
"Sebentar. Aku masih tidak menyangka kalau aku sudah menikah denganmu dan mempunyai anak-anak yang lucu seperti mereka." Tutur Ana.
"Aku pun juga tidak menyangka jika aku sudah menjadi orang tua buat mereka." Jawab Sean.
"Bukankah dirimu memang sudah menjadi ayah untuk Diva?" Sela Ana.
"Eeemm... aku hanya berusaha menjadi yang terbaik untuk Diva. Aku harus bisa menjadi papa sekaligus ibu untuknya, meskipun itu sedikit sulit untukku." Ujar Sean sedikit curhat pada Ana.
"Kau sudah berhasil, suamiku. Diva menjadi anak yang pintar dan bertumbuh dengan hebat." Puji Ana pada suaminya.
"Diva lebih ceria ketika kau hadir di sini." Kata Sean mengecup singkat kening Ana.
"Meskipun begitu, kau sudah berhasil menjadi ayah dan ibu untuknya. Jarang sekali aku melihat laki-laki sepertimu." Jawab Ana.
"Huuft... kalau begitu, kita sudah sama-sama berhasil dalam hal itu."
"Sekarang tidurlah, biar aku yang berjaga. Aku akan membangunkanmu nanti jika mereka bangun." Perintah Sean lagi.
"Tapi..."
"Sudah, jangan membantah. Aku sudah terbiasa tidak tidur. Sekarang cepat tidur, kau masih belum sepenuhnya pulih." Ujar Sean sebelum Ana melanjutkan ucapannya.
Ana pun menuruti saja apa yang di perintahkan oleh Sean. Tidak lama kemudian, dirinya tertidur di pelukan Sean.
Sean yang melihat Ana sudah tertidur mengelus lembut pipinya. "Kau membawa penuh kebahagian di sini ." Ucap Sean lalu mencium kening Ana cukup lama.
Sesuai perkataannya tadi, Sean memilih berjaga dengan mengotak-atik email masuk padanya. Tidak heran lagi jika Sean begadang. Sebelum menikah dengan Ana, dirinya juga jarang sekali untuk tertidur karena sibuk. Entah dalam mafianya ataupun dalam perusahaannya.
Untung saja dirinya memiliki fisik dan daya tahan tubuh yang kuat, jadi dirinya tidak mudah jatuh sakit hanya karena sering begadang.
5 bulan kemudian...
Kini usia Twin J sudah mencapai 5 bulan. Sesuai
dengan yang Ana katakan, ia merawat kedua anaknya
sendiri. Di bantu dengan sang mami dan maid yang ada di
mension. Ana ingin jika saat besar nanti, anak-anaknya
bisa dekat dengannya.
Sean juga sangat menikmati perannya yang menjadi papa dari kedua anaknya. Sean juga banyak belajar dari Ana dan sang mami bagaimana merawat bayi yang benar.
Twin J juga bertumbuh sangat pesat, saat ini mereka sudah bisa tengkurap dan banyak berceloteh. Suasana mension Sean semakin bewarna setelah kehadiran baby twin.
__ADS_1
"Diva pergi sekolah dengan grandma dulu, ya. Nanti aunty yang menyusul." Ujar Ana pada Diva.
"Siap aunty." Ujar Diva dengan posisi hormat pada Ana.
"Hallo twin... kakak pergi sekolah dulu, ya. Babaaii ." Diva berpamitan dengan kedua adik sepupunya itu.
Tak lupa juga Diva mencium pipi gembul Twin J.
Setelah Diva berangkat, tak lama kemudian Sean turun dari tangga.
Sean sekarang menjadi ayah sekaligus suami siaga. Sean tidak mau hal sekecil apapun terjadi pada istri dan anak-anaknya. Penjagaan di mension sangat ketat, bahkan Ana keluar saja tidak boleh jika tanpa pengawalan ketat.
"Apa Diva sudah berangkat?" Tanya Sean mengecup singkat kening Ana.
"Sudah, tadi mami yang antar. Nanti biar aku yang jemput." Jawab Ana.
"Baiklah. Tapi tetap bawa pengawal untukmu, aku tidak mau jika terjadi apa-apa." Ucap Sean.
Ana mengangguk dan tersenyum dengan tutur kata Sean. Sean beralih pada dua anaknya.
"Halloo.. anak-anak papi. Papi berangkat kerja dulu ya, jangan nakal. Nanti mami bisa capek." Ujar Sean pada kedua anaknya.
Sean mencium lembut pipi gembul pada keduanya. Keduanya tertawa riang karena ciuman yang di berikan oleh Sean.
"Aku pergi dulu, ya." Pamit Sean. Ia kembali mencium kening Ana lalu melangkahkan kakinya keluar.
Kini, di mension itu hanya tinggal Ana dan kedua anaknya. Para maid sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Anak mami yang cantik dan ganteng ini... sedang ngomong apa ini?" Ucap Ana yang melihat anak-anak mereka yang seperti sedang berbincang-bincang.
Mereka terus saja berceloteh tanpa henti.
Ana mencoba bermain dengan mereka berdua di atas karpet sangat tebal, yang memang di khususkan untuk anak-anaknya.
Mereka tertawa dengan renyah karena Ana terus saja mencium perut mereka. Mereka merasakan geli, hinggan akhirnya tertawa tidak ada henti.
"Kalau besar nanti jadi anak yang kuat ya nak. Seperti papimu, dia sangat kuat." Tutur Ana pada keduanya.
Ana selalu mengajak keduanya untuk berbicara meskipun mereka belum mengerti apa yang di bicarakan oleh Ana.
"Cucu grandma sedang apa ini? Tertawanya kencang sekali." Ucap mami Sean yang baru saja tiba di sana setelah mengantar Diva bersekolah.
Setelah kelahiran Twin J, Diva lebih mandiri. Ia meminta untuk sekolah sendiri, tidak perlu di temani. Dia malu dengan adik-adiknya katanya jika selalu di tunggu waktu sekolah. Jadi, mami Sean biasanya mengantar dan menjemput saja jika Diva sudah waktu pulang.
"Ehh... mami. Sudah pulang." Ucap Ana.
__ADS_1
"Apa mereka sudah makan?" Tanya mami Sean.
"Belum mi, biar Ana ambilkan makanan buat mereka." Ana pun segera mengambil makanan untuk Twin J.
Ana selalu memberikan makanan yang bergizi untuk mereka berdua, makanya mereka bisa tumbuh sehat dan gembul.
Ana kembali dengan membawa dua mangkuk kecil berisi bubur untuk mereka. Ana memilih membuatnya sendiri dari pada harus beli di luar.
Ana dan mami Sean segera menyuapi Twin J. Mereka makan dengan sangat lahapnya.
Tidak lama kemudian, bubur itu sudah habis tidak tersisa sedikitpun.
"Cucu-cucu grandma memnag pintar ya. Makan sampai habis." Puji mami Sean pada keduanya.
Mereka kembali berceloteh dan bermain dengan
mainan milik masing-masing.
Tak terasa hingga waktu sudah menunjukkan hampir siang, waktunya Ana menjemput Diva.
Twin J sedikit rewel karena mereka sudah merasakan ngantuk. "Sini, biar mami yang ajak Jennifer. Ajak saja Julian, dia sangat susah jika dengan orang lain." Ucap mami Sean.
Karena memang Julian rewel, tidak seperti Jennifer yang tenang meskipun dengan sang grandma.
"Yaudah mi, Ana jemput Diva dulu ya. Nitip Jennifer dulu, ya." Pamit Ana.
"Iya... hati-hati." Ucap mami Sean lalu menggendong Jennifer untuk di tidurkan.
Ana mengajak Julian, yang memnag sangat rewel dan susah jika dengan siapapun. Ia tidak mau diam, bahkan dengan Sean saja dia masih saja menangis.
Ana memasuki mobil, Julian berada di gendongannya. Ana mencoba memberikan asi untuk Julian dan menepuk-nepuk pelan punggungnya agar Julian tertidur.
Tidak lama kemudian, Julian sudah tertidur di
gendongan Ana.
Tak lama juga, mobil yang di tumpangi Ana pun juga sampai di sekolah milik Diva. Dan ternyata Diva sudah menunggu di depan sekolah, karena memang sudah waktu pulang.
Diva segera masuk ke dalam mobil dan menyapa Ana. "Hai aunty..."
"Dia tertidur?" Tanya Diva melihat Julian yang sedang tertidur.
"Iya... baru saja dia tertidur." Jawab Ana.
"Pak, kita ke supermarket dulu, ya. Ada yang harus saya beli." Ucap Ana di tengah-tengah perjalanan.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, mobil pun sampai di salah satu supermarket.