
Mereka memberontak ketika anak buah Sean membawa mereka untuk ikut. "Mau kalian bawa ke mana aku!"
"Bukankah kau meminta untuk di lepaskan? Aku sudah menurutimu, kenapa kau berteriak? Apa tenggorokanmu itu tidak sakit?" Entah apa yang akan di lakukan oleh Julian kali ini pada mereka.
"Cepatlah, aku akan menunggu kalian di belakang." Julian melangkahkan kakinya terlebih dalu meninggalkan ruang bawah tanah.
Mereka menyusul langkah Julian dari belakang, semua tawanan itu memberontak untuk di lepaskan. Anak buah Julian tidak memperdulikan teriakan dan aksi berontak dari mereka. Mereka terus berjalan menuju ke halaman belakang sesuai dengan perintah Julian.
Julian sampai di halaman belakang terlebih dahulu, ia melihat anak-anak buahnya menyiapkan apa yang minta. "Apa sudah selesai?"
"Semua sudah siap, Tuan Muda." Julian mengangguk mengiyakan.
Berselang beberapa waktu, anak-anak buah Julian yang membawa semua tawanan itu telah sampai di halaman belakang. "Ikat mereka semua di sana."
Di depan sana sudah berdiri tiang dengan tinggi sekitar dua meteran, tiang itu berjumlah 5 buah, yang mana masing-masing dari tawanan itu akan di ikat di sana. Tiang itu merupakan potongan pohon yang sekitar markas yang di tebang oleh anak-anak buah Julian.
"Apa yang akan kau lakukan, hah! Bukankah kau akan melepaskanku dan yang lainnya!?"
"Iya... lalu?" dengan tampang polosnya Julian mengatakan itu.
"Lepaskan aku dan yang lainnya! Jangan sampai Tuanku murka dan menghabisimu!" Masih sempat-sempatnya dirinya menggertak Julian di sana.
"Aku hanya melepaskanmu dari ruang jeruji. Bukan membebaskanmu dan yang lainnya, ternyata kau sangat bod*h! Tidak tahu dari apa yang aku katakan," ledek Julian pada mereka.
"Lepaskan aku dan lainnya!" berontaknya kembali. Julian kembali memerintahkan anak uahnya dengan menggerakkan kepalanya.
Mereka yang paham dengan kode dari Julian segera melaksanakannya, semua tawanan itu memberontak untuk di bawa. Dengan sedikit kasar mereka mengikat mereka semua di sana. Julian menatap mereka dengan tatapan yang tidak biasa, kedua alisnya saling bertautan.
"Apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Robert yang juga berada di sana.
"Kau akan tahu nanti. Kalau kau mau, kau bisa ikut sekali. Anggap saja ini adalah latihan," jawab Julian tanpa menoleh ke arah Robert. Smirknya terlihat sangat jelas menatap orang-orang yang sudah terikat kencang di tiang.
"Waahh... sepertinya akan seru. Kalau begitu, aku akan mengikutimu," ucap Robert menyetujui ajakan dari Julian.
__ADS_1
"Di mana semua senjataku?" Julian menoleh ke arah anak buahnya. Baru juga Julian terdiam, anak buahnya membawakan semua senjata untuk Julian.
Senjata itu tertata rapi dan berjejer, beberapa jenis senjata berada di sana. Julian memilih salah satu dari banyaknya senjata di sana, ia mengambil satu belati dan melihat bagaimana ketajamannya. Julian mencoba menggoreskannya di tangannya sedikit.
Sreek...
Robert melototkan ke dua matanya melihat Julian yang menggoreskan belati itu ke tangannya sendiri. "Apa kau sudah gila!?"
"Yaaah... kau santai saja. Aku hanya mengetasnya tajam atau tidak. Kalau kurang tajam, aku akan meminta mereka untuk mengasahnya." Julian benar-benar seperti pembunuh berdarah dingin. Wajahnya dan tingkahnya saja yang sering membuat orang kesal, tetapi di balik itu semua dia juga memiliki sisi layaknya psikopat.
Julian mengelap darah yang keluar dari luka goresannya, ia membalut tangannya dengan kain kasa yang ia minta pada anak buahnya. Robert hanya bisa menggelengkan kepalanya di sana.
"Berikan aku penutup mata." Anak buahnya memberikan penutup yang ia minta.
Julian menutup matanya dan: segera melancarkan aksinya, Sebelum ikut beraksi, Robert melihat dulu apa yang di lakukan Julian. Mereka semua yang terikat mulai berteriak dan memebrontak untuk bisa lepas dari sana, tetapi tentu saja tidak akan mudah mereka bisa lepas.
"Berteriaklah sepuas kalian." Julian menunjukkan smirknya di balik matanya yang sudah tertutup.
Anak buahnya mengulurkan belati pada Julian, Julian menerimanya lalu melemparkan belati itu lurus ke depan dengan mata tertututp.
Syuut...
Syuut...
Dua belati menancap beberapa centi di atas kepala orang itu, ia bernapas lega karena belati itu tidak menancap di kepalanya.
"Wuhuuu... kemampuanmu luar biasa, Tuan Muda," sorak Robert melihat kemampuan Julian walau matanya tertutup. Julian membuak penutup itu untuk melihat jika kemampuannya tidak meleset.
"Heh, aku kira kau cukup hebat. Ternyata lemparanmu itu meleset, jangan terlalu belagu jika kemampuanmu masih di bawa rata-rata." Orang itu meledek kemampuan Julian yang meleset tidak mengenai dirinya.
"Hahaha... kau tenang saja. Aku baru saja pemanasan. Kalau kau ingin merasakannya, aku akan mengabulkannya." Bukannya tersinggung, Julian justru tergelak mendengar ucapan orang itu yang meremehkannya.
Julian sengaja memberikan sedikit pemanasan sebelum dia benar-benar melakukan aksinya yang terkadang di luar nalar. "Berkatalah sesukamu sebelum kau pergi dari dunia ini."
__ADS_1
"Aaah. vidiokan apa yang aku lakukan. Dan kirim itu pada Tuan mereka, aku ingin tahu bagaiman reaksi Tuan mereka yang juga sama-sama bod*h dengan anak-anak buahnya," pinta Julian pada anak buahnya.
"Baik, Tuan Muda." Mereka segera menyiapkan apa yang di minta Julian.
"Berhentilah menunjukkan kemampuanmu yang payah itu anak mudah, jangan membohongi semua anak-anak buahmu. Jangan bersikap paling jago di hadapan semua anak buahmu," teriak orang itu memancing emosi Julian.
"Begitukah? Aku harap kau tidak menyesali semua ucapanmu itu." Julian tersenyum miring di sana.
"Sebaiknya lepaskan aku dan lainnya. Kau sama saja
dengan orang tuamu, sama-sama payyah." Wajah Julian seketika terlihat menyeramkan ketika orang itu menyebutkan orang tuanya.
"Hahaha...."
Syuuut...
Belati melesat dengan cepatnya ke arah orang itu. Belati itu seketika menancap di paha kanannya.
"Aaaarkh...," teriaknya dengan kencang. Padahal dia baru saja tertawa terbahak-bahak, tidak lama teriakan terdengar dari mulutnya.
"Berani kau menyebut orang tua ku maka kau tidak akan hidup lebih lama." Wajah Julian benar-benar terlihat menyeramkan di sana.
Robert yang melihatnya hanya menatap miris saja pada orang yang sudah mengatakan itu pada Julian. Julian tidak akan memebri ampun ketika orang lain menyebut orang tuanya dalam urusannya. Entah bagaimana nasib orang itu nanti.
Syuut...
Syuut...
Jlebb...
Tanpa berbicara lagi, Julian kembali melesatkan belatinya ke arah orang tersebut. Orang-orang di depannya saat ini bagaikan papan sasaran yang ia gunakan waktu latihan. Dua belati menancap lagi, yang satu kali ini Julian mengenai dada dari orang yang sudah menyinggung perasaan Julian.
Cairan merah kental itu keluar dari mulut orang itu, dia tidak bisa berteriak lagi di sana. Tawanan lain menelan slivanya kasar melihat Julian yang terlihat marah pada salah satu dari mereka. Julian menatapnya tanpa ekspresi, sepertinya ia masih ingin memberi pelajaran pada orang itu.
__ADS_1
"Kalau kau memnag tidak payah, harusnya hadapi kami dengan tangan kosong. Bukan dengan mengikat seperti itni, bukankah itu menunjukkan jika dirimu payah Tuan Muda William?" sahut salah satu lagi dari mereka yang memnacing emosi Julian.