
"Hmm... tidak ada. Menurut laporan yang aku dapat, dia masih belum melakukan apa-apa. Dua hari ini dia selalu emosi dan membanting brang-barang di rumahnya. Sepertinya, dia persis dengan Papanya," jawab Robert di sana.
"Benarkah? Memang benar-benar bod*h orang itu! Kalau aku menjadinya, mungkin aku pasti sudah menyiapkan sesuatu yang lebih besar, bukan bersikap ke kanak-kanakan." Julian menunjukkan smirknya di sana ketika mendengar cerita dari Robert. Siapa lagi yang mereka bahas kalau bukan Dario.
"Aku juga heran dengannya. Entah kenapa dia tidak ada persiapan dan rencana matang sama sekali,"
"Kau sudah tidak marah?" sambung Robert. Harusnya dia diam saja dari pada nanti kekesalan Julian tidak hilang-hilang.
"Heh, tentu saja aku marah. Akan aku balas tindakanmu padaku." Julian membuat perhitungan pada Robert yang mengerjai dirinya.
Robert hanya memanggutkan kepalanya, Julian kembali fokus pada layar ponselnya. Dia sedang asyik dengan bermain game online yang ada di ponselnya. Robert tersenyum miring pada tingkah Julian.
la memilih untuk membiarkan Julian bermain dengan ponsel miliknya dari pada dia akan mengamuk.
Hari berlalu, malam hari pun telah tiba...
Dario nampak mondar-mandir seperti setrika. la nampak bingung memikirkan cara bagaimana mengalahkan Julian.
"Aaarkh...." Pyar...
Dario meninju kaca hingga pecah berserakan. Darah menetes dari tangannya karena terkena pecahan kaca yang ia tinju. Anak buahnya melongo melihat apa yang di lakukan oleh Dario baru saja.
Melihat Dario terluka, para pelayan itu juga tidak berani mendekat tanpa seizin Dario. Dia memang seperti anak kecil. Beda sekali dengan adiknya yang terlihat dewasa dan lebih tenang.
__ADS_1
"Tuan, sebaiknya obati dulu luka anda," ujar bawahnnya dengan hati-hati agar Dario tidak kembali mengamuk.
"Tidak perlu. Aku tidak butuh itu!" sentak Dario yang menolak untuk di obati luka di tangannya. Masih mending jika para bawahannya memperdulikannya, tetapi dia menolak.
Bawahan di sana memerintahkan pelayan itu untuk pergi, karena percuma saja, Dario tidak akan menerimanya. Yang ada justru mereka yang akan terkena imbas amukannya, bisa-bisa mereka yang babak belur mendapat bogeman mentah dari Dario. Entah kenapa seorang Dario tidak mencari jalan lain, tetapi suka sekali marah-marah.
Kalau saja ia mencari jalan lain ingin melawan Julian pasti ada banyak cara, tetapi dia tidak mau berpikir. Padahal dirinya juga waktu lalu sudah mendapat usulan dari bawahnnya, adiknya pun juga sudah memberi saran padanya untuk mencari cara lain. Namun, dia tidak merespon sama sekali usulan dan saran dari mereka-mereka, entah apa yang ia inginkan sebenarnya.
"Maaf, Tuan. Dari pada Tuan menyakiti diri Tuan sendiri, lebih baik kita gunakan cara lain untuk mengalahkan anak itu. Kita bisa saja membawa salah satu dari orang terdekatnya, bisa saja saudaranya, atau pun juga wanita yang tengah dekat dengannya." Anak buahnya memberanikan diri untuk mengatakan usulannya. Di tolak atau di terima, itu urusan Dario, yang terpenting ia sudah memberikan opsi lain pada tuannya itu.
Dario memandang tajam pada anak buahnya itu, yang di tatap menunduk ketakutan. Ia pasrah saja jika Dario memukul dirinya. Dario mendekat ke arah bawahannya itu dengan tangan yang masih penuh luka.
"Apa rencanamu itu akan berhasil? Lihat saja rencana yang kemarin sudah gagal total. Kenapa kau memberiku usulan yang sangat sepele?" sebenarnya apa yang ia inginkan. Memiliki rencana tidak, tetapi mendapat usulan dari anak buahnya ia menolaknya. Kalau menunggu keajaiban Julian kalah dengan sendirinya sampai kapan pun juga itu tidak akan terwujud.
"Kalau kita membawa ibu dari anak itu pasti sangat sulit, Tuan. Itu hanya kemungkinan kecil," sambungnya lagi dengan mengingat bagaimana Sean. Baru juga mereka satu langkah, pasti sudah habis di tangan Sean.
Dario berpikir-pikir jika apa yang di lakukan oleh salah satu bawahnnya itu sepertinya memang benar. Pasti salah satu dari mereka mendapat perlakuan khusus dari Julian. Kalau mereka ingin membawa Ana, ia akan sangat kesulitan, bisa-bisa mereka belum bergerak sudah lenyap.
"Apa kau punya cara?" tanya Dario yang sepertinya setuju dengan usulan dari bawahannya.
Bawahnnya itu pun memberitahukan bagaimana rencana-rencananya pada Dario. Dario mendengarkan tanpa menyelah sedikit pun. Jarang sekali dia hanya diam dan mendengarkan seperti itu.
Dengan menjelaskan setiap rencananya, akhirnya Dario itu menyetujui usulan dari salah satu bawahannya itu. Hanya dia seorang mafia yang selalu mengandalkan setiap usulan dari anak buahnya, ia tidak ingin berpikir dengan caranya sendiri. Jika sata dia berpikir dengan caranya sendiri, kemungkinan besar akan mudah untuk mengalahkan Julian nantinya.
__ADS_1
Keesokan harinya....
Seperti biasa, Julian pasti tengah mengajak Fany untuk berjalan-jalan setelah jam kuliah selesai. Fany sudah terbiasa dengan ajakan-ajakan Julian, ia tidak pernah menolak lagi setiap Julian mengajaknya keluar.
Kali ini mereka datang ke perpustakaan universal di Berlin, tumben sekali jika mereka datang ke sana di waktu bersamaan seeprti ini. Mereka mencari-cari buku yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Setelah menemukan, Fany duduk di tempat yang sudah di sediakan di sana.
Sementara Julian masih berkeliling untuk mencari buku yang ia inginkan. Cukup lama ia mencari ke setiap lorong, tetapi dia tidak menemukan buku yang ia inginkan. Sepertinya dia sedang tidak mood untuk membaca, dari pada ia lelah mencari ke sana ke mari, ia memutuskan untuk menusul Fany yang tengah duduk sendirian.
Melihat Julian duduk di depannya dengan tangan kosong itu membuat Fany bertanya-tanya dalam pikirannya, padahal Julian cukup lama berkeliling tetapi tidak membawa satu buku pun. "Di mana Bukumu?"
"Sudah aku hafal di kepalaku," jawab Julian dengan enteng. Itu hanya alsannya saja, padahal sedari tadi dia hanya berputar-putar saja tidak mengambil buku. Memang tidak pernah heran jika jawaban Julian selalu begitu.
"Benarkah? Coba kau ceritakan apa yang baru saja kau baca." Fany menutup bukunya ingin melihat apakah benar apa yang di katakan oleh Julian.
Tatapannya ia tujukan pada Julian dengan ke dua tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya. Dirinya pasti tahu jika Julian tengah berbohong, tetapi ia ingin mengetesnya lagi. Walau pun ia tahu bagaimana Julian, ia tidak ingin hanya berburuk sangka pada Julian.
Siapa tahu jika memang benar adanya apa yang dia katakan oleh Julian. Fany masih menunggu sampai Julian mengatakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia minta.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" sangat jelas sekali jika Julian menolak apa yang Fany minta tadi.
"Kau yang mengatakan padaku kalau kau sudah menghafal buku yang kau baca, ceritakan padaku cepat, buku apa yang kau baca. Aku ingin mendengarnya," desak Fany pada Julian.
"Hmm... kenapa kau ingin tahu? Untuk apa?" wajah Julian sangat tenang, bahkan wajahnya juga tidak menunjukkan kebohongan di sana.
__ADS_1
"Tentu saja aku ingin tahu apa yang kau baca. Aku kan juga ingin tahu," sengal Fany. Bagaimana pun, Fany tetap ingin melihat apakah Julian berbohong atau tidak.