
"Loh... loh... loh... itu Fany kenapa seperti uring-uringan begitu? Penampilannya juga kusut semua, apa yang sedang terjadi padanya?" ujar Thea saat melihat Fany melintas dengan uring-uringan. Penampilannya juga masih acak-acakan, tidak berselang lama juga dia melihat Julian mengejar kepergian Fany.
Ternyata kerumunan ramai tadi Thea dan Jennifer tidak tahu, kalau saja dia tahu pasti akan ikut bersorak di sana. Niatnya mereka juga tadi mencari Fany, yang di cari baru saja lewat dengan uring-uringan.
"Ada Julian juga? Sepertinya dia berlari mengejar Fany. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Apa mereka baru saja melakukan perang dunia?" sambung Thea bertanya-tanya di sana.
"Sepertinya baru saja dia bertengkar dengan orang lain," sahut Jennifer
"Dengan siapa? Pasti sangat heboh kalau dia bertengkar sama orang lain." Thea bisa membayangkan bagaimana hebohnya tadi saat Fany bertengkar dengan orang lain.
Baru saja Jennifer diam, mereka mendengar salah satu mahasiswi di sana yang melintas tengah berbincang-bincang. Orang-orang itu mengatakan apa yang abru saja terjadi.
"Waah... kalau aku jadi Julian aku membiarkan saja mereka saling jambak," ucap salah satu di sana. Thea dan Jennifer memasang ke dua telinganya dengan baik-baik agar terdengar apa yang tengah mereka bicarakan.
"Kau benar sekali. Harusnya biarkan saja tadi mereka saling jambak. Aku ingin melihatnya siapa yang akan menang," sambung orang satunya lagi.
Thea dan Jennifer saling pandang setelah mendengar ucapan-ucapan orang itu.
"Hahaha...." Mereka berdua tertawa keras mendengarnya. Akhirnya mereka tahu apa yang tengah membuat penampilan acak-acakan dengan rambut seperti singa.
"Jadi itu yang membuatnya seperti itu? Waah... sayang sekali kita, Jen. Kita ketinggalan momen yang baru saja terjadi. Kalau saja aku melihatnya aku pasti juga akan bersorak kencang di sana." Thea menyayangkan dirinya yang tidak bisa melihat bagaimana aksi Fany tadi.
"Kalau saja tadi Julian tidak menariknya pasti wanita itu sudah menjerit tidak karuan," timpal Jennifer.
__ADS_1
"Kau benar. Tapi, kira-kira siapa ya wanita yang sudah dia jambak tadi. Dan apa yang membuat Fany menjambak wanita itu. Aku jadi penasaran," ujar Thea yang merasa penasaran siapa wanita itu.
"Sudah biarkan saja, memang biar sekali-sekali wanita seperti itu mendapat pelajaran. Kita lanjut saja, biarkan saja Fany dengan masalahnya kali ini." Jennifer mengajak Thea untuk pergi dari sana.
Mereka mengurungkan niatnya berkumpul dengan Fany setelah mendengar apa yang terjadi. Biarkan saja kali ini Fany dengan permasalahannya, toh tidak akan berhari-hari, sehari saja pasti sudah kembali seperti biasanya. Kalau saja saat ini mereka berkumpul pasti Fany akan mengoceh tidak ada hentinya.
Sementara di sisi lain ...
"Maaf mengganggu, Tuan," sapa bodyguardnya padanya.
"Katakan,"
"Begini, Tuan. Apa yang di alami Nona saat ini saya kira masih berhubungan dengan putra keluarga Carlos. Saya mendengar jika beberapa hari, Nona pernah mendapat jambakan kuat sampai beliau pingsan saat di kampus. Dan yang melakukan itu adalah kekasih dari putra keluarga Carlos," terangnya pada tuannya itu.
"Berani sekali dia seperti itu pada putriku! Siapa dia? Berani-beraninya dia, apa dia tidak tahu siapa putriku!?" daddy Wendy terlihat sangat marah. Pasti yang dia bawah adalah kekuasaan dirinya, dia sendiri saja tidak tahu siapa yang dia maksud itu.
"Apa kau tahu siapa wanita itu? Apa dia juga yang melakukan pembunuhan pada putriku?" sambungnya.
"Untuk itu masih belum tahu, Tuan. Tidak ada bukti apa pun yang bisa kita lihat. Untuk wanita itu, saya belum bisa mendapat informasinya," jelasnya lagi pada tuannya. Entah informasi yang dia dengar itu hanya separuh-separuh atau bagaimana. Dia tidak tahu seorang Jennifer walau dirinya datang ke kampus untuk mencari tahu.
"Apa kau tahu di mana alamat putra dari Carlos yang ada di sini?"
"Ada, Tuan. Tapi saya tidak yakin jika bisa masuk ke sana. Nona bahkan pernah di usir dari kediamannya waktu pergi ke sana." Daddy Wendy mengeraskan rahangnya di sana, lagi-lagi putrinya pasti mendapat perilaku yang tidak menyenangkan. Namun itu juga salah dari putrinya sendiri yang tidak ada rasa malu dan suka mengganggu orang lain.
__ADS_1
"Kenapa bisa putriku menyukai laki-laki itu? Memangnya apa yang membuatnya tertarik pada bocah ingusan itu! Apa dia belum tahu seberapa besar pengaruhku? Akan aku buat anak itu tunduk." Daddy Wendy sangat marah. Pasti semua orang tua marah jika anak-anaknya mendapat perlakuan buruk dari orang lain, tetapi dia sendiri juga tidak bisa melihat bagaimana kesalahan anaknya.
Yang dia pikirkan hanya tentang kekuasan, kekuasaan dan kekuasaan. Dia selalu berpikir dengan kekuasaan yang dia miliki tidak akan ada yang berani menyentuhnya. Padahal itu semua salah besar, kekuasaan dia juga tidak seberapa. Namun sombongnya sudah melebihi orang yang memiliki kekuasaan yang lebih darinya.
Walau seberapa besar kekuasaannya pun tidak akan mampu membuat Gerald tertunduk padanya. Pasti dia sendiri yang akan di buat tidak berkutik dengan Gerald. Kalau saja yang dia hadapi adalah keluarga-keluarga mafia besar, apakah dia akan berani seperti itu? Pasti tidak akan berani berbicara seperti itu.
"Sebaiknya kalau ke sana jangan seorang diri, tuan. Kediamannya banyak sekali penjaga di luar," sarannya.
"Heh, memangnya siapa dia? Hanya bocah lahir kemarin saja. Untuk apa juga dia memiliki penjagaan?" ucapnya remeh di sana.
Pantas saja jika Wendy memiliki sikap sombong dan tidak tahu malu, karena memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dia berkata seperti itu seolah-olah hanya dirinya yang bisa memiliki penjagaan khusus.
"Aku akan ke sana annti malam. Beritahu aku alamat anak itu, aku ingin anak itu bertanggung jawab. Aku ada cara lain untuk ini." Daddy Wendy menyeringai dengan rencana yang ada di kepalanya.
Rencananya pasti akan berhasil untuk ini, dia akan memanfaatkan kesempatan untuk membujuk Gerald nanti. Namun, entah apa yang akan dia rencanakan. Harap-harap saja dia pulang tidak dalam keadaan malu seperti waktu itu.
"Apa perlu saya temani, Tuan?" tawar bodyguard itu padanya.
Daddy Wendy nampak berpikir-pikir sebelum menjawab. "Eeem... tidak perlu. Biar aku saja yang datang ke sana," tolaknya.
"Baiklah, Tuan,"
Daddy Wendy kembali menyeringai dengan tertawa kecil di sana. "Akan aku buat kau tidak bisa menolak dengan tawaranku nanti. Kau lihat saja anak ingusan! Putriku pasti akan senang nanti."
__ADS_1
Yang ia rencanakan pasti berhubungan dengan putrinya. Bisa jadi jika dia memanfaatkan kondisi putrinya saat ini agar Gerald tidak menolak lagi dengan tawarannya. Dia terlalu meremehkan lawannya, walau lawannya lebih muda darinya, dia akan tetap terkalahkan juga