Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 303


__ADS_3

Wajah daddy Wendy terlihat merah, "Apa saja yang kau lakukan di sana, hah!? Jangan menunjukkan kebod*hanmu, apa gunanya kau waktu lalu datang ke kampusnya jika kau tidak mendapatkan informasi yang tidak legkap!"


"Kalau begitu, kau gunakan nama putra Carlos untuk hal ini.Siapa tahu jika nanti bisa berubah pikiran, aku akan kembali memanfaatkan situasi ini." Lagi dan lagi daddy Wendy akan memanfaatkan situasi. Paling juga dia akan mendesak Gerald dengan tawarannya yang kemarin.


"Cepat kau lakukan. Aku tidak mau menunggu lama," titahnya yang tidak bisa di bantah. Dengan cepat bodyguardnya itu kembali dan melaksanakan apa yang di perintah oleh tuannya.


"Kita lihat saja nanti, apa dia masih bisa menolak dengan ini. Kita lihat saja nanti bagaimana wanita itu. Dia akan menentang atau menukarkan posisinya dengan kekasihnya. Aku memang paling bisa mencari kesempatan," ujarnya dengan sombong.


"Bagaimana dad, Mommy tidak mau tahu. Daddy harus menghukumnya," kuekeh istrinya tidak sabar.


"Mommy tenang saja, Daddy akan memberikan hukuman yang setimpal. Malam ini Daddy akan datang ke sana,"


Keluarga Brown memang seperti tidak ada takutnya, dengan keluarga Carlos saja dia seperti paling berkuasa jika berada di Amerika. Masih untung jika mereka juga tidak di buat bangkrut dengan Sean karena sudah berani mengusik putri keluarga William.


"Uhuuuu... kita akan makan besar hari ini. Jarang-jarang kita berkumpul seperti ini. Kalian selalu sibuk sendiri berkencan," ungkapnya.


Julian dan teman-temannya hari ini berkumpul di mansion, mereka melakukan makan besar setelah sekian lama tidak berkumpul. Hari ini pasti akan sangat ramai, mereka sama-sama gilanya jika berkumpul.


"Sayang sekali kalau Gerald tidak ada di sini," ucapnya lagi dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Selesaikan makanmu sebelum berbicara!" sahut Fany yang tengah melihatnya. Ternyata teman-teman Julian juga tidak ada jaim-jaimnya. Mereka sekali makan langsung saja melahap semuanya.


"Terlalu lama." Uhhuk... uhhuk... baru juga diam dia sudah terbatuk. Salah siapa mulut penuh makanan tapi dia berbicara.


"Mampooss...." Fany seperti sangat puas melihat Marcus yang tersedak di sana. Dia sudah memperingatkan tetapi Marcus yang sebelas dua belas dengan Julian tidak memperdulikan ucapan Fany.


Julian yang ada di sebelahnya membeguk kuat punggung Marcus, bukannya memberikan minum justru dengan sekuat tenaga dirinya membeguk Marcus. Mereka memilih duduk melingkar di atas karpet dari pada harus duduk di atas sofa.


"Aauh... auh... auh... apa kau mau membunuhku!" sengalnya.


"Aku kan membantumu. Harusnya kau terima kasih padaku," ujar Julian. Seperti biasanya ia menunjukkan wajah tengilnya.

__ADS_1


"Membantu sih membantu, kalau pukulanmu keras begitu kau sama saja dengan membunuhku!" jawabnya tidak terima. Tentu saja dia protes pada Julian, cara memebeguk Julian dengan sekuat tenaga.


"Makanya, kalau mulut penuh itu jangan banyak bicara. Masih untung kau bisa selamat," ucap Fany kembali. la kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya setelah mengatakn hal itu.


"Apa kau mendoakanku?"


"Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Harusnya kau tahu aturan kalau mulut penuh itu jangan terlalu banyak bicara. Kau laki-laki tapi baper sekali," sinis Fany. Ucapannya suka ceplas ceplos tanpa di filter terlebih dulu.


"Memangnya Gerald ke mana, Jen? Tumben sekali dia tidak ikut datang, biasanya dia yang paling dulu datang," timpal Thea pada Jennifer.


"Dia harus kembali ke negara asalnya. Ada yang harus dia urus," jawab Jennifer dengan santainya.


"Apa dia tidak lelah bolak-balik antara Amerika dan Berlin? Suka heran dengannya yang sering pulang pergi dari Berlin ke Amerika." Reiner membuka suara kali ini.


"Terkadang para sultan beda ya. Berlin Amerika sama saja dari mensionmu ke rumahku. Sekarang pergi, coba saja besok sudah tiba-tiba berada di sini." Thea ikut menimpali ucapan Reiner di sana.


Dia menyetujui ucapan Reiner, karena dirinya juga terkadang melihat jika orang berada ke mana saja bisa dan keesokan harinya sudah berad alagi di rumah. Gerald memang sangat sering pulang pergi Berlin dan Amerika, baginya sudah biasa menempuh penerbangan berjam-jam dan jarak yang jauh.


"Iya deh iya... tahu yang udah nggak jomblo lagi. Punya dendam apasih lu sama kita? Sedari tadi ngegas mulu?" Reiner mengutarakan isi hatinya di sana. Apa mereka lupa kalau memang ngegas adalah ciri khas Fany.


"Nggak ada gunanya dendam dengan kalian. Ngegas adalah bagian dari hidupku," ujar Fany.


"Kau tidak mau jomblo, kan? Kenapa kau tidak mencoba mendekati Kak Thea, dia cantik manis sedap-sedap gimana... gitu. Kau tidak tertarik dengannya?" Fany menyeret thea ke dalam topik pembahasannya.


"Eeeh .. eeh ... enak saja. Tidak mau aku." Belum apa-apa Thea sudah menolak mentah-mentah di sana.


"Hahaha... kasihan sekali kau belum apa-apa sudah di tolak." Marcus tertawa dengan kencang di sana. Dia menertawakan Reiner puas karena Thea berani menolaknya.


"Apa salahku di kehidupan masa lalu sampai aku memiliki teman seperti kalian." Reiner mendramatis kisahnya di sana.


"Laki-laki di larang baper kaau kata Fany," ujar Marcus lagi. Reiner mengepalkan tangannya di udara ingin sekali dia memberikan bogeman mentah pada temannya itu.

__ADS_1


Di tengah-tengah pembicraan mereka, salah satu anak buah Julian datang menghampiri. Mereka yang memandang anak buah itu dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah.


"Maaf, Nona, Tuan Muda jika saya mengganggu. Saya ada keperluan penting dengan Nona," ucapnya dengan sopan.


"Katakan saja di sini," jawab Jennifer yang tidak mau beranjak dari sana.


"Tapi, Nona ...," ucapannya terjeda. Karena yang di ucapkan sangat penting, tidak mungkin jika dirinya akan menyampaikan di depan teman-teman majikannya.


"Tidak apa. Cepat katakan!" titah Jennifer. Dia tidak takut jika semua temannya akan mendengar.


Dengan inisiatif, anak buah itu mendekat ke arah Jennifer dan berucap pelan agar teman-teman dari tuannya itu tidak mendengar pesan yang akan dia sampaikan. Mereka yang ada di sana penasaran dengan apa yang di katakan oleh anak buah itu pada Jennifer. Samar-samar mereka mendengar pesan dari anak buah itu, tetapi mereka tidak paham apa yang sedang di katakannya saat ini.


Jennifer mendengarkan tanpa menyelah sedikit pun. Setelah mendengar semuanya, Jennifer memerintahkan kembali anak buahnya untuk melanjutkan tugasnya. Teman-temannya pun bertanya apa yang sedang orang itu katakan pada Jennifer.


"Apa yang dia katakan? Kenapa pelan sekali? Kalau aku menjadi dirimu pasti tidak bisa mendengarnya," seloroh Marcus yang memang tidak bisa diam.


"Jangan terlalu banyak kepo, nanti hidupmu tidak akan tenang." Bukannya Jennifer yang menjawab justru Fany yang menyahut. Kali ini dia yang menggantikan Julian yang biasanya Julian selalu menjawab setiap ucapan orang lain.


"Kalian memang sebelas dua belas, pantas saja bisa pacaran seperti saat ini. Sikap kalian sama saja ternyata," celetuk Reiner pada Fany di hadapannya.


"Aku dan dia sehati. Ikatan batin kita terlalu kuat." Julian berbicara dnegan konyolnya, suka-suka apa kata Julian saja.


Teman-temannya yang ada di sana memutar ke dua matanya malas, sudah tidak kaget lagi kalau pasti yang di ucapkan Julian akan sedikit nyeleneh.


"Oh iya, Jen. Apa yang dia katakan tadi, apa ada sesuatu terjadi?" Reiner bertanya dengan lembut. Dia sangat penasaran dengan apa yang di katakan ank buah Julian tadi.


"Eeehm... tidak apa-apa. Itu urusan pribadi," elak Jennifer yang menolak untuk memberitahu. Dia benar-benar menjada privasinya.


"Kan aku sudah katakan, kepo itu tidak boleh. Nanti hidupmu tidak akan tenang." Fany kembali menyahut di sana.


"Habiskan saja makanan kalian. Jangan banyak berbicara," sambungnya dengan tegas.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan makan makanan mereka dengan membahas topik yang lain. Kalau di teruskan bisa-bisa mereka akan mencurigai keluarga William dan mengatakan yang tidak-tidak.


__ADS_2