Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 156 Season 2


__ADS_3

Dia saat ini sedang makan bersama Riko, hanya berdua saja. Tidak ada siapapun lagi.


"Kau ambil sendiri bagianmu, ini bagianku." Ucap Diva berebut makanan dengan Riko di sana.


"Aahh... Ayolah, kenapa kau pelit sekali?" Ucapnya.


"Kau sudah besar, jadi harus mengalah dengan anak kecil." Ucap Diva yang mengatakan dirinya masih kecil.


"Apa kau tidak sadar dengan dirimu?"


"Aku masih kecil jika belum berumur tiga puluh tahun." Jawabnya lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Kriing...


Kriiing....


Tina-tiba saja ponsel milik Diva berdering dengan kencang.


"Siapa, sih. Mengganggu saja," kesalnya lalu mengambil ponselnya.


Setelah melihat siapa yang menghubunginya, Diva mematikan sambungan telfonnya begitu saja.


"Siapa?" Tanyanya penasaran.


"Tidak penting," jawabnya kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Jangan bersedih, Mom. Dia akan pulang besok," ucapnya menenangkan sang istri.


Sedangkan di sisi Diva....


Kriiing...


Krriingg...


Tidak lama kemudian, ponsel Riko berdering. la melihat siapa yang sudah menghubungi dirinya.


Riko menekan tombol hijaunya, "halo, tuan." Ucapnya pada seseorang di seberang sana.


"Apa kau bersama, Diva? Di mana dia?" Sengalnya di seberang sana. Riko memandang Diva yang sedang makan dengan nikmat, ia menebak-nebak jika orang yang tadi menghubungi Diva adalah Sean.


Benar sekali jika Sean yang sudah menghubungi mereka.


"Iya, tuan. Aku sedang bersamanya." Jawabnya dengan jujur.


"Berikan ponselmu padanya," perintah Sean di seberang sana. Riko memberikan ponselnya pada Diva.


Diva pun bertanya, ada apa menggunakan isyarata kepalanya.


Dengan terpaksa Diva menerima ponsel tersebut.


"Pintar sekarang, kau berani tidak menjawab panggilan dari uncle mu. Kau mau jika uang jajanmu di potong?" Ancamnya.


"Apa sih, uncle. Dikit-dikit uang jajan di potong," ketusnya pada Sean.

__ADS_1


"Aku lagi sibuk." Sambungnya dengan kesal.


"Sibuk apa? Sibuk berkencan maksudmu?" Tebak Sean.


"Mana ada, jangan menuduh sembarangan deh, uncle." Elak Diva. Padahal memang dirinya sedang berada di luar dengan Riko saat ini.


"Apa kau kira aku tidak melihatmu," ujar Sean.


"Kalau sudah tahu kenapa uncle bertanya?" Jawab Diva. Sean juga tidak habis fikir dengan jawaban Diva, Diva juga tidak ada takut-takutnya dengan Sean. Beda lagi jika memang dia melakukan kesalahan.


"Uncle ada apa, sih?" Nadanya seperti kesal dengan sang Uncle. "Bawakan aunty-mu makanan Italy. Dia sedang menginginkannya," ucap Sean yang ternyata meminta Diva membawakan makanan Italy untuk Ana.


"Kenapa uncle tidak membawakannya sendiri?"


"Uncle sedang sibuk." Jawab Sean.


"Oke, tapi uang jajan Diva dua kali lipat." Ternyata Diva juga mata duitan.


"Kau selalu saja.' "


"Kalau tidak mau ya sudah. Uncle cari saja sendiri," ucapnya lagi.


"Kau memang perhitungan, baiklah uncle ikut maumu saja." Sean berdesis dengan tingkah laku Diva.


"Oke." Ucap Diva lalu memutuskan panggilan dari Sean. Sean yang berada di seberang sana hanya bisa menghela nafasnya kasar.


Diva melanjutkan memakan makanan yang ada di depannya, setelah semua habis, dia pun beranjak dari sana. Diva mengatakan pada Riko jika pergi ke restoran Italia dulu.


Jet yang di tumpangi oleh Julian dan teman-temannya telah mendarat mulus di bandara kota Berlin. Mereka segera memutuskan untuk kembali pulang dengan cepat.


Mereka segera naik ke dalam mobil masing-masing, ada yang ikut dengan Gerald ada juga yang ikut dengan Julian dan Jennifer.


Mobil melaju mengantar mereka ke rumah masing-masing.


Sedikit lama dalam perjalanan, mereka akhirnya di kediaman masing-masing.


Julian dan Jennifer turun dari dalam mobil dan masuk kedalam mension. Julian berlari lebih dulu, Jennifer yang melihat tingkah Julian itu membiarkan saja. Sudah biasa dia seperti itu.


Sesampainya di dalam, Julian merebahkan dirinya di sofa tempat biasa mereka berkumpul.


"Kalian sudah pulang?" Terdengar suara Ana di sana.


"Mamiiii.... Jul lelah." Rengeknya pada Ana dengan menunjukkan sikap manjanya.


"Udah gede, gak usah bertingkah deh, Jul." Sahut Diva melihat Julian yang bertingkah seperti anak kecil.


"Suka-suka Julian, lah." Ucapnya pada Diva.


Sedangkan di sisi sebaliknya...


Gerald masuk ke dalam rumah megah yang ia tempati selama berada di Jerman selama ini.


"Halo, Son." Suara yang familiar terdengar di telinganya. Seketika Gerald menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Daddy." Ucapnya melihat sang Daddy yang ada di sana.


Gerald menghampiri Daddy dan Mommy-nya yang ada di sana, mereka berpelukan melepas kerinduan karena sudah lama mereka tidak bertemu.


"Moomy dan Daddy kapan sampai di sini? Kenapa tidak memberitahu Gerald?" Tanyanya.


"Mommy dan Daddy sengaja memberikanmu kejutan," ucap sang Mommy padanya.


"Bagaimana liburanmu? Apa menyenangkan?"


"Yaahh begitulah, Dad."


"Istirahatlah, nanti malam kita akan makan malam bersama dengan teman Daddy di sini." Ucap sang Daddy padanya.


Di waktu yang bersamaan...


"Mommyyy......" Teriaknya nyaring di telinga saat tiba di apartemen milik keluarga kecilnya.


"Astaga.... Anak siapa teriak-teriak seperti itu di sana?".


"Anak Mommy lah itu." Sahut anak kecil laki-laki di


"Bisa tidak kalau tidak berteriak? Jadi perempuan kalem, jangan suka teriak-teriak." Marahnya pada putrinya.


"Mommy juga biasanya begitu, kan. Fany kan ikut jejak Mommy," jawabnya dengan enteng.


"Kakak... Mana oleh-oleh buatku?" Tanyanya dengan menunjukkan wajah gemmasnya.


"Kau buka sendiri saja, ya. Putri lelah," ujarnya lalu merebahkan dirinya di atas sofa. Adik Fany kemudian membuka koper miliknya di bantu dengan Abigail tentunya.


Malam hari....


"Adikmu belum bangun, Jen?" Tanya sang papi di sana.


"Sepertinya belum, pi. Biar Jennifer yang bangunkan dia," ucapnya lalu melangkah menuju kamar Julian.


Di bukanya pintu, terlihat jika Julian masih tertidur dengan wajah yang tertutup selimut. Jennifer berfikir bagaimana caranya membangunkan adiknya, sepertinya dia membunyai rencana pada Julian.


Jennifer tersenyum mesterius setelah berfikir-fikir, iaia mulai mendekat ke arah tempat tidur Julian.


"Juliaannn...." Suaranya di buat merdu di telinga Julian. Julian masih tidak bergerak dari tidurnya, sepertinya cukup nyenyak tidurnya.


"Juliiiaaann...." Jenifer kembali memanggil nama Julian dengan merdu.


Sedangkan di alam mimpi, Julian menoleh ke sana ke mari mencari sumber suara yang terdengar sangat merdu.


"Suaranya seperti bidadari, tapi di mana dia? Kenapa tidak menampakkan dirinya di sini?" Gumam Julian yang masih mencari ke sana ke mari.


Jennifer yang terlihat sangat kesal itu pun langsunh saja mencubit perut Julian dengan kencang.


"AAAAHH..." Teriaknya langsung terbangun karena merasa sakit.


Jennier terlihat melipat kedua tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


"Akhirnya kau terbangun." Ucap Jennifer.


__ADS_2