Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 69


__ADS_3

Ana merasa lega jika dirinya sampai di mension, untung saja Andy tidak mengikutinya sampai mension. Jika saja dia mengikuti Ana, entah apa yang akan ia dapatkan dari anak buah Sean. Sebenarnya Ana juga merasa dongkol, kenapa harus di pertemukan dengan Andy kembali.


Ana turun dan meletakkan twin J di stroller miliknya.


Ana segera masuk mendorong stroller bayi, ia segera menuju dapur menyiapkan bekal makan siang untuk Sean. Twin J ia titipkan sebentar pada salah satu maid di sana.


Ana memasak banyak untuk makan siang nanti, ia berencana makan bersama di kantor Sean. tidak lupa juga Ana akan mengajak twin J kesana.


Setelah 2 jam Ana memasak, ia segera meletakkan makanan itu di atas meja agar sedikit dingin.


Hari menjelang siang, Ana datang kesekolah kembali untuk menjemput Diva.


"Pak, tolong jemput Diva kedepan, ya." Ujar Ana pada sang supir. Ana sedang memberikan biskuit pada twin J saat ini.


Ana juga tidak mau jika nanti dirinya bertemu lagi dengan Andy


"Baik, nyonya." Ucapnya lalu keluar dari mobil.


"Aunty mana, pak?" Tanya Diva saat sang supir mendekat kearah Diva.


"Nyonya ada di dalam. Mari nona kecil." Ajak sang supir. Diva pun mengikuti langkah sang supir menuju mobil.


Sang supir segera membukakan pintu untuk Diva lalu menutupnya kembali. Mobil Pun melaju kearah kantor Sean sesuai dengan permintaan Ana.


"Aunty, Dia mau menyuapinya." Ucap Diva.


"Ini," Ana memberikan biscuit pada Diva. Diva memotong kecil biscuit itu dan di berikan pada Julian.


Tidak lama kemudian, mobil yang di tumpangi Ana sampai di depan kantor Sean.


Ana menghubungi Sean terlebih dahulu sebelum masuk kedalam. Sean memerintahkan James turun untuk menjemput Ana dan kedua anaknya.


Ana memakai masker untuk menutupi wajahnya agar dari mereka tidak mengetahui dirinya.


"Mari, nyonya." Ucap James.


Sang supir membantu Ana menurunkan stroller bayi terlebih dahulu. Ana turun dengan membawa salah satu twin untuk di letakkan di stroller terlebih dahulu. Setelah keduanya berada di stroller, Ana pun melangkahkan kakinya masuk kedalam.


Setiap orang memandang dan bertanya-tanya siapa yang datang kesana dengan membawa stroller berisikan bayi. Mereka bertanya-tanya bingung karena di sana ada Diva, yang mana mereka tahu Diva adalah keponakan dari Sean.

__ADS_1


Mereka menebak-nebak apakah bos mereka sudah menikah? Tapi kenapa mereka semua tidak tahu? Begitulah pertanyaan mereka dan masih banyak lagi.


James mengajak Ana masuk kedalam lift khusus CEO. Tanpa berlama-lama mereka sudah sampai di lantai teratas yang khusus di gunakan untuk Sean.


Ana segera masuk keruang Sean sambil mendorong stroller bayinya.


"Halooo uncle... kami datang.." ujar Diva antusias. Sepertinya, dia sudah dendam lagi dengan sang uncle.


Mungkin ia sedang lupa.


"Haii... anak-anak papi." Ucap Sean mendekat kearah twin J.


Sean mencium gemas kedua pipi twin J hingga mereka tertawa karena merasakan geli.


Ana meletakkan semua bekal yang ia bawa tadi.


"Apa dia mengganggumu lagi?" Tanya Sean pada Ana. Ana yang faham siapa Sean maksud pun mengangguk.


"Sini tanganmu."


"Buat apa?" Tanya Ana bingung.


Mau tidak mau Ana menunjukkan tangannya pada Sean. Sean melihat bekas tangan kemerahan pada pergelangan tangan Ana.


Rahangnya kembali mengeras setelah meihatnya." Suamiku.... Tenanglah. Aku tidak apa-apa." Ucap Ana lembut agar Sean bisa mengontrol kemarahannya.


"Dia sudah berbuat kasar padamu. Aku tidak akan membiarkan dia bisa merasa tenang. Aku akan memberikan pelajaran untuknya." Ucap Seann menggebu-nggebu.


"Tenagkan dirimu dulu, oke. Jangan marah, nanti twin takut melihat papinya marah." Ana mengelus-elus lengan Sean agar dirinya bisa tenang.


Ana merasa takut jika Sean dalam kondisi marah, karena dirinya tahu bagaimana kemarahan Sean. Sean tidak akan bermain-main dengan semua ucapan dan tindakannya.


Semua bisa habis rata di tangan Sean.


Sean yang merasa sedikit tenang itupun kembali bermain dengan kedua anaknya. Ia melupakan kemarahannya sejenak, ia akan mengurus semua ini dengan semua anak buahnya.


Usai makan siang, Ana memutuskan untuk kembali pulang terlebih dahulu. Tidak mungkin dirinya berada di sana beralam-lama, yang ada Sean tidak jadi bekerja.


Ana keluar dari ruangan Sean, tapi ada yang tertinggal. la lupa tidak memakai maskernya kembali.

__ADS_1


Ana berjalan bersama Diva sambil mendorong kereta bayi twin J. Untung saja mereka tidak rewel saat ini.


Tiing...


Ana melangkahkan kakinya keluar setelah terdengar bunyi dari lift yang ia gunakan. Ana berjalan dengan anggunnya.


"Waahh... waahh... siapa ini? Tiba-tiba datang kesini membawa dua bayi? Apa kau ingin merayu boss kami dengan segala tipu muslihatmu ini?" ucap salah satu karyawan di sana yang memang tidak menyukai Ana dari dulu.


Ana memandang wanita itu dengan tenangnya.“ Apa kau tuli? Kenapa tidak jawab pertanyaanku? Oohhh... apa jangan-jangan benar yang aku katakana tadi?"


ucapnya lagi dengan salah satu tangannya menutup mulutnya dengan gaya songongnya.


"Aku tidak ada perlu denganmu." Ketus Ana, ia kembali melangkahkan kakinya keluar.


"Heehhh wanita murahan. Berhenti kau, apa kau takut kebusukanmu itu terbongkar?" teriak orang itu. Seketika Ana menghentikan langkahnya yang baru beberapa langkah itu.


Diva memandang orang yang menghina Ana itu dengan tatapan tidak sukanya. Semua karyawan yang disana itupunikut menoleh kearah sumber suara.


Mereka bertanya-tanya bukankah itu Ana dan keponakan dari Sean? Siapa kedua bayi lucu itu? Dan untuk apa Ana datang kesini membawa bayi kecil itu? Dan masih banyak lagi. memang semua dari mereka tidak ada yang tahukecuali Rika dan satu rekannya yang dulu seruangan dengan Ana.


Orang yang menghina Ana sepertinya memang ingin menggali lubang kuburnya sendiri. Jika sja dia tahu siapa sebenarnya Ana, mungkin dia akan bersujud meminta maaf dan memohon-mohon pada Ana.


Ana berbalik menatap orang itu dengan tatapan yang sepertinya ingin menerkam. "Apa yang kau ucapkan nona? Coba ulangi apa yang sudah kau ucapkan tadi." Tegas Ana. orang itupun tersenyum sinis pada Ana.


"Yang aku katakana adalah wanita murahan. Apa kau tidak mendengar dengan jelas?" ujarnya dengan remeh.


Plaak...


Ana menampar pipi karyawan tersebut. Bisa-bisanya dirinya dikatakan wanita murahan. Semua orang memandang kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ana. Bahkan karyawan yang menghina Ana itupun memegang pipinyayang terasa panas. Diva menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat aksi Ana.


Karyawan yang mendapat tamparan dari Ana itupun tidak terima ia di permalukan di depan orang banyak. "Apa yang kau lakukan, hah?" bentaknya.


"Ehh... ada apa itu, Rika? Kenapa ramai sekali?" ucap teman Rika yang dulu seruangan dengannya dan Ana.


Mereka tadinya mau kembali keruangan tempat mereka bekerja selesai makan siang. Tapi langkah mereka terhenti karena mendengar kegaduhan di sana.


"Sepertinya aku mengenal orang itu." Ucap Rika menyipitkan matanya karena melihat orang yang ia kenali.


"Bukankah itu Ana, Rika" Pekik temannya.

__ADS_1


__ADS_2