Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 227


__ADS_3

Siapa lagi orang yang di maksud Fany kalau bukan Julian, setelah keluar dari kelas tadi Fany memutuskan duduk di halaman kampus. Ia memilih duduk sendiri di antara keramaian mahasiswa yang lain. Kali ini Fany merasa ada yang kurang setelah tidak melihat Julian di sana.


"Bahkan kalau dia ada wanita lain aku juga tidak masalah, dia sendiri yang bersih keras dengan ucapannya ." Fany masih menggerutu sendiri di sana, dalam mulutnya ia berkata tidak apa, tetapi ekspresinya terlihat sangat berbeda.


"Haaaah... ada apa denganku?" teriaknya sedikit keras di sana. Mahasiswa yang lain menoleh ke arahnya, seketika Fany nyengir kuda karena ia menjadi pusat perhatian di sana.


"Hehehe sorry-sorry, kalian lanjutkan saja perbincangan kalian semua," ujarnya dengan sedikit merasa malu. Baru kali ini dia merasa sedikit malu, biasanya dia yang membuat malu terdekatnya karena tingkahnya. I orang-orang


"Haissh... kenapa aku menjadi menggila?" Fany bergumam pelan agar tidak di dengar oleh semua orang di sana.


"Hmm... apa yang akan aku lakukan? Kenapa bosan sekali?" Fany melihat ke kanan ke kiri bermaksud melihat apakah ada hal akan ia lakukan.


Di saat ada salah satu mahasiswa tampan di sana, kedua mata Fany terbuka lebar di sana. Tangannya melambai genit pada mahasiswa tersebut, Fany beralih mengedipkan sebelah matanya. Yang di lakukan oleh Fany di ketahui oleh mahasiswi yang saat itu berada di samping mahasiswa tampan itu.


"Apa yang sudah kau lakukan? Apa kau menggoda kekasihku?" sengalnya pada Fany. Salah sendiri jika dia bertingkah genit di sana. Fany memasang wajah bodohnya di sana, seakan-akan dia tidak melakukan apa-apa.


"Memangnya apa yang aku lakukan? Apa aku salah kalau menyapanya? Kau terlalu sensi," jawabnya tanpa ada rasa takut sama sekali. Padahal sudah jelas-jelas dia salah.


"Menyapa yang bagaimana maksudmu? Kau melambai dan mengedipkan matamu genit, apa itu kau sebut menyapa!" sengalnya lagi. Mahasiswa tampan itu mencoba membawa kekasihnya untuk pergi dari sana agar tidak menjadi pusat perhatian, tetapi kekasihnya itu menolak, ia masih ingin memarahi Fany.


"Kau sepertinya yang salah lihat, padahal aku sedari tadi duduk manis di sini," jawab Fany dengan santai. Mahasiswi itu pun geram dengan Fany yang terlihat tidak ada rasa bersalahnya.


"Aku tidak buta, aku melihat apa yang kau lakukan pada kekasihku. Kalau saja kau berani lagi, akan aku tendang kau dari sini," geramnya pada Fany.

__ADS_1


Begitah Fany, entah tingkah siapa yang ia tiru. Mungkin waktu itu Abigail menyidamkan sesuatu yang tidak biasa, jadilah muncul Fany yang random, cerewet dan bar-bar. Sebelas dua belas dengan Julian, sangat cocok jika di sandingkan. Namun entah bagaimana nanti keadaannya jika mereka berdua bersatu.


"Aku tidak yakin kalau kau kuat menendangku," ujar Fany sedikit meremehkan wanita itu.


"Kau...." Ingin sekali jika dia menjambak Fany, tetapi kekasihnya menahannya agar tidak terjadi keributan di kampus. Tidak ada rasa takut pada diri Fany, yang ada wajahnya di buat jengkel pada wanita itu.


Belum juga jauh dari sana, Fany melakukan kiss jauh pada laki-laki itu. Kekasih dari wanita itu pun menahannya sekuat tenaga agar kekasihnya tidak sampai lepas karena Fany berulah lagi. Fany tertawa puas di sana, kebosanannya bisa teratasi karena tingkahnya itu.


Kalau saja apa yang ia lakukan di lihat oleh Julian, mungkin Julian sudah menyeretnya pergi dari sana. Untung jika Julian tidak berada di sana, jadi dia tidak tahu jika Fany berulah seperti itu. Entah jika nanti anak buahnya memberitahukan akan hal ini padanya.


"Hmm... sedikit menghibur dari rasa kebosanan. Tapi kurang asyik," ujar Fany.


Malam hari waktu Venezuela...


"Permisi, Tuan Muda. Saya mendapat laporan jika tadi Nona Fany hampir membuat keributan di kampus," lapornya pada Julian.


"Apa yang sudah dia lakukan?" ternyata Julian tetap mengawasi Fany.


"Dari laporan yang saya dapat, Nona Fany menggoda salah satu mahasiswa di sana, kekasih dari mahasiswa itu marah dengan apa yang di lakukan Nona Fany," jelasnya secara singkat padat dan jelas.


"Hah! Apa kau tidak salah?" pekik Julian. Bagaimana pun, dia merasa cemburu.


"Tidak, Tuan Muda," jawabnya.

__ADS_1


"Haiish... dia benar-benar membuatku ingin marah," kesal Julian, tetapi saat ini bukan waktunya untuk dirinya marah dan mengurusi hal itu. Nanti di waktu yang longgar Julian akan mengurusnya.


"Hmm... awas saja nanti jika aku kembali," sambung Julian.


"Berikan aku daftar acara nanti." Julian meminta daftar acara pada anak buahnya.


"Ini, Tuan Muda. Di sini tertulis jadwal acara dan mafia mana saja yang akan hadir," ujarnya memberikan daftar acara yang akan ia hadiri sebentar lagi. Julian melihat satu persatu daftar itu


"Hmm... sepertinya akan ada masalah yang terjadi nanti. Mereka semua yang ada di daftar sebagian adalah perusuh." Julian meletakkan lembaran itu di atas mejanya.


"Sebisa mungkin kita hindari keributan, jika nanti terjadi sesuatu, sebaiknya kita tidak ikut campur. Lebih baik jika kita langsung saja pergi dari sana," saran anak buahnya.


"Hmm... kita lihat saja nanti bagaimana. Jika mereka yang memulai padaku, maka aku akan meladeninya. Aku tidak peduli di wilayah mana diriku berada saat ini, jika dia berbuat, maka dia harus menanggung akibatnya," jawab Julian yang memang tidak takut di mana pun dia berada saat ini.


Memang Julian mempunyai prinsip tersendiri, siapapun yang sudah memulai, maka Julian akan meladeninya. Di mana pun itu wilayahnya, dia yang memulai maka dia juga yang akan menanggung akibatnya pada waktu itu juga.


"Kita berangkat sekarang, sebentar lagi akan di mulai." Julian beranjak dari sofa duduknya. la melangkahkan kakinya keluar di ikuti oleh anak buahnya.


Venezuela...


Julian keluar dari mobil yang ia kenakan untuk datang ke acara yang sedang berlangsung malam itu, acara tersebut di adakan di salah satu tempat yang terbilang luas. Di saat semua orang memakai setelas jas, tetapi berbeda dengan Julian. Ia datang ke sana hanya dengan memakai pakaian serba hitamnya, dan di balut dengan jaket kulit hitamnya.


Hanya Julian yang berani berbeda di sana, semua orang memandang kehadiran Julian di sana. Banyak yang memberi ucapan padanya, dan banyak pula di sana yang memberi ucapan hanya untuk mengambil hati Julian. Dengan kata lain, mereka sebagian juga seorang penjilat.

__ADS_1


"Suatu kehormatan anda bisa hadir di sini, Tuan Muda William. Senang bertemu dengan anda," ujar salah satu orang yang berperan dalam acara tersebut. Acara tersebut seperti acara reuni para Mafia di berbagai negara, dan Julian adalah salah satunya.


__ADS_2