Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 75


__ADS_3

"liiiiii...." Jennifer kembali menyengir kuda menunjukkan kedua pipinya dengan mata yang terpejam. Black hanya memandangnya diam. Dirinya sangat tenang jika Diva mengunjunginya. Sepertinya dia akan menjadi teman setia untuk Diva nanti.


"Kau kenapa Jenni?" tanya Diva melihat Jennifer yang bersikap gemas seperti itu.


Jennifer hanya terdiam duduk di samping Diva. Jennifer memandang kedua mata Black yang ada di hadapannya. Black pun juga sebaliknya, ia memandang manik Jennifer dengan lekat.


Tak lama kemudian, Black bangun dan berpindah tempat sedikit menjauh dari Diva dan Jennifer. Ia berdiam diri di pojok kandangnya.


"Ayo, Jen." Ajak Diva berdiri. Jennifer pun ikut berdiri dan berjalan di tuntun Diva.


Diva mengajak Jennifer kembali masuk ke dalam untuk mencari cemilan yang ia makan. Di bukanya kulkas besar yang ada di dapur.


Diva tidak menemukan makanan apa-apa di sana. Dia beralih ke kulkas tempatnya semua ice cream di sana. Di ambilnya satu ice cream untuk ia makan, Jennifer melihat apa yang Diva bawa di tangannya.


"Apa Jenni mau?" tanya Diva. Jennifer menganggukkan kepalanya saja.


Diva membuka bungkus ice cream yang ia bawa. Pertama ia masukkan ke dalam mulutnya, lalu memberikannya pada Jennifer.


Jennifer menerima suapan dari Diva. Ia menggigil kedinginan saat merasakan ice cream itu. Ekspresinya membuat Diva tertawa merasakan gemas.


Diva memberikan Jennifer ice cream tanpa sepengetahuan Ana, entah apa yang terjadi nanti jika Ana tahu Diva memberikan ice cream pada Jennifer.


"Enak?" Jennifer menganggukkan kepalanya. Diva mencoba memberikan lagi pada Jennifer, dan kali ini Jennifer mulai terbiasa dengan rasa dingin itu. la rasanya mau nambah lagi.


"Aaammm..." Jennifer mencoba merebut ice itu dari Diva. Diva memberikannya begitu saja.


"Ini, ini. habiskan. Biar kakak mengambilnya lagi." Diva memberikan sisa ice cream miliknya pada Jennifer dan mengambil kembali yang baru.


Jennifer memasukkan ice cream itu dengan sangat lahap, sampai-sampai mulutnya sudah cemong semua dengan noda ice cream. Bajunya pun juga penuh dengan noda ice cream.


Ana yang baru saja turun dari lantai atas clingukan mencari dua pasukan kecilnya itu.


"Kemana mereka? Kenapa tidak ada?" gumamnya pelan masih clingukan mencari keberadaan Diva dan Jennifer. Ia menuruni tangga bersama dengan Julian.


Ana mencari keseluruh ruang yang ada di lantai bawah. Dan akhirnya ia menuju kearah dapur.


"Astagaa...." Pekik Ana melihat banyak noda ice cream berada di lantai. Mereka berdua duduk di lantai samping kulkas ice cream. Entah kemana semua maid yang ada di sana sampai-sampai tidak melihat keduanya.

__ADS_1


Mungkin karena mereka duduk di bawah membuat semua tidak melihatnya.


Jennifer hanya menyengir kuda mendengar suara sang mami. Julian hanya diam terbengong melihat kedua kakaknya. Apa lagi melihat Jennifer yang sudah cemong semua, tapi dia tetap lucu dan menggemaskan.


Ana berkacak pinggang pada keduanya, dan seperti biasa mereka akan berdebat kecil. Jennifer membela Diva dengan menyengir saja karena memang dirinya belum jelas dalam hal berbicara.


Ana terpaksa memandikan Jennifer kembali dan memerintahkan maid yang ada di sana untuk membersihkan noda-noda ice cream yang berserakan di sana.


Malam harinya....


Saat ini Sean berada di markas miliknya, ia berencana untuk memberikan pejalan pada Andy malam ini. Sean memandang Andy yang di dudukkan di atas kursi dengan posisi di ikat dengan sangat kencang.


Sean memberikan kode pada anak buahnya untuk membukakan pintu. Anak buahnya yang faham pun segera membuka pintu ruangan di mana Andy berada di dalam. Sean melangkahkan kakinya masuk.


la berdiri sambil kedua tangannya di lipat di depan dadanya memandang Andy yang juga sedari tadi memandangnya.


Wajah Andy penuh lebam dan darah kering di dahinya karena mendapat bogeman tadi dari Sean.


"Bukankah kau sudah mempunyai kekasih, untuk apa kau mengganggu Ana? Dia adalah istriku." Tegas Sean. Andy hanya diam tidak menyahuti perkataan Sean. Sean tersenyum sinis melihat Andy terdiam.


"Apa kau bisu, hah?" teriak Sean karena sedari tadi Andy hanya diam. Entah dirinya itu takut dengan kemarahan Sean atau bagaimana.


Sean mengambil tongkat yang terbuat dari besi dan memukulkannya pada Andy.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Sean memukul Andy berkali-kali hingga dirinya memuntahkan cairan merah, karena pukulan Sean juga mengenai dadanya.


"Kau pria psikopat, bagaimana bisa Ana menikah denganmu?" ucap Andy dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Lalu, apa kau pantas bisa bersanding dengannya? Apa penghianat pantas dengan wanita baik sepertinya?" Sean membalikkan perkataan dari Andy.


"Tangan mana yang kau gunakan untuk berbuat kasar padanya?" Sean menatap dengan sorot matanya yang tidak bisa di artikan lagi.

__ADS_1


"Hahaha.... Jika aku jadi Ana, aku akan meminta berpisah denganmu karena kau seorang psikopat gila." Ucap Andy lagi. sepertinya ia sangat ingin membuat Sean emosi tinggi. Dia belum tahu saja siapa Sean sebenarnya.


"Itu untuk dirimu, bukan Ana." Ujar Sean berjalan memutari Andy.


Sreek...


Sean menjambak kuat rambut Andy, hingga dirinya mendongat keatas.


"Kau tau, aku bukanlah orang yang suka bermain-main dengan ucapan dan tindakanku. Aku selama ini membiarkan dirimu bukan berarti aku berbaik hati padamu, tapi aku menunggu saatnya tiba untuk menghabisimu." Sean melepaskan jambakannya dengan sangat kasar.


"Kau selalu datang mengganggu Ana dan berbuat kasar padanya. Pelajaran apa yang pantas aku berikan padamu?" sambung Sean.


"Hehe.... Aku harap Ana tau bagaimana kau bertingkah seperti psikopat dan meminta pisah denganmu. Dari situ aku akan mengambil dirinya dan membuat dia berada di pelukanku kembali." Ucap Andy tersenyum sinis.


Bugh...


Bugh...


Bugh....


Brak...


Sean memukul kembali seluruh tubuh Andy. Dia juga menendang kursi di mana Andy di dudukkan diatasnya hingga kursi itu terguling. Tentu saja Andy pun ikut terguling.


Uhukk...


Uhukk...


Andy terbatuk dan kembali mengeluarkan cairan merah yang kental dari mulutnya. Ia sudah lemah dan tidak berdaya karena pukulan-pukulan Sean yang sangat keras.


"Jangan harap kau bisa mendapatkannya kembali." Tegas Sean dengan wajah yang terlihat sangat merah mendengar ucapan Andy.


Andy yang sudah sangat lemah itupun akhirnya tidak sadarkan diri di sana.


"Kembalikan dia kerumahnya. Buang saja dia di depan gerbang rumahnya." Perintah Sean pada anak buahnya lalu melenggang pergi dari sana. Ia memutuskan untuk kembali ke mension pribadinya, di mana Ana dan anak-anaknya pasti sudah menunggu dirinya.


Anak buah Sean yang mendapat perintah itupun segera membawa Andy pergi dari sana. Ia membawa Andy ke kediamannya.

__ADS_1


__ADS_2