Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 213


__ADS_3

"Apa ini bagus?" ucapnya pada diri sendiri melihat mini dress yang ia bawa. Sisca kembali memilih-milih baju yang lainnya.


"Aku harus mengenakan baju terbagus, aku juga harus berdandan dengan cantik. Gerald pasti akan tergila-gila dengan kecantikanku," gumamnya dengan pede. Sisca memberikan baju pilihannya pada ke kasir dan segera membayar. Sisca memilih mini dress tanpa lengan bewarna hitam.


"Pasti Gerald mempersiapkan sesuatu untukku. Atau dia akan menyatakan perasaan padaku? Ahh... aku sudah tidak sabar sekali," ucapnya menentang baju belanjaannya.


"Hmm... Nona William, lihatlah sekarang, priamu sendiri yang mengajakku untuk makan malam. Semua ucapanmu tidak ada yang benar, priamu bisa dengan mudah berpindah hati," ia pun melangkahkan kakinya keluar dari tokoh itu dan kembali untuk mencari yang lainnya.


Sisca pergi ke salon kecantikan untuk perawatan sejenak sebelum malam tiba. Dia benar-benar melakukan persiapan dengan sempurna tanpa mau terlewat sedikitpun.


Di sisi sebaliknya...


"Kalian siapkan apa yang aku perintahkan tadi," pintanya pada anak buahnya.


"Apa yang akan anda lakukan, Tuan Muda?"


"Kalian siapkan saja apa yang aku perintahkan tadi, kalian akan tahu nanti. Sebaiknya cepat lakukan, tanpa berlama-lama," tegasnya pada anak buahnya. Mereka pun menuruti apa yang di perintahkan tuan mudahnya itu.


"Haaah... tuyul siapa ini!" teriak Julian terbangun melihat anak kecil berumur tujuh bulan berada di dekatnya. Anak kecil itu memukul-mukul wajahnya dengan keras. Meskipun tangannya mungil, tetapi pukulannya juga menyakitkan.


"Hey... hentikan pukulanmu itu anak tuyul. Kau menyakitiku," omelnya pada anak kecil itu. Anak kecil itu bukannya takut karena mendapat omelan, justru dia tertawa cekikikan dan ingin memukul kembali.


Pletak...


"Siapa yang kau sebut anak tuyul, hah!" sengalnya yang tengah menjitak kepalanya dengan keras. Julian menoleh ke arah sumber suara yang dia kenal, dan ternyata eh ternyata, orang yang sudah menjitaknya adalah Diva. Julian mengelus-elus kepalanya yang baru saja di jitak dengan Diva.

__ADS_1


Anak kecil itu merangkak dengan cepat ke arah Diva." Jadi tuyul ini anakmu?"


"Sekali lagi kau mengatainya tuyul, akan aku buat kepalamu itu hilang dari tempatnya!" ketus Diva lalu menggendong putri kecilnya itu.


Ternyata anak kecil yang tengah memukuli wajah Julian itu adalah putri kecil dari Diva, Diva dan Riko di karunia putri kecil yang menggemaskan dan lucu. Diva mengajaknya ke sana untuk berkunjung, sudah berbulan-bulan dirinya tidak berkunjung ke mension Sean. Kali ini Diva datang ke sana sendiri hanya bersama dengan putri kecilnya, Riko kembali untuk mengurus perusahaan milik mendiang orang tua Diva dulu.


Putri kecilnya itu tadi ia letakkan di bawah sofa di karpet lembut, Diva yang berada di atas sofa itu memberikan putri kecilnya mainan untuk di mainkan. Kebetulan saat itu juga ada Julian yang berada di ruang berkumpul sedang tertidur di bawa sofa, tepatnya di karpet lembut yang sama. Putri kecilnya itu memukul wajah Julian hingga dirinya terbangun dari tidurnya.


"Aku sudah lama tidak melihatmu, kenapa kau menyebalkan sekali," ujar Julian pada putri kecil Diva itu.


"Harusnya kau sadar diri. Bahkan masa kecilmu lebih menyebalkan dari anak-anak yang lainnya. Di saat mereka sedang lucu-lucunya, kau sendiri yang petakilan. Bahkan kau dulu pernah menarik ekor alpaca, apa kau tidak ingat!" sengal Diva yang tidak terima jika putri kecilnya itu di anggap menyebalkan oleh Julian.


"Mana ada aku seperti itu." Julian menDivak keras dengan apa yang di ucapkan oleh Diva.


"Jangan pernah kau mengelak. Masa kecilmu bahkan lebih parah," potong Diva saat Julian ingin mengatakan sesuatu.


"Menjadi ibu atau tidak, kau sama saja. Kau suka sekali berbicara ngegas, aku kasihan putrimu itu pasti tertekan mendengar suaramu setiap hari yang suka ngegas itu," celetuk Julian yang memang tidak pernah ada takutnya dengan Diva.


"Diamlah, kau! Kau juga sedari dulu tidak berubah, selalu membuat orang naik darah," sengal Diva kembali.


"Bagus lah itu, berarti itu baik untukmu. Karena tanpa tambah darah, darahmu sudah bertambah dengan sendirinya," jawab Julian yang terdengar sangat-sangat menyebalkan.


"Bukan begitu juga, bod*h. Kau semakin dewasa bukan semakin pintar tapi justru semakin b*doh," ketus Diva yang lelah menghadapi Julian.


"Salahku di mana?" Julian menunjukkan tampang b* dohnya di depan Diva. Hal itu membuat Diva semakin kesal dengan Julian yang memang tidak pernah berubah sedari dia lahir.

__ADS_1


Diva memilih pergi membawa buah hatinya itu ke kamarnya dari pada harus berhadapan dengan Julian yang hanya membuatnya darah tinggi. Tadinya Diva di ruang berkumpul tengah menunggu Ana yang tidak ada di mension, tetapi dia sudah di buat kesal dengan Julian lebih awal.


Malam harinya...


Malam yang biasanya Julian lewati sendiri bertemankan TV dan cemilan, kini ia di temani dengan keponakan kecilnya. Putri kecil itu sedang bermain dengan Julian, yang lainnya sedang bersiap dan sebagian lagi ikut membantu maid menyiapkan makan malam dengan porsi banyak. Ola menitipkan putri kecilnya pada Julian untuk sementara.


"Aaa... aaaa...," teriak si kecil karena Julian merebut mainannya. Ia menunjuk-nunjuk mainan yang di bawa oleh Julian.


"Mam... mam... aaahh...," teriaknya lagi sambil menunjuk ke arah Julian.


"Dasar tukang aduh, kalau mau ambil sini," guraunya dengan mengarahkan mainan si kecil ke kanan dan ke kiri.


Berkali-kali tangan si kecil berusaha mengambil mainannya yang di bawa oleh Julian, tetapi selalu gagal. Karena Julian melakukannya dengan cepat sebelum tangan kecil mungil itu meraih mainannya.


"Oohh tidak bisa, tidak bisa. Kau harus cepat menangkapnya." Julian masih menggoda keponakan kecilnya itu.


Si kecil pun merangkak ke arah Julian dan mencoba berdiri merebut mainannya dari Julian. Julian yang memang terkenal akan jahilnya itu pun semakin meninggikan mainan si kecil.


"Aaaah...," teriaknya melengking dekat telinga Julian.


"Kau sangat berisik. Ini aku berikan untukmu." Julian akhirnya memberikan mainan si kecil karena telinganya berdenging setelah di teriaki si kecil.


Putri kecil itu kembali bermain dengan mainannya, ia mengkibas-kibaskan mainan itu hingga terlepas jauh dari tangannya. Ia merangkak ingin mengambil mainannya yang terlempar tadi, baru saja merangkak, Julian sudah menarik kaki mungil itu untuk mendekat ke arahnya. Si kecil kembali merangkak, namun lagi-lagi Julian menarik kaki si kecil itu dengan terkekeh.


Julian menarik kaki mungil itu berkali-kali, bahkan si kecil merengek itu pun tidak ia hiraukan. Menurutnya itu sangat lucu, si kecil terus merengek agar di lepaskan oleh Julian.

__ADS_1


__ADS_2