Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 291


__ADS_3

Dua hari kemudian...


Hari ini Wendy sudah kembali masuk ke perkuliahan, ia berjalan dengan gaya angkuhnya. Tanpa memperdulikan banyaknya mata memandang. Mereka berbisik-bisik melihatnya, dari mereka semua tahu jika waktu itu dirinya pernah mendapat jambakan dari Jennifer.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau iri denganku yang berkelas ini?" ucapnya sombong pada salah satu gerumbulan wanita-wanita yang menatapnya tidak biasa.


"Pantas saja Jennifer kemarin sampai menjambaknya. Orangnya seperti ini," sinis salah satu dari mereka yang tahu siapa Jennifer.


Wendy yang mendengar nama di sebutkan oleh orang itu pun mendekat, pasaalnya dia tidak tahu siapa Jennifer itu. "Siapa tadi yang kau sebut? Coba ulangi lagi."


"Jennifer. Apa kau tidak tahu?" jawab orang tersebut.


"Aah... jadi namanya Jennifer? Nama yang buruk," ejeknya. Tanpa berkata-kata lagi Wendy berjalan pergi meninggalkan orang-orang itu.


Skiip...


Nampak Jennifer tengah berjalan dengan sendiri tanpa ada yang menemani. Biasanya dia pasti bersama Fany dan Thea, mungkin ke dua temannya itu tengah sibuk. Ia berjalan santai tanpa ada gangguan dari orang-orang sekitar.


"Hai Jen, bagaimana harimu? Pasti sangat menyenangkan, kan? Tapi sepertinya hari-hari burukmu


akan datang sebentar lagi." Baru juga Jennifer merasa tenang karena tidak ada yang mengganggunya, tiba-tiba saja muncul orang yang tidak dia inginkan kehadirannya saat ini.


Jennifer hanya membuang mukanya tidak peduli dengan ocehan dari orang itu. Kalau bukan Wendy siapa lagi orang itu. Dia sangat suka mengganggu Jennifer, tidak pernah ada kapoknya setelah Jennifer memberinya pelajaran.


"Memangnya apa sempurnanya dirimu sampai Gerald mau denganmu? Penampilanmu juga biasa saja, tidak ada istimewa dalam dirimu," ledek Wendy.

__ADS_1


"Aahh... tapi sebentar lagi pasti kau akan di buang begitu saja dengannya. Apa kau tahu? Keluargaku datang ke rumah Gerald untuk membahas pernikahnku dengan Gerald. Bagaimana perasaanmu saat ini? Kau pasti sedih, kan...." Apalah tujuannya saat ini pada Jennifer. Jennifer hanya memutar ke dua matanya malas mendengar ocehan tidak bermutu dari Wendy.


"Tuuhh kan... pasti hatimu sangat sakit saat ini. Uhuhuhuuu... malang sekali nasibmu," ejeknya lagi pada Jennifer. Wajahnya terlihat sangat menyebalkan, ingin sekali rasanya Jennifer mencabik-cabiknya.


"Kalau aku jadi dirimu, aku pasti akan pulang menangis mengurung diri di kamar," sambungnya.


Jennifer menatap Wendy yang ada di depannya itu dengan tersenyum miring. "Heh, tapi sayangnya aku bukan seperti dirimu itu, Nona. Apa yang kau katakan tadi? Nasibku? Malang? Justru kau sendiri yang bernasib malang sekali,"


"Kau selalu mengejar-ngejar laki-laki yang sudah memiliki pasangan. Apa setidak lakunya dirimu itu, Nona ?" ujar Jennifer pada Wendy.


"Ahahaha... banyak sekali orang di luar sana mengejarku, kau tidak tahu, bukan. Mereka semua selalu memintaku untuk berkencan bersamanya," jawab Wendy sangat bangga di depan Jennifer.


"Tentu saja mereka memintamu untuk berkencan denganmu itu, Nona. Mereka tahu kalau kau pasti tidak akan menolak ajakan mereka semua." Jennifer menyindir Wendy yang memang notabenya selalu bermain dengan banyak laki-laki.


Jennifer memegang pundak dari Wendy. "Aku memberitahumu sesuatu, Nona. Barang murah memang cepat sekali laku. Kau harus tahu itu," ucapan tajam yang di lontarkan Jennifer pada Wendy. Jennifer pun mengusap-usap tangannya setelah menyenth Wendy, seolah-olah dirinya sangat tidak mau menyentuh barang kotor.


"Aku tidak menghinamu, Nona. Kalau kau merasa, berarti memang itu ada benarnya." Wajah Jennifer terlihat mengejek Wendy.


Wendy semakin marah di buatnya, ia pun mengangkat tangannya berniat menampar wajah Jennifer.


Krek ...


Dengan cepat Jennifer menangkap tangan Wendy dan memelintirnya ke belakang hingga terdengar suara tulang-tulangnya berbunyi. Wendy merintih kesakitan karena Jennifer memelintirnya dengan kuat.


"Kau tidak akan bisa menyentuhku, Nona. Menjauhlah dariku dan tunanganku. Jangan sampai nanti kau kembali ke negara asalmu hanya tinggal nama!" ancam Jennifer karena sudah jengah dengan Wendy. Jennifer melepaskan tangan Wendy dengan sedikit kasar.

__ADS_1


"Ada apa, Jen?" tiba-tiba dari arah belakang muncul Julian mendekat ke arah mereka berdua. Melihat ke dua orang itu dari kejauhan Julian buru-buru untuk mendekat agar tidak terjadi lagi hal seperti kemarin.


Kalau saja itu di markas atau tempat sepi, Julian pasti membiarkan saja apa yang di lakukan oleh Jennifer. la tidak mau jika nanti identitas mereka yang merupakan keluarga mafia tiba-tiba terdengar di lingkungan kampus.


"Tidak apa. Hanya ada ulat kecil menghalangi jalanku," jawab Jennifer.


Julian dan Wendy saling pandang, Julian hanya menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Wendy seperti memandang mangsa di depannya.


"Sebaiknya kau berhenti megganggunya, Nona. Jangan sampai hidupmu tidak akan tenang nantinya," gertak Julian pada Wendy. Sebenarnya Julian juga ingin memberi pelajaran pada Wendy, tetapi dia masih mencoba menahannya.


"Tidak ada gunanya aku mengganggunya. Aku hanya memberitahunya sebelum kenyataan pahit dia terima." Wendy tersenyum sinis pada Jennifer.


"Kau tidak perlu memberitahunya, Nona! Kalau saja aku masih melihatmu mengganggunya, jangan salahkan aku jika kau tidak bisa hidup tenang. Ini adalah pesan pertama dan terakhir untukmu, berhati-hatilah." Setelah mengatakan itu, Julian mengajak Jennifer pergi dari sana.


Julian merangkul pundak sang kakak, sudah menjadi hal biasa untuk mereka berdua. Toh, mereka juga saudara sedarah. Wendy yang melihat Jennifer dan Julian itu terbesit ide jahat di pikirannya.


Dengan cepat Wendy mengambil ponselnya dan mengambil gambar Julian tengah merangkul pundak Jennifer. Beberapa gambar tengah ia ambil dan dia simpan. Senyum sinisnya terlihat dengan lebar.


"Heh, ternyata dia juga tidak kalah murahan!" dia tidak tahu kalah ke dua orang di depannya tadi merupakan saudara kembar tak seiras.


Wendy membolak-balikkan ponselnya dengan penuh kemenangan. "Bagaimana jika Gerald melihat ini? Akan aku buat kau di buang olehnya. Tunggu saja permainanku." Wendy kembali menunjukkan senyum sinisnya.


Wendy akan menggunakan gambar hasil jebretannya itu untuk menghancurkan hubungan Gerald dan Jennifer. Siapa tahu jika cara yang dia lakukan untuk mendapatkan hati Gerald. Ya... semoga saja caranya berhasil, Gerald pun juga pasti tahu jika orang itu Julian sendiri.


Mungkin ada sedikit rasa kecemburuan pada Gerald, ingin marah pun dia juga pasti akan berpikir dua kali. Karena memang ke duanya saudara. Gerald juga tahu bagaimana Julian akan melindungi Jennifer ketika tidak bersamanya.

__ADS_1


Wendy berlalu pergi dari sana dengan perasaan hati berbunga-bunga karena mendapatkan hal yang tidak terduga. Dia berencana akan datang ke rumah Gerald malam nanti untuk menunjukkan bukti-bukti yang ada di ponselnya. Dirinya akan menggunakan kesempatan sebaik mungkin untuk bisa mengambil Gerald dari Jennifer.


__ADS_2