
Sementara di satu sisi...
"Mau menunggu apa lagi kalian? Cepatlah pergi dan tangkap salah satu dari mereka! Kalian harus bisa membawa salah satu dari mereka, aku tidak mau menerima kegagalan," perintahnya pada bawahannya. Dia benar-benar tidak sabar sama sekali, untung saja para bawahannya itu masih sabar ikut dengannya. Siapa lagi orang seperti itu aku bukan Dario.
"Jika gagal, kalian yang akan mendapat hukuman." Dario sedikit memberi ancaman pada bawahannya. Harusnya ia bersyukur jika bawahannya masih sabar menghadapinya, kalau saja tidak mungkin semuanya sudah pergi meninggalkan dia seorang.
"Baik, Tuan." Mereka segera bergegas pergi sebelum Dario marah dan mengamuk pada mereka semua. Kali ini mereka akan berusaha ekstra, jika tidak, mereka akan mendapat hukuman dari Dario.
Hari ini, di mana mereka semua kembali melakukan aktifitas belajarnya di kampus. Fany yang berada di dalam kelasnya merasa bosan sekali dengan mata kuliah
hari ini. Rasanya sangat malas, tetapi kalau dirinya memilih bolos pasti akan mendapat hukuman uang jajannya akan di potong.
Entah pelajaran yang di smapaikan oleh dosen di depan itu di cerna oleh otaknya atau tidak. Kemungkinan besar jika dirinya tidak mencerna pelajaran itu.
"Astaga... kenapa jam berputar sangat lambat sekali?" gumamnya dengan pelan. Jam serasa berputar sangat lambat kali ini.
"Kau kenapa?" tanya salah satu temannya yang berdekatan dengannya.
"Aku malas sekali. Ingin aku boom saja kampus ini rasanya," jawabnya dengan sedikit nyleneh. Hanya karena didirnya sedang malas, kampus ingin dia boom.
"Mau ke mana kita kalau kampus ini di boom. Jangan mengada-ada, sebaiknya kau yang sbar dulu. Sebentar lagi juga sudah selesai. Kau seperti anak kecil saja," ujar temannya. Dengan berat hati Fany mengikuti jam kuliah itu sampai habis.
Skiip...
Fany kembali cerah setelah jam kuliah usai, kali ini mereka berkumpul dengan Jennifer dan Thea. Seperti biasa jika mereka berkumpul pasti akan pergi untuk berjalan-jalan sekejap. Mereka pergi ke salah satu jalan yang banyak sekali berjejer café dan restoran.
Tempat itu, tempat yang pernah Fany dan Julian kunjungi waktu lalu. Mereka masih memilih-milih tempat mana yang akan mereka pilih untuk bersantai. Sepanjang perjalanan mereka, pasti ada yang tengah mengawasi dan mengikutinya.
Siapa lagi merkea kalau bukan bawahan Dario yang tengah menjalankan tugasnya. Entah kali ini mereka akan berhasil atau tidak membawa salah satu dari mereka.
Mereka semakin mendekat ke arah ke tiganya.
Buugh...
__ADS_1
"Aawh...."
Tanpa sengaja Thea tertenggor salah satu pria yang melintas di sana, pria itu tengah fokus pada ponsel miliknya dan tidak memperhatikan ke depan. "Maafkan aku, Nona. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi."
"Lain kali berhati-hatilah, Tuan. Kalau jalan jangan terlalu fokus pada ponselmu," sengal Thea di sana. Biasanya Fany yang akan berbicara seperti itu, kali ini berganti dengan Thea.
"Maafkan aku, Nona," ujarnya kembali dengan tidak enak.
Fany yang seperti mendengar suara itu pun melihat ke arah orang itu. "Kau." Tunjuknya yang mengingat siapa orang itu.
Orang itu sedikit tersenyum ke arah Fany. "Hai, Nona. Kita kembali bertemu."
"Kau kenal orang itu, Fe?" sahut Thea yang penasaran karena Fany seperti mengenal pria itu.
"Tidak. Aku tidak mengenalnya. Tapi aku bertemu dengannya kemarin waktu bersama Julian," jawab Fany jujur. Orang itu kembali tersenyum simpul pada mereka bertiga.
Orang yang itu tidak lain Arion sendiri, ia berjalan-jalan menjelajahi kota hari ini. Tanpa sengaja dirinya justru bertemu kembali dengan Fany dan lainnya. Anak-anak buah dari Dario itu pun sedikit menjauh ketika melihat Arion berada di sana.
"Senang bisa bertemu denganmu kebali, Nona. Dan maafkan aku yang tidak fokus melihat ke depan," ujarnya kembali merasa tidak enak pada Thea yang baru saja tersenggol dirinya.
"Baiklah, lain kali berhati-hatilah, Tuan. Jangan sampai karena ponsel kau tidak melihat sekitarmu,"
"Kalau boleh tahu, kalian akan pergi ke mana?" tanyanya sedikit berbasa-basi.
"Hmm... kami masih mencari tempat yang enak. Kenapa? Apa kau mau ikut bergabung?" sahut Fany begitu saja. Thea melototkan ke dua matanya ke arah Fany.
"Aahh tidak, Nona. Terima kasih atas tawarannya, lain kali saja. Aku harus kembali terlebih dulu, permisi," pamitnya pergi meninggalkan ketiganya di sana.
la nampak ramah sekali pada Fany dan lainnya. Entah itu keramahannya hanya sekedar topengnya, atau memang dirinya yang sebenarnya. Jennifer sedari tadi juga tidak ikut menyahuti perbincangan itu, ia hanya diam dan mengamati.
Ke tiganya tidak memperdulikan kepergian Arion, mereka segera mencari tempat untuk ia gunakan bersantai. Setelah kepergian Arion dari sana, bawa bawahan Dario itu kembali mengikuti mereka bertiga. Mereka harus bisa membawa salah satu dari mereka, jika bisa membawa semuanya, mungkin Dario akan lebih senang.
Namun entah mereka akan berhasil atau tidak, mengingat Jennifer dan Fany bagaimana mereka berdua.
__ADS_1
Jika Fany, Jennifer dan Thea tengah asik bersantai, beda lagi dengan Julian setelah jam kuliah usai, dia langsung saja menuju markas. Ada hal yang harus ia urus terlebih dahulu, biasanya dirinya yang selalu ikut ke mana wanita-wanita itu pergi. Julian lebih sering bersama dengan Robert dari pada dengan teman-temannya yang lain.
"Coba kau lihat ini." Robert memberikan beberapa lembar kertas pada Julian. Entah apa isinya, sepertinya penting sekali.
Julian mengambilnya dan membacanya secara perlahan. Julian membolak-balikkan kertas-kertas itu sampai habis. Setelahnya Julian kembali di atas meja di hadapannya.
"Bagaimana menurutmu? Apa dia mengumpulkan sekutu dan bekerja sama dengan adiknya?" ujar Robert pada Julian.
Ternyata orang yang ia temui dan berbicara dengannya kemarin bukanlah orang biasa, orang itu ternyata saudara dari musuhnya yang bersembunyi darinya. Pantas saja waktu itu ia mencari datanya sedikit kesulitan, tetapi akhirnya Julian tetap mendapatkannya.
"Ternyata dia tidak cukup hebat, heh. Anggotanya saja yang banyak, tapi dia tidak bisa melaukan apa-apa."
Julian berkata remeh di sana.
Tahu siapa yang di maksud oleh Julian? Dia adalah Dario, Julian baru saja mendapatkan data orang yang waktu kemarin berbicara dengannya. Ternyata orang yang tengah berbicara dengan mereka adalah adik dari Dario. Julian berpikir jika Dario mulai mengumpulkan sekutu dengan cara bekerja sama bersama adiknya.
"Tapi, yang aku tahu, hubungan mereka tidak terlalu dekat. Bahkan mereka juga tinggal terpisah setelah adiknya beranjak dewasa," timpal Robert pada Julian.
"Hmm... kita lihat saja nanti bagaimana dia bergerak. Siapa tahu dia membujuk rayu adiknya untuk ikut bergabung dengannya kali ini," tutur Julian. Julian tidak ingin percaya begitu saja hanya dengan data yang ia baca atau yang ia dengar. Bisa saja data itu juga di manipulasi.
"Hmm... kau benar juga. Setiap orang pasti akan berubah setelah di bujuk rayu, bisa saja dia memberikan imbalan besar pada adiknya untuk ikut bergabung kali ini ." Robert menyetujui ucapan Julian kali ini.
Dunia bawah memang keras, dan bisa saja memang data yang mereka peroleh juga merupakan data manipulasi. Karena hal itu untuk mengelabuhi para musuh. Namun, sekelas kelompok Julian tidak mungkin jika itu data yang di peroleh data manipulasi.
Sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu bersantai di salah satu resto yang mereka datangi, mereka berjalan ke arah mobil yang sedikit jauh dari tempat yang ia kunjungi tadi.
"Kalian dulu saja, ya. Aku harus mampir ke suatu tempat dulu," ujar Thea pada Jennifer dan Fany.
"Tidak mau kita temani?" tawar Jennifer.
"Tidak perlu, mungkin sedikit lama. Kalian duluan saja," tolak Thea dengan halus.
"Oh... baiklah. Kau berhati-hatilah, bye...." Jennifer dan Fany melambaikan tangannya pada Thea. Mereka berpisah di sana, arah yang berbeda mereka lalui. Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Seperti biasa jika Fany bersama dengan Jennifer, Thea mengendarai mobilnya sendiri.
__ADS_1