
Setelah bermain dengan sasaran tembak, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah-tengah perjalanannya, ada saja yang Julian katakan pada Fany.
"Kau mau naik itu?" tanyanya melihat komedi putar. Lagi-lagi itu adalah mainan untuk anak-anak, Fany tidak habis pikir dengan pemikiran Julian.
"Apa otakmu itu miring?" balas Fany.
"Aku menawarimu, siapa tahu kau ingin menaikinya,"
"kenapa kau tidak saja yang naik. Kau bisa bernostalgia dengan masa kecilmu." Dirinya sudah kesal dengan tingkah Julian kali ini.
"Lebih baik kau diam saja. Kalau kau ingin bermain kau bermain saja, aku mau mencari makanan yang lain," ucapnya sebelum Julian kembali menjawab.
Sudah cukup pusing dirinya, lebih baik jika melanjutkan perjalanan untuk mencari makanan lain. Jika mereka berdua melakukan kencan memang ada saja tingkah Julian yang terkadang suka membuat naik darah. Untung jika Fany masih bisa sabar melihatnya, walau terkadang emosinya ingin sekali meluap.
"Aku lelah sekali," keluh Fany terlihat sedikit manja.
"Kenapa bisa lelah?" tanya Julian dengan polosnya.
Dalam hati Fany merutuki Julian yang memang tidak peka sama sekali, "Tentu saja aku lelah. Sedari tadi berjalan dari ujung sampai ujung!"
"Ooowh...." Julian hanya menanggapinya seperti itu.
Fany semakin kesal di buatnya, bagaimana bisa laki-laki di sampingnya itu tidak begitu peka. "Tidak peka sekali," gumam Fany dengan pelan.
"Kau bilang apa?" tanya Julian yang tidak bisa mendengar suara Fany.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan sekali wanita di seberang sana, dia memiliki kekasih yang tidak peka sama sekali," sindirnya dengan halus.
"Benarkah? Di mana?" Julian celingukan mencari sepasang laki-laki dan perempuan yang di maksud oleh Fany. Bisa-bisanya dia bersikap polos tidak tahu siapa yang di maksud oleh Fany, entah itudia sengaja seperti itu atau memang dia tidak peka sama sekali.
"Kau ya, jadi laki-laki peka sedikit kenapa sih!"
karena kesal melihat Julian yang terlihat sangat polos itu akhirnya Fany mengeluarkan sungutnya.
"Kenapa kau tiba-tiba marah begitu?" lagi-lagi Julian menunjukkan wajah polosnya melihat Fany yang terlihat marah padanya.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak marah kalau memiliki kekasih
yang tidak pernah peka sepertimu!" omelnya. Julian hanya menahan tawanya melihat Fany terus-terusan emosi sedari tadi, sepertinya dia memang sengaja bersikap tidak peka dan polos.
"Lalu, aku bagaimana?" ujar Julian lagi. Permainan wajah dan ekspresi Julian memang tidak bisa di ragukan, kalau dia mengikuti lomba bakat pasti dia akan di terima.
"Aaah... sudahlah. Lelah sekali aku bericara denganmu, sama saja seperti berbicara dengan tembok!" sungut Fany.
"Kau pernah berbicara dengan tembok? Bagaimana ?" Julian semakin memancing emosi Fany. Entah kenapa ia sangat suka melihat Fany yang terus-terusan mengomel.
Fany hanya menaik turunkan padangan matanya memandang Julian, tidak bisa berkata-kata lagi saat ini. " lya, pernah! Dia sama sepertimu yang tidak bisa peka. Puas kau!"
Fany melangkahkan kakinya pergi begitu saja meninggalkan Julian. Julian yang melihatnya hanya terkekeh, suka sekali dia melihat Fany yang selalu marah-marah. Memang Julian sedikit berbeda, di saat yang lain lebih suka wanitanya diam anteng justru Julian sangat suka melihat Fany yang selalu marah-marah dan suka ngegas.
Julian menyusul kepergian Fany, tiba-tiba saja dia menjongkokkan dirinya di depan Fany. Apa yang di lakukan Julian membuat langkah Fany berhenti begitu saja. Fany sedikit terkejut melihat Julian tiba-tiba memberikan punggungnya.
"Naiklah," pinta Julian pada Fany. Ia bersiap sedia memberikan punggungnya untuk Fany seorang.
"Buat apa?" Fany masih measa geram dengan Julian.
Fany terbengong melihat perubahan Julian secara tiba-tiba, dalam hatinya apa yang dia lihat tidakkah salah. "Cepat naik ke atas punggungku. Jangan sampai kau sama seperti wanita di seberang sana," celetuk Julian. Padahal yang di ucapkan Fany tadi adalah sindiran halus untuk Julian.
"Kau yakin? Nanti kau mengeluh lagi kalau badanku berat." Fany ingin memastikan apa yang di ucapkan Julian memang benar.
"Tentu saja aku yakin. Berat badanmu tidak seberat mensionku." Semakin ke sana ucapan Julian semakin di luar nalar, entah dapat pikiran dari mana dia menjawab seperti itu. Fany memincingkan bibirnya mendengar jawaban Julian yang selalu ngawur.
"Cepatlah. Kalau kau tidak segera naik, aku akan menggendong wanita di seberang sana. Dia sudah menungguku di sana," gertak Julian.
Fany mengembangkan senyumnya sebelum naik ke atas punggung Julian. Tak lama kemudian Fany pun naik ke atas punggung Julian. Tanpa peduli pandangan setiap orang pada mereka, kata Julian semua dunia harus tahu kalau wanita yang bersamanya adalah miliknya seorang.
Julian mulai berdiri dan melangkahkan kakinya menggendong Fany. Ke duanya seperti biasa pasti akan bercanda di sepanjang jalan, dan tidak lupa juga pasti akan ada perdebatan-perdebatan antara mereka yang tidak bisa di hindari. Julian juga terkadang menggoda Fany yang membuat Fany lagi-lagi kesal padanya.
Hari-hari telah berlalu begitu cepat, Julian datang ke tempat latihan untuk melihat perkembangan ke dua temannya yang tengah berlatih. Ia ingin tahu sejauh mana teman-temannya itu berlatih, lambat laun pasti mereka akan menunjukkan perubahan. Perkembangan temannya itu pasti juga tidak membutuhkan waktu lama, karena Julian mengambil ahlinya langsung yang ada di markasnya.
"Waaahh... sepertinya enak sekali. Sedang makan apa kalian?" celetuk Julian yang tiba-tiba sudah berada di sana. Julian pikir jika ke dua temannya dan anak buahnya itu sedang berlatih, ternyata tidak. Mereka sedang menikmati makan bersama tanpanya.
__ADS_1
Pandangan ke tiga orang tersebut teralihkan ke arah Julian yang baru saja tiba. "Hehehe... tentu saja kami makan makanan enak. Apa kau mau?" tawar Marcus.
Julian memandang ke tiganya dengan tatapan yang berbeda, ke tiganya hanya menujukkan senyum lebarnya pada Julian. "Cepat habiskan makanan kalian.”
Julian terlihat sangat tegas di sana, mereka pun buru-buru menghabiskan makanan yang ada di tangan mereka masing-masing. Sepuluh menit setelah makan, mereka pun kembali melanjutkan latihan. Julian melihat ke dua temannya yang sedang berlatih di dampingi anak buahnya.
Julian melihat ada sedikit demi sedikit perubahan yang di tunjukkan oleh ke dua temannya. Julian berinisiatif untuk mencoba kemampuan ke dua temannya, ia mendekat ke tengah lapangan dan memulai memberikan perlawanan pada salah satu temannya.
Bugh...
Bugh...
Brugh...
Belum apa-apa Marcus sudah menjadi sasaran Julian, ia terjatuh karena mendapat sedikit pukulan dari Julian." Kau yang benar saja. Pelankan pukulanmu itu!" protes Marcus pada Julian.
"Itulah kalau kau makan saja saat latihan. Baru juga aku memukulmu pelan kau sudah terjatuh," sengal Julian.
"Pelan apanya. Kau memukulku dengan keras!" Marcus tidak mau kalah di sana, ia juga sedikit ketus saat berbicara dengan Julian.
Bagi Julian pukulannya pelan, bagi Marcus itu adalah pukulan keras karena dia masih belum terbiasa. Kekuatannya dan kekuatan Marcus tentu juga berbeda.
"Kau saja yang memang lemah," ejek Julian.
"Kurangi makanmu saat latihan. Kau terlalu banyak santai," sambung Julian pada ke dua temannya.
"Mengisi perut itu penting. Apa kau mau melihat ke dua temanmu ini pingsan saat latihan," sahut reiner yang berpihak pada Marcus. Marcus yang mendengarnya itu pun menyutujuinya.
"Kau bisa melakukannya setelah latihan. Sudah jangan banyak alasan,"
"Dan kau. Lain kali jangan biarkan mereka makan terlalu banyak di tengah-tengah. Kau juga sama saja," omel Julian pada ke tiganya.
"B-baik, Tuan Muda," jawabnya tergagap takut tuan mudanya itu marah padanya.
Setelah beberapa menit tertunda, mereka melanjutkan latihan bersama. Seperti biasa, Julian yang akan mengawasi mereka di sana. Dia sudah seperti tuan besar saja, tetapi memang dia seorang tuan di sana.
__ADS_1