Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 293


__ADS_3

"Jika kali ini gagal, aku akan mencoba dengan wanita itu. Kita lihat saja nanti, apa wanita itu akan bisa bertahan." Wendy memiliki tekad yang kuat untuk membuat hubungan Gerald dan Jennifer berakhir. Entah apa lagi yang akan dia lakukan kali ini, ia ingin bermain-main dengan Jennifer. Dia tidak kapok meskipun pernah di hajar oleh Jennifer.


Keesokan harinya...


Wendy berjalan melenggak lenggok, ia berjalan dengan matanya mencari seseorang. Dia memakai baju turtle nack agar bekas tangan di lehernya tidak menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Hai, Jen. Akhirnya aku menemukanmu di sini. Jadi tidak perlu aku mencarimu ke seluruh penjuru kampus." Ternyata dia sedang mencari Jennifer sedari tadi.


Jennifer jengah jika selalu bertemu dengan orang seperti Wendy yang selalu mengganggunya setiap saat. Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain, Nona?"


"Heh, kau tenang saja kali ini. Aku hanya mengundangmu untuk ke tempatku nanti. Ada yang ingin aku bicarakan," ucapnya. Apa yang akan ia rencanakan, berniat sekali dirinya sampai mengundang Jennifer untuk pergi ke rumahnya.


"Aku terlalu sibuk, tidak ada waktu untuk datang ke tempatmu!" jawab Jennifer ketus.


"Kau tidak perlu berlama-lama di sana. Aku hanya ingin memberi tahu masalah tunanganmu itu, apa kau tidak ingin mendengarnya?" Wendy meyakinkan Jennifer agar bisa menerima ajakannya untuk datang ke rumahnya.


"Kenapa tidak kau katakan sekarang saja?" Jennifer ingin mendengar apa yang akan di katakan pada Wendy mengenai tunangannya itu.


"Aku tidak mau nanti kalau kau menangid di hadapan semua orang. Kasihan dirimu jika kau tiba-tiba menangis tersedu-sedu." Ekspresi Wendy sangat mengejek Jennifer. Dia sangat yakin jika cara ini pasti berhasil membuat Jennifer terluka dan akan meninggalkan Gerald. salah sekali jika dia beranggapan Jennifer lemah.


Jennifer tersenyum miring mendengar ucapan Wendy. "Tidak ada yang perlu aku tangisi, Nona. Aku tidak pernah membuat hidupku rumit," ucapnya.


Jennifer memang tidak mau memperumit hidupnya, hidup memang kadang lebih baik di jalani saja sesuai dengan alur.


"Ya... ya... ya... kita lihat saja nanti. Apa kau akan menangis atau tidak. Aku akan menunggumu di hotel xyz setelah perkuliahan, oke." Tanpa menunggu jawaban dari Jennfer, Wendy meninggalkan Jennifer di sana seorang diri.


"Wanita bod*h itu tidak pernah berubah." Setelah mengucapkan itu, Jennifer juga melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda karena Wendy.

__ADS_1


Setelah kuliah, Jennifer benar-benar datang ke hotel tempat Wendy tinggal saat ini. Ia berjalan menuju ke kamar Wendy., tidak perlu bertanya-tanya bingung. Dirinya sudah datang sebelumya ke hotel itu.


Sampai di depan, Jennifer hanya mengetuk pintu itu sekali agar tidak terlalu membuang-buang tenaganya. Sebenarnya dia sangat malas berada di tempat itu, tetapi dia juga ingin mendengar apa yang akan Wendy katakan padanya.


Klik...


Suara pintu terbuka, Wendy meminta Jennifer untuk masuk. Kamar yang di tempati oleh Wendy begitu luas dan nyaman. Hanya para sultan yang bisa menempatinya.


Jennifer duduk di sofa yang berada di sana. "Cepat katakan!"


"Kau buru-buru sekali rupanya." Wendy tersenyum sinis pada Jennifer.


"Baiklah, jika kau ingin mendengarnya segera. Kau harus kuatkan hatimu, ya! Aku tidak mau susah nanti jika melihatmu menangis." Dia sangat meremehkan Jennifer. Belum tentu juga jika dirinya berhasil membuat Jennifer memangis atau pun sakit hati nanti.


"Langsung saja pada intinya, oke. Kau pasti tidak tahu kan? Aku semalam tengah bermain dengan Gerald di rumahnya. Dia sendiri yang mengundangku ke sana. Dan apa kau tahu? Kami melakukan permainan yang sangat menyenangkan untuk mengungkapkan masing-masing perasaan," ujarnya pada Jennifer.


Jennifer terdiam menunggu Wendy untuk menyelesaikan cerita yang dia buat sendiri. Tentu saja Jennifer tahu permainan apa yang di maksud oleh Wendy.


"Permainannya benar-benar membuatku tidak bisa berkutik. Tapi aku suka." Wendy menunjukkan wajah bahagianya di depan Jennifer agar Jennifer percaya dengannya. Wendy memainkan ekspresinya agar benar-benar sesuai dengan cerita yang dia karang.


Antara percaya dan tidak percaya, tetapi Jennifer masih bersikap tenang. Dia tahu bagaimana Gerad, dia di ajarkan selalu untuk tidak mempermainkan wanita begitu saja. Dengannya saja Gerald hanya menggandeng dan merangkul, sesekali hanya kecupan singkat di kening.


Mustahil sekali jika dengan mudahnya Gerald bermain dengan wanita begitu saja. Apa lagi dengan wanita seperti Wendy. Namun mengingat jika hati manusia mudah berubah, bisa jadi kita juga tidak tahu bagaimana seseorang di belakang.


"Kau pasti sangat terkejut kan mendengarnya? Kau pasti juga tidak menyangkah jika tunanganmu itu berbuat seperti itu. Sudah aku katakan, bukan. Kau pasti akan di buangnya. Hatimu daat ini pasti terasa di tusuk-tusuk. Kalau kau ingin menangis, menangislah, ayo." Wendy semangat sekali ingin melihat Jennifer yang akan menangis meraung-raung dengan ceritanya.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan?" Jennifer bertanya tanpa ekspresi, nada bicaranya pun sedikit lirih.

__ADS_1


Wendy berpikir-pikir sejenak, apsti Jennifer juga sudah termakan dengan ceritanya, pikirnya. "Eemmm... tidak banyak sih. Hanya melakukan permainan panas semalam. Kita melakukannya dari awal malam hingga dini hari."


Wendy benar-benar pengarang cerita handal. Karena usaha dia semalam gagal, dia sekarang mencoba menghasut Jennifer dengan ceritanya yang dia buat sendiri. Benar-benar konyol sekali dia.


"Kau bisa menangis sepuasnya. Tidak perlu kau menahannya." Wendy meminum jus yang ada di depannya.


Jennifer memutar ke dua matanya malas. "Aku salut dengan cerita yang kau buat, Nona. Kau juga baru saja menceritakan bagaimana mur*hnya dirimu sebagai wanita."


 Wendy meletakkan jus yang ada di tangannya. "Aku hanya memberitahumu apa yang tengah terjadi agar kau tidak menyesal nanti. Agar kau juga tidak menangis dan melakukan bunuh diri suatu saat nanti," jawab Wendy dengan enteng.


Wendy benar-benar seperti menggali lubang kuburan sendiri, dan apa yang dia lakukan saat ini benar-benar konyol. Dia berhadapan dengan orang yang salah. Jennifer bukanlah selemah dan mudah percaya dengan apa yang dia ucapkan saat ini juga.


Apa yang dia dengar, pasti Jennifer akan mencari tahunya sampai dapat. Bermodalkan ucapan orang lain, itu tidak akan membuatnya percaya begitu saja.


"Aku hargai usahamu itu, Nona. Tapi sayangnya aku bukanlah seperti yang kau pikirkan," celetuk Jennifer.


"Hahaha... menangislah kalau kau ingin menangis. Kau tidak perlu menutupinya. Kau pasti sangat-sangat sakit hati, bukan?" Wendy terus mendesak Jennifer agar mempercayainya.


"Malam tadi adalah malam yang indah untukku. Aku tidak akan pernah melupakannya." Wendy terus mengoceh seakan-akan apa yang dia ceritakan itu benar-benar terjadi.


Jennifer hanya tersenyum mendengar ocehan Wendy sedari tadi yang tidak ada gunanya. "Apa kau yakin jika kau melakukannya dengannya? Apa jangan-jangan kau semalam melakukannya dengan orang lain? Hebat sekali ceritamu itu."


"Kau masih tidak percaya?"


Jennifer kembali tersenyum sinis sebelum menjawabnya. "Bagaimana aku bisa percaya padamu jika orang yang kau sebut itu semalam bersamaku."


Seketika wajah Wendy merasa pias di buatnya. Dia sudah mengarang cerita dengan menggebu-nggebu dan ternyata semua di luar rencana. Semalam Gerald sedang bersama dengan Jennifer, bahkan dia juga menemani Jennifer ke markas.

__ADS_1


__ADS_2