Anara Dan Tuan Mafia

Anara Dan Tuan Mafia
Bab 125 Season 2


__ADS_3

Orang itu tersenyum lalu menerima jabatan dari Fany, "Thea." Jawabnya singkat.


Setelah berkenalan, Fany mengajak Thea untuk mendekat ke arah Jennifer di sana. Dengan sedikit keraguan Thea ikut dengan Fany karena dirinya di paksa dengan Fany.


"Tuan putriii... apa kau tidak ingin mengajak temanmu ini berbicara?" ujar Fany.


Jennifer mendongakkan kepalanya melihat keduanya.


"Kau Jenni, kan? Aku Thea." Ujarnya ragu-ragu mengulurkan tangannya pada Jennifer. Jennifer pun menerima jabatan Thea. Thea terlihat senang jika uluran tangannya di terima oleh Jennifer.


Thea memandang lekat wajah Jennifer yang sepertinya ia kenal. "Maaf jika aku lancang, wajahmu terlihat mirip dengan Julian." Ujarnya hati-hati.


Fany hanya memandang ke arah Jennifer di sana. Belum juga Jennifer menjawab ucapan Thea, sekumpulan beberapa ciwi-ciwi datang dan memukul pintu dengan kuat.


Fany dan Thea terlihat terkejut hingga dirinya terjingkat, Jennifer hanya memandang tenang ke arah sumber suara.


Salah satu di antara ciwi-ciwi itu terlihat kesal memandang benci pada Jennifer.


"Apa kau tidak pernah mendengar ucapan ku? Jauhkan dirimu dari Julian." Bentaknya pada Jennifer.


Dia terlihat sangat kesal pada Jennifer karena tadi dirinya berangkat bersama Julian. Terkadang mereka berbarengan, terkadang juga pergi sendiri-sendiri.


Jennifer hanya memandang orang itu dengan tatapan tenangnya. Siapa lagi orang itu jika bukan Cindy.


"Memangnya kau siapa melarang tuan putriku dekat dengan Julian?" sahut Fany di sana.


"Diamlah, kau juga harus jauhi Julian. Jangan terlihat sok akrab padanya dan teman-temannya.." Sentaknya pada Fany. Thea hanya bisa terdiam di sana karena dia tidak tahu permasalahan apa, di tambah dirinya juga jarang sekali berbicara dengan orang-orang.


Fany yang memang tidak ada takutnya itu menautkan sebelah alisnya seperti menantang Cindy di depannya.


"Kau tidak ada hak melarangku berteman dengannya, kau bukan siapa-siapa. Tuan Sean saja tidak melarangku berteman dengannya, kenapa kau melarangku?" sewot Fany di sana.


"Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa saja mengeluarkan dirimu di sini." Sombongnya pada Fany dan lainnya di sana.

__ADS_1


"Apa peduliku? Tidak penting siapa kau di sini untukku." Jawab Fany yang memang berani. Wajahnya sedikit meremehkan Cindy dan beberapa temannya di sana. Cindy yang tidak terima di remehkan itupun terlihat kesal dan geram.


Selagi dirinya tidak bersalah, Fany tidak akan pernah takut dengan siapapun itu. Termasuk dengan Cindy.


"Dasar kau, ya." Cindy ingin menjambak rambut Fany. Sebelum tangannya menyentuh Fany, Jennifer sudah lebih dulu mencekal tangan Cindy dengan menatap tajam.


"Pergi atau ku patahkan tanganmu." Ucap Jennifer mengancam Cindy yang ingin menjambak Fany. Jennifer mencekal kuat tangan Cindy hingga sang empunya meringis kesakitan.


"Aauuw...lepaskan tanganmu dariku." Pintanya merasa sakit.


Jennifer melepaskan kasar cekalannya pada Cindy, semua teman Cindy syok melihat bekas merah dari Jennifer yang ada di tangan Cindy.


"Berani sekali kau melakukan ini pada temanku." Bentak salah satu dari gerombolan Cindy. Fany yang melihat hasil karya dari Jennifer itu pun hanya berkata wow. Jennifer memandang tajam pada orang yang membentaknya, orang itu pun langsung menciut melihat tatapan Jennifer yang terlihat seperti ingin memangsanya.


Jennifer memang tidak suka bertele-tele, jika ada yang mengusiknya, dirinya akan bertindak. Entah itu dengan ucapannya yang membuat di hadapannya tidak bisa lagi berbicara, ataupun dengan tindakan-tindakan kecil jika orang tersebut ingin menyentuhnya ataupun orang yang ada di sekitarnya.


"Dengan siapapun aku dekat, tidak ada hak untukmu melarangku. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum tulang-tulangmu aku buat remuk." Ucap Jennifer dengan tegas.


"Lakukan saja apa yang kau bisa." Jawab Jennifer tersenyum sinis.


"Kau!!!" tangannya ingin menampar Jennifer. Jennifer menangkap tangan itu lalu melintirnya.


"Aaauuuuww...." Rintihnya menahan sakit.


"Kalau saja kau berani menyentuhku, aku pastikan tanganmu tidak berada di tempatnya." Jennifer pun melepasnya. Dirinya merintih kesakitan sambil memegang tangannya sedang kesakitan. Semua teman-temannya membujuknya agar Cindy tidak menangis


Mereka yang menyaksikan itu pun hanya terkejut, baru kali ini ada yang berani pada Cindy. Biasanya mereka semua takut karena mendapat ancaman dari Cindy jika dirinya akan mengeluarkan siapapun yang berani melawannya.


Thea yang berada di sana pun juga menganga tidak percaya. Beda lagi dengan Fany yang menikmati apa yang dilakukan oleh Jennifer pada Fany.


"Dassar wanita tidak tahu diri." Ujar salah satu segumbulan Cindy lalu membawa Cindy pergi dari sana.


Jennifer tidak peduli degan apa yang di ucapkan orang tersebut padanya.

__ADS_1


"Jeenn... apa yang kau lakukan tidak salah?" tanya Thea yang merasa sedikit takut.


"Tidak, sesuai apa yang kau lihat." Jawab Jennifer singkat lalu kembali duduk.


"Dia pasti akan mengadukan hal ini pada orang tuanya. Mereka dari keluarga yang berpengaruh di kota ini." Terang Thea pada Jennifer.


"Aku tidak peduli siapapun orang itu. Yang jelas mereka sudah mengusikku." Jawabnya malas lalu membuka kembali buku yang ia baca.


"Jangan khawatir, tidak akan bisa dia mengeluarkan tuan putriku dari sini. Mereka sendiri nanti yang akan terkena mental." Ujar Fany dengan cengingisan. Dia membayangkan bagaimana orang-orang tadi jika tahu siapa Jennifer di sana.


Fany di sana yang memang tahu siapa Jennifer tidak perlu menjelaskan panjang lebar, mereka semua pasti lambat laun tahu siapa Jennifer yang sekarang masih tertutup identitasnya.


Melihat ke sisi Diva...


Dirinya saat ini sedang berada di kelas karena ada jam kuliah. Ia meletakkan tangannya di atas meja untuk di jadikan tumpuhan dagunya. Terlihat sekali jika dirinya saat ini sedang malas dan bosan dengan pelajaran tersebut.


Temannya yang duduk di sebelahnya pun menenggor dirinya."Kau kenapa?" tanyanya pada Diva.


"Aku bosan sekali, kenapa tidak selesai-selesai." Keluhnya memandang ke depan dengan malasnya.


"Tunggu sebentar lagi," jawab temannya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


Tidak lama kemudian, mata kuliah itu pun selesai. Diva terlihat sangat senang dan antusias sekali untuk segera keluar dari kelasnya.


"Tingkahmu seperti anak kecil saja." Sahut temannya yang melihat tingkah Diva.


Diva buru-buru keluar hingga dirinya menabrak salah satu teman kelasnya karena sangking semangatnya.


"Hiisshh.... Hati-hati doong." Ujarnya lalu mengibaskan rambutnya dengan gaya ok cantiknya. Setelah mengucapkan itu, dirinya melangkah pergi membiarkan temannya yang cengoh melihat Diva.


Orang tersebut hanya berdiam saja dengan mulut sedikit mengangah melihat Diva yang seperti itu. Padahal Diva yang bersalah di sana.


"Kenapa aku yang di salahkan?" orang itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2