Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 214


__ADS_3

"Eeeh ... eeh ... hiks... hiks...." Akhirnya si kecil itu pun menangis karena ulah Julian yang terus menarik kakinya.


"Anak orang kau apakan itu?" dari belakang kepala Julian mendapat toyoran.


"Apa yang sudah kau lakukan! Aku hanya sedang bermain dengannya," jawab Julian mengelus-elus kepalanya.


"Kalau kau bermain dengannya kenapa dia menangis?" kesalnya dengan Julian.


"Ck, memang dia saja yang suka menangis. Tidak bisa di ajak bermain," ucap Julian menyalahkan si kecil.


"Sepertinya yang anak kecil di sini dirimu. Tentu saja anak kecil pasti menangis, kau pun dulu cengeng. Laki-laki tapi suka menangis," balasnya pada Julian yang memang ada benarnya. Dulu masa kecil Julian terkenal dengan suka menangis dan suka jahil di usia dini.


"Sini, sama Kak Jen." Putri kecil itu pun berada di gendongannya.


Orang yang sudah menonyor kepala Julian tak lain adalah Jennifer sendiri, dia melihat kejahilan Julian pada putri kecil itu. Si kecil itu masih terus menangis tidak bisa berhenti, tangisannya susah untuk di hentikan. Jennifer berusaha untuk menenangkan si kecil yang ada di gendongannya saat ini.


Diva yang dari arah dapur mendengar suara tangisan si kecil itu pun segera bergegas menghampiri. "Princes Mommy kenapa ini, hmm."


Si kecil pun mengulurkan ke dua tangannya untuk meminta di gendong oleh sang mommy. Diva mencoba menenangkan tangisan itu. "Ada apa, hmm?"


Tangan kecil mungil itu pun menunjuk ke arah Julian Julian yang merasa di tunjuk itu pun melebarkan kedua bola matanya. "Apa? Memangnya kenapa? Aku tidak berbuat yang aneh-aneh padanya."


"Kau apakan putri kecilku, hah?" sengal Diva.


"Jangan berbicara ngegas seperti itu. Kasihan kan dia semakin menangis mendengar suaramu," jawab Julian dengan tengilnya.


"Dia menangis sedari tadi juga karenamu," sahut Jennifer yang menjadi saksi di sana.

__ADS_1


"Kenapa harus aku? Aku mengajaknya bermain sedari tadi, memang dia saja yang suka menangis," jawabnya dengan enteng.


Diva melototkan kedua matanya ke mendengar jawaban Julian. "Kau benar-benar, ya. Tidak akan aku biarkan putri kecilku ini bersamamu lagi."


Diva berjalan pergi dari sana membawa putri kecilnya, ia pikir jika putri kecilnya akan aman bersama Julian. Ternyata tidak, kejahilan Julian tidak mengenal umur seseorang. Kalau saja Diva tidak membawa putri kecilnya, mungkin saja sudah adu mulut dan menghajar Julian di sana.


Sedangkan di sisi lain...


Gerald sedang duduk di salah satu rumah makan yang cukup terkenal, ia menunggu kehadiran seseorang di sana. Tanpa menunggu lama, orang yang ia tunggu akhirnya telah sampai di sana. Ia berjalan ke arah Gerald dengan langkah terlihat anggun.


Dandanan yang terlihat menor dengan warna bibir bewarna merah cabai, ia melambaikan tangannya ke arah Gerlad yang tengah duduk sendiri di kursinya. Siapa lagi orang itu kalau bukan Sisca.


"Apa kau sudah lama menunggu?" tanyanya basa-basi.


Gerald menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku juga baru saja sampai."


"Aku memesan tempat ini untuk sementara," jawab Gerald dengan wajah datarnya. Ia tidak menunjukkan senyumnya sedikitpun.


"Hah, benarkah?" kedua tangannya ia letakkan di pipinya. Ia tidak menyangkah jika Gerald sampai menyewa tempat hanya untuk dirinya. Gerald hanya mengangguk mengiyakan Sisca.


"Aku tidak menyangkah jika kau akan menyewa tempat ini. Kau pasti menyiapkan kejutan untukku, kan? Pantas saja kau hanya memintaku untuk datang sendiri." Dengan percaya dirinya Sisca berkata seperti itu.


"Iya, tentu saja aku menyiapkan kejutan untukmu. Kejutan yang tidak akan pernah kau lupakan." Gerlad tersenyum miring di sana.


Sisca semakin di buat terbang tinggi oleh Gerald, belum lagi jika Gerald tersenyum padanya. la menganggap senyum Gerald adalah senyum termanis, tetapi kalau itu di hadapan orang yang mengerti, senyuman Gerald mengandung arti. Artinya, itu tidak akan menjadi hal baik, pasti akan ada hal yang terjadi nanti.


"Kejutan? Untukku? Apa kau tidak salah?" Sisca semakin antusias, pipinya pun terlihat sedikit merona di sana.

__ADS_1


"Aku tidak pernah salah untuk memberikan kejutan," jawabnya dengan tidak merubah raut wajahnya.


Hati Sisca seakan-akan terdapat banyak kupu-kupu yang beterbangan, sangat tidak menyangkah jika Gerald akan memberikan sebuah kejutan. Sisca merasa sangat beruntung, pertama kali Gerald meresponnya, tetapi Gerald memberikan hal manis untuknya. Semakin tidak sabar Sisca ingin melihat kejutan apa yang akan di berikan Gerald untuknya.


Gerald merogoh-rogoh sakunya tetapi tidak ada apa-apa yang ia temukan. "Bolehkah aku meminjam ponselmu? Sepertinya ponselku tertinggal, aku tidak bisa menghubungi anak buahku. Kejutan yang aku berikan ada pada mereka."


"Aahh ya... ya... ya... kau gunakan saja ponselku." Sisca memberikan ponselnya pada Gerald.


Gerald menerima dengan senang hati. Di sana, Gerlad mulai membuka di salah satu aplikasi chat, Gerald mulai mengetikkan sesuatu. Di rasa semuanya selesai, Gerald mengembalikan kembali ke Sisca.


"Ini ponselmu. Tunggulah di sini, aku akan mengambil kejutan untukmu. Tidak lama lagi pelayan juga akan mengantarkan makanan untukmu." Gerald memberikan ponsel Sisca kembali.


"Baiklah, aku akan menunggu dengan senang hati." Senyum lebarnya ia tunjukkan pada Gerald. Gerald pun melangkahkan kakinya pergi dari sana dengan menunjukkan smirk di wajahnya.


Sisca menunggu Gerald dengan membayang-bayangkan kejutan apa yang akan di berikan oleh Gerald padanya. "Aaahh... apa ya kira-kira yang akan di berikan padaku? Atau jangan-jangan, dia akan melamarku?"


Sisca membayangkan ekspektasi tinggi dari apa yang akan di berikan Gerald nanti. "Bagaimana dengan Nona Muda dari keluarga William itu? Heh, aku yakin jika nanti dirinya akan menangis dara setelah ini."


Pelayan pun akhirnya tiba di sana dan menyajikan hidangan-hidangan yang menggugah selera. "Silahkan menikmati, Nona."


"Terima kasih." Pelayan-pelayan itu pun akhirnya kembali ke tempat mereka.


"Sangat beruntung Nona Muda William bisa mendapatkan laki-laki seperti Gerald. Oooh... tapi sekarang tidak, keberuntungan itu sudah berpindah kepadaku." Sisca mengambil jus yang sudah tertuang di gelas lalu meneguknya.


la mengguncang-guncangkan gelas yang masih berisikan sisa jusnya itu, ia membayangkan bagaimana nasib Jennifer nanti. Senyum jahatnya kembali terlihat di sana, Sisca kembali meneguk jus yang terisi sedikit di gelas yang ia pegang. Dari arah belakang, beberapa orang tengah mengendap-endap mendekat ke arah Sisca.


Dengan langkah penuh hati-hati ia mendekat agar Sisca tidak mengetahuinya. Tepat di belakang Sisca, mereka segera membekap mulut Sisca dengan kain yang sudah di berikan obat bius di sana.

__ADS_1


"Emmb... eemmb...." Sisca mencoba memberontak melepaskan tangan yang membekapnya. Usahanya ternyata sia-sia, tidak lama kemudian Sisca tidak sadarkan diri karena menghirup obat bius itu.


__ADS_2