
Mereka semua takjub dengan pemandangan dari atas sana, benar-benar menakjubkan. Pemandangan membuat siapa saja betah untuk berada di sana. Menempuh perjalanan beberapa menit, mereka akhirnya turun dari kereta. Mereka kembali takjub saat berada di puncak sana.
"Sangat indah. Pantas saja Grandma dan Grandpa memilih tinggal di sini. Suatu hari nanti aku juga akan tinggal di sini," ujar Jennifer yang di dengar oleh Gerald.
"Kalau kau memutuskan itu. Biar aku siapkan rumah untuk kita nanti," sahut Gerald. Apa yang tidak dari Gerald, dia tinggal meminta anak-anak buahnya besok rumah di pastikan sudah berdiri dengan sendirinya.
"Aku tidak mengajakmu," sinis Jennifer di sana.
"Kalau kau tidak mengajakku, lalu dengan siapa kau berada di sini? Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendiri nanti. Di mana ada kau, pasti ada aku." Gerald sudah siap ke mana saja jika Jennifer meminta. Sepertinya memang sudah siap secara lahir dan batin hidup bersama dengan Jennifer.
"Jangan sampai aku mendengar kata-kata itu untuk orang lain." Sepertinya Jennifer tengah menyindir Gerald yang tengah di kejar-kejar oleh Wendy saat ini. Raut wajahnya menunjukkan tidak suka di sana. Gerald hanya tersenyum mendengar Jennifer tengah sensi saat ini.
"Mana mungkin aku mengatakannya pada orang lain ." Gerald mengelus pucuk kepala Jennifer sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan mencari sensasi di luar." Jennifer memukul pelan lengan Gerald di sana. Yang mendapat pukulan pun hanya bisa tersenyum.
"Aaarkh... Juliaaannnn!" terdengar teriakan Fany dnegan kencang. Jennifer dan Gerald yang tengah asik bercanda itu pun seketika menoleh.
Terlihat jika Fany sangat kesal ingin mencekik Julian di sana. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan dua orang itu. Mereka berdua memutuskan untuk mendekat ke arah dua sejoli itu.
"Hiihh... ingin aku gantung kau. Aahhh... Mommy... ponselku...." Fany terlihat merengek dan menangis di sana. Pengunjung yang ada di sana sampai melihat dirinya yang sedang berteriak.
"Kau kenapa?" tanya Jennifer. Ia bingung melihat Fany menjerit tidak ada hentinya. Ekspresi Julian juga tidak bisa di gambarkan saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi pada ke duanya.
"Ponselku jatuh ke bawah sana...." "Tunjuk Fany ke jurang di mana ponselnya terjatuh. Ia menghentakkan kakinya seperti anak kecil, bagaimana bisa ponselnya bisa jatuh ke sana.
Jennifer membulatkan ke dua matanya mendengar ucapan Fany. "Hah, bagaimana bisa!?" Jennifer tidak kalah terkejut di sana.
"Aku sedang memfoto pemandangan di sana, entah kenapa adikmu ini tidak bisa diam!" Fany benar-benar di buat kesal.
"Maafkan aku, Honey. Kau jangan marah, ya. Nanti aku belikan ponsel baru untukmu," bujuk Julian pada Fany. Memang kelakuan Julian ada-ada saja.
"Diam kau! Pergi saja, jangan denkat-dekat denganku!" sengal Fany. Dia tidak bisa terima ponselnya jatuh ke dasar sana.
Fany yang ada di sana tidak mau membuang kesempatan untuk mengabadikan pemandangan indah di
matanya. Ia mencoba mengambil beberapa gambar, dan seperti biasa Julian pasti akan mengganggunya. Julian menenggor tubuh Fany, alhasil ponsel yang di pegangnya jatuh.
Baru juga mereka berada di sana, sudah ada kejadian yang membuat marah dan kesal. Fany tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Posisi mereka tadi di tepian pagar pembatas, jadi ponsel Fany bisaterjun bebas ke bawah.
"Aku tidak sengaja, Honey. Maafkan aku. Setelah dari sini aku akan membelikanmu ponsel baru, tenanglah." Julian berusaha membujuk Fany agar tidak marah lagi dengannya.
Jennifer menggelengkan kepalanya dengan tingkah adiknya itu. Memang tidak pernah ada habisnya kalau menghadapi Julian, dan pasti Fany sedari dulu yang menjadi korbannya.
"Kau memang benar-benar. Jangan sampai Aunty Abigail tidak merestuimu nanti setelah dari sini."
"Eeeh ... jangan begitu dooong... kau harusnya mendoakan yang baik untuk Adikmu," protes Julian.
"Jangan marah lagi, okey. Kau bisa gunakan ponselku dulu. Nanti aku akan membelikan yang baru untukmu." Julian tetap membujuk Fany. Apa lagi yng bisa dia lakukan, saat ini mereka sedang berada di puncak gunung. Kalau memberi baru pun harus ke tempatnya, mana ada di puncak gunung terdapat tempat menjual ponsel.
"Terserah!" Fany juga tidak bisa berkata-kata lagi. Julian mengikuti langkah Fany dari belakang dan membujuk Fany agar tidak marah lagi dengannya.
"Adikmu memang benar-benar, Babe. Bagaimana bisa kau sabar memiliki adik seperti itu?" Gerald sendiri juga tidak tahu kenapa bisa Jennifer memiliki adik seprti Julian yang selalu menguji kesabaran.
"Aahh... entahlah anak itu. Diam satu detik sepertinya dunia akan hancur." Jangankan Gerald, Jennifer saja tidak tahu bagaimana bisa memiliki adik seperti Julian.
Mereka kembali melihat-lihat pemandangan dari atas sana, tidak mungkin kalau langsung turun begitu saja. Satu minggu berlalu...
Jennifer dan lainnya sudah kembali dari Swiss, mereka segera ke kampus sebelum tertinggal banyak kelas. Mereka menjalani aktifitas seperti biasa di waktu kuliah. Jennifer seperti biasa pasti akan jalan bersama Fany dan Thea, ketiganya saling lempar candaan satu sama lain.
__ADS_1
Di saat mereka tengah asik, datanglah Wendy entah dari mana asalnya. Tiba-tiba saja dia menghadang jalan ke tiganya. "Mau ke mana kau?"
Tanpa ada angin tanpa ada hujan dia datang tiba-tiba nyolot seperti itu. Fany dan Thea mengerutkan keningnya melihat kedatangan Wendy tiba-tiba. "Tuan Puti, bukankah wanita ini yang waktu itu kita lihat?"
Fany tidak asing dengan Wendy, dia pernah melihatnya waktu Wendy bersama Gerald. Thea yang tidak tahu itu pun bertanya-tanya, "Memang dia siapa?"
"Kau sembunyikan di mana Gerald! Kembalikan dia!" sebenarnya apa maunya, tidak pantas sekali kalau dia mengatakan seperti itu.
"Memangnya siapa kau!? Dia sudah punya kekasih, harusnya kau tahu diri!" bukannya Jennifer, tetapi justru Fany yang nyolot di sana.
"Diam! Aku tidak ada urusan denganmu!" ketus Wendy pada Fany.
"Ada perlu apa kau mencarinya, Nona? Tidak ada larangan kalau aku menyembunyikannya, bukan?" Jennifer dengan santai mengahdapi Wendy.
"Bukankah kau sangat aneh, Nona? Dia tunanganku, kenapa juga aku harus mengembalikan dia kepadamu? Memangnya siapa kau?"
"Heh, ternyata kau hanyalah wanita yang terobsesi padanya, tapi berkedok teman!" sambung Jennifer. Jennifer kali ini akan meladeni Wendy, agar tidak ada wanit-wanita lain di luar sana yang seperti Wendy.
"Kau baru bertunangan dengannya, kau belum menikah dengannya. Jadi tidak ada hak kau melarangnya bersama siapa saja!" sepertinya urat malu Wendy hilang. Dirinya yang tidak ada ikatan hubungan apa-apa justru dia yang berlagak seperti itu.
"Memangnya kau siapa? Bahkan kau lebih tidak punya hak!" ucap Jennifer telak.
"Kau bertanya siapa aku? Tentu saja aku yang akan menjadi pasangannya nanti. Daddy ku yang akan mengurus semuanya, jadi kau harus pergi jauh." Wendy mengibas-ngibaskan tangannya di udara dengan gaya songongnya. Dia sangat yakin sekali jika apa yang di lakukan oleh daddy-nya nanti pasti akan berhasil, tidak ada yang tidak di turuti setiap apa yang ia minta.
Jennifer tersenyum sinis di sana. Kalau saja keluarga Carlos menerima tawaran dari keluarga Wendy, sama saja akan ada perang dunia terjadi. Namun, itu pasti tidak akan terjadi, karena keluarga Carlos sendiri yang meminta keluarga William untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.
Fany di sana ingin sekali menjambak Wendy yang teramat songong itu. Baginya menghadapi orang seperti Wendy lebih membuatnya emosi dari pada menghadapi sifat tengil Julian. Tangan Thea mencekal Fany agar tetap diam, Jennifer pasti bisa menghadapi Wendy.
"Ahh bagitukah? Aku harap nanti kau tidak akan menangis darah jika tahu bagaimana hasilnya," ujar Jennifer.
"Aku? Menangis darah? Justru kau yang akan menangis darah nanti." Wendy tersenyum miring. la sangat-sangat yakin pasti dia bisa mendapatkan Gerlad melalui orang tuanya.
"Aaarkh... apa yang kau lakukan padaku!? Aku hanya ingin berteman denganmu, kenapa kau melakukan ini padaku?" tanpa ada angin tanpa ada hujan Wendy berteriak begiu saja dan memegang pipinya seolah-olah dirinya mendapat tamparan. Jennifer menaikkan sebelah alisnya melihat Wendy yang tiba-tiba bertingkah seperti itu.
"Hiks... hiks... Gerald adalah teman baikku. Jadi aku juga ingin menganggapmu seperti temanku sendiri kenapa kau jahat padaku." Wendy melanjutkan tingkahnya yang tiba-tiba saja menangis sekarang.
Tiba-tiba saja Wendy berlari dari hadapan mereka bertiga. Ia berlari ke arah salah satu orang yang menjadi pusat perhatiannya sedari tadi. Jennifer, Thea dan Fany ikut menoleh ke mana larinya Wendy.
"Astaga ular itu. Pantas saja tiba-tiba dia merasa tersakiti," celetuk Thea.
"Harusnya kau bagian kameramen tadi, kan bisa lihat tadi aktingnya. Harusnya seru, nanti kita bisa tonton kembali di rumah," saran Fany.
"Baby... ... lihatlah mereka. Mereka jahat padaku, tiba-tiba saja aku di tamparnya dan di jambak," rengeknya. Ternyata dia melihat Gerald dari kejauhan, maka dari itu dia bersikap seolah-olah dirinya tersakiti. Jadi itulah sebabnya.
Fany dan Thea memandang dongkol pada Wendy di sana. "Hiii... tidak malu sekali dia? Apa tadi katanya? Baby? Dasar ular!" Thea mengeluarkan unek-uneknya. Jennifer memandang sinis ke arah Wendy yang bisa seenaknya menyentuh miliknya.
Wendy merengek untuk mendapat perhatian dari Gerald di sana. Dengan langkah cepat Jennifer melangkahkan kakinya. Dengan paksa Jennifer menyingkirkan tangan Wendy dari Gerlad.
"Menjauhlah darinya!" Sebenarnya Jennifer tidak mau bersikap seperti itu di depan banyak umum, itu bisa saja merusak citra dirinya. Namun dia juga tidak mau jika miliknya di sentuh dengan orang lain, miliknya adalah miliknya, jadi tidak bisa orang lain menyentuhnya.
"Coba katakan padanya, di pipi seblah mana aku menamparmu, Nona? Apa pipi yang sebelah kanan?"
Plaak...
Jennifer menampar keras pipi Wendy. Seketika pipinya terasa panas, niatnya dia ingin mencari perhatian pada Gerald. Namun hal yang tidak di duga, dia mendapat tamparan langsung dari Jennifer.
"Apa yang sebelah kiri?"
Plak...
__ADS_1
Jennifer kembali menampar pipi Wendy. Fany dan Thea senang sekali menyaksikan pertujukan di depannya. Salah siapa mencari perkara dengan seorang Jennifer. Jennifer yang menampar Wendy tiba-tiba itu pun seketika menjadi pusat perhatian banyak orang di sana.
Belum juga Wendy berbicara, Jennifer menjambak kuat rambut Wendy hingga dirinya merintih kesakitan." Dan apa aku menjambakmu seperti ini?"
"Aaakh... lepaskan tanganmu!" Wendy memukul-mukul tangan Jennifer agar terlepas dari rambutnya. Bukannya melepaskan, Jennifer justru semakin kuat menjambak rambut Wendy. Wajahnya terlihat merah di sana.
"Aaakhh... Baby, tolong aku. Ini sangat sakit." Wendy memanggil Gerald untuk meminta bantuan. Jennifer yang sudah kesal karena Wendy mengatakan yan tidak-tidak, dia semakin kesal mendengar Wendy memanggil Gerald dengan sebutan baby.
Jennifer semakin murka di buatnya. Semakin kuatlah jambakannya. Wendy merintih kesakitan, rasanya kulit kepalanya seperti lepas dari tempatnya.
"Teruskan Jen, teruskan. Jangan beri ampun ular sepertinya." Bukannya melerai, justru Thea memberi semangat pada Jennifer. Dia juga kesal melihat Wendy yang tidak tahu malu.
Walaupun Wendy merengek dan memukul-mukul tangannya, tetapi Jennifer enggan melepaskan tangannya. Bahkan Jennifer tidak memperdulikan jika saat ini banyak mahasiswa yang melihat aksinya.
Melihat banyak kerumunan, Julian dan temannya datang karena merasa penasaran. Setelah melihatnya, dia terkejut melihat kakaknya yang menjambak anak orang begitu saja. Dia bertanya pada Fany dan Thea yang ada di sana.
Baru kali ini dia melihat sang kakak menghajar orang di depan banyak orang. Apa lagi di kampus seperti ini. Karena banyak sekali orang di sana Gerald ingin memisah ke duanya.
"Sebaiknya kau diam di tempatmu! Jangan melangkah satu langkah pun!" ujar Jennifer dengan tegas. Wajahnya terlihat sangat merah di sana, bahkan dengan Gerald saja dia tidak peduli. Begitulahsinga yang tertidur jika di bangunkan.
"Gawat!" pekik Julian melihat kemarahan kakaknya. Pasti tidak akan baik-baik saja jika Jennifer sudah marah seperti itu. Julian memberikan kode pada Gerald untuk memisahkan Jennifer di sana.
Gerald kembali melangkahkan kakinya mendekati Jennifer yang tidak mau melepaskan tangannya. "Aku bilang diam kau di tempatmu!" semakin kuat Jennifer menjambak rambut Wendy.
Bahkan saat ini Wendy sampai terduduk, tetapi Jennifer tidak peduli dengan kesakitan Wendy." Bukankah ini yang kau katakan, Nona. Aku menjambakmu bukan? Apa seperti aku menjambakmu tadi?" kemarahan Jennifer semakin tidak bisa di kondisikan.
Dengan tekad kuat Gerald melangkahkan kakinya dan menarik tangan Jennifer. Ia berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Jennifer dari rambut Wendy. Setelah terlepas, Gerald membawa pergi Jennifer menjauh dari sana.
Terlihat rambut Wendy sampai rontok di sana, walau tidak banyak jumlahnya. Sepertinya bukan hanya kerontokan rambut yang di alami Wendy, mungkin ada sedikit luka juga di sana karena benar-benar kuat tarikan Jennifer.
"Bawa dia dari sini. Jangan sampai dia berulah lagi dan mengarang yang tidak-tidak nanti," pinta Julian pada Fany dan Thea.
"Tidak mau. Untuk apa juga aku membawanya. Bukan urusanku, sala sendiri dia berulah. Kau saja sana yang membawanya." Fany menarik tangan Thea pergi dari sana dan membiarkan Wendy terisak menahan sakit. Fany terlihat tidak peduli dengan keadaan Wendy.
Berselang beberapa detik kemudian, Wendy tidak sadarkan diri di sana. Sepertinya sakit yang dia rasakan bukan main-main. Mereka yang melihat Wendy yang tidak sadarkan diri itu berbondong-bondong menolongnya.
Sementara di sisi lain ...
Gerald membawa Jennifer ke tempat yang terlihat sepi di kampusnya. Jennifer melepaskan tangannya dari cengkraman Gerald. Baru kali ini dia merasa sangat marah, bahkan di depan banyak orang.
Tangannya terlepas dari cengkraman Gerald. " Kenapa kau membawaku ke sini!?" sentak Jennifer. Baru pertama kali juga dia bisa marah di depan Gerald seperti itu.
Gerald meraih kembali tangan Jennifer dan mengusapnya lembut telapak tangan Jennifer yang terdapat rontokan rambut Wendy. "Harusnya kau tidak perlu mengotori tanganmu. Lihatlah tanganmu tidak lembut lagi."
Gerald berkata dengan tutur kata yang lembut. Dia benar-benar tahu bagaimana menyikapi perempuan, Gerald tidak ikut marah melihat aksi Jennifer seperti tadi. Jennnifer membuang mukanya ke arah lain.
"Apa rumput-rumput di sana lebih menarik dari pada aku?" Gerald mencoba berbicara dengan Jennifer yang tengah marah kali ini.
"Kau juga boleh marah padaku. Pukul aku sampai kau merasa puas." Gerald menyerahkan dirinya sendiri agar Jennifer tidak marah lagi.
"Kau boleh marah padaku ada orang lain. Tapi kau juga harus menontrol amarahmu, jangan sampai kau di kuasai amarah yang akan membuatmu menyesal," tutur Gerald.
Gerald membawa Jennifer ke dalam pelukannya, berharap jika itu bisa meredamkan amarah Jennifer." Tenangkan dirimu, Babe. Kau tidak perlu khawatir, aku hanya milikmu."
Jennifer tidak ingn berbicara di sana, dia hanya diam tanpa menyahut. Cukup lama Gerald menenangkan Jennifer, serasa dunia hanya milik berdua, dia tidak ingat di mana mereka saat ini berada.
"Bagimana bisa mereka enak-enakan pacaran seperti itu?" gerutu Thea dari kejauhan melihat dua sejoli itu. Mereka berdua tadi memilih untuk mengikuti Gerald dan Jennifer, tetapi pemandangan lain yang ia lihat.
"Apa kita akan berdiam diri saja di sini melihat mereka berpelukan seperti itu?" sambungnya.
__ADS_1
"Ayo kita pergi saja dari pada dia kembali mengamuk melihat kita. Sepertinya lebih seru melihat wanita tadi. Aku yakin sekali jika dia meraung-raung menangis di sana ," ajak Fany. Dia tidak tahu kalau Wendy tidak sadarkan diri setelah kepergiannya.
Thea menyetujui ucapan Fany, mereka pun pergi dari sana membiarkan dua sejoli itu sementara waktu.