
Keesokan harinya...
"Kenapa kau di sini?" tanya Fany melihat Julian yang sudah ada di depan halaman rumahnya.
"Tentu saja menjemputmu," jawabnya dengan santai. Hal itu membuat Fany bingung karena tiba-tiba saja Julian menjemputnya, padahal biasanya juga tidak.
"Hah? Apa kau tidak salah? Kenapa kau menjemputku? Kau pasti salah rumah." Jawabnya dengan menunjuk Julian.
"Tidak. Aku memang datang ke sini untuk menjemputmu, mana mungkin aku membiarkan milikku pergi sendiri," jawab Julian lagi enteng.
"Siapa yang kau sebut milikmu? Kau jangan ngasal," protes Fany yang tidak menyetujui.
"Sudah aku bilang, tidak ada bantahan!"
"Sudah cepat ayo berangkat. Apa kau mau terlambat nanti?" sambung Julian.
"Tapi..."
"Sudah diamlah, dan ayo cepat. Aku tidak mau terlambat." Tanpa pikir panjang Fany segera naik ke atas motor sport Julian. Tidak lama kemudian, Julian segera melajukan motornya pergi bersama Fany.
"Kenapa kau mengajakku ke sini? Sejak kapan kampus pindah ke sini?" pekik Fany saat melihat sekelilingnya ternyata bukan kampus.
"Sudah diamlah, sesekali kita bolos," jawabnya dengan enteng. Fany melototkan kedua matanya ke arah Julian. Dia sendiri tadi yang buru-buru mengajaknya, dia juga yang mengajaknya untuk tidak mengikuti pelajaran.
"Apa kau gila! Aku ada ulangan hari ini," pekiknya kembali mengingat dirinya ada ulangan, dan dengan santainya Julian mengajaknya untuk bolos.
"Mulai sekarang, kau harus menurut dan mendengarkan apa yang aku ucapkan. Tidak ada bantahan, dan mulai sekarang kau milikku, tidak ada yang bisa memilikimu." Julian sudah menghak patenkan jika Fany adalah miliknya.
"Milikmu apa maksudmu? Jangan suka ngelantur," ketus Fany karena Julian mengcapnya sebagai milik Julian.
"Mana bisa seperti itu," sambungnya.
"Tidak ada bantahan. Itu sudah mutlak tidak bisa di ubah," ujar Julian yang terlihat serius. Fany hanya memenyekan bibirnya dengan apa yang di katakan oleh Julian.
"Kita pulang sekarang." Ajak Julian beranjak dari duduknya.
"Lalu bagaimana dengan mobilku?"
__ADS_1
"Biar anak buahku yang mengambilnya," ujar Julian.
Mereka segera kembali karena malam semakin larut, Julian memilih untuk mengantarkan Fany pulang terlebih dahulu sebelum dirinya kembali ke mension.
"Kenapa kau panik sekali? Ulangan maupun tidak ulangan juga sama saja," ucapnya lagi dengan enteng.
Fany kembali melototkan kedua matanya lebar-lebar mendengar jawaban Julian. Jika saja dia tahu begini, mungkin dirinya tidak akan ikut dengan Julian. Ikut Julian memang benar-benar sesat menurutnya.
"Kalau saja nanti nilaiku jelek, kau yang harus bertanggung jawab." Tatapan tajamnya ia tunjukkan pada Julian.
"Aku tahu aku tampan, biasa saja kalau melihatku." Ucap Julian menunjukkan gaya narsisnya.
"Haaahh... sudahlah. Percuma aku berbicara denganmu, tidak ada gunanya." Ucap Fany dengan mengibaskan tangannya. Terkadang memang percuma berbicara dengan Julian, pasti tidak akan ada ujungnya. Yang ada hanya membuatnya kesal saja.
Mau tidak mau Fany menerima ajakan Julian bolos kali ini, saat ini mereka berada di gerbang Brandenhurg. Mereka datang ke sana untuk bersantai dan menikmati waktu berdua. Fany melihat orang-orang yang tengah berjalan-jalan dan berfoto ria.
"Oh iya, bagaimana bisa kau menemukanku semalam?" tanya Fany memulai percakapan.
"Apa yang tidak aku ketahui memangnya?" jawabnya
dengan sedikit tengil.
"Tentu saja aku menyuruh anak buahku mengawasimu, setelah aku tahu siapa laki-laki itu aku meminta beberapa anak buahku untuk mengawasimu. Mana mungkin aku membiarkanmu begitu saja," jelas Julian panjang lebar.
Semanjak Julian tahu jika Richard bukanlah orang baik-baik, Julian meminta anak buahnya untuk mengawasi Fany dari jauh. Malam tadi, setelah memporak-porandakan club, Julian kembali meneriaki orang-orang di sana untuk memberitahu di mana Richard. Salah satu dari teman Richard menjawabnya dengan ketakutan melihat raut wajah Julian, tanpa pikir panjang Julian segera melangkahkan kakinya untuk menolong Fany.
"Kau juga, kenapa tidak melawan orang itu?"
sambung Julian.
"Orang mabok mana bisa ngelawan!" jawab Feya dengan sedikit ngegas.
Begitulah mereka jika di satukan, yang satu tengil dan yang satu suka ngegas dan bar-bar. Sepertinya dunia tidak akan bisa aman jika di penuhi orang-orang seperti mereka berdua. Mungkin bisa-bisa terjadi peperangan setiap hari.
"Kau juga kenapa harus menurut dengan mereka-mereka!?" Julian membalikkan ucapan Fany.
"Aku sudah menolaknya, b*doh! Mereka terus saja memaksaku, aku mencobanya sedikit karena menghormati mereka." Lagi-lagi Fany menjawab dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Apa mereka juga memikirkanmu? Lain kali tidak perlu merasa tidak enak, kalau tidak mau tidak usah. Lebih baik kau pergi dari sana," sengal Julian.
"Iya...iyaa... tidak aku ulangi lagi!"
"Tentu saja kau tidak akan bisa mengulanginya lagi. Kau sudah menjadi milikku." Ucap Julian dengan menujuk-nunjuk Fany.
"Atas dasar apa?" Fany menaikkan sebelah alisnya.
"Itu tidak penting," jawab Julian. Fany mencebikkan bibirnya mendengar jawaban Julian.
"Lalu, kau kemanakan orang itu sekarang?" tanya Fany yang penasaran bagaimana dengan nasib Richard sekarang. Entah masih hidup atau tidak.
"Orang itu? Aku sudah membuangnya ke laut," jawab Julian sedikit cuek.
"Benarkah?" tanya Fany dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Tentu saja itu benar? Apa aku pernah bermain-main
dengan ucapanku?" jawab Julian melihat ke arah Fany.
"Kenapa dengan wajahmu itu? Apa kau ingin menangisi bajingan itu?" Julian tersenyum sinis melihat wajah Fany yang sedang memelas. Ia tidak suka jika Fany menunjukkan wajah seperti itu untuk orang lain.
"Harusnya kau jangan lakukan itu," ujar Fany dengan suara pelan.
"Memangnya kenapa, hah?" sengal Julian.
"Harusnya biarkan aku bertemu dengannya. Aku ingin menghajarnya lebih dulu, aku belum menghajarnya. Aku ingin memberi kenang-kenangan yang indah untuknya!" jawab Fany yang tidak kalah ngegas dari Julian.
Julian mengira jika Fany akan sedih jika Julian mengatakan hal itu, ternyata di luar dugaannya. "Kau tidak perlu melakukannya. Anak buahku yang mengurusnya."
Fany hanya menganggukkan kepalanya saja. "Tapi, apa benar kau membuangnya ke laut?" tanya Fany untuk memastikan benar atau tidaknya.
Julian menggeleng dengan cepat. "Aku sudah mengasingkan dia jauh dari sini, agar dia tidak merusak banyak wanita."
Semalam, Julian meminta anak buahnya untuk membawa Richard ke tempat yang sangat jauh. Julian mengasingkan Richard ke salah satu pulau yang sudah tidak berpenghuni, entah kenapa dia tidak langsung saja menghabisi Richard. Mungkin itu adalah hukuman dari Julian, masih untung jika Julian memberi kesempatan Richard untuk hidup.
Di balik perbincangan mereka, pasti akan ada saja yang mengawasinya. Mereka berdua tidak jauh dari pengawasan. Kemanapun mereka pasti akan ada yang mengawasi.
__ADS_1
Kampus...
Sekumpulan orang yang terkadang random dan terkadang seirus itu saat ini sedang bersama. Siapa lagi kalau bukan geng dari Julian. "Dimana Julian?" tanya salah satu dari mereka.