Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 99


__ADS_3

Ana memandang jalanan yang berlalu lalang di sana. Itu sudah membuatnya senang bisa merasakan suasana malam di sana.


"Apa sangat menyenangkan?" tanya Sean melihat Ana yang sepertinya sangat menikmati jalan-jalan malamnya.


Ana menoleh dengan tersenyum. "Aku sangat menikmatinya, aku tidak pernah menikmati suasana malam seperti ini." Jawab Ana.


"Maafkan aku, aku selalu mengurungmu." Lirih Sean dengan kedua tangannya di tangkupkan ke wajah Ana.


"Tidak apa, aku faham jika memang di luar bahaya untukku." Jawab Ana tersenyum manis.


"Jika nanti ingin keluar dan jalan-jalan, katakana saja padaku. Aku akan menemanimu kemanapun itu." Sean mencium kening Ana. Ia tidak peduli di mana mereka berada saat ini. Memang ya... kalau sudah di mabuk cinta, serasa dunia hanya milik berdua.


Tidak sedikit yang melihat keduanya romantis, banyak dari mereka juga merasa iri dengan keromantisan Sean pada Ana.


"Sudah, ayo lanjut. Banyak yang melihat kita." Ucap


Ana malu di lihat banyak orang yang melintas. "Aku tidak peduli dengan mereka, biarkan satu dunia iri dengan kita berdua." Ujar Sean tersenyum.


"Sudah, jangan menggombal. Ayok..." Ana langsung saja menggait tangan Sean dan melanjutkan perjalanan mereka.


"Naiklah." Sean berjongkok dan memerintahkan Ana untuk naik di punggungnya.


"Apa kau yakin?"


"Ayo... mumpung kita hanya berdua. Tidak ada anak-anak, kapan lagi kita seperti ini." Jawab Sean. Ana tersenyum lalu naik di atas punggung Sean.


Sean berdiri setelah Ana sudah berada di atas punggungnya, keduanya menikmati suasana malam dengan senang. Ana juga merasa sangat senang dengan sikap manis Sean yang tidak malu menunjukkan di depan semua orang.


Pagi harinya....


Ana dan Sean memandikan twin secara bersamaan, kali ini Julian bersama dengan sang papi. la bermain di bak besar penuh busa. Ana membawa Jennifer keluar terlebih dahulu karena memang sudah bersih dan wangi. Sedangkan Julian, ia masih enggan untuk keluar dari sana.


"Ayo, Jull... kakak sudah selesai, nanti masuk angin." Ajak Sean. Julian menggeleng tidak mau keluar dari sana. la masih asik bermain dengan banyak busa di dalam bak besar itu.


Mau tidak mau Sean mengangkat tubuh kecil itu dari dalam bak, Julian merengek tidak mau. la masih ingin bermain. Sean membilas tubuh Julian agar bersih dari busa yang menempel.

__ADS_1


Julian terus saja merengak menolak di bersihkan oleh Sean. Dia berlari kecil menuju bak mandi, tapi Sean berhasil menangkapnya.


Sean memakaikan handuk kecil untuk Julian.


"Ayo kita keluar." Ajak Sean. Julian yang tidak di bolehkan Sean bermain busa itu pun akhirnya melakukan aksi ngambek.


la berdiri di pojok dengan membelakangi Sean.


Sean mencoba membujuk putranya yang sedang merajuk tidak mau bicara dengannya.


"Ayo, mami memanggil. Apa nanti Jul mau di tinggal ?" Julian tidak peduli dengan ucapan Sean.


"Juliaaan... ayo sini." Teriak Ana memanggil Julian.


"Ayo, mami sudah memanggil." Sean mencoba menyentuh Julian, tapi Julian sedikit menjauhkan dirinya. Kali ini Sean tersenyum melihat aksi putranya, Sean sengaja tidak langsung menggendong putra kecilnya itu. la ingin melihat bagaimana putranya dengan tingkah lucunya itu, karena jarang sekali dirinya tidak melihat aksi lucu dari anak-anaknya.


"Juliaan... nanti mami tinggal, loh." Teriak Ana lagi.


"Nah, ayo boy." Julian yang mendengar teriakan sang mami itu pun langsung saja berlari dari kamar mandi dengan seluruh tubuhnya tertutup oleh handuk.


"Ohh... hai anak mami, sini." Panggil Ana melihat Julian yang berlari ke arahnya.


"Dia sedang ngambek, sayang." Sahut Sean pada Ana.


"Uuuhh... anak mami kenapa ngambek, hmm?" Ana mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongannya.


"Dia tidak mau berhenti bermain, aku langsung saja mengangkatnya dan membersihkannya dari busa yang menempel di tubuhnya. Dia ngambek, berdiri di pojokan membelakangiku." Terang Sean pada Ana mengenai tingkah Julian.


Ana terkekeh mendengar cerita dari Sean, "kau memang anak mami yang pintar, Jul." Ana mencium gemmas kedua pipi Julian.


Ana kembali menatap ke arah Sean dan melihat sesuatu yang aneh di baju Sean.


"Sean, kenapa bajumu ada noda merah?" tanya Ana. Sean seketika menoleh ke arah baju yang di pakainya. la bingung harus menjawab apa kali ini pada Ana, sepertinya luka jahitannya terbuka karena banyak gerak sedari pulang.


Saat ini dirinya mengenakan kaos bewarna putih, jati itu sangat terlihat jelas di mata Ana.

__ADS_1


"Tidak apa, sayang. Mungkin ini terkena noda saat di kamar mandi tadi." Elak Sean agar Ana tidak khawatir.


Ana mengurungkan niatnya untuk memakaikan baju pada Julian, Ana menurunkan Julian dan mendekat ke arah Sean.


"Kau berbohong." Ucapnya tepat di depan Sean.


"Coba aku lihat." Sambungnya.


"Tidak apa, Ana. Ini hanya terkena noda di kamar mandi." Kilah Sean memasang wajah setenang mungkin.


Ana berdiam diri menatap wajah Sean tanpa berkedip. Ia memasang wajah datarnya saat ini pada Sean. Sean yang sedari tadi di tatap itu pun sedikit gugup, karena tidak biasanya Ana seperti itu.


'Kenapa dia terlihat menakutkan sekali kalau seperti ini?' batin Sean melihat Ana hadapannya. yang sedikit garang di


"Ayo, coba aku lihat. Kau pasti berbohong padaku." Sarkas Ana.


Mau tidak mau, Sean menyingkap sedikit bajunya.


Ana melihat luka yang ada di perut Sean itu membuka matanya lebar-lebar.


"Astaga, kau terluka?" pekik Ana dengan tangannya di letakkan di depan bibirnya.


"Kau terluka, Sean. Bagaimana bisa? Kenapa kau tidak mengatakan padaku, hah?" Ana yang marah itu pun terlihat berkaca-kaca.


"Aku tidak apa, sayang. Ini hanya luka kecil." Jawab Sean dengan santai.


"Luka kecil katamu?" pekiknya dengan nada suara sedikit meninggi. Julian dan Jennifer hanya bisa diam melihat sang mami memarahi papinya.


"Kau terluka seperti ini tapi aku tidak tahu, istri macam apa aku ini? Bahkan aku mengajakmu jalan-jalan semalam, dan kau menggendong diriku. Pasti dirimu menahan sakit lukamu... hiks... hikss.." Ana menangis menyalahkan dirinya sendiri karena merasa jika dirinya tidak bisa mengerti Sean.


"Jangan salahkan dirimu sendiri, sayang. Ini bukan salahmu, aku hanya tidak mau membuatmu khawatir. Ini hanya luka kecil, aku tidak akan bisa membiarkan dirimu terus-terusan di incar oleh bahaya." Sean memeluk Ana yang sedang menangis.


"Tapi kau juga mempertaruhkan nyawamu, Sean. Aku sangat takut jika terjadi apa-apa padamu." Ana memukul pelan dada bidang Sean.


"Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Tenanglah, jangan menangis lagi. Nanti mereka berdua ikut menangis." Ucap Sean menenangkan Ana.

__ADS_1


"Biarkan aku panggilkan dokter untukmu, kau diamlah. Jangan banyak bergerak." Ucap Ana menghapus air matanya.


__ADS_2