
Twin J dan Diva yang sedari tadi sembunyi melihat Sean yang tidak di perbolehkan tidur bersama Ana cekikikan di sana.
Mereka pun keluar dari persembunyiannya dan mendongak ke atas bersama sama.
"Sayaang... jangan seperti ini. Aku tidak bisa tidur sendiri." Bujuk Sean pada Ana.
"Diam, jangan banyak alasan. Sebelum menikah denganku kau juga tidur sendiri." Ketus Ana tidak peduli.
"Itu beda lagi, sayaang."
"Sudah diam, pergi sana." Ana menutup pintu dengan kencang di depan muka Sean.
Sean menggedor-nggedor pintu supaya Ana membukakan pintu untuknya.
"Sayaang, buka pintunya. Maafkan aku. Sayaang... tolong buka pintunya." Teriak Sean dari luar.
"Tidak, aku tidak peduli denganmu. Jangan ganggu aku, aku mengantuk." Sahut Ana dari dalam.
Ana pun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dengan menggerutu tidak ada hentinya. "Dasar laki-laki, memang sama saja. Semua mata keranjang, ada yang cantik dikit pandangannya tidak berkedip. Rasakan kau, tidak ada tidur berdua kali ini." Gerutunya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut tidak menghiraukan teriakan dan gedoran Sean di luar sana.
Sedangkan Diva dan Twin J, mereka tertawa keras melihat Sean yang mendapat hukuman dari Ana malam ini. Mereka mengikuti Sean dan Ana ke lantai atas dan mengintip dari jauh.
"Nah papi.... Makanya jangan genit, tidur di luar kan jadinya." Sahut Julian yang menggoda sang papi.
"Diam, kalian. Uang jajan kalian nanti potong masing-masing." Kesal Sean karena mereka semua menertawakan dirinya.
"Eehh... enak aja uncle. Tidak bisa dooong, nanti kita aduin ke aunty biar uncle tidur di luar selama satu tahun." Diva menggertak tidak terima karena di ancam jika uang jajan mereka akan di potong.
"Ooohh... jadi kalian mengancam." Sean berkacak pinggang pada mereka berdua.
"Papi, kalau papi marah nanti Jul aduin sama mami.” Sahut Jul.
__ADS_1
"Kalian benar-benar, ya." Ucap Sean melangkahkan kakinya ke arah mereka bertiga. Mereka bertiga yang melihat Sean berjalan ke arahnya itu segera berlari terbirit-birit menuju lantai bawah.
Sean mendengus kesal mala mini, Ana ngambek dengannya dan dirinya di tertawa kan oleh anak dan keponakannya. Sean memandang pintu kamar yang biasa ia tempati dan Ana dengan ekspresi wajah yang sangat memelas. Dirinya pun menuju ke kamar lain yang masih kosong untuknya tidur, percuma saja membujuk Ana, itu tidak akan mempan.
Saat berada di kamar lain, Sean membaringkan tubuhnya memandang langit-langit kamar. Dia berfikir-fikir sejenak lalu terbangun begitu saja.
"Aaahh... kenapa aku tidak memikirkannya dari tadi ." ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dengan terburu-buru.
Sean mencari sesuatu yang akan ia gunakan, tidak perlu waktu lama Sean menemukan yang ia cari.
"Nah ketemu, untung saja ada kunci cadangan ini." Ucapnya lalu dirinya mencoba membuka pintu dengan pelan agar Ana tidak mendengarnya.
Sean melihat-lihat ternyata sang istri sudah tidur dengan lelapnya. Sean kembali menutup pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.
Sean pun melangkahkan kakinya dan menyusul Ana ke tempat tidur dengan sangat hati-hati agar Ana tidak terbangun karena pergerakan Sean.
"Akan banyak cara untuk selalu bersamamu, sayang ." Sean mencium pucuk kepala istrinya lalu menyusul Ana ke dalam mimpi panjangnya. Ia memeluk erat tubuh Ana seakan-akan tidak ingin berjauhan dengan sang istri walau sedetikpun.
Keesokan paginya...
Ana mengerjapkan kedua matanya karena hari sudah menunjukkan pagi, ia merasa ada benda berat di atas tubuhnya. Ana melihat jika ada tangan yang melingkar di atas perutnya, saat menoleh ke arah samping, kesadarannya pun penuh melihat siapa yang berada di sampingnya.
Buugh...
Ana reflek menendang orang itu hingga terjatuh dari atas tempat tidur.
"Auuwh... sayaang. Kenapa kau menendang ku?" rintihnya karena di tendang oleh Ana.
Mata Ana melotot lebar, "apa yang kau lakukan di sini, hah? Bagaimana bisa kau masuk?" sengal Ana yang melihat Sean tiba-tiba saja berada di kamar.
"Apa kau lupa, ini mensionku. Aku punya banyak kunci cadangan, memangnya apa yang salah? Aku kan suamimu." Ujarnya dengan wajah melasnya. Ternyata sang istri masih marah dengannya.
__ADS_1
"Memangnya, siapa yang mengijinkanmu tidur di sini, hah? Kau sedang aku hukum." Ketus Ana yang masih ngambek dengan sang suami.
"Ahh... ayolah, sayang. Jangan seperti ini, aku tidak betah jika dirimu ngambek seperti ini." Rayu Sean.
"Itu hukumanmu karena sudah berani melihat wanita lain. Sudah sana keluar," usir Ana. Dirinya benar-benar tidak ada ampununtuk Sean.
"Sayang, kenapa kau tega sekali? Aku melihatnya karena dia menjelaskan pekerjaannya padaku, tidak mungkin aku menunduk menghadap lantai di saat lawan bicaraku berbicara." Jelas Sean. Melihat lawan bicara itu termasuk etika, apa lagi itu dalam hal pekerjaan. Tidak mungkin kita melihat dan fokus ke arah lain.
"Banyak alasan saja, aku tidak mau mendengar alasanmu." Ana memilih pergi keluar dari kamar tersebut lalu menutup pintu dengan kencang.
Braakk...
Bunyinya terdengar sangat keras, Sean mengacak-acak rambutnya karena sang istri masih tidak bisa luluh.
Ana berjalan ke kamar yang lain untuk membersihkan tubuhnya, jika dirinya tidak keluar pasti Sean mengikutinya masuk.
"Dassar, lelaki. Banyak sekali alasan yang dia buat, bilang saja kalau kau menyukai yang lebih muda dan cantik dariku." Gerutu Ana di sepanjang jalannya.
Sean yang berada di kamar itu pun segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena dia harus cepat pergi ke kantor, ada pertemuan penting hari ini.
Meja makan...
Di sana Ana menyajikan makanan untuk twin dan Diva, dia tidak memperdulikan Sean di sana. Sean terlihat sangat memelas karena sang istri cuek dengannya.
"Papi yang sabar, ya. Nanti Jul bantu papi cari mami baru." Ucap Julian pada sang papi, Sean melototkan matanya mendengar Julian berkata seperti itu. Ia mengira jika dirinya akan di bantu untuk membujuk sang mami, tapi ternyata salah. Justru Julian membuat situasi semakin panas.
"Julian, diam. Habiskan sarapanmu," sengal Ana pada Julian. Julian pun kicep melihat sang mami yang masih dalam mode marah pada sang papi. Dari pada dirinya terkena semprot sang mami lebih baik dia diam saja dan menghabiskan sarapan miliknya.
"Papi, Jen nanti ke markas, ya?" Jennifer meminta izin pada sang papi.
Sean mengangguk memberikan izin pada putrinya," datanglah sesukamu, sayang. Itu juga akan menjadi milikmu," jawab Sean pada sang putri. Mereka pun akhirnya melanjutkan sarapan masing-masing dengan khitmad tanpa bersuara.
__ADS_1