Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 41 Aksi Ngambek Diva


__ADS_3

Pagi harinya...


Ana terbangun dari tidurnya karena terdengar suara kicauan burung yang saling bersahutan.


"Enngh... sudah pagi ternyata."


"Sean... bangun, sudah pagi." Ana mengguncang pelan tubuh Sean.


"Sean bangun, ini sudah pagi."


"5 menit lagi." Ucap Sean yang enggan untuk bangun.


Ana tersenyum saat mendapat ide jahil untuk membangunkan Sea.


Ana mencoba ke dua lubang hidung Sean, hingga dirinya kesulitan untuk bernafas. Hal itu berhasil membuat Sean terbangun..


"Apa kau mau membunuhku?" Geram Sean membuat Ana terkekeh.


"Mana mau aku jadi janda muda." Jawab Ana.


"Tapi... kalaupun aku jadi janda pun tidak ada yang tau. Aku kan cantik." Sambung Ana dengan sedikit narsis.


"Aku tidak akan membiarkan dirimu menjadi janda muda. Apalagi sampai dirimu di nikahi pria lain." Sahut Sean alisnya.


"Memangnya kenapa?" Ana menaikkan "Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu menikah lagi selain dengan diriku. Kau hanya milikku, kau adalah Anara ku." Jawab Sean tegas.


"Iya...iyaa... aku milikmu. Sekarang mandilah, keburu telat nanti."


Sean pun berdiri dan langsung saja membawa tubuh Ana ikut bersamanya. Jangan di tanya lagi, pagi itu mereka melakukan ritual mereka di dalam kamar mandi.


Hampir 1 jam mereka melakukannya, karena tidak ada yang tahu jika mereka sudah pulang. Jadi Diva pun tidak mengganggu aktifitas pagi mereka.


Tidak lama kemudian, mereka pun keluar dari kamar mandi. Ana segera menyiapkan baju untuk Sean pergi ke kantor.


Selesai bersiap, mereka pun turun ke bawah untuk sarapan.


"Uncle... aunty..." teriak Diva melihat Sean dan Ana.


Kedua orang tua Sean pun menoleh kearahnya.


"Kapan kalian pulang?" Tanya mami Sean.


"Semalam mi, kalian sudah tidur." Jawab Sean.


"Ada apa, son? Apa terjadi sesuatu? Kenapa mendadak pulang?" Cerca papi Sean.


Sean pun mengangguk samar, papi Sean yang tahu akan hal itu akhirnya faham.


"Aunty, uncle mana oleh-oleh buat Diva? Grandpa kata, aunty akan membawa adik kecil untuk Diva kalau pulang." Celetuk Diva.


"Haahh... adik kecil?" Ana seketika oleng mendengarnya.


"Diva... adik kecil untuk Diva masih dalam proses. Diva yang sabar dulu oke." Jawab Sean memberi pengertian untuk Diva.


"Kata grandpa kemarin kalau uncle sama aunty pulang bawa adik kecil. Berarti grandpa bohong sama Diva ." Diva menoleh kearah lain dengan kedua tangannya di lipat di depan dada.


"Nah papi... mami gak ikut-ikutan ya." Ucap mami Sean.

__ADS_1


Papi Sean hanya bisa menggaruk-garukkan keningnya yang tidak gatal, bagaimana nanti ia menjelaskan pada Diva maksud dirinya.


"Uncle dan aunty juga jahat sama Diva. Kenapa Diva di tinggal sendiri di sini." Ketusnya. Kali ini, sepertinya semua orang terkena oleh aksi ngambek dari Diva.


"Ehh..." Ana di buat bingung dengan tingkah Diva. kali ini.


"Diva.... maafkan aunty ya. Besok kalau pergi lagi Diva di ajak deeh." Bujuk Ana. Diva tidak memperdulikan bujukan Ana.


"Diva... katanya Diva mau adik kecil, uncle dan aunty kan perlu waktu berdua. Biar adik kecil Diva cepat hadir." Jelas Sean lembut.


"Terus... mana adik Diva sekarang? Kenapa tidak ada ?" Sengal Diva pada Sean.


"Diva tunggu oke, tidak lama lagi adik kecil untuk Diva akan hadir." Dengan sabarnya Sean memberi pengertian pada Diva.


Tapi, kali ini Diva tetap melakukan aksi ngambeknya.


"Anda sudah pulang, tuan? Bukankah waktu anda satu minggu kedepan?" Tanya James melihat kehadiran Sean.


"Aku terpaksa pulang lebih cepat. Ada salah satu musuhku di sana, aku tidak mau Ana kenapa-napa?" Jawab Sean.


"Bagaimana bisa, tuan? Bukankah di sana jauh dari mush-musuh anda?"


James memilihkan negara Korea karena memang di sanalah musuh Sean tidak banyak berkeliaran. Tapi, nasib tidak berkata baik kali ini.


"Aku juga tidak tau, untung saja aku segera bergerak cepat." Memang tidak mudah untuk Sean jika membawa Ana bepergian keluar, karena musuh Sean di mana-mana.


"Bagiamana? Apa kau sudah atur semuanya untuk keluarga Ana?" Sambung Sean.


"Sudah tuan, tidak perlu berlama-lama. Paman dari nyonya juga langsung saja menyetujui kerja sama kita." Jelas James.


"Bagus, James" Sean menunjukkan senyum jahatnya.


Dia juga akan menunjukkan siapa Ana nanti pada mereka semua.


Inilah yang di maksud oleh James kemarin, buat mereka terbang ke awan lalu di hempaskan begitu saja. Memangnya siapa yang tidak senang coba jika perusahaan besar Sean bisa sampai mengajak kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lainnya.


Paman dari Ana pun berasa mendapat harta karun, ia sangat senang sekali mendapat tawaran kerja sama dari perusahaan Sean. Tapi, dia tidak tahu saja kalau itu sebenarnya perangkap dari Sean untuknya dan keluarganya.


Tidak sulit bagi Sean melakukannya, perusahaan besar milik daddy Jesica saja bisa ia gulingkan sekejap mata, apalagi perushaan kecil milik paman dari Ana.


Sedangkan di mension Sean...


"Apa Diva masih marah dengan aunty?" Ana mencoba mendekati Diva yang sedang merajuk.


"Aunty jahat, kenapa Diva di tinggal sendiri?" Diva melengoskan wajah imutnya itu.


Ana bingung harus membujuk yang bagaimana, dirinya saja tidak tahu jika Sean membawanya pergi begitu saja.


"Maafkan aunty ya. Aunty janji deh... aunty akan ajak Diva nanti."


"Nggak mau ah. Aunty bohong sama Diva, kayak grandpa." Ketus Diva.


"Kita makan ice cream yuh, biar Diva tidak marah-marah lagi." Jurus terakhir Ana keluar. Karena biasanya Diva paling mempan jika sudah mendengar kata ice cream.


"Tidak mau."


Ternyata dugaan Ana salah besar, kali ini gagal membujuk Diva dengan ice cream.

__ADS_1


"Emmm... gimana kalau kita buat desert lumer kali ini. Sepertinya enak sekali." Ajak Ana. Diva pun tergoda kali ini, karena ia memang juga suka sekali desert atau cake coklat.


"Boleh, tapi buatnya yang banyak buat Diva. Yang lain gak boleh makan punya Diva." Sahut Diva menyetujui ajakan Ana membuat desert.


Ana bernafas lega, untung saja Divaa dapat di bujuk.


"Oke ayo... kita buat yang banyak."


Ana dan Diva melangkahkan kakinya kearah dapur dan mengambil semua bahan-bahan yang di gunakan untuk membuat desert.


Mereka berdua pun asik membuat beberapa desert dan di bantu juga oleh beberapa maid yang ada di mension.


Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam membuat banyaknya desert, Diva pun mencoba desert yang baru saja di buat itu. Tidak lupa juga Ana membagikan beberapa desert buatannya pada maid yang bekerja di sana. Untuk sisanya, mereka menyimpan di dalam kulkas khusus.


"Ini enak sekali aunty." Puji Diva setelah makan beberapa suap. "Apa Diva suka?" Diva mengangguk cepat kemudian


kembali memasukkan potongan desert itu ke dalam mulut kecilnya.


"Ingat ya Diva... jangan terlalu banyak makan yang manis-manis. Nanti gigi Diva sakit." Tutur Ana.


"Aunty tenang saja." Jawab Diva santainya.


Diva begitu menikmati dengan lahapnya.


Sore hari...


Hari ini Sean memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Ia berjalan masuk ke dalam mension. Dilihatnya Diva yang sedang asik memakan desert buatan. Ana tadi siang.


"Diva makan apa? Sepertinya enak sekali? Apa boleh uncle mencobanya?" Ujar Sean.


"Tidak usah ya... ini untuk Diva. Tidak ada untuk uncle." Jawab Diva dengan wajah judesnya. Sepertinya ia masih merasa marah dengan sang uncle.


"Apa Diva masih marah?"


"Pikir saja sendiri?" Ketus Diva.


"Sudah pulang?" Tanya Ana yang baru saja keluar dari dapur membawa desert buatannya.


"Sudah. Apa yang kau bawa itu? Apa tidak ada untukku?" Protes Sean.


"Ini, cobalah." Ana mencoba menyuapi Sean.


"Apa masih ada lagi?" Sean sepertinya kali ini merasa ketagihan dengan setiap masakan Ana.


"Ada di kulkas. Aku dan Diva buat banyak tadi."


"Sisakan untukku, aku mau membersihkan tubuhku dulu." Pesan Sean.


Diva menatap sinis pada Sean kali ini. "Biasa saja Diva kalau melihat uncle. Uncle tau, uncle tampan." Ucap Sean.


"Cicak saja lebih tampan darimu uncle." Celetuk Diva.


"Diva... kalau dendam sama uncle jangan bawa-bawa cicak ya. Dia tidak bersalah." Keluh Sean. Bisa-bisanya Diva mengatakan jika cicak lebih tampan darinya.


Diva menjulurkan lidahnya mengejek Sean. Sepertinya dia memang sangat dendam dengan Sean karena di tinggal begitu saja.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya


sama gift juga ya buat dukung author lebih semangat lagi


__ADS_2