Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 189 Season 2


__ADS_3

"Inilah pemimpin baru kalian. Beri sambutan untuknya," ucap Sean. Tepuk tangan itu terus saja terdengar menggema mengisi ruangan tersebut.


"Berikan kata-katamu pada mereka," perintah Sean pada Julian. Julian menganggukkan kepalanya lalu maju dua langkah di sana.


"Hal, semuanya. Aku akan memperkenalkan namaku kembali jika dari kalian masih banyak yang belum mengetahui ku," ucap Julian.


"Namaku Julian Addler William, terserah jika kalian mau memanggilku bagaimana. Tidak banyak yang akan aku katakan, aku mengucapkan banyak terima kasih pada kalian yang sudah bersedia menyambutku. Aku harap, kita semua di sini bisa bekerja sama. Mohon bantuannya dari kalian semua, tanpa kalian aku tidak akan bisa apa-apa," sambung Julian. Seketika dia menjadi seorang dewasa, biasanya tingkahnya tidak bisa di kondisikan.


"Aku juga akan memperkenalkan saudariku dan temanku yang lainnya, aku rasa sebagian dari kalian pasti belum melihatnya atau belum mengenalnya." Julian menoleh kebelakang untuk memanggil sang kakak dan tema-temannya.


Julian menyebutkan nama mereka satu-satu agar semua yang ada di sana bisa mengenal dan mengetahui dengan jelas wajah dari yang lainnya. Karena memang tidak semuanya dari mereka mengetahuinya atau mengenal wajah dari sang kaka dan lainnya. Satu persatu mereka memberikan hormat pada mereka yang ada di sana.


"Jika kalian tidak menyukaiku suatu saat nanti, kalian bisa berbicara padaku tanpa harus berhianat. Maka saat itu aku akan membebaskan kalian dan membiarkan kalian pergi dari sini. Tapi jika aku menemukan dari kalian berhianat, maka tidak akan bisa lepas dari sini. Sekian dan terima kasih." Julian membungkukkan sedikit badannya di sana. Semua orang kembali bertepuk tangan pada Julian.


"Hidup Tuan Muda Julian... Hidup Tuan Muda Julian "Mereka semua bersorak pada Julian.


Ana tersenyum menatap ke arah Sean. "Ternyata putra kita sudah besar."


"Kau benar, sayang. Bahkan kata-katanya penuh ketegasan, biasanya dia paling tidak bisa di kondisikan saat berkumpul," ujar Sean menyetujui ucapan Ana.


"Ternyata dia sudah cukup besar saat ini," ujar Diva di sana.


"Kau benar, dia terlihat dewasa saat ini. Tapi aku tidak tahu nanti saat di mension," ujar Riko.


"Yang kau katakan benar sekali. Mungkin dia sebenarnya dua orang," celetuk Diva yang membuat Riko tidak faham.


"Ya dua orang dalam satu tubuh. Masa kau tidak tahu hal seperti itu?" ucapnya. Riko menggeleng tidak mengerti, Diva menepuk keningnya sendiri.


"Ya itu seperti Ijul. Kalau di sini terlihat berbeda, nanti di mension terlihat berbeda lagi. Sikapnya berubah," terang Diva. Riko menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa memang seperti itu? Menurutku tidak, seseorang pasti akan berubah sesuai tempat dan kondisi yang dia alami. Mungkin Julian seperti itu," jelas Riko.


"Itu kan hanya tebakanku, kenapa kau serius sekali?" ujar Diva. Riko kembali memberikan tepuk tangan untuk Julian dari pada nanti harus berdebat dengan Diva yang tidak akan pernah berhenti.


Julian mendekat ke arah sang mami dan papinya, ia membungkukkan badannya di hadapan keduanya sebagai tanda hormat.


"Selamat untuk anak, Mami." Ana memeluk Julian.


"Papi percayakan semua padamu, boy. Kau nanti akan di bantu yang lainnya, kakakmu juga akan membantumu nanti. Papi sudah membicarakan nya dengan kakak mu." Sean menepuk pundak Julian.


"Julian faham, Pi." Julian menganggukkan kepalanya lalu memeluk tubuh kekar sang papi.


"Selamat untukmu, Brother. Aku yakin jika mafiamu akan berkembang di tanganmu." Gerald mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Julian. Ana dan Sean pergi meninggalkan tempat terlebih dahulu untuk membiarkan Julian dan lainnya berbincang-bincang.


"Terima kasih untukmu, Brother." Julian menerima jabatan dari Gerald.


"Kami semua akan membantumu, kau tidak perlu megkhawatirkan apapun. Jadilah pemimpin yang baik untuk mereka," ucap Jennifer.


"Kau ini, ada-ada saja." Jennifer memberikan bogeman kecil pada lengan Julian.


"Selamat untukmu Julian Copers, semoga mereka semua betah dengan tingkahmu nanti," ucap Fany. Memang dirinya tidak perlu berbasa basi jika berbicara dengan Julian.


"Aku sudah bilang jika namaku bukan Julian Copers, kenapa kau selalu memanggilku dengan itu?" Julian mengernyitkan alisnya karena tidak suka dengan panggilan dari Fany.


"Itu nama yang bagus, kau diam saja. Tidak perlu protes," ketusnya.


"Sudah oke, jangan mulai berdebat. Sebaiknya kita rayakan untuk ini," lerai Robert sebelum mereka beradu mulut berkepanjangan.


"Kau benar. Momen ini harus kita rayakan," sahut Gerald menyetujui.

__ADS_1


"Oke, ayo. Kau yang membayar untuk semuanya." Ucap Julian menunjuk Gerald.


Gerald menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa harus aku? Harusnya kau yang membayar untuk kami semua."


"Kau kan anak sultan. Aku lagi miskin," ucapnya dengan enteng. Bisa-bisanya dia mengatakan itu, padahal dia juga mempunyai kartu limit yang di berikan oleh Sean padanya.


"Tidak, inikan acara mu. Bukan aku," tolak Gerald.


Di tengah-tengah keributan mereka, Diva dan Riko datang menghampiri mereka. "Selamat untuk mu, Jul. Aku harap setelah ini kau tidak petakilan lagi."


"Mana ada aku petakilan, aku hanya bersenang-senang saja. Itu menurut mu saja," jawab Julian yang tidak terima di katakan petakilan oleh Diva.


"Selamat untukmu, Jul. Semoga di masa kepemimpinan mu akan menjadikan kejayaan untuk kita semua. Aku yakin jika berada di tanganmu dunia bisa mengenal mu," ucap Riko.


"Baiklah... terima kasih kakak-kakakku. Semoga apa yang kalian doakan benar adanya. Dan jangan lupa berikan aku adik-adik yang lucu," pinta Julian.


"Itu bisa di atur. Kami akan kembali terlebih dahulu, bersenang-senanglah." Riko meninggalkan tempat itu bersama Diva menyusul Ana dan Sean.


"Ayo kita berangkat, nanti Gerald yang akan membayar." Julian berlalu pergi dari sana begitu saja.


Gerald membelalakkan kedua matanya dengan ucapan Julian, batinnya menjerit mendengar nya.


"Kenapa kau memiliki saudara seperti dia," keluh nya pada Jennifer.


"Entahlah, aku juga tidak tahu dia kenapa seperti itu ," jaawab Jennifer yang juga heran. Baru saja tadi Julian terlihat dewasa dan cool, sekarang sikap nya kambuh lagi.


"Sudahlah, ayo. Nanti juga dia yang membayarnya," ajak Jennifer. Mereka pun segera pergi dari sana dan mencari tempat untuk merayakan hal tersebut. Semua yang ada di aula pun juga membuabarkan dirinya masing-masing.


Tiga hari kemudian...

__ADS_1


Sesuai rencana waktu lalu, resepsi pernikahan Diva dan Riko di gelar tida hari setelah acara janji suci. Sean sengaja menjeda pesta pernikahan Diva, karena bersamaan dengan anniversary pernikahannya dengan Ana, maka dari itu Sean menggelar pesta bersamaan. Semua dekor sudah terpasang dangan sangat mewah, Sean dan keluarga lain nya membuat acara tersebut begitu mewah dan megah.


__ADS_2