Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 154 Season 2


__ADS_3

"Benar, tuan. Mereka meninggalkan kota pengasingan, mereka ingin mencari anak mereka." Jawabnya di seberang sana. Sambungan telfon pun ia matikan secara sepihak.


Senyum jahatnya terlihat melihat papa dan mama Lita, "kita lihat nanti apa yang akan kalian lakukan?" Ucapnya tersenyum sinis. Siapa lagi kalau bukan Sean, ia sedang berada di luar. Kebetulan dia melintas di jalan yang sama di lalui oleh mama dan papa Lita.


Sean menyalakan mobilnya dan menginjak gas, ia melajukan dengan sangat cepat.


Mama Lita terbelalak saat melihat mobil mendekat ke arah suaminya. "Papa... Awaaasss!" Teriaknya dengan kencang.


Saat berjarak satu meter dari papa Lita, Sean langsung saja memutar kemudinya lalu melaju dengan Kecepatan kencang. Belum juga mereka bertindak, Sean sudah membuat mereka ketakutan.


Banyak mereka yang melintas di sana juga berteriak saat papa Lita hampir saja tertabrak.


Mama Lita bernafas lega karena suaminya selamat, hampir saja sang suami tertabrak. Jika saja suaminya tertabrak, entah dengan siapa mereka di sana saat ini.


"Papa, papa tidak apa-apa, kan?" Tanyanya terlihat sangat ketakutan. Papa Lita pun syok tidak bisa berkata apa-apa.


"Dassaarr.... Siapa yang sudah melajukan mobil sekencang itu?" Sengal mama Lita di sana.


Sean yang sudah melaju jauh itu pun tersenyum lebar karena sudah berhasil mengerjai mereka.


Mama Lita mengajak Papa Lita untuk minggir dan mereka melanjutkan perjalanan. Mereka tidak tahu harus kemana kali ini, rumah juga mereka tidak punya. Lita juga mereka tidak tahu di mana.


.


.


Turki...


Selesai makan, Julian, Jennifer dan teman-temannya melanjutkan perjalanan untuk ketempat yang lainnya. Sepertinya mereka tidak ada rasa lelah, justru mereka bersemangat mengunjungi tempat lainnya.


"Ayo kita cari ice cream di sini, aku dengar mereka ada cara tersendiri memberikan ice cream ke pembeli." Ajak Thea.


"Sepertinya enak, ayo kita ke sana." Fany paling terdepan jika masalah makanan. Sepertinya, dia masih belum kenyang.


Mereka melanjutkan perjalanan mencari kedai ice cream, setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai di salah satu kedai ice cream di sana. Nama ice cream di sana dondurma.

__ADS_1


Tentu saja Fany yang maju paling depan di sana, dia memesan satu ice cream. Tidak lama kemudian, penjual ice cream itu pun memberikan ice cream pada Fany dengan tongkat panjangnya, Fany menerimanya, dan sayangnya ice cream tersebut di tarik oleh penjualnya lagi. Fany memegang cone kosong yang tidak ada ice creamnya.


Tentu saja penjual tersebut melakukan atraksi pada setiap pembeli, mereka membolak-balikkan ice cream terlebih dahulu.


"Loooh loohh... Mana ice creamku?" Ucapnya.


Penjual tersebut memberikan ice cream tadi pada Fany, Fany yang ingin mengambilnya justru sang penjual membalikkan lagi ice crema miliknya hingga berkali-kali.


"Astaga..." Pekiknya karena ice cream itu tidak kunjung di tangannya. Semua teman-temannya menertawakan Fany, kapan lagi melihat Fany di jahili oleh penjual ice cream.


Karena kesal, Fany pun memakan cone yang dia pegang dengan sedikit kesal. Penjual itu pun tertawa melihat raut wajah Fany. Hingga pada akhirnya, ice cream tersebut di berikan pada Fany.


Ice cream di sana tidak hanya menggunakan bahan susu dan gula, melainkan ada dua bahan yang mereka gunakan khusus yang membuat ice cream tersebut tidak mudah meleleh.


Mereka menambahkan salep mastic di dalamnya. Salep adalah tepung dari buah anggrek ungu sedangkan mastic adalah getah pohon mastic. Dua bahan itulah yang membuat ice cream disana terlihat elastis dan tidak mudah meleleh.


Mereka semua sudah menerima ice cream masing-masing, meskipun sedikit atraksi dari penjual ice tersebut, tapi mereka tetap menikmati rasa ice cream yang enak itu.


Tanpa berlama-lama mereka kembali melanjutkan perjalanan dan menuju ke hotel tempat mereka menginap, sepertinya sudah lelah.


Orang tersebut menoleh ke sana ke mari memastikan jika semua orang sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Tangannya mulai merogoh tas dari salah satu sekumpulan Fany, Julian yang mengetahui itu segera mendekat dan mencekal tangan orang tersebut.


Kreek...


Julian mencekal tangan orang tersebut dan menekannya hingga terdengar bunyi seperti patah tulang.


"Bersikaplah yang baik. Jangan sampai aku mematahkan tanganmu!" Ucap Julian dengan ekspresi dinginnya.


Thea, Jennifer dan Fany menoleh kebelakang melihat apa yang terjadi. Mereka terkejut melihat Julian mencekal tangan orang tersebut dengan kuat.


"Kalian coba lihat barang kalian, apa ada yang hilang? Orang itu mencoba mengambil barang-barang yang ada di tas kalian. Untung saja Julian melihatnya," ucap Reiner mendekat pada ketiganya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu dariku, aku hanya membenarkan tas mereka." Elak orang tersebut, pasalnya saat ini banyak orang yang memandang mereka.

__ADS_1


Orang tersebut mencoba mengelak dan mencari alasan agar orang-orang di sana tidak menghakimi dirinya. Julian masih mencekal tangan orang tersebut dengan tatapan dinginnya.


"Sudah, Jul. Sebaiknya kita pergi dari sini, jangan sampai membuat keributan." Gerald mencoba membujuk Julian agar tidak menghajar orang tersebut di sana.


"Heh, kenapa? Apa kalian takut?" Orang tersebut meremehkan Julian dan Gerald di sana. Julian yang sudah kesal akhirnya memelintir tangan orang tersebut lalu mendorongnya jatuh. Aksi Julian di saksikan banyak orang yang ada di sana.


Orang yang di dorong oleh Julian itu merupakan pencopet yang ada di sana, orang itu pun memanggil sekumpulan kawanannya untuk melawan Julian dan Gerald. Sekitar lima orang menunjukkan dirinya di sana.


"Heeehh.... Ternyata orang itu tidak sendirian." Ucap Thea.


Mereka secara bersamaan menghajar Julian dan Gerald, hingga perkelahian terjadi. Banyak orang yang mendukung Julian dan Gerald untuk memberikan pelajaran orang-orang itu agar tidak terus-terusan meresahkan warga di sana.


"Waahh... Ini tidak bisa di biarkan." Fany melepas tasnya lalu memberikan pada Thea.


"Titip, okey. Biar aku juga memghajar mereka," ujarnya.


"Eehh... Eehh... Mau kemana kau? Jangan macam-macam, kau perempuan." Cegar teman Julian agar Fany tidak terlibat dalam perkelahian tersebut. Mereka tidak tahu saja siapa Fany.


"Diam, kau!" Sengal Fany lalu ikut bergabung dengan Julian dan Gerald. Fany menendang salah satu dari mereka hingga terjatuh.


"Eeh... Ternyata dia jago beladiri," Marcus melongo melihat aksi Fany.


Bugh..


Bughh....


Julian, Fany dan Gerald melawan mereka. Jennifer dan Roland hanya memantau kekuatan mereka bertiga. Jennifer juga ingin melihat kemampuan sang adik dan Fany.


Buugh..


Bugghh....


Mereka jatuh tersungkur mendapat tendangan dari Fany, Julian dan Gerald. Para pencopet itu pun segera bangkit dan kabur dari sana sebelum mereka semakin babak belur.


Fany menepuk kedua tangannya, "hah, dasar lemah." Sombongnya saat melihat mereka semua lari.

__ADS_1


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke hotel tempat mereka.


__ADS_2