Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 245


__ADS_3

"Nama siapa, Tuan Muda?" tanya anak buahnya mendengar gumaman Julian.


"Kau selidiki siapa orang itu yang ingin bermain-main. Selidiki juga orang yang aku temui waktu di Venezuela dan sungai Spree kemarin," pintah Julian pada anak buahnya.


"Bagaimana kami tahu kalau kita tidak tahu nama dan tidak tahu wajahnya, Tuan Muda?" anak buah Julian sedikit bingung dengan perintah Julian yang ke dua.


"Di antara kalian semua pasti ada yang mengingatnya, aku tidak mau. Kalian harus dapatkan semuanya sesuai yang aku minta," tegas Julian yang tidak bisa di bantah. Begitulah Julian, terkadang tengil, dan terkadang sangat serius.


"Baiklah, Tuan Muda." Mau tidak mau mereka akan melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Julian.


Mereka akan mencari tahu tanpa adanya foto atau nama dari orang yang di maksud oleh Julian, mereka hanya mengandalkan insting mereka saja. Mungkin sedikit sulit untuk mendapatkan hasil yang akurat, tetapi mereka akan berusaha dengan keras untuk mendapatkan hasil yang di inginkan Julian. Ia pun membungkukkan sedikit badannya lalu pergi meninggalkan Julian sendiri.


Setelah kepergian anak buahnya, Julian berpikir keras mengenai orang yang baru saja ia temui. Entah kenapa dirinya yakin orang itu yang tengah memata-matai dirinya dan yang lainnya.


"Aaahh... ternyata selama ini dia sudah memberitahuku kalau dia musuhku! Baiklah, kita lihat saja nanti. Untuk sekarang aku berpura-pura saja tidak tahu, aku ingin mengikuti permainanmu sampai sejauh mana."


"Dia bod*h atau bagaimana? Mana ada musuh yang memberitahukan dirinya sendiri di hadapan lawannya? Heh, benar-benar konyol." Julian menyandarkan dirinya di sandaran kursi tempatnya ia duduk.


Julian bersender dan mengingat-ingat saat didinya bertemu dengan orang yang sama di sungai Spree dan Venezuela. Kata demi kata ia ingat dari mulut orang tersebut.


"Dia menyerahkan nyawanya dengan suka rela ternyata," ujar Julian dengan tersenyum remeh.


"Haahh... tapi kenapa aku tidak menanyakan namanya juga waktu itu. Harusnya aku menanyakan namanya untuk menambahkan ke daftar hitamku," gerutunya lagi dengan sedikit kesal di sana.

__ADS_1


Julian sangat yakin dengan orang yang tidak sengaja bertemu dengannya, tetapi dirinya tidak tahu alasan apa orang itu mengawasi dirinya. Bahkan dirinya saja tidak pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya.


"Dia adalah musuh pertama yang mengatakan jika dia musuhku. Hmmm baiklah kalau begitu, selamat datang untukmu. Aku sambut dirimu dengan suka hati," sambung Julian lagi.


Fix, Julian sudah menandai orang tersebut. Daftar hitamnya bertambah satu nama di sana, tinggal menunggu hasil dari anak-anak buahnya mengenai siapa orang itu sebenarnya. Tugasnya saat ini adalah melindungi orang-orang terdekatnya terlebih dahulu, agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.


Julian merebahkan dirinya di sofa dan menutup kedua matanya karena tidak ada hal yang ia lakukan lagi.


Jennifer, Fany dan Thea kali ini berkumpul. Mereka membahas hal-hal yang terkadang tidak penting sama sekali.


"Oh iya, Tuan Putri... aku tidak pernah melihat lagi penyihir itu lagi, ke mana dirinya? Biasanya dia selalu mengganggu kita, dia sepertinya tiba-tiba menghilang begitu saja," ujar Fany.


"Penyihir siapa maksudmu?" Thea bingung dengan ucapan Fany. Sepertinya dia sudah lupa.


"Ooohh... orang itu. Iya juga ya, yang kau ucapkan memang benar. Aku juga tidak pernah melihatnya lagi, sudah sangat lama. Aahh... tapi biarlah, dia tidak mengganggu lagi dan membuat ulah di kampus. Aku jengah sekali kalau mendengar dirinya berulah pada mahasiswa lainnya." Thea menanggapi Fany.


"Apa terjadi sesuatu padanya?" sahut Jennifer yang membuat Fany dan Thea menoleh ke arahnya.


Jennifer sepertinya merasa tidak sesuatu yang tidak beres yang terjadi pada Sisca yang tiba-tiba saja tidak pernah terlihat lagi. Berita kehilangan Sisca waktu itu tidak sampai terdengar sampai ke kampus, karena keluarganya menutupinya.


"Terjadi apa? Kalau terjadi sesuatu pasti ada yang tahu, hmm... mungkin saja dirinya sadar dengan yang di lakukan dan pergi dari sini untuk merenungi perbuatannya," papar Fany yang memang dirinya tidak menyukai Sisca.


"Benar sekali apa yang kau katakan. Kalau terjadi sesuatu pasti di sini sudah sangat heboh, secara kan dia anak dari salah satu penguasa di sini." Thea menyetujui ucapan Fany. Jika terjadi sesuatu pasti di sana sudah sangat heboh.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya saja. Siapa tahu terjadi sesuatu pada dirinya, tapi kita tidak ada yang tahu."


"Biarlah, Tuan Putri. Kau tidak perlu memikirkannya, entah itu memang terjadi sesuatu dengannya atau pun tidak. Biarkan saja dirinya, setidaknya kita semua di sini tenang tidak ada dirirnya. Dunia tentram kalau dia menghilang." Fany terlihat sekali jika dia sangat kesal dengan Sisca saat mengingat bagaimana tingkah Sisca pada orang-orang di sana.


"Aku setuju denganmu, Fe. Sedikit tentram di sini kalau tidak ada dirinya. Antek-anteknya juga tidak terlalu berulah kalau tidak ada Sisca," timpal Thea kembali menyetujui ucapan Fany.


"Jangan pernah di pikirkan, Tuan Putri. Sebaiknya kita fokus dengan waktu kita saja. Rasanya aku ingin marah saja kalau mengingat dirinya."


"Bukankah kau sendiri tadi yang memulai membahas dirinya." Dengan alis yang terangkat sebelah Jennifer mengatakannya.


"Hehehe... aku kan juga penasaran dengan orang itu yang tiba-tiba saja menghilang." Jennifer memutar kedua bola matanya malas melihat Fany yang cengegesan di sana.


"Sudahlah, sebaiknya kita tidak membahasnya lagi. Tidak terlalu penting juga kalau membahasnya," potong Thea.


Mereka pun kembali fokus dengan waktu mereka sambil membahas hal yang lain. Coba saja jika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sisca, kalau Fany pasti sangat bahagia kalau mengetahui yang sebenarnya terjadi. Bisa saja dirinya menjadi orang yang paling bahagia kalau saja tahu bagaimana Sisca saat ini.


Jika anak-anak mereka dengan dalam jam kuliah, lain halnya dengan orang tua mereka yang kini tengah berkumpul bersama. Mereka membahas hal yang serius.


"Bagaimana dengan kalian? Aku ingin melaksanakan acara itu dengan secepatnya," ujar Sean yang sepertinya memang tidak mau berlama-lama.


"Kau yang sabar sedikit kenapa sih! Aku tidak mau menerima keputusanmu," tegas Rika melawan Sean. Semenjak dirinya menjadi istri James, dia tidak ada takut-takunya dengan Sean. Ia menganggapnya berhadapan dengan teman, bukan sebagai atasan ataupun orang yang berpengaruh. Walau begitu, Rika juga masih tahu akan batasan sikapnya.


"Kau harus menerimanya, titik!" Sean tidak mau kalah dengan Rika.

__ADS_1


__ADS_2