Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 143 Season 2


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain....


Papa Cindy marah-marah hampir setiap hari karena benar-benar susah untuk membebaskan istri dan putrinya. Masih untung jika Sean tidak menyiksa keduanya. Sean memang ingin melihat bagaimana usaha papa Cindy, Sean ingin melihat bagaimana nanti papa Cindy bertindak.


Jika papa Cindy bertindak yang salah, maka Sean tidak akan memberikan ampun untuk keluarga itu.


Papa Cindy penampilannya pun juga acak-acakan sekarang.


Braak....


la menggebrak meja dengan kerasnya karena tidak bisa berfikir apa lagi yang akan dia lakukan untuk membebaskan putri dan istrinya. Dia kehabisan cara melakukannya.


"Sial... Sial... Sial... " Dia terus uring-uringan.


"Tuan, bagaimana jika kita juga melakukan cara yang sama?" Sarannya pada papa Cindy.


"Bagaimana maksudmu?" Tanya papa Cindy yang masih tidak faham dengan saran yang di katakan oleh bawahannya.


"Bagaimana kalau kita juga menyekap salah satu anaknya, nanti kita akan melakukan barter." Jelasnya pada papa Cindy.


Papa Cindy yang mendengar usulan itu pun menimbang-nimbangnya. "Sepertinya itu ide yang bagus. Yaahh... Kita bisa menggunakan anaknya ataupun istrinya untuk di jadikan barter nanti. Dengan begitu istri dan putriku akan bisa lepas dari sana." Jawabnya yang setuju dengan usulan dari bawahannya.


"Lebih baik kita gunakan anaknya untuk hal ini," Sambungnya.


"Cari orang-orang bayaran dengan skill tinggi. Kita tidak bisa meremehkan orang itu, kita harus mencari orang yang sepadan." Perintah papa Cindy.


Bawahannya pun menganggukkan kepala melaksanakan perintah papa Cindy. Papa Cindy sangat yakin jika kali ini rencananya akan berhasil untuk membebaskan sang istri dan putrinya.


Keesokan paginya....


"Tuan." Sapanya membungkukkan kepalanya.


"Saya sudah mendapatkan mereka," sambungnya di sana. Dirinya pun melihat ke arah orang itu.


"Kau ikuti anak-anak ini, tangkap dan bawa mereka kehadapanku." Perintahnya pada orang tersebut. Ia menyerahkan foto dengan gambar orang-orang yang ia maksud.


"Apa yang akan aku dapatkan jika berhasil membawa mereka?" Tanyanya yang juga mencari keuntungan.

__ADS_1


"Hahahaha.... Jika kau bisa menangkap dan membawa anak-anak ini ke hadapanku, maka aku akan membayar mu lebih.' Jawabnya pada orang tersebut.


Orang itu pun sepakat dengan apa yang di ucapkan oleh orang tersebut. Mereka membicarakan banyak hal dalam masalah ini.


Tidak menunggu lama, orang bayaran itu pun segera keluar melaksanakan tugasnya dan menuju ke lokasi yang sudah di sebutkan. Orang-orang bayaran itu tidak hanya satu orang. Pimpinannya membawa empat orang anak buahnya.


Siapa lagi orang itu jika bukan papa Cindy, sesuai perintahnya semalam untuk mencari orang-orang bayaran dengan skill tinggi.


Saat ini, Julian dan in the gengnya sedang berkumpul seperti biasa waktu istirahat. Mereka sedang bercanda, kadang juga berbicara hal serius.


"Jul, bagaimana kabar Cindy dan mamanya? Apa papimu sudah membebaskan mereka?"


Tanya Marcus yang memang sebelas dua belas dengan Julian.


"Tidak, papi tidak akan membiarkan mereka begitu saja. Mana bisa papi melepaskan mereka begitu saja setelah apa yang mereka lakukan." Jawab Julian dengan santainya.


Mereka semua sudah mengetahui perkara yang waktu itu yang sempat ramai menjadi perbincangan.


"Kira-kira, apa yang akan di lakukan oleh papimu ya Jul? Aku penasaran, bagaimana keluargamu mengurus orang-orang yang bermasalah dengan keluarga kalian tanpa melibatkan polisi?" Marcus merenungkan hal itu.


Mereka hanya tahu jika keluarga Sean memang orang berpengaruh di Eropa, tapi tidak banyak yang mengetahui jika keluarga itu juga keluarga mafia. Tidak boleh sembarang orang mengetahui hal itu.


"Coba kau cari gara-gara dengan papi, kau pasti akan tahu bagaimana nanti." Jawab Julian dengan entengnya.


"Kau gila! Sama saja aku menenggelamkan diriku dalam lautan jika mencari gara-gara dengan papimu." Jawabnya dengan sedikit nada tinggi mendengar jawaban Julian yang konyol.


"Kan kau sendiri yang mengatakan ingin tahu bagaimana."


"Kau kan tinggal memberitahunya, kenapa menyuruhku untuk berbuat konyol seperti itu?" Kesalnya pada Julian. Yang lain hanya diam mendengar perdebatan dari kedua orang tersebut.


Jam sudah menunjukkan waktu pulang, mereka semua segera meninggalkan tempat duduk masing-masing. Banyak juga yang masih berbincang-bincang dengan teman akrabnya.


"Sesekali kita nongkrong, ayo. Sudah lama sekali kita tidak berkumpul di luar." Ajak salah satu geng dari Julian.


"Memangnya setiap hari kita berkumpul kau tidak melihatnya apa?" Sengal Julian padanya.


Orang itu pun memutar kedua bola matanya malas," kan sudah aku katakan kalau di luar." Jawabnya dengan sedikit ngegas.

__ADS_1


"Yaudah santai aja kali, ah. Lakik kok baperan," ledek Julian padanya.


"Sudah, jangan ribut. Ayo kalau kita keluar, mumpung hari sedang free." Sahutnya. Tanpa berfikit panjang Julian dan in the gengnya itu pun segera pergi dari sana dan menuju cafe untuk mereka nongkrong.


Julian dan teman-temannya menuju parkiran berasamaan.


"Heh.... Mau kemana kalian?" Tanya seseorang yang padyi sudah tahu siapa dia.


"Kau tidak usah kepo, sudah sana pulang." Usir Julian pada orang itu. Siapa lagi kalau bukan Fany.


"Aku tidak kepo, aku hanya tanya. Sensi sekali...." Fany memicingkan bibirnya.


"Nonaa.... Kami mau nongkrong di luar, apa kau mau ikut?" Sahut Reiner di sana.


"Tidak, tidak perlu. Nanti uang jajanku habis karena dia," belum juga Fany menjawab Julian sudah menyelahnya terlebih dulu.


"Siapa juga yang mau ikut denganmu," sinis Fany pada Julian.


"Kalian memang cocok jika bersanding." Sahut Marcus melihat pertengkaran mereka. Jika bertemu memang tidak pernah ada akurnya. Ada saja tingkah dan perdebatan dari mereka.


"Diam kau." Sengal Fany pada Marcus lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana begitu saja.


Julian dan teman-temannya pun segera berangkat menaiki motor sport mereka masing-masing.


Sedangkan di sisi luar...


"Bos.... Mana anak itu, banyak sekali orang di sini. Kalau nanti kita menangkapnya?" Tanya salah satu anak buahnya.


"Sepertinya orang itu," jawabnya sambil melihat foto yang ia bawa dari tadi untuk di bandingkan dengan orang yang ia lihat dari kejauhan.


Tidak berselang lama, Julian dan teman-temannya pun meninggalkan halaman sekolah. Kali ini sang kakak tidak ikut bersamanya, jadi Julian bisa santai. Orang-orang itu pun mengikuti Julian agak sedikit jauh agar tidak ketahuan.


Motor Julian dan teman-temannya melaju dengan cepatnya, mereka saling mendahului satu sama lain. Entah kenapa mereka suka sekali bermain-main saat sudah berkumpul seperti itu.


Mobil yang mengikuti Julian dan teman-temannya itu pun ikut menyalip dengan cepat. Ia ingin memotong jalan dan menghadang Julian beserta kawan-kawannya.


Ckiiiitt....

__ADS_1


Mereka semua mengerem mendadak karena tiba-tiba saja mobil menghalangi jalan mereka. Untung saja mereka tidak sampai jatuh. Beberapa orang keluar dari dalam sana dan berjejer.


__ADS_2