Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 54 Ketahuan


__ADS_3

Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Jalanan cukup sepi saat ini, karena memang jam sudah menunjukkan tengah malam.


30 menit kemudian, Sean meletakkan mobilnya sedikit jauh dari lokasi. Sean berjalan cepat dengan sorot mata yang tajam.


Door...


Dorr...


Dor...


Sean langsung saja menembak musuh yang menyerang gudang persenjataan. Sean menembak mereka berkali di bagian kaki dan tangan. Sean tidak berani jika sampai menghilangkan nyawa dari musuh-musuhnya. Meskipun dirinya sangat ingin sekali. Tapi, dia mengingat ucapan dari sang mami. Pamali jika bermain nyawa saat istri mengandung.


Dor...


Dorr...


Dorr...


Sean kembali menembak dari mereka, mereka terjatuh bersamaan karena tembakan dari Sean. Banyak dari mereka tidak bisa berdiri lagi akibat tembakan dari Sean.


Anak buah Sean mengambil alih apa yang harus mereka lakukan setelah melihat aksi Sean itu. Anak buah Sean menembak musuh tepat mengenai sasaran.


Mereka tumbang bersamaan karena berondongan peluru dari anak buah Sean.


Sean melanjutkan aksi baku tembak dan baku hantamnya pada musuh-musuhnya. Sean benar-benar sangat berhati-hati untuk ini.


"Serang terus mereka." Teriak Sean pada anak buahnya. Anak buah Sean tanpa berlama-lama langsung saja melawan tanpa henti. Sean kali ini hanya melihat aksi baku tembak antara anak buahnya dan para musuh. Sean akan menembak atau menghalangi musuh jika ada yang mendekat atau ingin menyerang anak buahnya.


Sedangkan di sisi Ana...


Selama 1 jam ia berdiam diri di kamar karena tidak bisa memejamkan kedua matanya kembali. Ia mencoba untuk keluar kamar melihat keluar, siapa tahu jika Sean sudah pulang atau Sean berada di ruang berkumpul.


"Sepi sekali. Sebenarnya kemana perginya Sean tadi?" Gumam Ana setelah mengetahui situasi di dalam mension begitu sepi, tidak ada siapapun di sana. Para maid juga masih tertidur.


Ana mengambil beberapa cemilan untuk mengganjal perutnya sambil menunggu Sean pulang. Sedari tadi Ana bertanya-tanya pada dirinya kemana


Sean pergi sebenarnya..


Kembali ke sisi Sean...


Tidak lama kemudian, anak buah Sean berhasil menumbangkan semua musuh yang ingin menerobos masuk ke dalam gudang persenjataan mereka.


Mafia Sean memang sangat terkenal dengan setiap senjata yang ia keluarkan. Banyak juga dari mafia lain memesan itu pada Sean. Maka tidak heran banyak yang ingin menerobos masuk gudang persenjataan milik Sean.


Mafia Sean juga memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas dan di mana-mana. Karena memang Sean tidak pernah bermain-main dalam tindakannya, Sean seringkali mengambil alih wilayah kekuasaan musuh yang bermain-main dengannya. Sean melakukan hal itu agar semua dari mereka tidak ada yang ingin bermain-main ataupun mengusik mafia dari Sean.


Tapi, namanya juga dunia mafia. Pasti masih ada saja musuh yang mengusik dan mengganggu ketenangannya.


"Siapa yang sudah berani melakukannya?"

__ADS_1


"Sepertinya, mereka dari mafia sebelah tuan. Mereka ingin menerobos masuk dan mengambil senjata di sini." Jawab anak buahnya.


"Heh, hanya mafia kelas bawah ingin menerobos ke sini? Sama saja kalian menyetor nyawa padaku secara cuma-Cuma." Ujar Sean dengan senyum miring. Ternyata bukan hanya mafia kelas atas yang ingin menerobos gudang persenjataan Sean, bahkan mafia kelas bawah jauh dari Sean pun ingin menerobos masuk ke sana.


"Dimana Riko?" Sambung Sean.


"Tuan Riko sedang berada di dalam. Dia sedang mengecek persenjataan di dalam." Jawab anak buah. Sean lagi.


"Aku akan kembali terlebih dulu. Sampaikan pada Riko, dan urus semua kekacauan ini. Jika ada apa-apa, hubungi saja Riko atau langsung menghubungiku." Perintah Sean lalu melangkahkan kakinya pergi. Anak buah Sean membungkukkan sedikit badannya saat Sean pergi dari sana.


Sesampainya di mobilnya, Sean segera menyalakan mobilnya dan bergegas untuk pulang. Sean membelah jalanan kota yang sangat sunyi.


30 menit kemudian, Sean sampai di mension miliknya. Ia pun segera turun dan masuk ke dalam. Sebelum membuka pintu, Sean merasakan perasaan yang aneh dan tidak enak.


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?" Gumam Sean sambil memegang gagang pintu.


Sean memutuskan untuk masuk saja ke dalam mension meskipun perasaannya sedang berkecamuk saat ini.


Sean berjalan santai masuk ke dalam, dan pada akhirnya, la melihat Ana yang sedang duduk sendiri tengah menonton TV besar di ruang berkumpul yang biasa mereka tempati.


"Ana?" Bola matanya membesar melihat Aba berada di sana dengan cemilan yang ia bawa.


"Dia pasti mencariku sejak tadi." Sean memukul pelan dinding tempatnya bersembunyi saat ini.


"Sial... aku harus menjawab apa nanti." Ucapnya


Sean mencoba berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Ana.


Entah Gimana apa yang membuat Ana menoleh kearah Sean yang sedang berjalan mengendap-endap masuk seperti maling. Padahal itu di mensionnya sendiri.


"Kau dari mana?" Seru Ana melihat Sean.


Sean berhenti melangkahkan kakinya ketika mendengar suara Ana. la mengumpati dirinya sendiri karena bisa gagal. Tapi, meskipun dia berhasil masuk pun, Ana pasti juga akan menanyainya hal yang sama. Karena, memang sedari tadi Ana terbangun dan menunggunya.


Sean hanya bisa pasrah kali ini, la mendekat kearah Ana yang sedang duduk manis.


"Kau dari mana? Kenapa mengendap-endap seperti itu?" Ana kembali membuka suara karena tidak mendapat jawaban dari Sean.


"Kenapa kau tidak tidur?" Sean mencoba untuk mengalihkan pembicaraan Ana.


"Aku bertanya padamu. Jangan mencoba mengalihkannya." Balas Ana dengan sedikit ketus.


"Aku keluar sebentar. Tadi ada urusan mendadak." Jawab Sean.


"Keluar? Waktu tengah malam? Berpakaian serba hitam begini dan kembali pukul 3? Memangnya urusan apa yang membuatmu tengah malam keluar dan kembali hampir subuh begini?" Ana memberondong Sean dengan segudang pertanyaan.


Sean bingung harus menjawabnya apa. Ingin sekali jika dirinya jujur, tapi dia tidak ingin nanti akan berpengaruh pada kandungan Ana karena syok.


"Apa James yang menyuruhmu untuk keluar dengan memakai serba hitam begini?" Cerca Ana lagi. Entah kenapa James yang menjadi sasarannya. Karena memang hanya James yang Ana tahu..

__ADS_1


Lidah Sean terasa keluh tidak bisa menjawab serentetan pertanyaan dari Ana. "Kenapa kau diam?" Sambung Ana melihat kebisuan Sean.


"Apa kau keluar dengan perempuan lain?" Celetuk Ana dengan tatapan tajamnya. Seperti harimau yang ingin memangsa mangsanya.


"Ehh... tidak... mana mungkin aku bertemu wanita lain. Aku hanya mempunyai dirimu." Jawab Sean tegas.


Ana mendekat kearah Sean untuk mencium bau Sean. Ia memastikan ada parfum wanita yang menempel atau tidak di baju milik Sean.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sean bingung melihat Ana yang mengendus-endus seperti itu. Sean di buat salah tingkah dengan Ana kali ini. Tapi dia mencoba untuk bersikap biasa di hadapan Ana.


"Aku memastikan ada bau perempuan lain atau tidak pada dirimu. Tapi..." ucapan Ana menggantung. Dan itu berhasil membuat Sean semakin gugup.


"Tapi apa?" Sean mengernyitkan alisnya sebelah.


"Aku mencium sedikit bau anyir." Jawaban Ana membuat Sean kelabakan kali ini. Meskipun dirinya tidak terluka, tapi tetap saja pasti ada cipratan darah musuhnya yang menempel di bajunya.


"Apa yang baru saja kau lakukan?" Ana menatap Sean dengan penuh intimidasi. Ana yang memang tidak pernah terlihat garang itu pun, kali ini terlihat sangat garang. Mungkin karena juga bawaan dari hormon kehamilannya.


"Ahh... eehh..." Sean bingung harus menjawab apa. la merutuki kebodohannya sendiri, kenapa dia tidak berganti baju dulu ke markas sebentar.


"Ahh... ehh... apa... jawab yang jelas Sean." Sentak Ana.


"Eeemm... itu..." Ana menunggu jawaban dari Sean.


"Cepat katakan Sean." Sungut Ana tidak sabar mendengar jawaban dari Ana.


"Huuhh..." Sean hanya bisa membuang kasar nafasnya.


"Kenapa?" Ana menaikkan sebelah alisnya melihat Sean menghela nafas.


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, apa kau akan meninggalkanku?" Tanya Sean ambigu. Mungkin ini saatnya untuk dirinya jujur pada Sean mengenai siapa dirinya sebenarnya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Ana yang merasa takut. Dia takut jika memang Sean memiliki wanita lain selain dirinya lalu dia di buang begitu saja. Apa lagi melihat kondisinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Ana tidak siap akan hal itu jika benar-benar Sean memiliki wanita lain di luar sana.


Sean terdiam karena bingung harus menjawabnya dari mana.


"Katakan Sean. Apa kau mempunyai wanita di luar sana?" Tanya Ana yang air matanya sudah berada di pelupuk mata.


"Tidak, Ana. Aku sudah mengatakanpadamu. Aku tidak mempunyai wanita lain selain dirimuu." Jawab Sean tegas.


"Lalu, apa yang sebenarnya?" Ana masih mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis." Ucap Sean yang melihat air mata Ana siap terjatuh.


"Jawab, Sean... apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Ana lagi. Kali ini, Ana akan berusaha menerima apapun kenyataannya. Entah itu baik atau buruk.


"Tapi... aku mendengar jawabanmu dulu. Apa kau akan meninggalkanku jika tahu sebenarnya diriku?" Tanya Sean lagi.


"Lihat dulu, apa yang akan kau katakan." Jawab Ana.

__ADS_1


__ADS_2