
"Buka pintunya." Perintah Diva pada penjaga di sana. Tanpa berlama-lama orang itu pun membuka pintu untuk Diva, Diva segera masuk ke dalam dan berdiri menyandarkan dirinya di pintu jeruji itu.
Sedangkan yang di lakukan Sean...
la menatap tajam papa Cindy di sana, matanya terlihat merah.
"Apa yang mau kau lakukan? Lepaskan aku dari sini!
Tempat apa ini, hah?" Teriak papa Cindy pada Sean.
"Apa aku tidak salah mendengar?" Sean berkata dengan nada dinginnya. Sean masih memikirkan balasan apa yang pantas untuk orang yang berada di depannya ini.
"Ternyata kau seorang penjahat selama ini! Jadi inikah pekerjaanmu selama ini? Aku tidak menyangka jika kau sebenarnya seorang penjahat, hahaha." Papa Cindy berkata tidak jelas di sana.
Ctas...
Tiba-tiba saja memberi cambukan pada papa Cindy yang berkata tidak penting menurutnya. Bahkan sekali cambukan itu sangat keras, hingga papa Cindy merasakan panas dan sakit di tubuhnya yang mendapat cambukan dari Sean.
Sean menggunakan ikat pinggangnya, ia mengambilnya dengan gerakan cepat lalu di arahkan papa Cindy.
"Kata-katamu tidak penting untuk aku dengarkan." Sarkas Sean. Papa Cindy mengerang kesakitan di sana.
Kembali lagi ke sisi Diva...
"Apa kau menyalahkan kami atas kesalahanmu sendiri?" Ujar Diva pada Cindy.
"Karena memang kalianlah yang bersalah!" Teriaknya.
Diva yang geram pun akhirnya mendekat ke arah Cindy menjambak kuat rambut Cindy dan menyeretnya. la merasa kepalanya sangat sakit, kulit-kulit di kepalanya rasanya seperti mengelupas.
Sudah dua kali dirinya mendapat jambakan yang menyakitkan, pertama dari Julian dan sekarang dari Diva. Tentu saja Diva juga tidak akan tinggal diam jika adik-adiknya terluka. Apa lagi yang di lakukan keluarga Cindy sangat konyol bagi mereka.
"Coba ulangi sekali lagi apa yang sudah kau ucapkan? Kau menyalahkan kami karena tindakan bodoh kalian sendiri, begitu?" Diva masih menjambak kuat rambut Cindy di sana. Cindy mencoba untuk melepaskan tangan Diva dari rambutnya. Tapi itu sia-sia, cengkraman Diva cukup kuat.
"Aku pastikan jika kau dan keluargamu tidak bisa berkata-kata lagi kali ini." Ucap Diva. Tidak lama kemudian, suara lenguhan kecil terdengar di sana. Ternyata mama Cindy sadar dari pingsannya.
la terbangun dengan memegang kepalanya yang terasa pusing. Dirinya terbelalak begitu saja saat melihat Cindy di jambak oleh Diva.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu dari putriku!" Pekiknya di sana. Diva yang mendengar teriakan mama Cindy itu pun beralih menatap dengan menunjukkan senyum jahatnya.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan? Apa kau tidak melihatnya?" Diva semakin tersenyum lebar di sana. Diva semakin menjambak rambut Cindy hingga sang empunya mendongakkan kepalanya ke atas.
"Lepaskan putriku!" Teriaknya lalu berlari ke arah Diva. Dengan gerakan gesitnya, Diva langsung saja mengarahkan tangannya ke leher mama Cindy. Diva mencekiknya dengan sedikit tenaganya.
Cindy menahan sakitnya, dia juga menangis melihat sang mama mendapat cekikan dari Diva.
Sedangkan sisi Riko....
la membawa beberapa anak buah Sean untuk mengurus apa yang di perintahkan oleh Sean untuknya. Semua harta benda dan semua kepemilikan keluarga Cindy telah di ambil paksa olehnya.
Bahkan para maid di kediaman rumah Cindy Riko mengurusnya. Dia meminta semua orang di sana untuk tutup mulut rapat-rapat, Riko memerintahkan mereka untuk segera pergi meninggalkan kediaman itu.
Banyak dari mereka tidak tahu harus kemana lagi, karena memang tidak memiliki tempat tinggal. Riko mempersilahkan mereka untuk tinggal di sana tapi dengan catatan harus menutup mulut mereka. Jika tidak, Riko tidak akan tinggal diam. Riko mengancam jika akan mengirim mereka ke alam lain.
Riko dan beberapa anak buah Sean mengurus orang-orang bawahan papa Cindy. Dengan menggunakan kekuasaan dan kekuatan dari Sean mereka tidak berani lagi. Mereka juga tidak mau berurusan dengan keluarga William.
Kembali ke markas...
Sean mengambil alat lain yang akan di gunakan untuk mengeksekusi papa Cindy. Tidak ada ampun untuk mereka yang sudah berani menyentuh keluarganya. Apa lagi menyentuh anak-anaknya.
"Katakan! Mana dulu yang harus eksekusi?"
Doorr...
Dor....
Doorr....
Tiga kali tembakan di berikan oleh Sean pada kedua lengan papa Cindy. Sean membalas tiga kali lipat apa yang di dapat oleh Julian.
Papa Cindy mengerang kesakitan berteriak mendapat tembakan dari Sean.
"Papa..." Ucap Cindy yang masih dalam posisi yang sama. Mama Cindy yang mendengar suara tembakan itu juga ikut cemas dan takut. Apa lagi mama Cindy mendengar kata papa dari putrinya. Mau bertindak pun dirinya tidak bisa. Cekikan Diva belum juga terlepas dari sana.
Nafasnya mulai tersengal tapi Diva masih tidak melepaskan tangannya.
Wajah mama Cindy terlihat sangat merah kebiruan, lalu Diva melepaskan keduanya dengan kasar. Keduanya terjatuh dengan keadaan lemah.
Uhhuukk..
__ADS_1
Mama Cindy terbatuk tidak henti-hentinya.
"Apa itu enak?" Tanpa rasa bersalahnya Diva kembali menunjukkan wajah tengilnya di sana.
"Kalian semua memang orang-orang jahat!" Cindy kembali berteriak.
"Oowh... Tentu, kami memang jahat. Tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang seperti kalian." Jawab Diva dengan tegas.
"Balasan seperti apa yang pantas kalian terima? Sepertinya kalian lebih cocok aku kirim ke alam lain. Di sini kalian hanya bisa membuat bumi sempit," Diva sedikit meledek keduanya.
"Akan aku balass kau!" Pekik mama Cindy yang bangkit dan menyerang Diva.
Dengan sigapnya, Diva kembali mencekik mama Cindy. Kali ini justru semakin kuat, bahkan ekspresi Diva sudah tidak seperti tadi. Wajahnya terlihat menakutkan.
Mama Cindy memukuk-mukul tangan Diva meminta untuk di lepaskan.
"Mamaa..." Teriak Cindy saat melihat sang mama sepertinya sudah tidak berdaya.
Diva semakin mengencangkan tangannya, dan akhirnya mama Cindy berakhir di tangan Diva begitu saja. Diva pun melepaskan tangannya saat sudah tahu mama Cindy tidak bernyawa.
Cindy semakin berteriak melihat sang mama terjatuh tidak bernyawa lagi. Dirinya menangis meraung-raung di sana.
"Mama.. Mama..." Cindy menepuk-nepuk pipi sang mama. Berharap jika sang mama akan terbangun membuka matanya lagi.
"Kau apakan mamaku, hah?" Teriaknya pada Diva.
"Kalian memang tidak punya hati!" Sambungnya.
"Jika kami tidak punya hati, lalu bagaimana tindakan bodoh dan konyol keluarga kalian pada adik-adikku, hah? Selain tidak tahu diri, kalian juga tidak pernah menggunakan otak kalian." Sarkas Diva pada Cindy.
Cindy bangkit ingin membalas perbuatan Diva. Tanpa aba-aba, Diva mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan pada Cindy.
Cindy yang tahu hal itu terkejut tidak berani dengan Diva.
Doorr..
Door...
Diva menembakkan ke segala arah, hal itu membuat Cindy berteriak memejamkan matanya dan menutup telinganya.
__ADS_1