Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 243


__ADS_3

Setelah membayar, dengan rasa kesal Jennifer memberikan sepasang hoodie itu pada Julian tanpa berkata apa-apa. Jennifer berlalu pergi begitu saja setelah memberikan barang itu pada Julian.


"Dia ngamok," ujar Julian.


"Jeenn... tunggu!" teriaknya mengejar Jennifer yang sudah berlalu pergi lebih dulu.


"Kau marah?" Jennifer tidak menyahut sama sekali. Padahal dirinya juga sudah jelas melihat jika sang kakak kesal dan marah padanya, masih saja dirinya bertanya.


"Wajahmu akan terlihat jelek kalau kau marah seperti itu, Jen." Julian mencoba merayu sang kakak marah padanya saat ini.


"Aku bukan adikmu!" ketusnya karena Julian hanya memanggilnya dengan nama saja.


"Baiklah Kakakku yang cantik, baik hati dan penyayang, kau jangan marah oke. Kau terlihat sangat jelek jika seperti itu." Jennifer kembali diam tidak menyahut ucapan Julian.


"Jangan marah, nanti uangmu akan di ganti Gerald lebih banyak lagi." Jennifer memandang sinis pada Julian. Bukannya berterima kasih, justru Julian semakin membuat Jennifer bertambah kesal di sana.


"Senyumlah sedikit, kau akan sangat cantik jika tersenyum." Julian mencoba mengeluarkan kata-kata buayanya.


"Bassi!" ketus Jennifer lalu berjalan dengan cepatnya.


"Dia benar-benar marah?" gemas dekali dengan Julian, sudah jelas-jelas jika Jennifer marah padanya, tetapi dia justru menunjukkan tampang polosnya.


Karena merasa kesalnya pada Julian, Jennifer berjalan sangat cepat dengan sedikit menggerutu. Tanpa sengaja dirinya tertabrak dengan salah satu pengunjung yang sedang asik bermain ponsel.


Bruugh...


Hampir saja dirinya mendarat di lantai karena dengan keras orang itu menabraknya, dengan sigap orang di belakangnya menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh. "Apa yang kau lakukan!?"

__ADS_1


Jennifer melihat siapa yang sudah menangkap tubuhnya hingga tidak terjatuh. Siap lagi kalau bukan Julian yang ada di belakangnya sedari tadi. Julian terlihat marah ketika melihat Jennifer hampir terjatuh tertabrak oleh salah satu pengunjung itu.


"Kenapa kau marah padaku? Dia sendiri yang menabrakku," bantah pengunjung itu.


"Mataku masih bisa melihat jelas. Kau sedari tadi bermain dengan ponselmu dan tidak melihat ke arah sekeliling!"


"Heh, dasar lemah, alay," sinis pengunjung tersebut. Dirinya berlalu pergi meninggalkan Julian dan Jennifer.


Baru juga dua langkah tangannya sudah dicekal kuat oleh Julian dengan kuat, orang itu merintih kesakitan karena terlalu kuat cengkraman Julian. "Lepaskan tanganmu! Apa kau seorang pecundang yang beraninya hanya dengan perempuan!"


"Jaga ucapanmu, kau di sini bersalah dan kau tidak meminta maaf padanya!"


"Sudah, Jul. Jangan membuat keributan sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Jennifer yang melihat kemarahan Julian. Akan bahaya nanti jika Julian sampai mengamuk di sana. Julian tidak mengindahkan ucapan Jennifer, ia masih mencengkram kuat tangan orang itu.


"Hah, apa kau tidak dengar ucapan kekasihmu. Sebaiknya lepaskan tanganmu dan pergi dari hadapanku." Wanita itu tidak tahu jika Julian dan Jennifer sebenarnya saudara bukan sepasang kekasih. Sepertinya dia tidak tahu siapa yang ada di hadapnnya saat ini.


Semakin kuat Julian mencengkeramnya, wanita itu semakin merintih kesakitan karena ulah Julian. "Apa kau tidak malu jika harus melawan wanita!"


"Sudah, ayo pergi. Lepaskan tanganmu, banyak pengunjung yang melihatmu. Jangan sampai reputasimu jelek hanya karena wanita ini," bujuk Jennifer.


Julian melepaskan tangannya dengan sedikit mendorong wanita itu. Untung saja jika wanita itu tidak sampai jatuh, ia hanya terhuyung karena dorongan dari Julian. "Jangan sampai aku melihatmu lagi!"


Dengan langkah cepat Jennifer menyeret Julian menjauh dari sana. Wanita meneriaki banci pada Julian, Jennifer semakin cepat menyeret Julian sebelum Julian marah besar dan membuat seisi mall porak-poranda.


"Kenapa kau menyeretku? Harusnya kau biarkan saja aku," protes Julian. "Apa kau tidak malu jika pengunjung lain melihatmu melawan wanita? Di mana reputasimu sebagai laki-laki? Kau terlihat sangat tidak gentle jika melawan wanita," ucap Jennifer.


"Aku masih ingin memberikan pelajaran pada orang itu. Apa kau tidak mendengarnya kalau dia juga meneriakiku banci?" kesal Julian.

__ADS_1


"Ya sudah kau cari saja wanita itu. Hajar sana sampai puas, tapi jangan nangis kalau Mami memotong uang jajanmu," tutur Jennifer.


"Aku tinggal bilang saja pada Mami kalau dia menyakitimu, Mami dan Papi juga pasti sependapat denganku," bela Julian pada diri sendiri.


"Aku tidak apa-apa, aku masih utuh. Apa kau tidak melihatnya?"


"Sama saja...."


"Ahhh sudahlah jangan membantah. Aku baik-baik saja, jangan membuat Papi dan Mami khawatir hanya perkara sepele. Sebaiknya cari makan, aku lapar." Jennifer melangkahkan kakinya di ikuti oleh Julian.


Jennifer memang tidak mau bergantung pada mami dan papinya, tapi jika saja itu tadi Sean melihatnya pasti dia juga sudah marah. Meskipun Julian tengil, nakal dan menyebalkan, tetapi dia juga memiliki rasa kasih sayang yang besar pada saudarinya. Hanya saja, sikap tengilnya yang selalu menonjol.


"Mana ada, aku yang mengajaknya keluar, tentu saja aku yang membayarnya. Di mana letak harga diriku kalau wanita yang membayar untukku," jawabnya dengan bersungguh-sungguh. Sepertinya dia lupa kalau baru saja hoodie couple untuknya dan Fany, Jennifer yang membayar. Waktu keluar kemarin pun, ice cream milik Fany di lahap habis olehnya.


"Kau sepertinya amnesia. Lalu siapa yang membayar barangmu tadi? Sok-sok-an berbicara harga diri laki-laki," sindiran keras di layangkan oleh Jennifer padanya.


"Itu beda lagi. Kan sudah biasa kalau seorang Kakak membayar jajan untuk Adeknya." Dengan entengnya Julian menjawab. Antara hemat dan pelit dari Julian tidak ada bedanya.


"Jajan sih jajan, kalau aku juga yang membayar untuk kencanmu itu namanya tidak wajar. Kau jadi laki-laki sangat pelit sekali." Jennifer berbicara ketus pada Julian, Jennifer sudah cukup kesal dan pusing jika hanya berdua dengan Julian.


"Kalau seperti ini lebih baik aku mendukung Fany yang menolakmu terus-terusan." Seketika Julian menghentikan makannya setelah mendengar ucapan Jennifer.


"Kau jahat sekali padaku. Apa kau tega melihatku seperti itu?" dengan wajah polosnya ia tunjukkan di depan Jennifer.


Jennifer menatapnya sekilas lalu kembali memasukkan makanannya ke dalam mulutnya. "Aku tidak peduli. Biar kau menjadi sad boy sepanjang hidupmu."


"Bagaimana bisa aku memiliki Kakak yang jahat sepertimu?" Julian menunjukkan wajah yang seolah-olah dirinya di sakiti.

__ADS_1


"Aku juga, bagaimana bisa memiliki Adik sepertimu? Sudah nakal, tengil, jahil dan tidak modal." Jennifer membalikkan kata-kata Julian. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar di antara mereka berdua.


Kedua saudara itu memang sifatnya sangat jauh berbeda. Yang satu pendiam dan kalem, yang satunya lagi tengil, random dan jahilnya minta ampun kalau sudah berulah. Namun memang terkadang begitulah isi dari satu keluarga, pasti akan ada salah satu yang memiliki sifat dan sikap yang berbeda di antara semua anggota.


__ADS_2