
"Bagaimana?" tanyanya dengan singkat padat jelas.
"Maaf, Tuan Muda. Data orang tadi sangat sulit untuk di tembus, sepertinya dia bukan orang biasa," jawab anak buahnya yang ia perintahkan tadi.
"Memangnya siapa yang sedang kau selidiki?" Robert bertanya bingung. Passalnya dia belum tahu, karena baru saja ia datang ke markas.
"Tetap kalian cari siapa orang itu. Entah bagaimana caranya, aku ingin tahu siapa dia," titah Julian.
"Baik, Tuan Muda." Mereka kembali mencari informasi mengenai orang yang di maksud oleh Julian.
Julian pun memutuskan pergi meninggalkan ruangan itu, Robert kembali mengikutinya dari belakang dengan bertanya bingung. "Memangnya apa yang sedang terjadi? Kenapa aku tidak tahu?"
Julian menggelengkan kepalanya, yang artinya tidak ada apa-apa saat ini. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya meminta merkea mencari tahu seseorang yang tengah berbicara padaku siang tadi."
"Seseorang? Siapa? Memang apa yang ia katakan padamu?" cerca Robert pada Julian.
"Aku juga tidak tahu siapa. Dia tiba-tiba berbicara apdaku untuk hati-hati dan melindungi Fany," ," jelas Julian singkat. Karena memang hanya itu yang orang itu katakan apda Julian.
"Apa itu anak buah dari putra Jacob?" tebak Robert. Yang entah itu benar atau tidak.
"Mungkin bisa jadi. Mungkin yang dia katakan semacam ancaman untukku." Julian tersenyum miring di sana. Ia menduga jika itu adalah bentuk ancaman dari anak buah putra Jacob, alias Dario.
Julian tidak akan takut hanya karena ancaman seperti itu. Namun ini menyangkut Fany, kemungkinan kali ini Julian akan lebih berhati-hati dan memperhatikan Fany. Meskipun Fany juga bisa bela diri atau pun menggunakan senjata, bagaimana pun dia adalah perempuan yang harus ia jaga.
Sudah menjadi urusan Julian menjaga Fany dari bahaya apa pun.
"Tapi, apa kau yakin jika itu anak buah dari putra Jacob?" Robert sedikit ragu di sana. Antara memang musush atau tidak, sulit untuk di prediksi.
"Antara iya atau tidak, kita lihat saja nanti bagaimana." Saat ini Julian tidak terlalu memikirkan siapa orang yang tengah bebicara padanya tadi. Yang penting Julian dan lainnya tetap waspada jika suatu saat Dario secara tiba-tiba berbuat sesuatu.
Meninggalkan Julian dan Robert, kita beralih ke kediaman Dario...
Kali ini dirinya cukup tenang, tidak seperti biasanya yang selalu membuang barang-barang miliknya dan berteriak tidak jelas. la mulai menikmati waktunya dengan duduk santai sambil menyesap anggur merah di gelas kacanya. Ia mulai tenang karena ia sudah mulai menjalankan rencananya sesuai dengan usulan bawahannya.
__ADS_1
Dirinya benar-benar menikmati waktunya, ia hanya menunggu hasil dari para bawahannya. Benar-benar tentram sekali dirinya, duduk manis dan menunggu dari anak buahnya bekerja di luaran sana.
"Lapor, Tuan," ujar salah satu bawahannya yang menghadapnya.
"Ada apa?"
"Menurut laporan yang saya dapat, Tuan Arion siang tadi bertemu dengan anak bungsu dari keluarga William, Tuan," lapornya. Dario menaruh gelas miliknya dengan sedikit keras.
Siapa Arion? Arion adalah adik dari Dario, dan yang bertemu dengan Julian waktu siang tadi ternyata adalah Arion. Kebetulan dirinya yang waktu itu juga berada di perputakaan kota.
"Apa yang sudah di lakukan oleh anak itu!?" wajah Dario kembali kesal saat mendengar laporan dari bawahannya mengenai adiknya yang bertemu dengan Julian.
"Tuan Arion mengatakan pada anak bungsu dari keluarga William untuk menjaga kekasihnya,” jawabnya jujur.
Sebenarnya Dario memang tidak terlalu mementingkan adiknya sedari dulu, ia juga terkadang tidak memperdulikan adiknya bagaimana di luar sana. Karena berhubung saat ini Dario menjalankan rencananya, dan kebetulan Arion berada di sana, jadi dia juga masuk ke dalam pengawasan bawahan Dario.
"Apa anak itu membela orang yang sudah membunuh Papanya?" Dario kembali emosi. Padahal dirinya juga belum tahu jika maksud dari adiknya itu membelanya, atau pun sebaliknya. Karena memang dia yang mudah sekali terpancing emosi, jadi seperti itulah dia.
Dario tanpa mencari tahu dulu bagaimana yang sebenarnya. Kalau saja memang Arion membela Julian, mungkin adik dan kaka itu akan perang saudara.
Dario mencoba menenangkan dirinya setelah mendengar penjelasan dari bawahnnya. Karena memang bisa saja sang adik membantunya secara diam-diam saat ini. Dario berharap jika benar kalau adiknya tengah membantunya untuk membalas dendam pada Julian.
"Apa tidak ada yang lain?"
"Tidak ada, Tuan. Hanya itu yang saya dengarkan,"
"Baiklah. Besok kalian harus bisa menangkap wanita itu. Bagaimana pun caranya, kalian harus bisa membawa kekasih dari anak itu. Kalau bisa, kalian juga bawa saudara perempuannya," titahnya yang tidak bisa di bantah.
"Baik, Tuan,"
"Aku tidak mau menerima kegagalan. Kalian harus berhasil," ujarnya lagi.
Entah kenapa dia tidak melakukannya saja sendiri, dia hanya menunggu hasil dari bawahannya. Ia juga sudah tidak lagi menampakkan dirinya di depan Julian, biasanya dia sering menampakkan diri di depan Julian. Entah itu ia sengaja atau tidak, mungkin sekarang ia tidak berani lagi karena Julian sudah mengetahui siapa dirinya.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Anak buahnya itu pun keluar dari sana dan melaksanakan yang Dario minta.
"Selamat pagi, Tuan Muda," sapanya dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Hmm...." la hanya menjawabnya dengan deheman, matanya masih fokus pada korang yang ia baca.
"Pesawat akan siap 30 ment lagi, Tuan Muda," ujarnya memberitahukan hal penting itu padanya.
la menatap tangan kanannya itu dan meletakkan koran yang ia baca. "Batalkan keberangkatan. Aku masih ingin di sini."
"Eh? Kenapa tiba-tiba sekali, Tuan Muda?" tanyanya bingung.
"Aku ingin sedikit lama di sini. Kau bisa kembali ke Bavaria lebih dulu kalau kau mau," ujarnya.
"Baiklah, Tuan Muda. Tapi, saya sedikit mengingatkan Tuan Muda, jangan terlalu ikut campur urusan Tuan Dario dan keluarga William. Tuan Dario tahu jika Anda kemarin bertemu dengan putra keluarga William," tuturnya dengan sopan.
Orang itu mengarahkan ku dua matanya ke arah lain dengan tatapan malasnya, napasnya ia hembuskan panjang mendengar penuturan tangan kanannya. Siapa lagi kalau bukan Arion, adik dari Dario.
"Aku tidak ikut campur, aku hanya mengingatkan orang itu agar lebih berhati-hati. Yaa... meskpiun aku tahu dari mana dia berasal," jawabnya dengan santai.
"Saya memahaminya, Tuan Muda. Tapi lebih baik kurangi lagi interaksi dengan mereka, saya hanya takut jika nanti terjadi peperangan antar saudara," tuturnya lagi pada Arion.
Arion memang beda jauh dengan Dario, ia masih mendengarkan penuturan dari anggota-anggotanya. "Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi."
"Memangnya apa lagi yang akan dia lakukan?" Arion penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Dario selanjutnya.
"Yang saya dengar, dia ingin membawa salah satu dari orang terdekat dari putra William, Tuan. Antara saudari perempuannya, atau kekasihnya,” jawabnya sesuai dengan laporan yang ia dengar.
"Sebaiknya Anda jangan terlalu ikut campur, Tuan Muda. Saya khawatir pada Anda, keluarga William bukanlah keluarga yang mudah di permainkan. Meskipun kita memiliki kekuatan, kekuatan kita masih di bawah keluarga William. Lebih baik hindari keluarga itu," tututrnya kembali. Arion hanya menanggapinya dengan anggukan kepalanya.
"Baiklah, kau bisa kembali ke Bavaria lebih dulu. Nanti aku akan pulang sendiri," ujarnya.
"Baik, Tuan Muda. Saya permisi lebih dulu." la menunduk hormat lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Arion di sana.
__ADS_1
Bavaria atau nama lain dari Bayern, negara itu masih satu negara dengan Jerman. Hanya saja letaknya beradapaling selatan Jerman. Bavaria merupakan asal dari Dario dan Arion, hanya saja mereka sudah tinggal secarabterpisah, mereka ke Berlin menggunakan pesawat karenablebih hemat waktu.
Jika menggunakan mobil, lama waktu yang ia gunakan masih sekitar 6 sampai 7 jam perjalanan. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba memutuskan untuk lebih lama lagi di Berlin. Arion memutuskan untuk keluar sebenatr dan mencari udara segar, ia ingin menjelajahi Berlin terlebih dulu sebelum ia kembali.