
"Aku mau pergi dengan temanku sebentar, Mom," jawabnya.
"Jangan terlalu larut," sambung sang mommy.
"Oke." Fany pun keluar dan segera menaiki mobilnya, ia menuju ke tempat yang di beritahukan oleh Richard sebelumnya. Ia mengajak Fany bertemu di tempat lain terlebih dahulu agar Fany tidak menolak dengan ajakannya.
"Tempat apa, ini? Kenapa kita harus kesini?" tanya Fany yang menatap sekeliling tempat yang tidak pernah ia suka itu.
Richard menoleh ke arah Fany yang terlihat tidak menyukai tempat itu. "Kau pasti akan suka nanti."
"Ayo masuk," ajak Richard. Fany masih ragu-ragu untuk ikut ke dalam.
"Tidak apa-apa, ayo masuk. Aku hanya mengajakmu untuk menyapa teman-temanku yang lain, itu saja." Ucapnya meyakinkan Fany.
"Kau janji?"
Richard menganggukkan kepalanya. "Iya, aku janji. Hanya menyapa teman-temanku."
Saat ini, mereka berada di club yang biasa Richard dan teman-temannya datangi. Sebenarnya Fany sangat tidak suka dengan tempat itu, tempat yang sangat buruk untuk di datangi menurutnya. Jika saja dia tahu ke mana Richard akan mengajaknya, mungkin Fany akan menolak.
Akhirnya Fany mengangguk setelah Richard meyakinkan dirinya, ia pun berjalan di samping Richard. Richard melambaikan tangannya pada teman-temannya yang ada di sana. Ia pun mengajak Fany untuk duduk bergabung dengan teman-temannya.
Salah satu teman Richard memberikan satu gelas minuman beralkohol pada Fany, dengan halus Fany menolaknya. "Maaf, aku tidak bisa meminumnya."
"Hahaha... kau itu lucu sekali. Padahal ini rasanya sangat enak." Ujarnya dengan menertawakan Fany. Fany hanya tersenyum kikuk di sana, ia merasa sangat tidak nyaman dengan suasana di sana. Fany berusaha menyembunyikan ekspresinya.
"Tidak apa, minumlah satu gelas saja." Bujuk Richard memberikan satu gelas minuman itu pada Fany.
"Tidak. Aku harus menyetir nanti," tolaknya lagi.
"Aku yang akan menggantikanmu nanti." Richard kembali memberikannya pada Fany. Mau tidak mau Fany menerimanya, karena semua mata teman-teman dari Richard menatapnya. Hal itu juga membuatnya merasa tidak enak.
Fany meminum minuman tersebut hanya sedikit saja, walau begitu, dia sangat tidak suka dengan menuman itu. Itu membuatnya sedikit merasa pusing karena tidak terbiasa. Fany memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kau kenapa, Fe?" tanya Richard yang melihat Fany memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Hehe... aku tidak apa-apa. Kau terlihat sangat tampan malam ini," jawabnya sedikit ngelantur karena mabuk setelah meminum minuman pemberian Richard.
"Kau mabuk?" tanya Richard kembali hanya sekedar basa-basi. Padahal itu adalah bagian dari rencananya untuk menjebak Fany.
"Tidak. Apa yang kau katakan, aku tidak mabuk. Heheh...," jawabnya lagi. Terlihat jelas jika dirinya sedang mabuk. Richard menyunggingkan senyum jahatnya melihat rencananya sudah berhasil.
Dalam tiga hari tidak mendapat gangguan dari Julian, Richard berusaha keras untuk mendekati Fany. Richard juga merencanakan untuk membawa Fany bersamanya dan melakukan rencananya yang memang sedari awal dia hanya ingin menikmati tubuh Fany. Akhirnya ia berhasil membawa Fany ke dalam tempat terkutuk itu sekarang.
Di sisi lainnya...
"Lapor, Tuan Muda. Nona Fany berada di salah satu club bersama dengan teman prianya saat ini," lapornya pada Julian yang kebetulan sedang berada di markas bersama dengan Robert.
"Apa kau yakin?" ucap Julian meyakinkan.
"Benar, Tuan," jawabnya.
"Di mana mereka saat ini?” wajahnya seketika berubah. Anak buahnya pun memberitahu di mana Fany berada saat ini. Julian segera berdiri dan melangkah dengan cepat untuk menyusul Fany kesana.
Robert mengikuti langkah Julian yang sudah jauh di sana. "Dia meninggalkanku." Ucapnya melihat Julian yang sudah melajukan motor sportnya dengan kencang.
Kembali ke sisi Fany...
"Kau mabuk, sebaiknya kita pulang saja," ujarnya.
"Hehehe... tidak perlu, aku masih ingin menemanimu menyapa teman-temanmu," jawab Fany dalam kondisi mabuk.
"Heh, baru juga satu gelas dia sudah mabuk." Ucap salah satu teman Richard dengan sinis.
"Kau bicara apa, Nona. Aku tidak mabuk, aku hanya merasa sedikit pusing," elak Fany. Padahal sudah jelas-jelas dia sedang mabuk. Orang tersebut kembali tersenyum ke arah Fany.
"Aku akan membawamu berisitrahat," ujar Richard.
"Hah?" kesadaran Fany sedikit hilang di sana.
Richard kembali tersenyum jahat di sana, ia pun segera membawa Fany untuk ke kamar yang sudah ia pesan sebelumnya.
__ADS_1
"Semoga berhasil, hahaha." Gelak tawa teman-teman Richard yang sudah tahu bagaimana Richard sebenarnya. Sudah banyak yang menjadi korban dari Richard. Ada juga yang memang dengan suka hati melakukannya dengan Richard.
la membawa Fany ke kamar yang sudah ia pesan sebelumnya. "Eeh ... kenapa kau membawaku kesini?" dengan kesadaran yang hilang setengah ia berucap.
"Aku membawamu beristirahat. Kau sedang mabuk," jawab Richard. Richard membawa Fany ke tepian ranjang lalu segera mengunci pintu kamar, Richard melakukannya dengan pelan dan hati-hati.
Richard pun mendekat ke arah Fany, ia menatap Fany dengan tatapan yang tidak bisa di artikan lagi. Sepertinya, dia sudah tidak sabar melancarkan aksinya bersama Fany. Richard menyentuh pipi halus Fany dengan lembut.
Fany yang mendapat sentuhan lembut itu pun tersadar. "Apa yang kau lakukan?" pekiknya. Kesadaran yang tengah hilang itu seketika kembali setelah mendapat sentuhan dari Richard yang tidak biasa.
"Tentu saja aku akan mengajakmu bersenang-senang.' seringaian jahatnya. ." Jawab Richard dengan menunjukkan
"Bersenang-senang yang seperti apa yang kau maksud!" ujar Fany kembali.
"Bersenang-senang melampaui batas, kau pasti tahu bukan?" jawab Richard menunjukkan tatapan nafsunya.
"Jangan bermacam-macam denganku, atau kau akan aku habisi! Aauhh...." Fany kembali memegng kepalanya yang terasa pusing karena minuman tadi.
Di waktu bersamaan di luar sana...
Julian memarkirkan motor sportnya di sana, tidak menunggu alam Julian menerobos masuk ke dalam. Langkahnya terhalangi oleh penjaga yang ada di luar sana. "Jangan halangi aku!"
Sorot mata tajam terlihat sangat jelas di sana, ia terburu untuk segera menjemput Fany dan membawanya pulang. Ia berharap jika Fany baik-baik saja. "Kalau hanya ingin membuat keributan, sebaiknya anda kembali, Tuan. Jangan membuat keributan di sini," ucap penjaga itu saat melihat emosi pada diri Julian.
Bugh...
Bugh...
Julian memberikan bogeman mentah begitu saja pada orang yang berjaga di sana. orang tersebut meringis kesakitan hingga keluar sedikit darah di sudut bibirnya. " Aku tidak butuh dengan ocehan kalian."
Julian pun segera melangkah masuk ke dalam, para
penjaga tadi segera memanggil sekumpulannya yang ada
di sana untuk menghalangi Julian agar tidak membuat keributan. Orang-orang itu segera mengejar Julian. Julian mencari keberadaan Fany yang tidak ada di penjuru manapun.
__ADS_1