
"Kalian mau ke mana?" tanyanya. Mereka bertiga hanya memandang diam pada Julian yang tiba-tiba saja ada di tengah-tengah mereka.
"Sepertinya, kau nyasar," celetuk Thea di sana. Karena hanya Julian sendiri, biasanya dia juga bersama dengan teman-temannya.
"Ini urusan wanita, sebaiknya kau pergi dari sini," usir Fany melihat Julian. Julian menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa uang jajanmu sudah habis?" tanya Jennifer tidak berbasa-basi, sepertinya dia sangat faham dengan tingkah Julian.
"Tentu saja tidak, anak buahku kan banyak. Aku tidak perlu mengeluarkan uangku sepeser pun," jawabnya.
"Kalau tahu begini, sebaiknya aku katakan pada Mami dan Papi, biar sekalian semua fasilitas milikmu di jabut,"
"Ck, kenapa kau serius sekali? Apa kau tega dengan adikmu sendiri," keluh Julian.
"Memang lebih baik begitu dari pada kau selalu membuat susah orang lain," Fany menyetujui ucapan Jennifer dengan sewotnya.
"Kenapa kalian serius sekali? Tentu saja aku gunakan uangku sendiri. Kalian belum menjawabku, kalian mau pergi ke mana?" tanyanya lagi dengan kepo. Memang hanya Julian yang berbeda dari yang lain.
"Sudah aku bilang ini urusan wanita, sebaiknya kau pergi sana." Fany mendorong pelan tubuh Julian.
"Aku kan ingin memastikan kau baik-baik saja nanti," ujarnya pada Fany.
"Tunggu... tunggu. apa kalian ada hubungan? Sejak kapan?" bergati Thea yang sekarang kepo setelah mendengar ucapan Julian pada Fany.
Julian mengingat-ingat dengan menggerak-gerakkan kepalanya pelan. "Emm... mungkin sekitar dua minggu yang lalu."
"Hah, benarkah? Kenapa kau tidak memberitahuku, Fe?" ujar Thea dengan sedikit terkejut.
"Hah... tidak-tidak, kau jangan dengarkan dia. Dia memang suka membual seperti ini, kau sendiri tahu kan kalau orang ini bagaimana," elak Fany yang memang masih menolak keras jika Julian mengcap diirnya sebagai milik Julian.
__ADS_1
"Aku tidak bohong, dia milikku sejak dua minggu yang lalu," jawab Julian jujur. Thea jadi bingung harus siapa yang ia percaya. Karena memang dia juga tahu bagaimana sikap Julian sebenarnya.
"Percaya tidak percaya, mereka mendapat hukuman secara bersamaan karena pergi berkencan dan meninggalkan jam kuliah," timpal Jennifer. Fany membulatkan kedua matanya lebar-lebar dengan ucapan Jennifer.
"Itu karena salah adikmu, Tuan Putri. Dan di sini aku yang tekena imbasnya. Aku dan dia tidak ada apa-apa," Fany masih terus saja mengelak. Mungkin dia belum memiliki rasa pada Julian, ataukah dia belum memahami rasanya pada Julian. Atau mungkin memang Fany benar-benar tidak ada rasa lada Julian, entahlah, biarkan waktu yang akan menjawabnya.
"Kalau memang benar, kau tidak perlu mengelak, Fe ," sahut Thea di setujui dengan Julian
"Tidak ada buruknya juga dirimu dengan Julian, dunia pasti ramai dengan ulah kalian," sambungnya.
"Ehh... maksudmu bagaimana?" protes Julian.
"Tingkah kalian kan sama-sama tidak jelas dan random, sangat cocok. Dunia akan ramai dengan tingkah laku kalian berdua,"
"Apa kau mengataiku?" Julian tidak terima jika Thea mengatainya tidak jelas.
"Aku berbicara jujur, kau memang tidak pernah jelas ," jawab Thea. Dia yang dulu pendiam sepertinya tertular dengan Fany dan Jennifer.
"Wooy... sedang apa di sini? Kita sudah menunggu sedari tadi." la merangkul Julian dari belakang hingga Julian sedikit terhuyung.
"Ck, kau ini, mengganggu saja," ketus Julian menyingkirkan tangan itu dari pundaknya.
"Astaga! Kau sensi sekali?" ucapnya lagi.
Siapa lagi merkea kalau bukan in the geng dari Julian. Marcus dan Reiner, mereka sedari tadi sudah menunggu lama Julian. Namun, Julian tidak kunjung datang menghampiri mereka, setelah mereka menyusuri kampus, akhirnya menemukan Julian yang sedang berdiam diri seorang diri.
"Kita sudah menunggumu sedari tadi sampai jamuran, kau lama sekali. Memangnya apa yang sedang kau lakukan di sini?" cerocos Marcus yang memang sebelas dua belas dengan Julian.
"Sudahlah, ayo." Mereka menyeret Julian pergi dari sana.
__ADS_1
Mereka bertiga juga sebenarnya sudah berencana untuk pergi ke tempat gym bersama, mereka sudah menunggu lama Julian dan ternyata yang di tunggu tidak kunjung datang. Alhasil mereka mencari ke sana ke mari dan menemukan Julian, untung saja saat mereka menemukan Julian, Julian berdiam seorang diri. Andai saja tadi Fany dan lainnya masih ada di sana, mungkin akan semakin riuh..
Setelah kepergian Julian dan lainnya, seseorang yang berada tidak jauh dari sana segera merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kau ikuti mobil yang keluar tadi," ucapnya saat panggilan sudah terhubung.
"Apa kita akan melakukannya sekarang?" tanyanya di balik sana.
"Kalian ikuti saja dulu mereka, jika ada waktu yang pas, kalian segera beraksi. Terserah apa yang ingin kalian lakukan. Yang terpenting, hilangkan wanita itu dari muka bumi ini," jelasnya panjang lebar. Ia pun memutuskan panggilannya secara sepihak dan bergegas pergi dari sana.
Dia adalah Sisca, sedari tadi dia mengikuti Jennifer dan teman-temannya. Dia juga sedari tadi bersembunyi sedikit jauh agar Jennifer tidak melihatnya.
Gerald menuruni tangga dengan sedikit berlari terburu-buru dengan menenteng jaket miliknya.
"Anda mau ke mana, Tuan Muda?" tanya salah satu anak buahnya.
"Ke mana perginya Jennie?" bukannya menjawab, Gerald justru bertanya pada anak buahnya.
"Nona Muda William pergi ke café xyz bersama teman-temannya," jawabnya. Gerald pun mengangguk dan melanjutkan melangkahkan kakinya keluar.
Gerlad segera memakai jaket dan helm miliknya, ia ingin menyusul ke mana Jennifer pergi. Mesin di nyalakan dan Gerlad melaju dengan kencangnya membelah jalanan kota. Semantara di sisi Jennifer dan lainnya, mereka sedang berada di salah satu café yang cukup ramai di datangi banyak orang.
Mereka bercanda dan berfoto ria, Jennifer meminta Fany memfotokan dirinya. Ia berpose satu tangannya memegang secangkir kopi hitam, dan tangan satunya lagi menjadi tumpuhan dagunya. Rambutnya yang ia sanggul ke atas hingga menunjukkan leher putihnya, untung saja Gerald tidak ada di sana, jika saja ada Gerald pasti akan mendapat larangan keras.
"Kau terlihat cocok menjadi model, Jen. Kenapa kau tidak mencoba menjadi model saja?" ucapan Thea di setujui dengan Fany.
"Benar yang di katakan Kak Thea, kau memang pantas menjadi model. Tuan Sean dan Aunty El pasti tidak mempermasalahkan itu," timpal Fany.
"Tapi, aku tidak tertarik untuk ke sana,” jawab Jennifer menyeruput kopi hitamnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Bukankah itu bagus?" tanya Fany. Jennifer hanya menggelengkan kepala dan menggedikkan bahunya.
Setiap aktifitas mereka sedari tadi di awasi oleh beberapa orang yang duduk tidak jauh dari mereka, mata, mata mereka seperti memandang mangsa untuk segera di lahap.