Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 73


__ADS_3

Setelah 30 menit mereka makan, perbincangan pun mereka mulai.


"Apa kau tau...?" ucapnya terjeda.


"Tidak." Selanya sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya.


"Lama-lama aku sumpal mulutmu. Aku belum selesai berbicara." Ketusnya yang terlalu bar-bar. Pria yang ada di depannya hanya mengedikkan bahunya.


"Aku baru pertama kali ini datang ke rumah Ana dan tuan Sean." Ucapnya.


"Lalu?" alisnya terangkat sebelah.


"Kau bisa diam dulu tidak." Sentaknya karena orang yang ada di hadapannya selalu saja menyela perkataannya.


"Iya... iya... lanjutkan." Jawabnya.


"Rumahnya sangat mewah sekali, bahkan di halamannya ada kandang binatang-binatang buas. Tapi, bukan itu yang mau aku katakan." Ucapnya.


"Memang apa yang mau kau katakan?" tanyanya mulai penasaran.


"Tadi.... Aku di sana di habisi massa. Mereka tau kedekatan aku dan dirimu." Jawabnya dengan wajah yang sedikit memelas.


Coba tebak... siapa mereka...


Wanita dan pria itu adalah James dan Rika yang sedang melakukan makan malam di salah satu resto ternama di sana.


"Lalu?"


"Jelas saja aku merasa gugup di sana. Aku dipojokkan tidak ada yang memihakku sama sekali. Apa lagi Diva, dia malah membuat suasana panas. Entah siapa yang sebenarnya dia belah." Keluh James mengingat tadi siang dirinya dibuat salah tingkah dengan semua orang.


"Hahaha.... Kau baru tau? Memang begitulah nona kecil jika berbicara. Dia sangat pandai jika urusan hal berdebat dan membuat suasana semakin panas." Jawab James yang memang mengetahui bagaimana Diva jika sudah berbicara dan berdebat.


"Hari yang menyebalkan untukku." Ucapnya dengan wajah yang sangat memelas.


Dari sini James faham, kenapa Sean tadi tiba-tiba saja menghubunginya datang lalu tidak jadi. Jadi, inilah penyebabnya, mereka sedang membully Rika habis-habisan tadi.


"Sudah biarkan saja. Kau tenang saja, tidak ada yang perlu kau takuti dan cemaskan untuk hal ini. Mereka sudah biasa jika bercanda seperti itu." Jelas James, Rika hanya menganggukkan kepalanya saja.


Di waktu bersamaan di mension Sean...

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam dengan di dampingi oleh twin J. Mereka di letakkan di kereta bayinya dan di beri mainan squisi oleh Ana agar tidak menangis.


Sesekali Ana juga menoleh kearah anak-anaknya untuk mengajak bercanda.


"Makanlah dulu, sayang." Tegur Sean karena makanan yang berada di piring Ana masih sangat banyak.


"Iya... ini makan." Ucap Ana.


"Mereka aman, karena mereka anak-anak pintar. Mereka mengerti jika maminya perlu makan," ujar Sean kembali dengan lembut.


Tidak seperti Div, dia memakan makanan miliknya dengan lahap tidak peduli dengan ucapan dua orang dewasa itu.


"Baiklah." Ucap Ana sambil tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam terlebih dahulu.


Selesai makan malam, mereka seperti biasa akan berkumpul di ruang berkumpul. Sean dan Ana memilih duduk di karpet bulu tebal yang ia sediakan untuk twin J.


Jennifer berada di pangkuan Sean, sedangkan Julian berada di pangkuan Ana. Masing-masing dari mereka mengajak twin J bermain.


Diva datang mendekat membawa squisi yang bisa berbunyi, ia mendekatkan itu pada Jennifer dan memainkannya.


Jennifer yang mendengar bunyi squisi dari Diva


Lagi-lagi Diva memainkan squisi itu, tawa Jennifer tidak ada hentinya. Tawanya yang terlihat manis dan pipinya yang gembul itu membuat siapa saja gemmas melihatnya.


Karena tawanya yang tidak ada hentinya itu, sampai-sampai Jennifer meninggalkan jejak basah di pakaian Sean.


Sean yang merasakan sedikit aneh dan rasa hangat itu pun wajahnya berubah seketika.


Sea mencoba mengangkat sedikit tubuh Jennifer dan melihatnya. Dilihatnya pakaian yang ia kenakan basah karena sepertinya mendapat jackpot dari Jennifer.


"Ada apa, Sesn?" Tanya Ana melihat perubahan wajah Sean saat mengangkat tubuh mungil Jennifer.


"Pampers yang digunakan Jenni tembus, sayang. Pakaianku basah semua dibuatnya." Jawab Sean dengan muka kusut.


Diva tertawa puas melihat sang uncle kali ini yang mendapat hadiah dari Jennifer. Jennifer tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Diva tertawa dengan puas menertawakan sang papi.


"Benarkah? Mungkin pampers yang di gunakan Jennifer miring, makanya bisa bocor seperti itu." Ucap Ana.


"Sini biar aku gantikan." Tawar Ana.

__ADS_1


"Tidak perlu, sayang. Biar aku yang gantikan, kau bermain saja dengan Julian." Jawab Sean lalu berdiri membawa tubuh mungil Jennifer untuk di gantikan pampersnya.


Diva tidak bisa berhenti tertawa. Sepertinya dirinya impas dengan sang uncle.


"Berhenti tertawa, Diva. Nanti uang jajan uncle potong baru tau." Ketus Sean yang sepertinya tidak terima di tertawakan Diva dengan kerasnya.


"Hahahaha.... Uncle kasihan sekali. Untung aku hanya terkena kentut mereka. Bukan jackpotnya." Ucap Diva tertawa sampai terguling-guling di karpet bulu itu.


Sean melenggang pergi dengan raut wajah kesalnya karena Diva terus saja menertawakannay.


"Anak papi.... Kenapa jail sekali ini, hmmm." Sean menggelitik perut Jennifer dengan hidung mancungnya. Jennifer kembali tertawa karena merasakan geli.


Entah bagaiamana mendeskripsikan keluarga kecil satu ini, saat siang tadi mereka merasakan tegang dan perdebatan-perdebatan kecil tidak mau mengalah satu sama lain. Dan sekarang, mereka di buat tertawa, gemmas dan kesal karena tingkah jail dari Jennifer.


Waktu cepat berlalu....


Kini usia twin J sudah genap satu tahun. Mereka sudah mulai bisa berjalan meskipun masih sering terjatuh, gigi mereka juga sudah mulai tumbuh, meskipun baru dua biji. Bicara mereka pun sudah jelas sedikit-sedikit. Mereka tumbuh sangat cepat dan baik.


Diva pun juga sudah memasuki sekolah dasar saat ini, karena memang dirinya cukup pintar di antara teman-teman sebayanya.


Rumah tangga Sean dan Ana masih terbilang aman, tapi tingkat kewaspadaan Sean sangat tinggi saat ini.


Berhubung ini adalah hari libur, mereka menyempatkan diri untuk jalan-jalan dan bersenang-senang. Mereka mengunjungi mall milik keluarga Sean untuk menghilangkan kepenatan. Awalnya Sean mengajak untuk berlibur keluar negeri, tapi Ana menolaknya. Tunggu twin J berumur dua tahun, agar mereka nanti bisa leluasa untuk bermain.


Ana dan Sean datang ke toko baju anak-anak untuk membelikan twin J baju baru. Mereka memilih-milih baju yang pas dan sesuai dengan twin J.


Kriing...


Kriiingg...


Bunyi telfon. Sean yang merasa telfonnya berbunyi itu pun merogoh saku celananya. Dilihatnya siapa yang sudah menghubunginya di waktu dirinyasedang berlibur seperti ini.


"Kamu pilih dulu, ya. Aku mau mnegangkat telfon sebentar." Ucap Sean di angguki oleh Ana.


"Diva, temani aunty dulu, oke. Uncle mau angkat telfon."


"Siap uncle..." jawab Diva.


Sean berjalan keluar sedikit mnejauh dari toko baju tersebut. Ana dan Diva memilih-milih baju yang cantik untuk twin J. Diva juga sangat bersemangat membantu sang aunty memilih baju untuk para sepupunya itu.

__ADS_1


__ADS_2