasti semua peliharaan tuan Carles akan merasa kenyang, atau bahkan lebih kenyang karena makan besar-besaran. Karena tidak ada perlawanan dari orang-orang pembuat onar itu, maka mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk menghukum semuanya.


Berbondong-bondong anak buah Tuan Carles membawa semua prusuh itu ke tempat yang sudah di siapkan.


"Letakkan mereka di tengah-tengah." Ucap tuan Carles pada anak buahnya.


Mereka membawa semuanya dan mengikatnya, semua anak buah tuan Carles menyiramkan bahan bakar di sana. Tuan Carles mendekat dengan menyalakan pemantik apinya. Ia memandang sejenak api yang ada di pemantiknya lalu ia lempar.


Wwuussh...


Kobaran api terlihat sangat besar di sana karena banyak sekali kayu yang di gunakan. Api tersebut seperti api unggun, tapi ini lebih besar. Tuan Carles memandang sedikit jauh dari sana.


"Setelah ini, cari keberadaan pimpin mereka. Bawa ke sini dalam keadaan apapun, tapi lebih baik jika dia masih hidup." Perintahnya pada anak buahnya.


Sedangkan di kandang peliharaan Tuan Carles, semua binatang buas itu sangat menikmati santapan yang di berikan. Mungkin mereka akan kenyang dalam berhari-hari jika seperti ini.


.


.


Keesokan harinya waktu Amerika....


Sesuai ucapan dia waktu semalam, dia ingin melihat ke markas besar kelompok tuan Carles. Gerald membawanya ke sana tanpa berat hati, sekalian Fany dan Jennifer ikut ke sana untuk melihat-lihat.


Kedatangan mereka di sambut oleh semua anak buah tuan Carles yang menjaga di setiap sudut.


"Orang-orang di sini lebih cool dan macho ya, apa ada yang seumuran denganku? Biar aku mengajaknya kenalan," ucap Fany yang melihat anak buah Tuan Carles lebih gagah menurutnya.


"Kalau ada memangnya kenapa?" Ucap Gerald.

__ADS_1


"Aku bawa pulang ke Berlin, aku kenalkan Mommy dan Papa nanti." Ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Mommy dan Papamu akan menolaknya mentah-mentah nanti, kasihan dia datang jauh-jauh." Sahut Julian.


"Aku tidak mengajakmu berbicara, jangan menyahut." Ketus Fany padanya.


"Memangnya kenapa, Jul? Kau terlihat tidak suka," timpal Gerald.


"Tidak, kenapa aku tidak suka. Aku biasa saja," Julian menyangkal perkataan Gerald.


"Harusnya kau peka, Fany. Julian menyukaimu," Gerald mencoba menggoda keduanya. Sedangkan Fany, dia menatap Julian dari atas sampai bawah.


"Penampilannya saja tidak bisa di percaya," ucap Fany.


"Terserah kau saja. Sebaiknya kita masuk ke dalam," ajak Gerald. Ia merangkul pinggang Jennifer saat memasuki markas.


Fany mencoba bersifat genit dan memberi kiss bye pada salah satu anggota mafia di sana. Julian yang melihatnya seperti tidak suka, ia menutup mata Fany lalu membawanya masuk ke dalam. Sedangkan anak buah tuan Carles yang melihatnya hanya bersikap dingin dam datar.


"lisshh... Leppas, kau ini kenapa sih?" Sengal Fany melepaskan tangan Julian yang menutupi kedua matanya.


"Aku hanya melindungimu saja tadi." Ucapnya.


"Melindungi dari apa, hah?" Sengalnya lagi.


"Kalian kenapa sih? Heran dengan kalian tidak pernah ada akurnya sama sekali." Kali ini Jennifer yang berbicara karena jengah mendengar mereka berdua yang hampir setiap detik tidak pernah akur.


"Kalau kau suka, kau katakan saja Jul. Jangan bertingkah," celetuk Jennifer. Tentu saja Jennifer bisa mengetahui gerak-gerik sang adik bagaimana.


"Memangnya aku kenapa?" Julian menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya mencoba bersikap polos tidak tahu apa-apa.


"Sudah biarkan saja, biarkan mereka dengan urusannya sendiri." Tutur Gerald pada Jennifer.


Mereka melanjutkan untuk melihat-lihat situasi dan suasana yang ada di markas besar itu.


"Markasmu sangat besar, bahkan di sini juga lengkap." Ucap Julian memandang sekitar.


"Eemm... Sepertinya Daddy sudah mengubah sedikit markas ini, aku sudah lama tidak datang ke sini selama di Berlin." Jawab Gerald.

__ADS_1


"Tentu saja kau tidak datang ke sini, kau sendiri saja di Berlin tidak di Amerika." Sahut Julian.


__ADS_2