Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 100


__ADS_3

"Ambil ponselku, dan hubungi saja Erick. Suruh dia datang ke sini." Ana mengangguk faham dan segera menghubungi nama yang di sebutkan oleh Sean tadi.


Setelah menghubungi Erick, Ana memakaikan baju untuk Julian yang tertunda tadi. Kasihan jika dirinya nanti kedinginan belum memakai apapun.


Julian yang sudah rapi itu mendekat ke arah sang kakak, sepertinya ia ingin bermain dengan Jennifer. Akhirnya mereka bermain berdua saling kejar-kejaran. Untung kali ini Julian tidak berbuat jahil, jadi Ana tenang.


Waktu jam makan siang, James mengajak Rika makan siang bersama. Clare yang di sana hanya menjadi obat nyamuk untuk dua sejoli itu.


Untung saja dia sangat sabar meskipun dia di sana seorang diri.


"Oh iya... kemana tuanmu itu? Kenapa tidak pernah


pergi ke kantor?" tanya Rika pada James.


"Yaudah biarin aja kali, Bi. Kantor juga kantor dia, kenapa dirimu yang sibuk?" sahut Clare.


"Dia baru datang dari Amerika kemarin sore." Jawab James dengan jujur.


"Enak yaa kalau sultan, kemana aja boleh. Tinggal set set set sampai deh." Ujar Rika.


"Aku kapan yaaa?" sahut Clare sambil sebelah tangannya menjadi tumpuhan dagunya.


"Kenapa tidak kumpulkan saja gaji kalian, kan lumayan buat pergi liburan ke sana." Timpal James pada keduanya.


"Mana cukup.... Gaji kita buat kebutuhan sehari-hari aja ngirriittt." Ketus Clare pada James


"Tidak usah ngegas juga kalau ngomong, pantes saja kalian sangat klop kalau di sandingkan." Sarkas James menyamakan keduanya yang memang sama-sama bar-bar.


"DIAM KAU..." sengal Rika dan Clare bersamaan. James yang di sana lelaki sendiri hanya bisa mengalah. Mungkin itu lebih baik, dari pada nanti beradu mulut tidak pernah ada habisnya. Apa lagi dengan Rika dan Clare.


Mereka akhirnya melanjutkan makan siang dari pada terus beradu mulut. Kenyang tidak, hanya buang-buang tenaga yang ada.


Selang beberapa menit, mereka bertiga sudah menghabiskan makanan mereka masing-masing.


"Rika..." panggil James.


"Hmm... ada apa?”


Sebelum mengatakan sesuatu, James menghela nafasnya terlebih dahulu. Ia mengumpulkan nyali besar untuk mengatakan sesuatu pada Rika di sana.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucapnya yang sedikit gugup.


"Apa? Yasudah katakana saja." Jawab Rika. Memang mereka tidak ada manis-manisnya kalau berbicara, suka sekali ngegas.


"Aku.... Ingin..."


"Kau itu kalau mau mengatakan sesuatu katakan saja kenapa sih. Kalau ngomong jangan setengah-setengah." Selah Clare yang melihat James mengatakannya dengan terputus-putus.


"Kau diam saja, jangan ikut campur." Ketus James. Clare mencebikkan bibirnya pada James.


"Rika... aku ingin mengajakmu menikah. Mungkin ini terlalu cepat untukmu, tapi aku tidak mau menundanya." Ucap James yang begitu mengejutkan.


Uhuukk....


Uhhhuukk...


Clare yang di sana begitu terkejut dengan ajakan James pada Rika yang tanpa ada embel-embel acara romantis atau yang lainnya.


Rika hanya mengerjapkan kedua matanya dengan cepat mendengar ucapan dari James.


"Hahahaha..." tawa Rika sambil memukul lengan Clare yang ada di sampingnya dengan sangat keras.


Clare yang mendapat pukulan dari Rika itu pun menggerutu kesal lalu mengelus-elus lengannya yang terasa panas akibat pukulan dari Rika.


"Apasih nih anak? Dikira gak sakit apa?" gerutunya dengan sangat kesal.


"Kau dengar Clare, orang ini pasti bercanda." Ucap Rika yang tidak percaya dengan ajakan James yang begitu tiba-tiba.


James hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar, ia sudah menduga jika Rika pasti akan begitu.


"Aku serius Rikaaaa.... Untuk apa juga aku berbohong padamu." Ucap James yang sedikit geram dengan Rika.


"Kau ini juga kenapa sih, Bi? Orang ada niatan baik juga malah tertawa seperti orang gila." Celetuk Clare mengatai Rika seperti orang Gila.


"Kau juga, Jams. Makanya pakai kejutan romantis atau yang sosweet gitu, biar dia percaya kalau kau itu serius." Ketus Clare beralih pada James.


"Aku tidak suka basa-basi." Jawab James singkat padat jelas. Bagi James, acara romantis ataupun kejutan so sweet itu hanya membuang-buang waktu. Baginya, yang penting adalah niatnya.


Mungkin karena dia sering membantu Sean yang langsung saja pada intinya, makanya dia seperti itu. langsung ke intinya saja untuk mengajak Rika ke jenjang serius.

__ADS_1


"Apa... kau benar-benar serius?" Rika memastikan ucapan James itu bukanlah hanya omong kosong.


"Apa aku terlihat main-main?" bukannya menjawab, James justru bertanya kembali pada Rika.


"Udah, Bii... terima saja. Jarang-jarang loh ada orang seperti James, dia tidak perlu berkata manis ataupun banyak janji." Ucap Clare pada Rika untuk menyetujui ajakan James ke jenjang serius.


Rika masih menimbang-nimbang jawaban dari James, karena hubungan mereka memang belum lama. Bukannya apa, Rika ingin melihat bagaimana James jika bersamanya dalam waktu yang lama.


"Niat baik tidak boleh di tolak loh, Bi.... Jangan sampai nanti dirimu menyesal." Tutur Clare. James yang ada di sana berharap-harap cemas mendengar jawaban dari Rika. Rika sepertinya di rundung rasa bingung.


"Akuu... akuu..."


"Kau tidak perlu jawab sekarang jika memang belum siap."


"Sebaiknya kita kembali, jam kantor sebentar lagi akan di mulai." Sambung James melihat jam tangan yang


ada pergelangan tangannya.


"Aku menerimanya." Jawab Rika saat James sudah berdiri ingin melangkahkan kakinya pergi. la berhenti setelah mendengar jawaban dari Rika.


"Apa kau serius?" James ingin memastikan jawaban dari Rika.


Rika hanya tersenyum dan mengangguk tersenyum pada James. James yang melihat Rika tersenyum seperti itu pun merasa bahagia. Ia sangat takut jika Rika akan menolaknya.


"Aaahh... jiwa-jiwa jombloku meronta-rontaa..." rengek Clare melihat Rika dan James di hadapannya.


"Aku janji akan mengurus secepatnya, aku tidak mau berlama-lama lagi." Ujar James memegang kedua tangan Rika. Clare yang menjadi saksi mereka berdua itu hanya bisa menggigit jari telunjuknya.


"Sudah woooiii... jam kerja sudah mulai." Sengalnya pada keduanya. Sepertinya dia memang sangat sengaja merusak momen mereka berdua.


"Sekarang kita kembali. Nanti kita bahas lagi." Ajak James. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kantor dan bekerja kembali.


Mension utama....


Setelah Erick datang ke sana untuk menutup luka Sean yang terbuka, sekarang keluarga itu sedang menikmati waktu bersama sebelum Sean dan Ana kembali ke mension pribadi Sean.


Kali ini Diva sedang dengan Julian karena sedari tadi Julian sangat menjahilinya. Diva yang merasa geram itu pun akhirnya kesal dan dan tidak memperdulikan Julian.


Julian yang memang sedari tadi ingin ikut bermain dengan kedua kakaknya itu pun tidak ada hentinya aksi yang ia lakukan agar Diva mau mengajaknya bermain.

__ADS_1


Di memegang pundak Diva dari belakang. "Bwaahhh ucapnya dengan kepalanya sedikit di tengker kan ke wajah Diva."


__ADS_2