Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 78


__ADS_3

Sore hari...


Sean berjalan masuk kedalam mension miliknya. Dilihatnya kiri dan kanan semua nampak sepi, biasanya sang istri dan anak-anaknya berada di ruang berkumpul sedang bermain. Tapi, kali ini sangat sepi. Tidak ada siapapun di sana.


Sean mengerutkan keningnya, dia sedikit cemas jika saja Ana sampai keluar tanpa pengawasannya. Karena musuh Sean sedang berada di sana, ia tidak mau jika Ana dan anak-anaknya tertangkap.


"Tumben sekali, kemana mereka semua?" gumam Sean pelan.


Sean mencoba pergi ke kamarnya yang di lantai atas, siapa tahu jika Ana sedang berada di sana.


Sean membuka pintu kamarnya, dilihatnya kamar pun sepi tidak ada siapapun. Sean kembali keluar, ia mencoba melihat kamar Diva. Di bukanya pintu itu, ia melihat jika ada Diva yang tertidur meringkuk di sana. Sean sedikit lega melihat Diva yang berada di mension.


la kembali mencoba melihat kamar twin, Sean membuka pintu kamar tersebut. Baru dia merasakan lega melihat Ana yang tertidur bersama anak-anaknya.


Sepertinya, mereka semua kelelahan. Sampai-sampai semuanya tertidur.


Sean mendekat kearah Ana, di usapnya lembut pucuk kepala Ana.


"Kau pasti lelah sekali mengurus ketiganya sendirian ." Ucap Sean lalu mencium pucuk kepala Ana. Ana tertidur dengan sangat lelap, hingga tidak menyadari jika Sean sudah pulang.


Tidak lama kemudian, Jennifer meregangkan dirinya dan terbangun. Matanya yang terlihat sipit karena masih mengantuk itupun lama-lama terbuka lebar karena melihat sang papi berada di sana.


Sean tersenyum memandang muka bantal Jennifer yang baru saja terbangun.


"Pappi... pappii..." i..." ucapnya lalu terbangun dan mendekat ke arah Sean.


"Anak papi sudah bangun rupanya. Ayo kita mandi."


Ajak Sean padanya. Jennifer mengangguk cepat dengan ajakan sang papi.


Hanya Jennifer yang terbangun di antara ketiganya. Ana dan Julian masih sangat nyenyak dalam tidurnya.


Sean mengajak Jennifer ke kamarnya yang berada di lantai atas. Sean mencoba mengisi bak mandi dengan air untuk Jennifer. Ia memberikan mainan bebek karet untuknya bermain.


"Oke anak papi, sekarang kita mandi." Ucap Sean menggendong tubuh kecil Jennifer ke kamar mandi.


Sean mencoba melepaskan pakaian Jennifer lalu meletakkan dirinya di dalam bak yang sudah di isi air dan mainan bebek.

__ADS_1


Jennifer terlihat sangat senang, ia memainkan air dalam bak dan bebek karet miliknya. Busa-busa mulai terlihat karena Jennifer menciprat-cipratkan air dalam bak itu.


Sean membantu memandikan Jennifer dengan sangat telaten.


"Papiii... papiii..." ucapnya sambil menunjukkan bebek karetnya.


"Apa anak papi nakal hari ini?" Sean mengajak Jennifer berbicara. Jennifer menggelengkan kepalanya cepat.


Sean melanjutkan untuk memandikan Jennifer agar nanti dia tidak kedinginan jika berada di dalam air yang lama.


Hingga 30 menit berlalu. Keduanya keluar, Sean membawa Jennifer ke wetafel. Di sana terdapat kaca yang sangat besar yang biasa di gunakan Ana untuk berkaca.


Sean meletakkan Jennifer di sana sambil berkaca, Sean menyisir rambut Jennifer yang bewarna pirang itu. Dirinya terlihat sangat imut, dengan menggunakan handuk kimono bewarna pink.


Sedangkan di kamar baby lantai bawah, Ana mulai mengerjapkan matanya.


"Sudah jam berapa ini?" ucap Ana. di lihatnya jam yang tergantung di dinding sana.


"Astaga, sudah sangat sore. Aku tertidur sangat lama ." Pekik Ana setelah melihat jam yang sudah menujukkan pukul 5 kurang..


Ana menoleh kearah anak-anaknya yang masih tertidur, hanya ada Julian saja di sana.


"Loh... loh... di mana Jenni. Kenapa tidak ada? Apa dia sudah terbangun? Tapi di mana? Kamar juga masih tertutup rapat, tidak mungkin dirinya berjalan keluar. Dia juga belum sampai meraih gagang pintu itu." Gumam Ana pada dirinya sendiri karena tidak melihat adanya tanda-tanda Jennifer di sana.


Ana segera bangkit dan mencari Jennifer di seluruh sudut kamarnya, tapi tidak menemukan Jennifer sama sekali.


"Apa Sean sudah pulang, ya?" Ana bertanya lagi pada dirinya sendiri.


la segera memutuskan untuk keluar kamar dan mencari ke kamar atas. Siapa tahu jika Sean sudah pulang dan membawa Jennifer ke atas.


Ana terburu-buru membuka pintu dan berjalan cepat.


Belum juga dirinya menaiki tangga, ia sudah melihat jika Jennifer dalam gendongan Sean turun ke bawah. Ana bernafas lega melihat putri kecilnya berada di gendongan papinya.


"Ada apa, sayang? Kenapa wajahmu seperti panik sekali?" tanya Sean pada Ana.


"Tidak ada, tadi aku hanya panik saja. Aku terbangun Jenni tidak ada di kamarnya, pintu juga masih tertutup rapat." Jawab Ana.

__ADS_1


"Apa anak mami sudah mandi?" tanya Ana pada putri kecilnya. Jennifer manganggukkan kepalanya lagi.


"Ayo kita ganti baju," ajak Ana karena Jennifer masih menggunakan handuk kimononya.


"Biar aku saja yang menggantikan, cepat bersihkan dirimu dulu." Ucap Sean penuh perhatian.


Ana mengangguk saja dengan perintah Sean karena memnag ini sudah sangat sore. Ana menuju kamarnya yang di atas, sedangkan Sean menuju kamar tempat Jennifer dan Julian.


Sean membuka pintu, di sana sudah terlihat Julian yang sudah terbangun sedang duduk sendirian. Sepertinya ia sedang mencari seseorang karena tinggal dirinya di sana.


"Sudah bangun, boy."


"Hiks... hikss... huaahh... mammie..." tangisnya pecah setelah melihat Sean datang.


Sepertinya sedari tadi dia mencari-cari sang mami. Sean mendekat ke arah Julian, ia menurunkan Jennifer dengan sangat pelan.


"Hai... anak papi yang kuat tidak boleh menangis." Bujuk Sean menghapus air mata Julian yang jatuh. la bergantian menggendong Julian yang sedang menangis kencang di sana.


Jennifer hanya diam memandang sang adik yang memang terlihat sangat cengeng di banding dirinya.


"Apa kau mau main pesawat dengan papi, boy?" Sean mencoba mencari cara agar Julian terdiam tidak menangis.


Tangis Julian sedikit reda mendengar kata pesawat dari sang papi.


"Apa mau?" tanya Sean sekali lagi. Julian mencoba menganggukkan kepalanya menandakan jika dirinya mau.


Sean segera mengubah posisi Julian yang berada di gendongannya. Sean pun memberikan aba-aba dengan berhitung, lalu mengayunkan Julian sedikit tinggi. Julian tertawa riang setelah bermain dengan sang papi. Sean melakukannya berulang-ulang kali untuk bisa membuat Julian agar tidak menangis lagi.


Usahanya berhasil membuat Julian terdiam dan tidak menangis mencari sang mami.


Malam hari...


Setelah melakukan makan malam, mereka seperti biasa pasti akan berkumpul. Diva bermain dengan Julian dan Jennifer di karpet yang sudah tersedia.


Sean memandang wajah Ana yang memang nampak sangat lelah seddari tadi.


"Ada apa, hmmm?" Sean mencium pucuk kepala Ana. Ia mencoba memberikan tempat ternyaman untuk Ana saat ini.

__ADS_1


Sean sangat faham, tidak mudah jika merawat 3 orang anak sekaligus. Belum lagi jika nanti tingkah twin J yang sedang aktif-aktifnya.


__ADS_2