Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 193


__ADS_3

Pagi harinya...


Semua orang yang ada di mension megah itu pun terbangun, terutama dengan semua maid dan para pekerja yang lainnya. Karena mereka harus melakukan tugas masing-masing, maka mereka bangun terlebih awal.


"Siapa yang tidur di sofa? Tidak biasanya ada yang tidur di sofa," gumam salah satu maid yang melihat seseorang tengah tidur di sofa ruang tamu. Maid itupun mendekat ke arah sofa untuk melihat siapa yang tengah tidur di sofa.


"Tuan Muda, kenapa dia tidur di sini?" gumamnya pada diri sendiri ketika melihat siapa yang tengah tertidur di sofa itu.


"Tuan Muda, bangun Tuan, kenapa Tuan Muda tidur di sofa?" ucapnya dengan lembut untuk membangunkan tuan mudanya.


"Tuan," ujarnya lagi karena yang ia tak kunjung bangun.


"Tuan," ucapnya lagi.


"Ck, berisik. Aku masih mengantuk." Decaknya lalu menutupi kepalanya menggunakan bantal yang ada di sofa.


"Ada apa, Bi?" maid itupun membalikkan badannya ke arah sumber suara.


"Eeh... maaf Nyonya. Saya membangunkan Tuan Muda yang sedang tertidur di sofa," jawabnya. Orang yang di panggil dengan sebutan nyonya itupun melihat ke arah sofa. Dilihatnya jika putranya sedang tertidur di sana.


"Oooh... ya sudah. Biar saya saja yang membangunkan, Bibi lanjutkan saja pekerjaannya," ucapnya. Maid itupun berpamitan mengundurkan diri dari sana dan melanjutkan pekerjaannya.


"Julian...." panggilnya agar sang putra terbangun.


"Juliaan...." la mengguncang tubuh Julian agar terbangun.


"Eemm... Jul masih mengantuk, Mami," jawabnya dengan pelan.


"Mau sampai kapan kau tertidur? Apa kau tidak pergi ke kampus?" sengal Ana pada sang putra. Julian tidak kunjung bangun juga.


"Kau bangun atau uang jajan akan Mami potong selama satu bulan," tegasnya. Julian yang mendengar itupun langsung saja membuka matanya lebar-lebar di balik bantal yang menutupi kepalanya.


Tidak berselang lama, iapun bangun terduduk mendengar ancaman sang mami.

__ADS_1


"Aaah... Mami, kenapa harus memotong uang jajanku? Apa tidak ada cara lain?" kesalnya. Karena setiap saat dirinya pasti akan di ancam akan di potong uang jajannya.


"Tidak ada. Cepat bersihkan dirimu lalu pergi ke kampus," tukas Ana.


"Mami gak asik, ah. Julian kan masih mengantuk." Ujarnya dengan menguap karena masih mengantuk.


"Siapa yang menyuruhmu pulang dini hari?" Ana berkacak pinggang.


"Kenapa Mami mengomeliku? Harusnya Mami marah sama Papi, kan Papi yang sudah membuat Julian pulang dini hari," ucapnya yang mengkambing hitamkan sang papi.


"Tidak ada bantahan. Sudah sana bersihkan dirimu dan bersiap." Tegas Ana lalu menuju ke arah dapur meninggalkan Julian di sana.


Julian menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap sebelum ke kampus.


"Julian," panggil Marcus padanya.


"Julian," panggilnya lagi karena tidak mendapat sahutan dari Julian.


"Oooeey... Juliaaannn!" teriaknya dengan kencang karena Julian tidak menanggapi panggilannya sedari. Julian terjinggat kaget mendengar teriakan Marcus yang tepat di telinganya.


Julian memukul kepala Marcus. "Aku tidak tuli! Kenapa kau harus berteriak di telingaku?"


"Kau memang tidak tuli, tapi telingamu tertutup! Aku memanggilmu sudah lebih dari 3 kali tapi kau tidak menyahut sama sekali." Sengalnya sambil menggaruk kepalanya karena mendapat pukulan dari Julian.


"Memangnya kapan kau memanggilku?" Julian membalas dengan sedikit nada tinggi. Marcus hanya membuka mulutnya mendengar jawaban Julian. Padahal sudah jelas-jelas sedari tadi dia memanngil Julian, bahkan semua teman-temannya juga mendengarnya.


"Ternyata dia tuli beneran," gumamnya pada diri sendiri. Yang lainnya pun ikut tertawa dengan tingkah Julian. Mungkin karena dirinya masih mengantuk, hingga di panggil pun dirinya tidak menyahut.


"Hahaha... aku suka dengan ekspresimu yang seperti orang gila berhadapan dengan Julian." Sahut Reiner dengan tertawa keras di sana. Marcus melayangkan tangannya di udara ingin memukul Reiner tapi tidak sampai.


Pertemanan mereka masih terjalin dengan baik, bahkan mereka juga satu kampus di salah satu kampus ternama di sana. Hanya saja mereka berbeda jurusan. Hanya Gerald yang tidak ada di sana, ia berada di negaranya sendiri.


Robert pun juga ada di sana, hanya saja dia baru menempuh semester 2 sama dengan Fany. Jennifer dan Thea juga sama, entah mereka sudah merencanakan atau hanya kebetulan. Jennifer memutuskan untuk menempuh pendidikannya di sana setelah banyak pertimbangan. Ia juga ingin belajar dengan sang papi agar bisa menguasai bisnis seperti sang papi.

__ADS_1


"Aku dengar, jika Gerald nanti akan kembali ke sini. Mungkin dia juga akan pindah ke kampus ini," ucapnya memberitahu Julian. Tapi, Julian tidak menghiraukan udapan Marcus. Ia terdiam dengan pandangan lurus ke depan.


"Kau dengar tidak!" sengalnya karena Julian tidak ada respon. Entah apa yang ia ucapkan tadi masuk di terlinga Julian atau tidak.


Tangan Julian sedikit mengepal dengan tatapan tidak suka memandang lurus ke depan. Reiner memberikan kode dengan apa yang di lakukan Julian.


Mereka pun akhirnya mengikuti arah pandang Julian sedari tadi.


Setelah melihat hal itu, mereka pun akhirnya tahu apa yang terjadi degan Julian sedari tadi. Pantas saja jika dirinya tidak menyahut sama sekali. Mereka melihat sepasang dua sejoli yang tengah asik makan berdua dengan di selingi canda tawa di antara mereka.


"Hmm... pantas saja. Tidak bisa di biarkan ini," ucap Marcus.


Dua sejoli itu ternyata adalah Fany dan seorang laki-laki. Hal itu yang membuat Julian sedari tadi tidak memperdulikan panggilan dan ucapan dari Marcus padanya. Julian terlihat tidak suka melihat keduanya yang terlihat sangat dekat.


"Ternyata ada yang diam-diam memiliki perasaan tapi tidak berani mengungkapkan," sindir Marcus yang tidak di indahkan oleh Julian.


Karena tidak ada sahutan dari Julian, Marcus ingin melanjutkan ucapannya. Tapi baru saja dia membuka mulutnya, Julian sudah beranjak berdiri dan pergi dari sana. Marcus dan Reiner hanya memandang kepergian Julian dari sana.


"Lah, mau kemana anak itu?" ucap Reiner dan melihat Julian yang terus saja berjalan.


Bugh...


"Hai... Boleh aku bergabung?" ucap Julian dengan memukul pundak dari laki-laki tersebut.


Uhhukk... Uhhuuk...


Orang tersebut tersedak karena pada saat Julian memukul pundaknya, orang itu sedang minum. Fany terlihat cemas melihat laki-laki yang saat ini bersamanya tersedak, sedangkan Julian hanya diam dan menunjukkan wajah tidak berdosanya. Marcus dan Reiner terkikik melihat apa yang sudah di lakukan oleh Julian pada laki-laki itu.


Tanpa menunggu persetujuan, Julian langsung saja duduk di sana. "Apa yang kau lakukan, Jul?" tanya Fany sedikit geram.


"Memangnya apa? Aku kan hanya ikut bergabung saja dengan kalian," jawab Julian dengan santainya.


"Bukankah kau sudah bersama teman-temanmu?"

__ADS_1


wajah Fany terlihat sedikit kesal.


"Mereka tidak asik," jawab Julian. Wajah Fany terlihat sangat tidak bersahabat.


__ADS_2