Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 207


__ADS_3

"Perlu kau ingat, Gerald adalah milikku. Dan itu sudah pasti, tidak ada yang bisa mengambilnya dariku. Aku membiarkanmu selama ini bukan berarti aku lemah di hadapan orang sepertimu, tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk membuatmu terdiam," sambung Jennifer.


"Ingat kata-kataku, Nona. Kalau kau masih saja mengganggunya, kau akan menyesal nanti." Jennifer menatap tajam pada Sisca.


"Apa kau kira aku takut padamu! Tunggu saja nanti apa yang aku lakukan padamu." Sisca kembali menunjuk wajah Jennifer dengan terlihat marah. Ia pun melangkahkan kakinya pergi dari sana. Jennifer pun segera pergi dan menyusul Gerald yang sudah menunggunya.


Di satu sisi...


Dua orang sejoli tengah menikmati makanannya masing-masing. Siapa lagi kalau bukan Fany dan Julian. Mereka tengah makan bersama saat ini, meskipun mereka masih dalam masa hukuman, itu tidak mempengaruhi kebiasaan jajan mereka.


"Huuh...." Helaan nafas Fany terdengar di telinga Julian.


"Kau kenapa?" mulutnya penuh dengan makanan hingga pipinya mengembung.


"Hah, jangan bertanya kenapa! Tentu saja karena dirimu, uang jajanku menipis." Fany mengorek-orek makanannya yang ada di piring. Padahal juga tidak ada harta karun tersimpan di dalam makanannya.


"Selama kau bersamaku, kau akan aman. Tenang saja, uangku masih banyak," sombongnya di depan Fany.


"Dasar sombong!"


"Tenang saja, aku masih banyak uang cadangan selama aku memegang markas," ujarnya. Sepertinya, Fany melupakan hal itu. Walaupun Julian juga mendapat hukuman, pasti akan ada saja uang cadangannya.


"Kau bisa tenang dengan itu, lalu bagaimana dengan aku? Karena ulahmu aku juga yang terkena imbasnya," kesalnya. Fany tidak pernah ada habisnya membahas soal hukumannya karena ulah Julian yang mengajaknya membolos waktu itu.


"Habiskan saja makananmu. Kau cerewet sekali, aku bilang kau tenang saja. Tidak perlu khawatir tentang itu, aku yang bertanggung jawab. Simpan saja uang jajanmu yang tersisa itu," ucap Julian meyakinkan Fany.

__ADS_1


"Itu uangmu sendiri atau uang dari anak-anak buahmu yang kau habiskan?" tanya Fany karena ragu dengan Julian. Julian berpikir-pikir sejenak sebelum menanggapi pertanyaan Fany.


"Uang mereka uangku juga," jawabnya dengan enteng. Fany sudah menduganya untuk hali ini.


"Astaga, kau memang suka sekali menyusahkan orang lain! Kau yang bersalah kenapa orang lain juga harus menanggungnya?" pekiknya mendengar jawaban Julian yang dengan entengnya.


"Aku heran dengan mereka, bagaimana bisa mereka menurut denganmu yang sangat tengil ini. Kalau saja aku salah satu dari mereka, aku tidak peduli dengan nasibmu sekarang," sambungnya memarahi Julian di sana.


"Tentu saja mereka menurut denganku, kalau tidak menurut, aku akan melempar mereka ke kandang leopard," jawabnya lagi yang membuat Fany menganga.


"Kau memang benar-benar gila. Kalau aku jadi mereka, lebih baik pergi dari sana dari pada mempunyai tuan sepertimu." Fany semakin di buat kesal di sana.


"Mereka tidak akan bisa pergi selama aku tidak mengizinkannya."


"Hah, tidak masuk di akal." Fany tersenyum miring.


"Tidak ada lembut-lembutnya sama sekali dengan wanita." Fany memincingkan bibirnya. Padahal dirinya juga tidak ada lembut-lembutnya sama sekali di hadapan siapa pun. Mereka kembali melanjutkan makan dengan khidmat tanpa bersuara.


Hari panjang telah terlewati, kini berganti dengan lampu-lampu di sepanjang jalan menunjukkan gemerlapnya. Di salah satu tempat yang terlihat sedikit redup, hanya bercahayakan lampu tamaram, di sana terdapat seorang wanita yang terbilang cantik sedang melakukan kerja sama. Tempat tersebut merupakan tempa berkumpulnya para penjahat kelas kakap.


la datang seorang diri untuk bertemu dengan pemimpin dari sekumpulan orang-orang jahat itu. "Ada urusan apa kau kemari, Nona?"


"Aku datang kemari untuk menyewa anak-anak buahmu untuk melakukan sesuatu," jawab orang tersebut. Pemimpin dari orang-orang itu menaikkan sebelah alisnya.


"Aku meminta mereka untuk membawa seseorang. Terserah akan kalian apakan dia, aku tidak peduli. Yang aku inginkan, orang itu tidak ada lagi di hadapanku. Terutama tidak ada lagi di dunia ini," jelasnya yang peka dengan ekspresi wajah pemimpin itu.

__ADS_1


"Memangnya, siapa yang ingin kau singkirkan? Tunjukkan padaku," pintanya. Wanita itu pun menunjukkan foto orang yang ingin ia singkirkan pada pimpinan orang-orang jahat itu.


"Apa kau tidak salah meminta anak buahku untuk menculik orang yang kau maksud ini?" alisnya terangkat sebelah setelah melihat siapa yang berada di foto itu.


"Tentu saja aku sangat yakin. Aku ingin orang itu hilang dari muka bumi ini." Senyum jahatnya tersungging.


"Lebih baik kau mencari orang lain, Nona. Kami tidak ingin menyerahkan nyawa kami pada orang yang kau maksud itu," tDivaknya lalu menyerahkan foto itu kembali.


"Kenapa kau menDivaknya? Bukankah pekerjaan ini akan sangat bagus untukmu dan semua anak buahmu? Kalian bisa naik daun dengan kilat, kalian akan di kenal d kalangan yang lainnya karena berhasil menyinkirkan orang itu." Hasut orang tersebut agar pimpinan orang jahat itu menerima tawarannya.


"Aku lebih memilih hidup tenang, Nona. Meskipun aku orang jahat, tapi aku juga ingin menikmati hidup dengan waktu lama," tDivaknya lagi.


"Heh, ternyata kalian bukan sehebat yang aku dengar. Kau sama saja dengan seorang pengecut," ujarnya dengan menunjukkan senyum remeh.


"Jaga ucapanmu, Nona. Kau bisa saja kehilangan nyawamu saat ini juga," ucap pemim [in itu tidak terima karena merasa di remehkan.


"Kau sensitif sekali." la kembali menunjukkan senyum remehnya.


"Kalau kalian memang bukan pengecut, buktikan saja. Aku bisa saja membayarmu lebih jika kau berhasil membawanya pergi dari hadapanku. Bukankah yang kau lakukan ini nanti akan menjadi rekor untukmu dan anak buahmu. Karena pertama kali berhasil membawa keturunan orang berpengaruh di Eropa ini." Orang itu berusaha untuk menghasut lebih dalam. Siapa lagi orang itu kalau bukan Sisca.


Setelah mendapat gertakan dari Jennifer tadi, ia memutuskan untuk menyingkirkan Jennifer dengan menyewa penjahat itu. Ia cukup berani untuk melakukan hal bodoh seperti itu, jika saja dia tahu bagaimana keluarag William yang sebenarnya, mungkin dia akan mencari lawan yang seimbang. Ia melakukan hal itu hanya karena ingin memiliki Gerald, padahal dirinya juga sudah jelas-jelas ditDivak keberadaannya dengan Gerald.


"Memangnya, apa yang kau bisa kau beri pada kami,


Nona?"

__ADS_1


"Hahaha... aku akan memberikan bayaran lima kali lipat jika kalian berhasil. Kalian bebas mau apakan dia, aku tidak peduli," jawabnya.


Pemimpin itu berpikir-pikir sejenak sebelum menyetujui tawaran dari Sisca. Yang di katakan oleh Sisca memang ada benarnya, ia dan anak buahnya pasti akan memecahkan rekor bisa membawa anak dari orang berpengaruh di Eropa. Di samping itu juga, dia memikirkan hal lain, tidak mudah berhadapan dengan keluarga William.


__ADS_2