
"Bentar kenapa, sih. Orang masih pagi juga." Ketus Diva. Sean kembali menggerutu dengan jawaban Diva yang ketus padanya.
Sepertinya, Diva memang mempunyai dendam kasumat dengan sang uncle. Untung saja Sean sayang, kalau tidak mungkin dirinya sudah menjewer telinga Diva sampai copot.
"Diva, jaga Jul dulu ya. Aunty ke kamar mandi dulu." Ujar Ana meletakkan Julian di box bayinya kembali. Ana buru-buru ke kemar mandi karena sudah tidak tahan.
"Hai boy... jangan suka menangis, oke. Masa kalah sama Jenni." Ucap Diva pada Julian.
Julian bergerak lincah tidak karuan dengan mainannya.
Dan lagi-lagi..
Bruuuth...
Diva mendapat hadiah dari twin.
"Astaga Jul, kenapa keras sekali boom milikmu itu." Pekik Diva mendengar suara kentut Julian yang sedikit keras. Untung saja kali ini tidak sebau dengan kentut Jennifer kemarin.
"Hahahahaa..." Sean di buat tertawa terbahak-bahak.
"Diva mendapat hadiah dari twin. Lengkap ya, Diva." Ledek Sean.
Diva mencebikkan bibirnya kesal pada Sean.
Semakin dendamlah dirinya dengan Sean karen selalu di ejek.
"Sudah diam, uncle. Jangan bicara." Ketus Diva.
"Ada apa? Kenapa kau tertawa kencang sekali?" Sahut Ana yang baru saja selesai buang hajatnya.
"Kau tau, sayang. Kali ini Diva mendapat hadiah dari Julian. Sangat keras sekali." Jawab Sean dengan gembiranya.
"Benarkah, Diva?" Tanya Ana.
Diva mengangguk dengan ekspresi cemberut. Dia berfikir, entah kenapa sedari kemarin dirinya mendapat hadiah tidak terkira dari adik-adik sepupunya.
"Maafkan jul ya, Diva." Ucap Ana mendekat ke arah Diva karena tidak enak.
"Tidak apa-apa, aunty." Jawab Diva.
__ADS_1
Sean menahan tawanya karena kali ini, akhirnya dirinya melihat langsung bagaimana anak-anaknya mengerjai Diva.
Pagi-pagi itu menjadi drama kecil-kecilan antara keluarga itu. Diva yang cemberut dan dendam dengan Sean, Sean merasa sangat senang melihat Diva yang di kerjai dengan anak-anaknya. Sedangkan Ana hanya menjadi penegah buat mereka. Agar tidak terjadi kegaduhan.
Selesai sarapan, Diva pergi ke sekolah di antar Ana kali ini. Karena mami mertua hari ini tidak bisa berkunjung. Ana membawa Julian dan Jennifer untuk ikut bersamanya, sekalian ia mengajak anak-anaknya jalan-jalan tipis.
Ana meletakkan twin J di kursi khusus bayi yang memang sudah di sediakan Sean untuk membawa kedua anaknya bepergian nanti.
Ana keluar dan mengantarkan Diva sampai di depan gerbang sekolah Diva. Twin J saat ini sedang tidur, jadi Ana bisa keluar sebentar untuk mengantarkan Diva.
"Diva yang rajin, oke. Nanti aunty jemput, sekalian kita ke kantor uncle." Ujar Ana.
"Siap aunty." Diva berlari masuk ke dalam dan menuju kelasnya.
Ana memandang senyum kepergian Diva. Diva sekarang menjadi anak yang lebih pintar dan tidak manja lagi.
Ana memutuskan kembali ke mobil di mana anak-anaknya sudah menunggu di dalam. Sebelum Ana membuka pintu mobi, tangannya di cekal oleh seseorang dan di seret ke belakang mobilnya.
"Eeehh... apa ini?" Ucap Ana karena tiba-tiba saja ada yang menyeret dirinya.
Ana melihat siapa yang sudah menyeret dirinya. Kedua matanya terbuka lebar saat dirinya tahu siapa yang sudah menyeretnya.
"Mau kemana, Ana? Kenapa kau buru-buru sekali, hmm?" Ucapnya.
"Mau apa lagi kau? Aku tidak ada urusan denganmu. Biarkan aku pergi." Ana ingin melepaskan tangannya yang di cekal erat oleh seseorang itu, tapi usahanya sia-sia.
"Jangan menyentuhku." Berontak Ana. Dan akhirnya cekalan tangan itu terlepas, Ana memegangi pergelangan tangannya yang terlihat kemerahan.
"Ternayata kau sedikit kasar ya sekarang? Kau juga mempunyai mobil mahal melebihi dari diriku? Sepertinya kau sudah lebih kaya dariku?" Ucap orang itu dengan sedikit remeh.
"Itu tidak penting untukmu." Ketus Ana.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu, Ana. Aku sudah menghianatimu dulu, setelah pertemuan kita kemarin, aku baru sadar jika perasaan ini masih untukmu ." Jelasnya.
Yaahh... betul sekali. Orang itu adalah Andy, mantan kekasih Ana. la ingin mencari udara segar pagi itu, tapi ia seperti melihat orang yang sangat di kenalnya. la berhenti tidak jauh dari sana, ia melihat Ana sedari tadi.
"Jangan ganggu aku, ndy. Aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa setelah aku tau kau berhianat. Biarkan aku pergi, nanti anak-anakku menangis." Ucap Ana.
"A-apa? Anak?" Ucap Andy terbata setelah mendengar kata anak dari Ana.
__ADS_1
Ana menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri dari Andy. Ana kembali membuka mobil dan segera masuk sebelum Andy tersadar dari rasa kagetnya.
Suara pintu mobil yang di tutup Ana membuatnya tersadar. Andy mencoba mengejar dan menggedor kaca mobil Ana.
"Ana buka Ana." Teriak Andy dari luar.
"Jalan, pak." Perintah Ana pada sang supir. Supir itu pun melajukan mobilnya. Andy tidak bisa mengejar kepergian mobil tersebut.
"Aaarrgh... sial..." marah Andy saat mobil itu sudah terlihat jauh dari pandangannya.
"Apa benar Ana sudah mempunyai anak? Apa dirinya sudah menikah? Tapi kenapa aku tidak pernah mendengarnya?" Andy bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Aaahh... tidak. Ini tidak mungkin, pasti dirinya berbohong padaku agar dia bisa lepas dariku. Aku akan mengejarmu Ana." Sambungnya.
Andy kembali ke dalam mobil miliknya, sepertinya ia
bertekad untuk membuat Ana berada di pelukannya kembali. Tapi jangan harap kamu bisa melakukannya Andy. Kamu tidak tahu harus berhadapan dengan siapa nanti.
Sedangkan Seann...
Rahangnya mengeras setelah mendapat laporan dari anak buahnya jika Andy menemui Ana dan berbuat kasar padanya.
Sean tidak suka jika Ana di sentuh oleh orang lain, wajahnya merah karena memendam amarah.
"Sialaan kau Andy. Berani-beraninya kau menyentuh istriku dan kasar padanya." tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya berubah putih.
Sean mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo... kau awasi pergerakan lelaki itu. Jika dia masih mengganggu Ana, bawa dia kehadapanku." Perintah Seann dengan tegas melalui sambungan telfonnya. Sean mematikan panggilan telfonnya secara sepihak setealh memberikan perintah pada anak buahnya.
Anak buah Sean di tugaskan Sean mengawasi Ana dari kejauhan, jika Ana dalam keadaan mendesak, mereka akan keluar dan membantu Ana.
Sorot matanya tajam seperti elang, rasanya ia ingin memberantas semuanya. Karena memang sudah lama dia tidak bergabung dengan semua anak buahnya yang ada di markas selama Ana mengandung sampai twin J berumur 5 bulan.
James di buat kaget dengan sorot mata tajam Sean yang seperti elang itu saat drinya baru saja masuk.
"Ada apa, tuan? Apa ada masalah?" Tanya James dengan berhati-hati. Dia tidak mau jika Sean menerkamnya nanti.
"Tidak apa. Nanti siang jemput Ana di bawah, dia akan kesini nanti." Perintah Sen pada James.
"Baik tuan." Jawabnya.
__ADS_1