
Gerald memberikan kode pada anak buahnya untuk membawa daddy Wendy keluar dari rumahnya. Mereka tanpa berkata-kata langsung saja menyeret daddy Wendy keluar dari sana.
"Awas saja kalian. Tunggu semua pembalasanku! Aarkh...lepaskan aku!" teriaknya saat anak-anak buah Gerald menyeretnya keluar paksa.
"Apa yang kau lakukan, Babe? Kenapa kau memberitahunya?" Gerald bertanya-tanya dengan apa yang sudah di lakukan oleh Jennifer di sana.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana orang-orang b* doh itu bertindak," jawabnya dengan singkat. Gerald hanya mau menghembuskan napas panjangnya.
"Aku tidak mau jika bahaya akan mengintaimu nanti ," ujar Gerald khawatir. Apa dia juga lupa siapa kekasih hatinya itu.
"Kau lupa siapa aku? Dia tidak akan bisa menyentuhku. Aku putri dari keluarga William, dan aku juga memilikimu yang pasti akan melindungiku," ucapnya dengan sangat santai.
Gerald tersenyum simpul mendengar jawaban Jennifer. "Tentu saja aku pasti akan melindungimu, Babe. Aku sudah memerintahkan semua anak bauhku untuk menajgamu di mana pun dan kapan pun, jadi kau aman walau aku tidak bersamamu." Gerald mengecup singkat kenin Jennifer.
"Jadi, kau menguntitku selama ini!" Jennifer mantapa tajam pada Gerald. Sebenarnya Jennifer juga tahu kalau Gerald pasti akan menempatkan semua anak buahnya untuk mengawasinya.
Gerald kembali tersenyum hingga ke dua matanya menyipit. "Aku tidak menguntit. Aku hanya mengawasimu dari jauh."
"Itu sama saja. Untuk apa juga kau menguntitku? Apa yang kau ingin tahu?" cerca Jennifer.
"Hahaha ... kau tenanglah, Babe. Semuanya aman denganku, kau tidak perlu khawatir." Gelak tawanya terdengar nyaring.
Jennifer memberikan tatapan curiga pada Gerald, walau dirinya tahu Gerald tidak akan berani berbuat aneh-aneh. "Dasar penguntit kelas kakap!"
"Aku bukan penguntit, Babe."
"Terserah kau saja. Aku tidak peduli dengan alasanmu." Jennifer bersikap cuek di sana.
Selama ada di sana, Gerald membujuk Jennifer dengan di selingi candaan-candaan garing darinya. Takut sekali kalau Jennifer benar-benar marah padanya.
"Haah...." Baru saja dia tiba tetapi sudah marah-marah tidak jelas di sana.
"Ada apa, Dad? Apa yang membuat Daddy marah tiba-tiba begini?" tanya sang istri.
Setibanya di rumah sakit, daddy Wendy marah-marah sendiri. Niat hatinya ingin menuntut Gerald, sayangnya usahanya gagal. Bukan hal mudah bisa membuat Gerald tunduk begitu saja.
"Yang membuat Wendy seperti ini adalah kekasih dari putra Carlos. Awas saja akan aku buat mereka mendekam di sel selama sisa hidupnya!" ungkap daddy Wendy.
Mommy Wendy ikut terpancing emosi mendengar perkataan suaminya. "Apa yang sudah dia lakukan pada putri kita, Dad? Beraninya dia membuat putriku berbaring lemah seperti ini! Mommy setuju dengan Daddy, buat dia di hukum selama hidupnya!"
"Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah sadar?" daddy Wendy beetanya dengan emosi yang membara.
"Belum, Dad. Wendy masih belum sadarkan diri," jawabnya.
"Mommy tidak mau tahu, Dad. Daddy harus menghukum wanita itu, bagaimana pun caranya!"
__ADS_1
"Daddy akan meminta bodyguard kita mengurusnya. Daddy akan bersiap untuk mengurus kerja sama dengan William's Company. Kita bisa memperluas perusahaan kita nanti," paparnya. Tak di sangkah-sangkah ternyata daddy Wendy akan bekerja sama dengan perusahaan keluarga William, bagaimana reaksinya nanti jika dia akan bertemu dengan Jennifer.
"Lakukak dengan cepat, Dad. Jangan biarkan wanita itu bisa merasakan hidup tenang!" Tuan Brown pun merogoh ponselnya dan menghubungi bodyguardnya untuk mengurus proses hukum.
Malam telah berlalu begitu cepat, semua orang kembali melakukan aktifitasnya. Kebetulan sekali hari ini Jennifer berada di markas, dia sedang asyik merakit senjata miliknya sendiri.
"Waaah... kau sangat asyik sekali. Apa yang akan kau lalukan dengan senjata itu?" Julian datang tiba-tiba di sana. la mendudukkan dirinya di sofa depan Jennifer.
Klek...
Klek...
Jennifer mengarahkan senjatanya yang sudah siap itu pada Julian. Lucunya lagi, Julian terliat terkejut hingga dirinya reflek mengangkat ke dua tangannya. Ponsel yang ia pegang pun sampai terlepas dari tangannya, padahal dia sering sekali bermain dengan senjata tetapi saat ini dia bisa terkejut begitu saja.
"Kau gila!" pekik Julian dengan ke dua matanya melotot lebar.
"Hehehe... kau lucu sekali. Bukankah kau sering menggunakannya, kenapa kau bisa terkejut begitu?" Jennifer terkekeh melihat reaksi Julian.
Julian mendengus kesal lalu mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai. "Siapa yang tidak kaget kalau tiba-tiba saja kau mengarahkan senjatamu itu ke arahku!"
"Aku hanya ingin mencoba senjata rakitanku saja," ujarnya dengan enteng.
"Kau mau membunuhku?" pekiknya lagi pada Jennifer.
Julian menggeleng cepat mendengar ucapan sang kakak, "Kalau kau ingin mencobanya, cobalah dengan orang lain. Jangan mencobanya padaku," tolaknya dengan keras.
"Karena hanya kau yang ada di depanku. Jadi tidak ada pilihan lain."
Dorr ...
Peluru itu meripit sekali, hampir saja mengenai Julian. Julian hanya bisa mengedipkan ke dua matanya, tidak di sangkah kakaknya itu benar-benar melakukannya. Tampang bod*h ia tunjukkan saat ini.
Jennifer kembali si buat terkekeh melihat ekspresi Julian. Wajahnya nampak seperti orang bod*h saat ini." Hahaha... Kau sangat lucu." Gelak tawanya tidak henti-hentinya.
Bugh...
Julian melempar Jennifer dengan bantal. Kali ini jiwa mereka benar-benar tertukar, biasanya Julian yang mendapat timpukan sekarang berganti Jennifer.
"Kau gila, Jen!* Julian kembali memekik sampai dirinya lupa menggunakan embel-embel kakak. Gelak tawa Jennifer masih belum berhenti, Julian menatapnya dengan tatapan kesal. Benar-benar kesal karena sang kakak tengah mengerjainya, tidak tanggung-tanggung pula mengerjai dirinya.
Jennifer mengelap air matanya yang keluar, dia tertawa hingga mengeluarkan air mata di sana. Tenang-tenang, jangan emosi. Itu tidak baik."
"Apa yang terjadi, Nona, Tuan Muda?" tanya anak buahnya yang datang menghampiri mereka setelah mendengar suara tembakan dan gelak tawa kencang di sana.
"Aahh... tidak ada apa-apa, kau lanjutkan saja pekerjaanmu," jawab Jennifer. Karena mendengar jawaban dari nonanya itu, ia pun kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
__ADS_1
"Siapa yang tidak emosi kalau kau tiba-tiba saja menembak ke arahku. Kalau saja itu mengenaiku bagaimana? Bisa rugi kau kehilangan adik sepertiku." Julian mengerucutkan bibirnya.
"Aku bisa mencari adik yang lain," jawab Jennifer enteng.
"Kau mungkin bisa bertemu banyak adik, tapi kau tidak akan menemukan adik yang sepertiku?" Julian tidak mau kalah di sana. Tentu saja adik seperti Julian tidak akan di temui, Julian satu-satunya yang memiliki sifat tengil yang tidak pernah ada habisnya.
"Hidupku bisa tenang kalau tidak memiliki adik sepertimu," jawab Jennifer lagi.
"Kau tidak boleh seperti itu pada adikmu. Itu tidak baik," ucap Julian layaknya seorang nenek yang menasehati cucunya.
"Kau seperti tidak sadar diri saja. Kau sendiri selalu nakal," sengal Jennifer.
"Aku tidak nakal, aku menghidupkan suasana baru." Memang bisa kalau dia membuat alasan seperti itu.
Sudah bisa di tebak bagaimana jawaban Julian, Jennifer jengah mendengar jawaban itu. "Sebaiknya kau diam saja dari pada aku menembak sungguhan ke arahmu." Karena sudah lelah Jennifer menggertak Julian agar tidak terus-terusan menjawab.
Julian diam kicep dari pada nanti harus mendapat tembakan lagi dari Jennifer. Mana tahu nanti kalau tiba-tiba Jennifer mengarahkan pelurunya lagi ke arahnya. Jennifer kembali mengecek senjata rakitannya.
Julian bertanya-tanya dengan apa yang di lalukan oleh sang kakak, "Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan senjata itu. Tumben sekali kau merakit senjata."
"Aku hanya menyiapkan untuk sesuatu,"
"Waaahh... sepertinya ada mangsa baru kali ini. Kau tidak ingin mengajakku?" rasanya Julian tertarik dengan mangsa yang datang kali ini.
"Tidak boleh. Ini akan menjadi mangsaku, kau sudah mendapat banyak mangsa." Jennifer menolak Julian untuk ikut bergabung dengannya.
Julian nampak loyo karena Jennifer tidak memperbolehkannya ikut dengannya, "Ck, kau pelit sekali. Aku kan juga ikut bermain denganmu."
"Kau cari mangsa saja sendiri. Kali ini aku yang akan bermain." Jennifer kembali mengecek dan mengarahkan ke arah Julian lagi. Julian yang melihatnya itu di buat ketar ketir.
"Ehh ... eh... eh... apa yang akan kau lakukan lagi?" Dia aangat cemas jika kakaknya itu kembali menembakkan peluru ke arahnya. Seketika Julian lupa apa yang dia bahas baru saja.
"Ck, kau penakut sekali," decaknya. Bagaimana Julian tidak takut kalau dirinya hampir saja terkena peluru darinya.
"Aku hanya waspada dengan apa yang kau lakukan. Kau nyaris saja menghilangkan nyawaku!" bantah Julian. Apa yang di lakukan oleh Jennifer tadi cukup membuat dirinya sport jantung.
"Sudahlah lebih baik aku pergi saja dari pada menjadi sasaran darimu lagi." Julian memutuskan pergi dari sana, takut jika menjadi bahan percobaan kakaknya.
Biasanya dia yang membuat musuh-musuhnya menjadi bahan percobaan, sekarang dia takut jika menjadi bahan percobaan kakaknya sendiri.
"Terserah kau saja." Jennifer nampak tidak peduli kalau adiknya pergi meninggalkannya seorang diri di sana. la tetap fokus membenarkan senjata miliknya.
Agak-agaknya jika Jennifer tengah menyiapkan sesuatu saat ini, akankah itu berhubungan dengan semalam yang ada di rumah Gerald. Bisa jadi benar adanya untuk itu, karena itu yang menjadi permasalahannya sekarang. Biasanya dia terlihat anteng walau banyak wanita yang mendekat, tetapi kali ini ia bertindak dengan sungguh-sungguh.
Bisa jadi saat ini awal Jennifer bangun dari tidurnya, dia bersiap melibas siapa saja yang berhubungan dengannya.
__ADS_1